Minggu, 06 Mei 2012

Pengunduran Diri

0

gambar www.google.com


Ruangan itu sunyi. Tak ada suara. Dua orang yang berhadapan saling diam dalam pikiran mereka masing-masing. Andi terduduk kaku sambil mempermainkan jemarinya. Sedangkan sang bos, sejak tadi terus membaca kertas selembar yang ada dalam genggamannnya. Kalau melihat isi kertas maka tidak akan menghabiskan waktu selama itu untuk membaca kalimat-kalimat yang tidak seberapa panjang. Sesekali terdengar desahan nafas dari sang bos. Tiap kali mendengar bosnya mendesah, rasa tak enak langsung menyerang hati Andi. Dia tahu keputusannya sekarang pasti sangat berat diterima bosnya. Tapi keputusan itu sudah menunggu dua bulan sebelum benar-benar dia tuliskan dalam selembar kertas yang bertuliskan pengunduran diri.

Andi harus nekad. Keluar dari tempat kerjanya sekarang memang bukan pilihan terbaik, karena sampai sekarang dia belum juga mendapatkan pekerjaan pengganti. Tapi dia tidak sanggup lagi bertahan. Terus ikut dengan bosnya hanya akan membuatnya makan hati. Terus melihat ketidak adilan hanya akan menambah dosa dalam hatinya. Setiap hari mengeluh dan mengumpat bos, bukankah itu hal yang tidak baik?

Andi menatap bosnya beberapa detik lalu tertunduk kembali. Melihat wajah bosnya rasanya dia tidak percaya, bosnya tega mengganti dia dengan karyawan lain yang tidak berpengalaman. Dia seperti di geser perlahan-lahan. Semakin lama tak ada tanggung jawab yang dibebankan padanya. Dia hanya kerja macam-macam. Tak ada bidang khusus. Kadang membantu bagian administrasi, keuangan, gudang, bahkan kadang dia jadi tukang bersih-bersih dan rela disuruh kesana kemari saat petugas aslinya tidak ada. Kekecewaan membuncah. Siapa aku ini? Apa kedudukanku di perusahaan ini? Aku ini sarjana akuntansi. Aku seharusnya jadi bagian dari keuangan perusahaan. Kenapa aku seperti tidak ada kualitas apa-apa?

Akhirnya rasa kecewa itu pecah tadi malam. Andi menuliskan surat pengunduran dirinya dengan penuh semangat. Dia tidak peduli dengan kehidupannya setelah keluar pekerjaannya. Sekarang dia harus membebaskan diri. Lepas dari masalah yang membuat pikirannya kusut. Dia harus tenang untuk menormalkan hidupnya kembali. Tidak peduli apakah hidupnya setelah ini menjadi semakin kacau. Dia hanya ingin mendapatkan keadilan. Bagaimana mungkin seseorang yang hanya tamatan sma, yang belum pengalaman, justru jadi atasannya?

Sementara kepala lain dalam ruangan itu, bos Andi tengah merenung. Dia melihat tulisan yang ada didepannya tapi pikirannya mengembara. Dia tidak percaya saat ini ditangannya ada selembar kertas pengunduran diri. Selembar kertas yang tidak biasa. Dia sudah biasa menerima kertas seperti ini. Tapi kali ini terasa berbeda. Kali ini dia merasa kepalanya pening saat membaca kalimat-kalimat dalam kertas tersebut. Dia menyesalkan kejadian ini. Kenapa surat pengunduran diri itu berasal dari karyawan yang sangat dia banggakan? Dia baru saja berencana mengangkat Andi menjadi manager di salah satu cabangnya. Itulah mengapa dia terus mengisi posisi yang ditempati Andi dengan orang baru agar ada waktu sebelum Andi benar-benar di tempatkan di kantor cabangnya. Dengan membuat Andi beredar dimana-mana, akan membuatnya memahami rasa yang ada dalam perusahaan. Dia diharapkan menjadi bos yang arif dan bijaksana karena sudah merasakan semua jenis pekerjaan dalam perusahaannya.

” Keputusanmu sama sekali tidak bisa di ubah?” tanya sang bos setelah lama terdiam. Akhirnya keluar juga kata-kata dari mulutnya yang mengatup sejak tadi.

Andi mengangguk mantap. Tidak ada pilihan lain. Saat ini dia harus memutuskan.

” Sebelum kamu benar-benar pergi, tolong kamu baca ini” sang bos menyorongkan kertas didepannya. Andi mengambil kertas itu dengan sedikit heran. Dibacanya kertas itu. Matanya membulat membaca kalimat yang ada dalam kertas itu.Dia diangkat jadi manager di cabang luar kota!

” Tolong pertimbangkan lagi. Itu sudah aku pikirkan sejak dua bulan yang lalu. Sayang kalau harus kamu lepaskan” kata bosnya lagi.

Rasa haru menelusuri hati Andi. Dia menyesal telah berburuk sangka terhadap bosnya, padahal sang bos begitu mempercayainya. Ternyata dia benar-benar telah salah mengartikan sikap bosnya selama ini.****

0 komentar:

Posting Komentar