Sabtu, 12 Mei 2012

Rambut Kak Dewinta

0


 

Sebelum  ibu meninggal lima tahun yang lalu, kakakku  Dewinta  tidak pernah memiliki rambut panjang. Dulu rambutnya selalu cepak dan terkesan tomboy hingga ibu sering kesal dan memintanya memanjangkan rambut. Namun keinginan ibu bertentangan dengan selera kak Dewinta. Dia tidak suka berambut panjang karena menurutnya tidak praktis dan terlalu menyulitkan jika harus beraktivitas.

Selain itu kak Dewinta juga kesulitan merawat rambut jika terlalu panjang. Pekerjaan kak Dewinta bagian lapangan dan itu sangat merepotkan jika setiap hari harus keramas. Sementara untuk mengeringkan juga tidak mudah. Tidak mungkin setiap hari harus ke salon untuk mengurus rambutnya. Karena itu kak Dewinta memilih untuk berambut cepak.

Namun meninggalnya ibu membuat kak Dewinta terluka. Pesan terakhir ibu saat sekarat di rumah sakit, adalah dia harus memanjangkan rambutnya. Kak Dewinta tanpa protes menyanggupi dan berjanji pada ibu.  Apalagi sejak ayah meninggal hanya ibu seorang diri yang mengurus kami. Dia akhirnya memanjangkan rambut  hingga nyaris menyentuh lutut. Alasan kak Dewinta tak ingin memiliki rambut pendek, karena rasa bersalah pada ibu.

Rambut hitam kak Dewinta sangat indah. Aku sebagai adik begitu terpesona hingga tiap kali kak Dewinta merapikan rambutnya, aku selalu memperhatikan.

“ Jangan di potong lagi ya, kak. Kalau butuh asisten untuk mengurus rambut, biar aku saja..” kataku saat dia selesai keramas dan tengah mengeringkan rambutnya. Kak Dewinta tidak suka memakai hairdryer ketika mengeringkan rambut. Dia lebih senang membiarkan rambutnya tergerai terkena angin hingga mengering.

“ Kakak tidak akan memotongnya, Viola. Semoga ada perusahaan shampoo yang melirik kakak untuk jadi bintang iklan hehehe....” kak Dewinta tertawa. Aku turut mendoakan.

****

“ Potong rambut?!? teriakku tak sadar ketika sedang makan berdua dengan kak Dewinta di sebuah warung makan. Kak Dewinta menunduk. Wajahnya murung.

“ Benar yang kakak ucapkan? Aku nggak salah dengar kan? Itu bercanda kan?”

Kejarku dengan pertanyaan yang beruntun. Namun kak Dewinta tidak menggeleng.

“ Aku mau potong rambut, Viola.” Suara kak Dewinta pelan.

“ Kenapa? Bukankah sejak lima tahun yang lalu kakak nggak pernah berambut cepak lagi?” Aku masih tidak percaya.

“ Kakak bosan Viola. Kakak ingin variasi. Sekarang keinginan potong rambut begitu besar. Rambut kakak kan masih bisa panjang nanti. Yang pasti sekarang kakak tidak punya pilihan lain selain memotongnya.”

Aku hanya bisa memandang rambut kak Dewinta yang panjang terurai. Rasa cemburu kadang hadir di hatiku. Andaikan rambutku seindah itu, aku pasti akan memelihara hingga panjang. Namun rambutku beda dengan kak Dewinta. Aku mengikuti rambut ayah yang tipis sementara kak Dewinta mewarisi rambut ibu yang tebal dan hitam.

“ Kapan kak Dewinta hendak memotong rambut?” tanyaku setelah merasa pasrah dengan keputusan kak Dewinta.

“ Besok.” Jawab kak Dewinta tanpa ragu. Aku makin sedih mendengarnya.

****

Lepas Isya, aku baru pulang dari kantor. Ku parkir motorku di garasi lalu melangkah menuju pintu samping di dekat garasi. Aku melangkah cepat masuk ke dalam rumah karena tak sabar ingin segera bertemu dengan kak Dewinta

Tapi di ruang tengah aku terpaku. Di depan tivi nampak kak Dewinta tengah menonton tivi. Posisinya yang membelakangiku membuatnya tidak menyadari kehadiranku. Yang membuatku terharu, kak Dewinta ternyata tidak jadi memotong rambut. Rambutnya tetap panjang dan tergerai indah.

Aku tidak jadi menegurnya karena ingin memberi kejutan. Perlahan aku masuk ke kamarku. Berganti baju dan mengeluarkan hadiah yang sengaja aku beli untuknya. Aku berharap dia tidak memotong rambut karena itu aku sengaja membeli jepitan rambut yang sangat disukainya.

Dengan mengendap-endap aku ke luar dari kamar. Aku mengintip ke ruang tengah, kak Dewinta tak ada lagi depan tivi. Aku menuju kamarnya. Ku dengar suara guyuran air dari dalam kamar mandi. Rupanya kak Dewinta sedang mandi.

“ Kak Dewinta! Aku udah pulang!” teriakku dari luar.

“ Ya..kakak hampir selesai mandi.” Balas kak Dewinta.

Tidak lama kemudian kak Dewinta keluar dengan rambutnya yang basah. Aku terkejut dan melotot melihatnya. Mataku tak berkedip membuat kak Dewinta tertawa melihatku.

“ Kamu kenapa? Terpesona dengan model rambut kakak sekarang?”

 “ Kapan kakak potong rambut?” tanyaku masih penasaran.

“ Tadi sore. Gimana? Baguskan?” kak Dewinta memamerkan rambut barunya.

“  Nggak ada teman kakak yang ikut kemari?” tanyaku lagi. Kak Dewinta menatapku heran.

“ Tidak ada. Kenapa?”

“ Tadi kakak nonton tivi ya?”

“ Tidak. Kakak langsung masuk kamar dan mandi. Memang kenapa? Kamu kok nanya yang aneh-aneh?”

“ Tadi kakak memakai terusan putih?” gelengan kepala kak Dewinta membuatku panik.

Aku makin ketakutan.Tenggorokanku tercekat. Lidahku rasanya kelu. Terburu-buru aku berlari ke ruang tengah. Tivi dalam keadaan mati dan ruang tengah gelap. Tadi aku melihat dengan jelas ruangan ini nampak terang dan suara tivi terdengar hingga ke garasi. Jika bukan kak Dewinta, lalu siapa sosok perempuan berambut panjang yang aku lihat di depan tivi?

========


0 komentar:

Posting Komentar