Siang
beranjak sore. Matahari masih menyisihkan sinarnya yang menyengat.
Cuaca panas. Namun wajah-wajah dari balik pepohonan masih terlihat
bersemangat. Wajah mereka di hiasi garis-garis hitam. Baju mereka hijau.
Mereka bersenjata lengkap. Salah seorang dari mereka mengawasi dari
balik pohon. Jumlah mereka enam orang. Semua terlihat serius. Wajah
mereka tegang.
“ Gimana,
dan? Kita serang mereka?” tanya seorang yang bertubuh kurus. Keringat
bercucuran dari dahinya. Dihapusnya keringatnya dengan tangan.
“ Iya,
komandan kita serang saja mereka. Terus bertahan seperti ini tidak
aman. Kita pasti akan ketahuan.” si gendut ikut nimbrung. Seseorang yang
sejak tadi dipanggil komandan masih dengan mimik wajah serius
mengangkat tangannya.
“ Sabar. Menyerang itu mudah. Mereka memang banyak tapi senjata yang kita miliki lebih canggih.” katanya dengan tenang.
“ Jadi
apa yang kita lakukan sekarang, dan. Sebentar lagi malam. Menyerang
dalam gelap bisa berbahaya. Apalagi mata saya sudah rabun-rabun” kata
yang kulitnya putih sambil memperbaiki kacamatanya.
“ Aku
curiga ada mata-mata diantara kita” katanya pelan. Yang lain
terperanjat. Mereka yang semula jongkok langsung duduk di tanah karena
kaget.
“ Mata-mata?” sahut mereka berbarengan. Sang komandan mengangguk.
“ Ya.
Ada penghianat diantara kita. Kenapa mereka selalu mengetahui tempat
persembunyian kita. Kalau kebetulan, kog sering sekali? Seperti ada yang
memberitahu dimana kita akan bersembunyi. Ayo mengaku saja, siapa
diantara kalian berlima yang jadi mata-mata musuh?” mata komandan
menatap tajam anak buahnya satu persatu. Mereka berlima langsung
tertunduk.
“ Ayo ngaku atau kalian semua aku pecat!”
“ Kalau kami di pecat, yang membantu komandan siapa? Yang lain sudah sebagian bergabung dengan musuh”
“ Terserah. Aku tidak sudi punya anak buah penghianat. Lebih baik sendiri daripada berteman dengan penghianat”
Mereka
terdiam. Tiba-tiba dari arah berlawanan muncul seseorang. Dia melangkah
tanpa rasa takut. Wajahnya terlihat lugu. Dia terus masuk ke dalam
persembunyian mereka. Sang komandan dan anak buahnya kaget bukan
kepalang.
“ Hakeem?
Kenapa kamu kesini? Kakak sudah bilang jangan nyusul kesini. Diam
disana saja. Kita bakal ketahuan!” jerit sang komandan pada adiknya yang
masih berumur empat tahun.Si adik dengan wajah lugu tanpa ekspresi
langsung ikut duduk diantara mereka. Tidak ingin berlama-lama memarahi
adiknya, sang komandan kemudian bertanya dengan amarah yang ditahan.
“ Waktu
kesini ada yang liat kamu nggak?” tanyanya. Si adik mengangguk. Dia
memperlihatkan permen yang banyak di dalam kantong bajunya.
“ Aku
di beri ini kak sama mereka. Katanya kalau aku beritahu mereka di mana
kakak bersembunyi ,aku dapat permen yang lebih banyak lagi” jawabnya
lugu. Sang komandan terduduk lemas. Ternyata penghianatnya adiknya
sendiri. Pantas saja sejak tadi mereka selalu kalah. Sekarang skor akhir
dua kosong.Bisa dipastikan mereka akan kalah telak tiga kosong.****
0 komentar:
Posting Komentar