Ruangan
itu sunyi. Tak ada suara. Dua orang yang berhadapan saling diam dalam
pikiran mereka masing-masing. Andi terduduk kaku sambil mempermainkan
jemarinya. Sedangkan sang bos, sejak tadi terus membaca kertas
selembar yang ada dalam genggamannnya. Kalau melihat isi kertas maka
tidak akan menghabiskan waktu selama itu untuk membaca kalimat-kalimat
yang tidak seberapa panjang. Sesekali terdengar desahan nafas dari sang
bos. Tiap kali mendengar bosnya mendesah, rasa tak enak langsung
menyerang hati Andi. Dia tahu keputusannya sekarang pasti sangat berat
diterima bosnya. Tapi keputusan itu sudah menunggu dua bulan sebelum
benar-benar dia tuliskan dalam selembar kertas yang bertuliskan
pengunduran diri.
Andi
harus nekad. Keluar dari tempat kerjanya sekarang memang bukan pilihan
terbaik, karena sampai sekarang dia belum juga mendapatkan pekerjaan
pengganti. Tapi dia tidak sanggup lagi bertahan. Terus ikut dengan
bosnya hanya akan membuatnya makan hati. Terus melihat ketidak adilan
hanya akan menambah dosa dalam hatinya. Setiap hari mengeluh dan
mengumpat bos, bukankah itu hal yang tidak baik?
Andi
menatap bosnya beberapa detik lalu tertunduk kembali. Melihat wajah
bosnya rasanya dia tidak percaya, bosnya tega mengganti dia dengan
karyawan lain yang tidak berpengalaman. Dia seperti di geser
perlahan-lahan. Semakin lama tak ada tanggung jawab yang dibebankan
padanya. Dia hanya kerja macam-macam. Tak ada bidang khusus. Kadang
membantu bagian administrasi, keuangan, gudang, bahkan kadang dia
jadi tukang bersih-bersih dan rela disuruh kesana kemari saat petugas
aslinya tidak ada. Kekecewaan membuncah. Siapa aku ini? Apa kedudukanku
di perusahaan ini? Aku ini sarjana akuntansi. Aku seharusnya jadi
bagian dari keuangan perusahaan. Kenapa aku seperti tidak ada kualitas
apa-apa?
Akhirnya
rasa kecewa itu pecah tadi malam. Andi menuliskan surat pengunduran
dirinya dengan penuh semangat. Dia tidak peduli dengan kehidupannya
setelah keluar pekerjaannya. Sekarang dia harus membebaskan diri. Lepas
dari masalah yang membuat pikirannya kusut. Dia harus tenang untuk
menormalkan hidupnya kembali. Tidak peduli apakah hidupnya setelah ini
menjadi semakin kacau. Dia hanya ingin mendapatkan keadilan. Bagaimana
mungkin seseorang yang hanya tamatan sma, yang belum pengalaman, justru
jadi atasannya?
Sementara
kepala lain dalam ruangan itu, bos Andi tengah merenung. Dia melihat
tulisan yang ada didepannya tapi pikirannya mengembara. Dia tidak
percaya saat ini ditangannya ada selembar kertas pengunduran diri.
Selembar kertas yang tidak biasa. Dia sudah biasa menerima kertas
seperti ini. Tapi kali ini terasa berbeda. Kali ini dia merasa
kepalanya pening saat membaca kalimat-kalimat dalam kertas tersebut.
Dia menyesalkan kejadian ini. Kenapa surat pengunduran diri itu berasal
dari karyawan yang sangat dia banggakan? Dia baru saja berencana
mengangkat Andi menjadi manager di salah satu cabangnya. Itulah mengapa
dia terus mengisi posisi yang ditempati Andi dengan orang baru agar
ada waktu sebelum Andi benar-benar di tempatkan di kantor cabangnya.
Dengan membuat Andi beredar dimana-mana, akan membuatnya memahami rasa
yang ada dalam perusahaan. Dia diharapkan menjadi bos yang arif dan
bijaksana karena sudah merasakan semua jenis pekerjaan dalam
perusahaannya.
”
Keputusanmu sama sekali tidak bisa di ubah?” tanya sang bos setelah
lama terdiam. Akhirnya keluar juga kata-kata dari mulutnya yang
mengatup sejak tadi.
Andi mengangguk mantap. Tidak ada pilihan lain. Saat ini dia harus memutuskan.
”
Sebelum kamu benar-benar pergi, tolong kamu baca ini” sang bos
menyorongkan kertas didepannya. Andi mengambil kertas itu dengan
sedikit heran. Dibacanya kertas itu. Matanya membulat membaca kalimat
yang ada dalam kertas itu.Dia diangkat jadi manager di cabang luar
kota!
”
Tolong pertimbangkan lagi. Itu sudah aku pikirkan sejak dua bulan yang
lalu. Sayang kalau harus kamu lepaskan” kata bosnya lagi.
Rasa
haru menelusuri hati Andi. Dia menyesal telah berburuk sangka terhadap
bosnya, padahal sang bos begitu mempercayainya. Ternyata dia
benar-benar telah salah mengartikan sikap bosnya selama ini.****
0 komentar:
Posting Komentar