Jumat, 11 Mei 2012

Kabut di Hati Zaskia

0

 

Kabut masih terlihat pagi itu saat Zaskia berjalan kaki menuju sekolahnya. Mentari yang mulai timbul di ufuk timur makin menambah romantisme dalam hati Zaskia. Senyum Zaskia yang tersungging tipis dengan sinar mata berbinar, meyakinkan siapapun yang melihatnya kalau ada hal yang menggembirakan yang tengah dia rasakan. Zaskia begitu lugu. Dia begitu percaya dengan rasa yang dimilikinya. Begitu juga saat ini, saat dia jatuh cinta. Kupu-kupu yang hinggap di jilbabnya pun di rasa sebagai petunjuk akan kisah cintanya. Dia begitu percaya kalau doa-doanya selama ini, yang dia panjatkan siang dan malam, perlahan-lahan akan terwujud.

Handphone Zaskia bergetar dalam tas warna pink yang dia selepangkan di badannya. Zaskia menghentikan langkah. Dia membuka tasnya lalu mengeluarkan handphone yang juga berwarna pink. Saat membuka pesan yang masuk, mata Zaskia berbinar. Dia mengepalkan tangannya dan berteriak yes. Untunglah pagi itu jalan kecil yang dia lewati masih sunyi senyap dan sebagian rumah masih tertutup.

Zaskia berlari. Dia ingin segera tiba di sekolah. Sms yang baru saja dia terima berasal dari Dongki. Teman sekelasnya yang sudah lama dia idam-idamkan. Sekarang setelah semalam bermimpi indah tentang Dongki, dia menerima pesan indah. Pesan kalau saat ini Dongki tengah menunggunya di kelas. Zaskia terus berlari. Dia berharap saat ini ada ribuan kupu-kupu yang bisa menerbangkannya dengan cepat ke sekolah. Tapi ini adalah kehidupan nyata, tak ada kupu-kupu yang bisa dia harapkan untuk membantunya. Alhasil sampai di depan kelasnya, Zaskia harus beristrahat beberapa menit untuk memberi kesempatan jantungnya stabil seperti semula.

Zaskia masuk ke dalam kelas. Matanya tertuju ke tubuh jangkung Dongki. Dongki tengah menulis sesuatu di papan tulis. Dia berbalik sambil tersenyum melihat Zaskia.

“ Kenapa telat? Biasanya kamu yang lebih dulu tiba di sekolah”

Zaskia maju dengan perlahan. Dadanya berdegup kencang saat langkahnya semakin dekat dengan Dongki. Tiba-tiba Dongki mendekatinya dan menarik tangannya.

“ Jalanmu seperti kura-kura. Teman-teman keburu datang” katanya lalu memegang bahu Zaskia. Dia mengarahkan Zaskia menghadap ke papan tulis. Senyum Zaskia hilang. Bintang-bintang dalam kepalanya lenyap. Tulisan di papan tulis telah membuyarkan mimpinya. Wajah Zaskia berubah muram. Untunglah Dongki tak melihat wajahnya. Seindah mimpinya tak seindah tulisan yang ada di papan tulis.

Farid suka sama kamu, kamu mau jadi pacarnya?

Begitu tulisan yang dibaca Zaskia dengan hati perih. Mengapa harus nama Farid yang tertulis di sana? Mengapa bukan nama Dongki? Zaskia berharap ini hanya kesalahan matanya yang salah melihat. Tapi berulang-ulang membacanya tetap nama Farid yang ada di sana.

“ Kamu tentu senangkan? Aku memaksa Farid mengakui perasaannya padamu. Ternyata betul, dia sudah lama suka sama kamu” Suara Dongki begitu bersemangat dan riang. Dia memperhatikan wajah Zaskia dengan bintang-bintang di matanya. Zaskia melihat itu tapi bukan rasa bahagia yang hadir dalam hatinya. Dia sedih kenapa pagi ini  menerima kabar yang menyedihkan. Kemana mimpinya semalam? Apakah mereka kini tengah bersembunyi? Atau hanya ingin mempermainkan hatinya?

“ Ayolah Zaskia. Jangan diam begitu. Aku tahu kamu juga sudah lama menyukai Farid.”

What? Suka? Sudah lama? Sejak kapan? Dari mana Dongki mendengar kabar angin yang tidak jelas berhembus dari mana.

“ Kata siapa?” akhirnya Zaskia bersuara. Dia penasaran. Mengapa perasaannya yang begitu dia jaga dengan hati-hati, telah tersebar menjadi gosip yang sudah di belokkan arahnya. Rasa penasaran di hatinya kian membesar seperti bola salju.

“ Juana yang bilang”

“ Ana?” Zaskia merasa tangannya mulai dingin.

“ Iya. Aku sudah jadian dengan Juana. Dia cerita kalau kamu suka sama Farid. Sebagai pacarnya aku tentu ingin menolong teman duduk dan juga sahabatnya. Apalagi aku juga sebangku dengan Farid. Kan fantastis, kita bisa kencan bareng”

Zaskia terdiam. Kali ini dia benar-benar tidak bisa menyembunyikan warna kemurungan diwajahnya. Dia berjalan ke luar kelas. Dongki yang  menatapnya dengan senyum, perlahan berganti dengan tatapan heran.

Zaskia sedih. Selama ini dia selalu curhat tentang rasa yang dimilikinya terhadap Dongki. Dia curhat tentang mimpi-mimpinya. Tentang keindahan yang hadir dihatinya tiap kali menatap Dongki. Dia berharap mimpinya akan menjadi nyata. Dan semua itu hanya dia ceritakan pada satu orang. Tak ada orang lain yang tahu perasaannya kecuali Juana.***

0 komentar:

Posting Komentar