Aku terdiam di sudut kamar kostku.Diam merenungi
nasibku yang kian nelangsa. Suara-suara disekitar sejak dua hari yang
lalu hilang. Kamar kost menjadi sunyi senyap. Penghuninya pulang
kampung. Hanya aku berdua dengan anakku yang tetap diam dalam kamar
kami. Aku tidak pulang. Seperti lebaran sebelumnya, bahkan tahun-tahun
terlewati. Aku sudah tidak ingat lagi kapan aku pulang ke kampung.
Kalaupun kami pulang, siapa hendak kami temui di sana.
Tak ada
siapa-siapa lagi di kampung yang bisa tersenyum menerimaku. Keluarga
jauh hanya akan bermuka masam saat kami berkunjung. Seolah-olah kami
adalah pengemis yang datang meminta belas kasihan. Tak sama dulu saat
bapak masih berjaya. Kami seperti gula yang kerubuti semut. Dari
berbagai penjuru daerah datang mengunjungi kami. Mereka rajin menelpon
sekedar bertegur sapa, menanyakan kabar. Berdalih menjaga tali
silaturahmi.
Tak ada kabar yang tak kami ketahui, seperti acara di RCTI
Kabar-kabari. Jangan tanya saat kami mengadakan acara pesta. Entah pesta
pernikahan, khitanan, akikah,syukuran dan lain-lain yang sejenisnya.
Dari skala sederhana hingga terkesan mewah tetap saja tidak bisa kami
adakan dengan biasa-biasa saja. Walau sudah mempersempit acara menjadi
terbatas dikalangan keluarga, tetap yang hadir serasa jumlahnya
sekampung. Aku menjadi heran, apakah keluarga kami sebanyak ini? Kata
bapak kalau dikumpulkan memang keluarga kami sangat banyak.
Bapak menjelaskan dengan rasa bangga. Bapak patut
bangga, keluarganya menjadi orang yang berhasil semuanya tak terkecuali
bapak. Karena yang paling tua dan paling dinilai berhasil, bapak begitu
disegani. Bapak menjadi tempat mereka berkeluh kesah, mencurahkan semua
hal yang berkaitan dengan usaha mereka. Bahkan bapak menjadi tempat
pelarian mereka jika usaha mereka kekurangan modal. Bapakku memang kaya
harta dan hati. Tak pernah terlintas pikiran buruk dalam hatinya kalau
suatu saat dirinya akan dikhianati oleh keluarga sendiri.
Usaha bapak perlahan-lahan dihadapkan banyak kendala.
Masalah-masalah yang biasa tapi jadi tak biasa saat bapak mulai mencium
gelagat yang aneh dari salah seorang keluarga. Tapi semua terlambat.
Bapak harus berurusan dengan bank karena bapak mempunyai utang yang
sangat besar. Walau bapak mengelak, semua mengarah ke satu bukti kalau
bapak memang meminjam uang dalam jumlah yang besar.
Bapak ingin menempuh
jalur hukum tapi karena syok bapak terkena serangan jantung. Bapak
meninggal. Bapak tak kuat menanggung beban yang tak pernah dia
perkirakan. Bapak menganggap semua orang baik padanya tak ada yang bakal
mencelakakan dirinya. Tapi kenyataan berbanding terbalik. Dibalik
senyum mereka tersimpan rasa iri yang siap mengobrak abrik kebahagiaan
kami.
Aku jadi berpikir negatif sejak aku menerima perlakuan mereka yang
tak ramah pasca kejatuhan kami. Tak ada lagi teriakan gembira yang
menyambut kedatangan kami. Tak ada senyum semanis gula yang menemani
kami. Tak ada lagi peluk cium tanda kasih sayang. Semua hilang. Lenyap
bersama sinar kejayaan keluargaku.
Kami berusaha untuk bangkit tapi sia-sia. Seluruh
harta kami di sita pihak bank. Bahkan kemudian ibu juga menyusul bapak
karena stress tak bisa menghadapi hidup sendirian dengan menanggung
tujuh orang anak. Kakakku yang tertua perempuan, saat itu usianya 20
tahun. Dia sudah menikah tapi hidupnya juga masih dalam tanggungan
bapak. Suaminya sama mudanya dengannya. Tak ada pekerjaan hanya
menumpang hidup. Begitu juga dengan kakakku yang ke dua, saat itu
usianya 18 tahun. Dia baru saja menikah. Kondisi mereka sama dengan
kakakku yang pertama. Suaminya juga menumpang hidup pada bapak.
Terkadang aku menyesali sikap bapak yang begitu mudah menikahkan
anak-anaknya. Mungkin dalam pikiran bapak, hidupnya akan baik-baik saja
berpuluh-puluh tahun kedepan. Jadi untuk membiayai rumah tangga baru
seperti kakakku bukan masalah bagi bapak. Bapak tidak pernah berpikir
bahwa musibah bisa datang kapan saja. Ajal bisa menjemput setiap waktu.
Harta yang segunung bisa hilang dalam sekejap kalau musibah datang.
Tinggalah kami dengan kondisi yang memprihatinkan.
Dari terbiasa serba ada kami harus menghadapi hidup apa adanya. Semangat
kami perlahan-lahan luntur. Yang tinggal hanyalah perasaan sensitif
yang membuat kami saling bersitegang. Akhirnya kakakku yang menikah
memilih merantau bersama suami mereka. Mencari hidup di negeri orang.
Aku yang ditinggalkan sendiri dengan empat orang adik menjadi tak
berdaya. Kadang aku menangis di tengah malam saat melihat adik-adikku
tidur. Aku tidak bisa tidur tiap kali memikirkan kalau sekarang kami
tinggal di rumah yang sangat kecil dan sangat sederhana. Walau begitu
aku bersyukur karena masih ada tempat untuk kami tidur.
Pernah sekali aku memaksakan diri mengunjungi salah
seorang keluargaku. Tapi sambutan yang aku terima sangat menyakitkan.
Mereka menolakku. Mereka marah karena bapak sudah menuduh mereka
melakukan kejahatan kepada kami. Menurut mereka kalau mereka jahat untuk
apa aku datang?. Aku berjalan pulang dengan tetesan air mata di
wajahku.
Karena sudah tidak sanggup mengurus diri dan adikku,
pihak kelurahan menitipkan kami di pesantren yang ada di kampung. Pihak
pesantren membebaskan kami dari pembayaran karena kami tidak mampu. Aku
bersyukur masuk pesantren, kami jadi ada yang memperhatikan. Kami tidak
lagi kelaparan. Ada tempat bernaung yang layak.
Tapi mungkin nasib buruk selalu mengikutiku. Bermula
dari perkenalanku dengan seorang lelaki bernama Hamid. Dia terlihat
mapan.Walau usianya jauh diatasku. Aku enam belas tahun dan dia
kuperkirakan mungkin di atas tiga puluh. Tapi karena kebaikannya aku
tergoda. Dalam masa remajaku yang masih rentan. Aku punya mimpi yang
ingin aku wujudkan. Pak Hamid seperti bisa mewujudkannya. Aku tergoda.
Kami lalu menikah di pesantren. Adik-adikku menangis. Menyadari aku
bakal meninggalkan mereka.
Mimpiku untuk hidup lebih layak langsung hancur
berantakan saat kami tiba di kota. Ternyata pak Hamid tidak membawaku ke
rumahnya melainkan sebuah rumah kost. Katanya dia tidak ingin istrinya
tahu dia sudah menikah lagi. Aku kaget dan kecewa tapi pak Hamid
membujukku dengan mengatakan kalau ini hanya sementara. Dia akan
mencarikan rumah untukku. Aku terbuai.
Sebulan, dua bulan aku masih
sabar. Tapi sampai aku melahirkan anakku, kami tak kunjung menempati
rumah baru. Bahkan pak Hamid yang semula selalu naik mobil, beralih jadi
jalan kaki. Banyak alasan yang dia kemukakan. Kedatangannya yang semula
setiap hari berubah jadi seminggu sekali. Bahkan menjadi sekali
sebulan. Aku bahkan lupa kapan terkahir dia datang. Sekarang anakku
berumur tiga tahun. Tapi tak pernah sekalipun pak Hamid melihatnya
apalagi memberikan nafkah.
Aku pernah pulang ke pesantren tapi aku tidak betah.
Akhirnya aku kembali lagi ke kota dan mencari kerja sebagai penjaga toko
di sebuah pasar. Walau jauh dari lumayan tapi bisa untuk makan aku dan
anakku.
Hari ini aku betul-betul sedih. Toko tempatku bekerja
dua hari yang lalu terbakar. Api menghanguskan seluruh kios yang ada di
pasar. Musibah yang datang tiba-tiba. Aku sedih karena kehilangan
pekerjaan. Terbayang sulitnya mencari pekerjaan membuatku tak
bersemangat untuk keluar dari kamar. Anakku sejak tadi bermain dengan
anak tetangga. Sesekali dia datang hanya untuk minum.
Aku memperhatikan
anakku. Ada penyesalan seandainya bapak tidak meninggal, seandainya
usaha bapak tidak bermasalah, seandainya keluarga kami tidak jatuh
miskin, seandainya.. seandainya semuanya baik-baik saja pastilah hidupmu
tidak akan seperti ini anakku. Tapi semua sudah berlalu. Sekarang tetap
saja aku berandai-andai. Seandainya pasar tidak terbakar.. hidupku
memang selalu penuh cobaan…..***
0 komentar:
Posting Komentar