“
Mana tugas kamu!” suara Pak Dahlan membuyarkan lamunan Chandra. Sejak
tadi dia ikut antrian untuk mengumpulkan tugas yang diberikan oleh Pak
Dahlan. Dia yang paling akhir, jadi saat Pak Dahlan menegurnya tidak ada
siapa-siapa lagi dalam ruangan kecuali dia. Chandra terkejut, tugasnya
berjatuhan di lantai. Dengan sigap dia memungut satu persatu kertas
tersebut lalu buru-buru duduk di kursi didepan meja Pak Dahlan. Pak
Dahlan yang melihatnya hanya memasang wajah jutek. Tak ada senyum sama
sekali. Maklum Chandra datang padanya sudah empat belas kali. Ini yang
kelima belas kalinya.
“
Ini tugas saya, pak” Pak Dahlan menerima lembaran kertas. Alisnya
terangkat melihat tangan Chandra yang gemetar saat memberikan lembaran
tugasnya. Pak Dahlan tertegun. Sebuah amplop terselip diantara
kertas-kertas tugas tersebut.
“ Apa ini?” tanyanya heran.
“ Itu su… surat.. dari ibu saya, pak” jawab Chandra terbata.
“ Surat untuk siapa?”
“
Untuk bapak. Ibu menyuruh saya menyampaikan surat ini ke bapak” dengan
rasa heran Pak Dahlan membuka amplop itu. Di bukanya lipatan surat.
Dahlan,
maaf kalau saya ikut campur, tapi tolong jangan persulit anak saya.
Bapaknya sudah meninggal sejak dia lahir, saya seorang diri mengasuhnya.
Jangan terbawa dendam masa lalu. Terima kasih.
Roswita Rahman
Pak
Dahlan terdiam bagai patung. Dilepaskannya kacamata yang sejak tadi
menempel di wajahnya. Diperhatikannya wajah Chandra. Mengapa dia tidak
mengenal wajah anak ini? Bisik hatinya. Wajahnya mirip sekali dengan
Roswita. Gadis yang sangat dicintainya, yang membuatnya tidak menikah
hingga sekarang.
0 komentar:
Posting Komentar