Samuel
berlari dalam hujan. Langit sudah sangat gelap walau hari belum lagi
malam. Disekanya wajahnya yang basah terkena air hujan. Jarak rumahnya
sudah sangat dekat tapi tiba-tiba Samuel menghentikan larinya. Dia
berdiri di tengah jalan menatap rumahnya yang remang-remang. Rumahnya
terlihat sangat gelap. Hanya satu lampu lima watt yang terpasang di
ruang tamu. Tak ada lampu lain lagi. Air hujan menyentuh wajah Samuel
dengan leluasa karena tangan Samuel tidak bergerak untuk menyeka
wajahnya.
Samuel
larut dalam irama hujan. Tapi bukan irama yang riang. Dia menikmati
hujan dengan kesedihannya. Air hujan itu seperti menambah pedih hatinya.
Menambah daftar kenangan yang berusaha dihapusnya.Samuel tinggal
bersama ibu dan dua orang adiknya. Bapaknya meninggal tiga tahun yang
lalu karena kecelakan. Ini adalah natal ke tiga yang mereka rayakan
tanpa kehadiran bapaknya. Walau begitu setiap tahun saat natal tiba,
Samuel merayakannya dengan suka cita. Dia selalu menabung uang dari
hasil kerja serabutan yang dia lakukan. Hingga saat natal, mereka
sekeluarga bisa merayakannya dengan kegembiraan seperti layaknya
keluarga lain.
Tapi
tahun ini berbeda. Dia dan keluarganya tidak punya uang untuk membeli
segala keperluan menyambut natal. Bukan karena tidak ada uang. Uang yang
susah payah di tabungnya, di serahkan ibunya ke kakaknya yang sudah
menikah. Suami kakaknya juga tidak punya pekerjaan tetap, sama dengan
dirinya. Hanya bedanya dia rajin menabung. Kakaknya malu dengan
mertuanya yang datang berkunjung saat natal. Ibunya tidak tega, terpaksa
menyerahkan uang yang sekian lama di tabung Samuel.
Samuel
masih berdiri. Tadi saat pamit ke ibunya dia mengatakan akan beli
minuman. Mungkin ibunya mengira dia masih ada simpanan. Padahal dia
berniat untuk meminjam di toko Pak Jaya. Tapi nasibnya apes. Pak Jaya
tidak memberi pinjaman walau Samuel memohon berkali-kali.
“ Bayar
dulu utang kakakmu. Baru aku pinjamkan” sahut Pak Jaya dengan wajah
masam saat Samuel mengutarakan niatnya.Samuel tersenyum perih, lagi-lagi
utang kakaknya. Mereka selalu bermasalah karena kakaknya mempunyai
utang dimana-mana. Samuel bingung. Dia tidak berani ke tempat lain
karena pasti nasibnya akan sama.Samuel keluar dari toko Pak Jaya dengan
lesu. Sambil berjalan pulang dia merenungkan nasibnya. Natal tahun ini
sepertinya akan kelabu.
Samuel
tersentak kaget. Bunyi klakson mobil membuyarkan lamunannya. Dia segera
menyingkir ke tepi jalan mengira mobil itu akan terus berjalan.
Ternyata mobil itu berhenti tepat di depannya. Kaca jendela mobil
perlahan terbuka. Nampak seorang gadis manis berwajah lembut menatapnya
sambil tersenyum.
“ Samuel?
Kenapa kamu hujan-hujanan di luar?” Samuel tersipu setelah tahu kalau
gadis yang menegurnya adalah temannya sendiri. Dia mengusap wajahnya.
” Leni?”
“ Aku mau kerumahmu.” katanya lagi.
Samuel
kemudian berlari menuju rumahnya sementara mobil Leni mengikutinya dari
belakang.Dalam rintik hujan temannya turun dari mobil. Ibu dan
adik-adik Samuel yang kaget mendengar suara mobil segera berlari
keluar. Leni tersenyum saat bertemu dengan ibu Samuel. Sopir Leni lalu
mengeluarkan beberapa dos makanan dan beberapa krak minuman. Ibu dan
adik-adik Samuel terperangah. Bahkan ibu Samuel sampai meniktikkan air
mata. Samuel jadi terharu. Bukan karena pemberian itu tapi karena Leni
adalah anak dari Pak Jaya.
“ Bapakmu tidak marah kamu memberikan ini untuk kami?” tanyanya saat Leni hendak pulang.
“ Aku
membelinya pake uangku.Aku tidak tega melihatmu tadi di depan bapak.
Kamu tenang saja. Yang penting kamu bisa merayakan natal dengan
gembira.” katanya sebelum naik ke mobil. Samuel memandang mobil Leni
sampai meninggalkan halaman rumahnya. Ibu dan adik-adiknya sejak tadi
berada di dalam rumah. Mereka begitu bahagia dengan hadiah yang
diberikan Leni. Samuel hanya duduk di teras. Dia bersyukur malam ini
masih bisa tersenyum menyambut natal esok.***
0 komentar:
Posting Komentar