Jumat, 11 Mei 2012

Feni dan Bayangan Ibunya

0

gambar www.google.com

Feni duduk di sisi pembaringan. Pandangannya silih berganti antara tas dan anaknya yang sedang tidur. Hatinya bimbang. Sejak tadi dia sudah memasukkan semua pakaiannya ke dalam tas besar. Dia sudah siap untuk berangkat. Tapi sekali lagi dia tertahan saat melihat anaknya, Rasya yang berusia tujuh tahun. Anak semata wayangnya, buah cintanya dengan Harun. Lelaki yang sangat di cintainya, dulu. Tapi sekarang tidak lagi.

Entah kemana cinta itu menguap. Kini yang ada hanya bulir-bulir kebencian yang setiap hari kian menumpuk. Entah sejak kapan cintanya berubah jadi benci. Mungkin saat Harun di PHK. Saat mereka mulai kesulitan uang. Saat mereka setiap hari hanya bertengkar. Saat Harun lebih banyak menghabiskan waktu di gardu ronda dengan teman-temannya sambil main kartu. Saat Harun mulai ikut-ikutan mabuk. Atau mungkin ini penyebabnya. Saat Harun mulai tergoda dengan Risma, janda muda pemilik warung tempat biasa Harun mangkal.


Feni mendesah. Di elusnya rambut anaknya. Airmatanya menetes. Lalu dengan perlahan dia menunduk untuk mencium kening anaknya.

” Maafkan mama” ucapnya lirih.

Tangannya meremas tasnya dengan kuat. Ada rasa bimbang yang kian menyerang namun desakan hati yang lain lebih kuat lagi mendorongnya untuk segera berdiri. Dia melangkah menuju pintu kamar. Sekali lagi dia berbalik melihat anaknya. Feni tiba-tiba ingat ibunya. Sejak kecil dia sangat membenci ibunya karena meninggalkannya. Ibunya pergi entah kemana. Rasa benci itu terus terbawa hingga kemarin. Tapi malam ini Feni ingin meminta maaf. Dia sekarang bisa memahami mengapa ibunya dulu meninggalkannya. Desakan ekonomi membuat ibunya pergi meninggalkan dia dan ayahnya. Inilah yang saat ini akan dia lakukan. Meninggalkan anaknya untuk mencari nafkah. Menanti suaminya berubah bukan hal yang mudah. Perut tidak akan bisa bertahan tanpa sesuap nasi. Feni berbalik. Membuka pintu lalu keluar dari kamar. Dia terus berjalan meninggalkan rumahnya. Meninggalkan anaknya yang masih tertidur. Dia terus melangkah menembus kegelapan malam. Entah kapan dia akan kembali*****

0 komentar:

Posting Komentar