Teti
tersenyum senang. Proposalnya disetujui. Tidak sia-sia dia lembur tiga
malam untuk merevisi proposalnya.Diletakkannya dokumen-dokumen itu di
atas meja kerjanya. Sambil menyingkap tirai jendela dia melihat jam
ditangannya. Sudah jam sepuluh lebih sepuluh menit. Rapat berlangsung
lama dan baru berakhir hampir jam sepuluh malam.
Teti
teringat anaknya, Fikri. Sejak tadi handphonenya terus bergetar tapi
dia abaikan. Pasti sms itu dari Fikri yang memintanya cepat pulang. Anak
itu terlalu manja. Selalu memberi alasan kalau sakit, padahal saat
dipegang dia tidak apa-apa. Pasti saat ini dia sudah tidur.
Teti
duduk di kursi kerjanya. Dipandanginya dokumen yang ada di atas meja.
Senyumnya kembali merekah. Kerja kerasnya sukses. Dia tidak menyangka
akan dapat kepercayaan dari kantor. Pasti setelah ini akan banyak proyek
yang bisa dia tangani.
Handphonenya
bergetar lagi. Alis Teti berkerut. Fikri belum tidur jam segini? Inikan
sudah jam setengah sebelas? Diangkatnya handphonenya. Ada pesan masuk.
Dari Fikri. Anak itu ternyata benar-benar belum tidur. Teti membuka
pesan itu.
Nya, ini Mila. Fikri masuk rumah sakit, tadi jam tujuh pingsan
Tangan Teti gemetar.
0 komentar:
Posting Komentar