
Kabut
masih terlihat pagi itu saat Zaskia berjalan kaki menuju sekolahnya.
Mentari yang mulai timbul di ufuk timur makin menambah romantisme dalam
hati Zaskia. Senyum Zaskia yang tersungging tipis dengan sinar mata
berbinar, meyakinkan siapapun yang melihatnya kalau ada hal yang
menggembirakan yang tengah dia rasakan. Zaskia begitu lugu. Dia begitu
percaya dengan rasa yang dimilikinya. Begitu juga saat ini, saat dia
jatuh cinta. Kupu-kupu yang hinggap di jilbabnya pun di rasa sebagai
petunjuk akan kisah cintanya. Dia begitu percaya kalau doa-doanya selama
ini, yang dia panjatkan siang dan malam, perlahan-lahan akan terwujud.
Handphone
Zaskia bergetar dalam tas warna pink yang dia selepangkan di badannya.
Zaskia menghentikan langkah. Dia membuka tasnya lalu mengeluarkan
handphone yang juga berwarna pink. Saat membuka pesan yang masuk, mata
Zaskia berbinar. Dia mengepalkan tangannya dan berteriak yes. Untunglah
pagi itu jalan kecil yang dia lewati masih sunyi senyap dan sebagian
rumah masih tertutup.
Zaskia
berlari. Dia ingin segera tiba di sekolah. Sms yang baru saja dia
terima berasal dari Dongki. Teman sekelasnya yang sudah lama dia
idam-idamkan. Sekarang setelah semalam bermimpi indah tentang Dongki,
dia menerima pesan indah. Pesan kalau saat ini Dongki tengah menunggunya
di kelas. Zaskia terus berlari. Dia berharap saat ini ada ribuan
kupu-kupu yang bisa menerbangkannya dengan cepat ke sekolah. Tapi ini
adalah kehidupan nyata, tak ada kupu-kupu yang bisa dia harapkan untuk
membantunya. Alhasil sampai di depan kelasnya, Zaskia harus beristrahat
beberapa menit untuk memberi kesempatan jantungnya stabil seperti
semula.
Zaskia
masuk ke dalam kelas. Matanya tertuju ke tubuh jangkung Dongki. Dongki
tengah menulis sesuatu di papan tulis. Dia berbalik sambil tersenyum
melihat Zaskia.
“ Kenapa telat? Biasanya kamu yang lebih dulu tiba di sekolah”
Zaskia
maju dengan perlahan. Dadanya berdegup kencang saat langkahnya semakin
dekat dengan Dongki. Tiba-tiba Dongki mendekatinya dan menarik
tangannya.
“
Jalanmu seperti kura-kura. Teman-teman keburu datang” katanya lalu
memegang bahu Zaskia. Dia mengarahkan Zaskia menghadap ke papan tulis.
Senyum Zaskia hilang. Bintang-bintang dalam kepalanya lenyap. Tulisan di
papan tulis telah membuyarkan mimpinya. Wajah Zaskia berubah muram.
Untunglah Dongki tak melihat wajahnya. Seindah mimpinya tak seindah
tulisan yang ada di papan tulis.
Farid suka sama kamu, kamu mau jadi pacarnya?
Begitu tulisan
yang dibaca Zaskia dengan hati perih. Mengapa harus nama Farid yang
tertulis di sana? Mengapa bukan nama Dongki? Zaskia berharap ini hanya
kesalahan matanya yang salah melihat. Tapi berulang-ulang membacanya
tetap nama Farid yang ada di sana.
“
Kamu tentu senangkan? Aku memaksa Farid mengakui perasaannya padamu.
Ternyata betul, dia sudah lama suka sama kamu” Suara Dongki begitu
bersemangat dan riang. Dia memperhatikan wajah Zaskia dengan
bintang-bintang di matanya. Zaskia melihat itu tapi bukan rasa bahagia
yang hadir dalam hatinya. Dia sedih kenapa pagi ini
menerima kabar yang menyedihkan. Kemana mimpinya semalam? Apakah mereka
kini tengah bersembunyi? Atau hanya ingin mempermainkan hatinya?
“ Ayolah Zaskia. Jangan diam begitu. Aku tahu kamu juga sudah lama menyukai Farid.”
What? Suka? Sudah lama? Sejak kapan? Dari mana Dongki mendengar kabar angin yang tidak jelas berhembus dari mana.
“
Kata siapa?” akhirnya Zaskia bersuara. Dia penasaran. Mengapa
perasaannya yang begitu dia jaga dengan hati-hati, telah tersebar
menjadi gosip yang sudah di belokkan arahnya. Rasa penasaran di hatinya
kian membesar seperti bola salju.
“ Juana yang bilang”
“ Ana?” Zaskia merasa tangannya mulai dingin.
“
Iya. Aku sudah jadian dengan Juana. Dia cerita kalau kamu suka sama
Farid. Sebagai pacarnya aku tentu ingin menolong teman duduk dan juga
sahabatnya. Apalagi aku juga sebangku dengan Farid. Kan fantastis, kita
bisa kencan bareng”
Zaskia
terdiam. Kali ini dia benar-benar tidak bisa menyembunyikan warna
kemurungan diwajahnya. Dia berjalan ke luar kelas. Dongki yang
menatapnya dengan senyum, perlahan berganti dengan tatapan heran.
Zaskia
sedih. Selama ini dia selalu curhat tentang rasa yang dimilikinya
terhadap Dongki. Dia curhat tentang mimpi-mimpinya. Tentang keindahan
yang hadir dihatinya tiap kali menatap Dongki. Dia berharap mimpinya
akan menjadi nyata. Dan semua itu hanya dia ceritakan pada satu orang.
Tak ada orang lain yang tahu perasaannya kecuali Juana.***
0 komentar:
Posting Komentar