Jumat, 11 Mei 2012

Senyum Samuel

0

gambar www.google.com

Samuel berlari dalam hujan. Langit sudah sangat gelap walau hari belum lagi malam. Disekanya wajahnya yang basah terkena air hujan. Jarak rumahnya sudah sangat dekat tapi tiba-tiba Samuel menghentikan larinya. Dia berdiri di tengah jalan menatap rumahnya yang remang-remang. Rumahnya terlihat sangat gelap. Hanya satu lampu lima watt yang terpasang di ruang tamu. Tak ada lampu lain lagi. Air hujan menyentuh wajah Samuel dengan leluasa karena tangan Samuel tidak bergerak untuk menyeka wajahnya.

Samuel larut dalam irama hujan. Tapi bukan irama yang riang. Dia menikmati hujan dengan kesedihannya. Air hujan itu seperti menambah pedih hatinya. Menambah daftar kenangan yang berusaha dihapusnya.Samuel tinggal bersama ibu dan dua orang adiknya. Bapaknya meninggal tiga tahun yang lalu karena kecelakan. Ini adalah natal ke tiga yang mereka rayakan tanpa kehadiran bapaknya. Walau begitu setiap tahun saat natal tiba, Samuel merayakannya dengan suka cita. Dia selalu menabung uang dari hasil kerja serabutan yang dia lakukan. Hingga saat natal, mereka sekeluarga bisa merayakannya dengan kegembiraan seperti layaknya keluarga lain.

Tapi tahun ini berbeda. Dia dan keluarganya tidak punya uang untuk membeli segala keperluan menyambut natal. Bukan karena tidak ada uang. Uang yang susah payah di tabungnya, di serahkan ibunya ke kakaknya yang sudah menikah. Suami kakaknya juga tidak punya pekerjaan tetap, sama dengan dirinya. Hanya bedanya dia rajin menabung. Kakaknya malu dengan mertuanya yang datang berkunjung saat natal. Ibunya tidak tega, terpaksa menyerahkan uang yang sekian lama di tabung Samuel.

Samuel masih berdiri. Tadi saat pamit ke ibunya dia mengatakan akan beli minuman. Mungkin ibunya mengira dia masih ada simpanan. Padahal dia berniat untuk meminjam di toko Pak Jaya. Tapi nasibnya apes. Pak Jaya tidak memberi pinjaman walau Samuel memohon berkali-kali.

“ Bayar dulu utang kakakmu. Baru aku pinjamkan” sahut Pak Jaya dengan wajah masam saat Samuel mengutarakan niatnya.Samuel tersenyum perih, lagi-lagi utang kakaknya. Mereka selalu bermasalah karena kakaknya mempunyai utang dimana-mana. Samuel bingung. Dia tidak berani ke tempat lain karena pasti nasibnya akan sama.Samuel keluar dari toko Pak Jaya dengan lesu. Sambil berjalan pulang dia merenungkan nasibnya. Natal tahun ini sepertinya akan kelabu.

Samuel tersentak kaget. Bunyi klakson mobil membuyarkan lamunannya. Dia segera menyingkir ke tepi jalan mengira mobil itu akan terus berjalan. Ternyata mobil itu berhenti tepat di depannya. Kaca jendela mobil perlahan terbuka. Nampak seorang gadis manis berwajah lembut menatapnya sambil tersenyum.

“ Samuel? Kenapa kamu hujan-hujanan di luar?” Samuel tersipu setelah tahu kalau gadis yang menegurnya adalah temannya sendiri. Dia mengusap wajahnya.

” Leni?”

“ Aku mau kerumahmu.” katanya lagi.

Samuel kemudian berlari menuju rumahnya sementara mobil Leni mengikutinya dari belakang.Dalam rintik hujan temannya turun dari mobil. Ibu dan adik-adik Samuel yang kaget mendengar  suara mobil segera berlari keluar. Leni tersenyum saat bertemu dengan ibu Samuel. Sopir Leni lalu mengeluarkan beberapa dos makanan dan beberapa krak minuman. Ibu dan adik-adik Samuel terperangah. Bahkan ibu Samuel sampai meniktikkan air mata. Samuel jadi terharu. Bukan karena pemberian itu tapi karena  Leni adalah anak dari Pak Jaya.

“ Bapakmu tidak marah kamu memberikan ini untuk kami?” tanyanya saat Leni hendak pulang.

“ Aku membelinya pake uangku.Aku tidak tega melihatmu tadi di depan bapak. Kamu tenang saja. Yang penting kamu bisa merayakan natal dengan gembira.” katanya sebelum naik ke mobil. Samuel memandang mobil Leni sampai meninggalkan halaman rumahnya. Ibu dan adik-adiknya sejak tadi berada di dalam rumah. Mereka begitu bahagia dengan hadiah yang diberikan Leni. Samuel hanya duduk di teras. Dia bersyukur malam ini masih bisa tersenyum menyambut natal esok.***

0 komentar:

Posting Komentar