Feni duduk di sisi
pembaringan. Pandangannya silih berganti antara tas dan anaknya yang
sedang tidur. Hatinya bimbang. Sejak tadi dia sudah memasukkan semua
pakaiannya ke dalam tas besar. Dia sudah siap untuk berangkat. Tapi
sekali lagi dia tertahan saat melihat anaknya, Rasya yang berusia tujuh
tahun. Anak semata wayangnya, buah cintanya dengan Harun. Lelaki yang
sangat di cintainya, dulu. Tapi sekarang tidak lagi.
Entah kemana cinta itu
menguap. Kini yang ada hanya bulir-bulir kebencian yang setiap hari
kian menumpuk. Entah sejak kapan cintanya berubah jadi benci. Mungkin
saat Harun di PHK. Saat mereka mulai kesulitan uang. Saat mereka setiap
hari hanya bertengkar. Saat Harun lebih banyak menghabiskan waktu di
gardu ronda dengan teman-temannya sambil main kartu. Saat Harun mulai
ikut-ikutan mabuk. Atau mungkin ini penyebabnya. Saat Harun mulai
tergoda dengan Risma, janda muda pemilik warung tempat biasa Harun
mangkal.
Feni mendesah. Di elusnya rambut anaknya. Airmatanya menetes. Lalu dengan perlahan dia menunduk untuk mencium kening anaknya.
” Maafkan mama” ucapnya lirih.
Tangannya meremas tasnya
dengan kuat. Ada rasa bimbang yang kian menyerang namun desakan hati
yang lain lebih kuat lagi mendorongnya untuk segera berdiri. Dia
melangkah menuju pintu kamar. Sekali lagi dia berbalik melihat anaknya.
Feni tiba-tiba ingat ibunya. Sejak kecil dia sangat membenci ibunya
karena meninggalkannya. Ibunya pergi entah kemana. Rasa benci itu terus
terbawa hingga kemarin. Tapi malam ini Feni ingin meminta maaf. Dia
sekarang bisa memahami mengapa ibunya dulu meninggalkannya. Desakan
ekonomi membuat ibunya pergi meninggalkan dia dan ayahnya. Inilah yang
saat ini akan dia lakukan. Meninggalkan anaknya untuk mencari nafkah.
Menanti suaminya berubah bukan hal yang mudah. Perut tidak akan bisa
bertahan tanpa sesuap nasi. Feni berbalik. Membuka pintu lalu keluar
dari kamar. Dia terus berjalan meninggalkan rumahnya. Meninggalkan
anaknya yang masih tertidur. Dia terus melangkah menembus kegelapan
malam. Entah kapan dia akan kembali*****
0 komentar:
Posting Komentar