Jumat, 11 Mei 2012

Surat Ibu

0

 

“ Mana tugas kamu!” suara Pak Dahlan membuyarkan lamunan Chandra. Sejak tadi dia ikut antrian untuk mengumpulkan tugas yang diberikan oleh Pak Dahlan. Dia yang paling akhir, jadi saat Pak Dahlan menegurnya tidak ada siapa-siapa lagi dalam ruangan kecuali dia. Chandra terkejut, tugasnya berjatuhan di lantai. Dengan sigap dia memungut satu persatu kertas tersebut lalu buru-buru duduk di kursi didepan meja Pak Dahlan. Pak Dahlan yang melihatnya hanya memasang wajah jutek. Tak ada senyum sama sekali. Maklum Chandra datang padanya sudah empat belas kali. Ini yang kelima belas kalinya.

“ Ini tugas saya, pak” Pak Dahlan menerima lembaran kertas. Alisnya terangkat melihat tangan Chandra yang gemetar saat memberikan lembaran tugasnya. Pak Dahlan tertegun. Sebuah amplop terselip diantara kertas-kertas tugas tersebut.

“ Apa ini?” tanyanya heran.

“ Itu su… surat.. dari ibu saya, pak” jawab Chandra terbata.

“ Surat untuk siapa?”

“ Untuk bapak. Ibu menyuruh saya menyampaikan surat ini ke bapak” dengan rasa heran Pak Dahlan membuka amplop itu. Di bukanya lipatan surat.

Dahlan, maaf kalau saya ikut campur, tapi tolong jangan persulit anak saya. Bapaknya sudah meninggal sejak dia lahir, saya seorang diri mengasuhnya. Jangan terbawa dendam masa lalu. Terima kasih.

Roswita Rahman

Pak Dahlan terdiam bagai patung. Dilepaskannya kacamata yang sejak tadi menempel di wajahnya. Diperhatikannya wajah Chandra. Mengapa dia tidak mengenal wajah anak ini? Bisik hatinya. Wajahnya mirip sekali dengan Roswita. Gadis yang sangat dicintainya, yang membuatnya tidak menikah hingga sekarang.

0 komentar:

Posting Komentar