
Kesendirian yang menjadi temanku saat malam menjelang, tak lagi kurasakan. Wawan, sahabat terbaikku mulai saat itu menemaniku. Meski masih banyak tanya dalam hatiku, namun ada rasa lega karena aku akhirnya tak sendiri lagi. Harus aku akui, aku mulai merasa tidak nyaman tinggal seorang diri tanpa teman berbagi. Apakah seharusnya aku menikah? Tapi dengan siapa? Hingga kini aku belum punya pacar!
“ Jodoh itu akan datang dengan sendirinya.” Komentar Wawan saat aku bersenandung lagu cinta. Aku menghentikan nyanyianku dan kembali sibuk dengan nasi goreng di atas wajan. Ini hari ke tiga Wawan menemaniku dan selama itu aku benar-benar bahagia.
“ Gimana sarapannya? Udah siap?” aku pura-pura cemberut mendengar pertanyaannya.
“ Jangan tanya sarapan dulu? Udah telpon Poppy belum?” aku mengingatkan. Dia menggeleng cepat.
“ Jangan beritahu kalau aku tinggal di rumah kamu.” Balasnya sambil asyik membaca koran pagi.
“ Lho, emang kenapa? Dia kan teman kita?” tanyaku heran. Aku berbalik mencari piring lalu menaruh nasi goreng diatasnya. Tak lupa kuhiasi dengan irisan mentimun dan tomat yang ku ambil dari kulkas.
Bergaya ala koki terkenal, aku meletakkan piring di atas meja lalu duduk berhadapan dengan Wawan. Dia menghentikan membaca lalu melipat koran demi mencium aroma nasi goreng yang masih mengepulkan uap panas.
“ Kenapa Poppy gak boleh tahu kamu di sini?” tanyaku lagi sambil memasukkan nasi goreng ke dalam mulutku.
“ Dia bakal cemburu.”
“ Kenapa cemburu? Kita kan sahabat?”
Wawan terdiam. Dia mengunyah pelan-pelan makanannya.
“ Karena dia mencintaiku, Regina..”
Aku nyaris menumpahkan makanan dari mulutku karena kaget. Kupelototi Wawan yang juga menatapku.
“ Cinta? Cinta????” tanyaku bingung.
“ Iya! Dia mencintai aku bukan sebagai sahabat tapi sebagai wanita yang mencintai lelaki.”
Aku mengunyah makananku dengan cepat lalu buru-buru meminum air. Selera makanku tiba-tiba lenyap.
“ Sejak kapan kamu tahu perasaannya?” aku mulai penasaran. Rasa ingin tahu membuatku serius mengamati Wawan yang tetap asyik menikmati nasi goreng buatanku.
“ Nasi gorengmu enak.” Dia memujiku namun aku tahu itu alasan untuk mengalihkan perhatianku.
“ Jawab dulu. Sejak kapan kamu tahu kalau Poppy mencintai kamu?”
“ Sejak lama. Namun baru dua tahun yang lalu dia ungkapkan perasaannya..”
“ Jadi sudah lama kamu tahu dan kalian terlibat masalah cinta sementara aku nggak tahu?!?” Rasa kesal tiba-tiba hadir dalam hatiku. Perasaan terabaikan dan terlupakan.
“ Lalu apa yang akan kamu lakukan kalau kamu tahu? Menurutku lebih baik hanya aku dan dia saja yang tahu. Terlalu rumit jika harus melibatkan kamu.”
“ Lalu mengapa sekarang kamu memberitahu aku?”
“ Karena aku tak bisa berpikir lagi. Aku ingin menyelesaikan masalah ini secepatnya sebelum aku jadi stress dan gila..”
“ Lalu mengapa kamu nggak mau menghubungi Poppy? Atau lebih baik aku yang menelponnya lalu kita janjian ketemu di sini besok atau lusa. Bagaimana? kamu setuju?”
Wawan meletakkan sendok lalu menyandarkan tubuhnya di kursi. Sinar matanya nampak sangat putus asa.
“ Aku ingin jujur padamu, sebelum kita bertiga kumpul dan berbicara.” Katanya dengan helaan nafas yang berat.
“ Tentang apa? Bukankah perasaan Poppy udah kamu ceritakan? Apa ada masalah lain lagi yang aku nggak tahu?terlalu! kalian sahabatku atau bukan?”
Rasa kesal dalam hatiku makin bertambah. Akukah yang tidak peduli atau memang mereka yang menganggapku tak ada? Ada hal penting terjadi di antara kami dan tidak ada satupun dari mereka yang menyampaikan padaku.
Tiba-tiba Wawan menyentuh jemariku. Dia tidak berbicara hanya terus menyentuh dengan lembut punggung tanganku. Aku memperhatikan dengan perasaan bingung.
“ Aku ingin jujur tentang perasaan yang sejak lama membuatku tersiksa. Aku coba bertahan dan selalu mengingat tentang persahabatan kita. Tapi sekarang aku tidak kuat lagi. Batas kesabaranku untuk menanggungnya seorang diri sudah mencapai klimaksnya. Itu alasan mengapa aku mabuk. Kalau bukan masalah pelik, aku tidak akan mabuk seperti itu.”
Aku menyimak. Makin bingung dan penasaran.
“ Seperti sebuah lagu. Persahabatan kita seperti kupu-kupu. Dari kepompong lalu menjadi ulat kemudian menjadi kupu-kupu yang indah. Aku sering membayangkan akan selalu seperti itu, selamanya. Tapi hati manusia tidak bisa di tebak. Aku merasakan Poppy yang pertama kali berubah di antara kita. Kamu perempuan, jelas tidak bisa merasakannya.”
Aku masih menyimak tanpa komentar. Kata-kata seolah lenyap dari kepalaku.
“ Awalnya aku mengikuti keinginan Poppy.”
“ Hah? Jadi kalian pacaran?!?” aku refleks bersuara.
“ Bukan pacaran. Entah bagaimana menyebutnya. Kami sangat akrab. Aku mengikuti keinginannya sambil terus menyadarkan diriku kalau tindakan yang aku ambil itu salah. Ini bukan tentang persahabatan kita, tapi tentang aku yang yang tidak bisa mengatasi perasaanku sendiri.”
“ Maksudmu apa? Aku nggak ngerti.”
“ Aku tersiksa Regina. Kamu tahu kenapa? Karena aku juga mencintai Poppy..”
Aku bersandar lemas di kursi. Kutarik tanganku yang sejak tadi dalam genggaman Wawan lalu menghela nafas perlahan-lahan agar perasaanku tenang. Ucapan Wawan membuatku serasa terhempas dari lantai atas gedung. Ada rasa sakit di sudut hatiku.
“ Lalu apa masalahnya? Bukankan lebih baik lagi jika kalian saling mencintai?” kataku dengan hati tersayat sembilu. Dalam sekejab berdarah.
Wawan menggeleng. Matanya berkaca-kaca.
“ Andai semudah itu aku tidak nyaris gila seperti sekarang ini.”
Aku menatap Wawan yang menunduk. Rasa iba membuatku bangkit dari kursi dan duduk di sebelahnya. Ku sentuh bahunya. Meski hatiku terluka tapi melihatnya sedih membuatku mengabaikan rasaku.
“ Aku tidak sanggup menanggung beban ini sendirian, Regina. Tolong aku, apa yang harus aku lakukan?”
“ Katakan apa masalahmu? Jika aku bisa membantu, aku akan berusaha.”
Wawan mengangkat kepalanya. Tak kusangka, air mata menetes dari kedua matanya. Tiba-tiba dia memelukku dengan erat. Aku yang tak menyangka hanya bisa diam merasakan pelukannya yang hangat.
“ Aku mencintaimu Regina.”
Suara lembut Wawan membuat aliran darah dalam tubuhku terhenti. Pelukannya yang makin erat meski membuat nafasku sesak namun mengalirkan getar-getar bahagia dalam hatiku. Sejenak aku lupa akan masalah yang tengah Wawan hadapi. Aku hanya ingin menikmati pelukannya. Aku bahkan tak menyadari ucapannya itu adalah sumber dari masalah pelik yang akan menghancurkan persahabatan kami.
( Bersambung)
0 komentar:
Posting Komentar