Jumat, 11 Mei 2012

Seandainya...

0

12923885391042920708

Aku terdiam di sudut kamar kostku.Diam merenungi nasibku yang kian nelangsa. Suara-suara disekitar sejak dua hari yang lalu hilang. Kamar kost menjadi sunyi senyap. Penghuninya pulang kampung. Hanya aku berdua dengan anakku yang tetap diam dalam kamar kami. Aku tidak pulang. Seperti lebaran sebelumnya, bahkan tahun-tahun terlewati. Aku sudah tidak ingat lagi kapan aku pulang ke kampung. Kalaupun kami pulang, siapa hendak kami temui di sana. 

Tak  ada siapa-siapa lagi di kampung yang bisa tersenyum menerimaku. Keluarga jauh hanya akan bermuka masam saat kami berkunjung. Seolah-olah kami adalah pengemis yang datang meminta belas kasihan. Tak sama dulu saat bapak masih berjaya. Kami seperti gula yang kerubuti semut. Dari berbagai penjuru daerah datang mengunjungi kami. Mereka rajin menelpon sekedar bertegur sapa, menanyakan kabar. Berdalih menjaga tali silaturahmi.

 Tak ada kabar yang tak kami ketahui, seperti acara di RCTI Kabar-kabari. Jangan tanya saat kami mengadakan acara pesta. Entah pesta pernikahan, khitanan, akikah,syukuran dan lain-lain yang sejenisnya. Dari skala sederhana hingga terkesan mewah tetap saja tidak bisa kami adakan dengan biasa-biasa saja. Walau sudah mempersempit acara menjadi terbatas dikalangan keluarga, tetap yang hadir serasa jumlahnya sekampung. Aku menjadi heran, apakah keluarga kami sebanyak ini? Kata bapak kalau dikumpulkan memang keluarga kami sangat banyak.

Bapak menjelaskan dengan rasa bangga. Bapak patut bangga, keluarganya menjadi orang yang berhasil semuanya tak terkecuali bapak. Karena yang paling tua dan paling dinilai berhasil, bapak begitu disegani. Bapak menjadi tempat mereka berkeluh kesah, mencurahkan semua hal yang berkaitan dengan usaha mereka. Bahkan bapak menjadi tempat pelarian mereka jika usaha mereka kekurangan modal. Bapakku memang kaya harta dan hati. Tak pernah terlintas pikiran buruk dalam hatinya kalau suatu saat dirinya akan dikhianati oleh keluarga sendiri.

Usaha bapak perlahan-lahan dihadapkan banyak kendala. Masalah-masalah yang biasa tapi jadi tak biasa saat bapak mulai mencium gelagat yang aneh dari salah seorang keluarga. Tapi semua terlambat. Bapak harus berurusan dengan bank karena bapak mempunyai utang yang sangat besar. Walau bapak mengelak, semua mengarah ke satu bukti kalau bapak memang meminjam uang dalam jumlah yang besar. 

Bapak ingin menempuh jalur hukum tapi karena syok bapak terkena serangan jantung. Bapak meninggal. Bapak tak kuat menanggung beban yang tak pernah dia perkirakan. Bapak menganggap semua orang baik padanya tak ada yang bakal mencelakakan dirinya. Tapi kenyataan berbanding terbalik. Dibalik senyum mereka tersimpan rasa iri yang siap mengobrak abrik kebahagiaan kami.

Aku jadi berpikir negatif sejak aku menerima perlakuan mereka yang tak ramah pasca kejatuhan kami. Tak ada lagi teriakan gembira yang menyambut kedatangan kami. Tak ada senyum semanis gula yang menemani kami. Tak ada lagi peluk cium tanda kasih sayang. Semua hilang. Lenyap bersama sinar kejayaan keluargaku.

Kami berusaha untuk bangkit tapi sia-sia. Seluruh harta kami di sita pihak bank. Bahkan kemudian ibu juga menyusul bapak karena stress tak bisa menghadapi hidup sendirian dengan menanggung tujuh orang anak. Kakakku yang tertua perempuan, saat itu usianya 20 tahun. Dia sudah menikah tapi hidupnya juga masih dalam tanggungan bapak. Suaminya sama mudanya dengannya. Tak ada pekerjaan hanya menumpang hidup. Begitu juga dengan kakakku yang ke dua, saat itu usianya 18 tahun. Dia baru saja menikah. Kondisi mereka sama dengan kakakku yang pertama. Suaminya juga menumpang hidup pada bapak. 

Terkadang aku menyesali sikap bapak yang begitu mudah menikahkan anak-anaknya. Mungkin dalam pikiran bapak, hidupnya akan baik-baik saja berpuluh-puluh tahun kedepan. Jadi untuk membiayai rumah tangga baru seperti kakakku bukan masalah bagi bapak. Bapak tidak pernah berpikir bahwa musibah bisa datang kapan saja. Ajal bisa menjemput setiap waktu. Harta yang segunung bisa hilang dalam sekejap kalau musibah datang.

Tinggalah kami dengan kondisi yang memprihatinkan. Dari terbiasa serba ada kami harus menghadapi hidup apa adanya. Semangat kami perlahan-lahan luntur. Yang tinggal hanyalah perasaan sensitif yang membuat kami saling bersitegang. Akhirnya kakakku yang menikah memilih merantau bersama suami mereka. Mencari hidup di negeri orang. Aku yang ditinggalkan sendiri dengan empat orang adik menjadi tak berdaya. Kadang aku menangis di tengah malam saat melihat adik-adikku tidur. Aku tidak bisa tidur tiap kali memikirkan kalau sekarang kami tinggal di rumah yang sangat kecil dan sangat sederhana. Walau begitu aku bersyukur karena masih ada tempat untuk kami tidur.

Pernah sekali aku memaksakan diri mengunjungi salah seorang keluargaku. Tapi sambutan yang aku terima sangat menyakitkan. Mereka menolakku. Mereka marah karena bapak sudah menuduh mereka melakukan kejahatan kepada kami. Menurut mereka kalau mereka jahat untuk apa aku datang?. Aku berjalan pulang dengan tetesan air mata di wajahku.

Karena sudah tidak sanggup mengurus diri dan adikku, pihak kelurahan menitipkan kami di pesantren yang ada di kampung. Pihak pesantren membebaskan kami dari pembayaran karena kami tidak mampu. Aku bersyukur masuk pesantren, kami jadi ada yang memperhatikan. Kami tidak lagi kelaparan. Ada tempat bernaung yang layak.

Tapi mungkin nasib buruk selalu mengikutiku. Bermula dari perkenalanku dengan seorang lelaki bernama Hamid. Dia terlihat mapan.Walau usianya jauh diatasku. Aku enam belas tahun dan dia kuperkirakan mungkin di atas tiga puluh. Tapi karena kebaikannya aku tergoda. Dalam masa remajaku yang masih rentan. Aku punya mimpi yang ingin aku wujudkan. Pak Hamid seperti bisa mewujudkannya. Aku tergoda. Kami lalu menikah di pesantren. Adik-adikku menangis. Menyadari aku bakal meninggalkan mereka.

Mimpiku untuk hidup lebih layak langsung hancur berantakan saat kami tiba di kota. Ternyata pak Hamid tidak membawaku ke rumahnya melainkan sebuah rumah kost. Katanya dia tidak ingin istrinya tahu dia sudah menikah lagi. Aku kaget dan kecewa tapi pak Hamid membujukku dengan mengatakan kalau ini hanya sementara. Dia akan mencarikan rumah untukku. Aku terbuai.

Sebulan, dua bulan aku masih sabar. Tapi sampai aku melahirkan anakku, kami tak kunjung menempati rumah baru. Bahkan pak Hamid yang semula selalu naik mobil, beralih jadi jalan kaki. Banyak alasan yang dia kemukakan. Kedatangannya yang semula setiap hari berubah jadi seminggu sekali. Bahkan menjadi sekali sebulan. Aku bahkan lupa kapan terkahir dia datang. Sekarang anakku berumur tiga tahun. Tapi tak pernah sekalipun pak Hamid melihatnya apalagi memberikan nafkah.

Aku pernah pulang ke pesantren tapi aku tidak betah. Akhirnya aku kembali lagi ke kota dan mencari kerja sebagai penjaga toko di sebuah pasar. Walau jauh dari lumayan tapi bisa untuk makan aku dan anakku.

Hari ini aku betul-betul sedih. Toko tempatku bekerja dua hari yang lalu terbakar. Api menghanguskan seluruh kios yang ada di pasar. Musibah yang datang tiba-tiba. Aku sedih karena kehilangan pekerjaan. Terbayang sulitnya mencari pekerjaan membuatku tak bersemangat untuk keluar dari kamar. Anakku sejak tadi bermain dengan anak tetangga. Sesekali dia datang hanya untuk minum. 

Aku memperhatikan anakku. Ada penyesalan seandainya bapak tidak meninggal, seandainya usaha bapak tidak bermasalah, seandainya keluarga kami tidak jatuh miskin, seandainya.. seandainya semuanya baik-baik saja pastilah hidupmu tidak akan seperti ini anakku. Tapi semua sudah berlalu. Sekarang tetap saja aku berandai-andai. Seandainya pasar tidak terbakar.. hidupku memang selalu penuh cobaan…..***

0 komentar:

Posting Komentar