Minggu, 20 Mei 2012

Tak Seindah Kupu-kupu #4

0

 


Awan hitam sepertinya menaungi kami bertiga. Entah harus memulai dari mana menyelesaikan masalah cinta di antara kami. Kurasakan waktu sangat cepat bergulir. Aku sadar sesuatu yang buruk bakal terjadi hingga kesedihan menyelimuti hatiku. Perpisahan meski berusaha kami hindari akan terjadi cepat atau lambat.

Rasa khawatir membuatku gelisah sepanjang hari. Konsentrasiku sedikit terganggu karena dalam pikiranku hanya terbayang wajah Wawan yang sedih. Tak ada petunjuk yang bisa aku dapatkan. Artikel dari internet yang sempat kubaca, tak satupun yang bisa menjawab masalah kami.

Pesan sms membuyarkan kegelisahanku.

Regina, ntar malam aku nginap di rumahmu ya. Aku pengen curhat. Penting.

Aku berusaha tenang membaca pesan Poppy. Bukan hal aneh jika dia ingin curhat padaku. Tapi sejak kami bersahabat tak pernah sekalipun Poppy curhat tentang kekasih. Hal yang baru aku sadari saat ini. Seringkali kami ngobrol tentang pria idaman, namun kami selalu berhenti pada sosok Wawan. Hal yang untuk kesekian kali aku sadari lagi. Mengapa aku tak merasakan sejak dulu jika di antara kami ada rasa cinta yang terikat tali persahabatan?

Datang saja.

Ku balas pesannya dengan hati gundah. Pikiranku tak berpaling dari Wawan. Sejak ke kantor tak ada satupun telpon atau sms dari Wawan. Aku ingin tahu keadaannya saat ini. Sedang apakah dia? Apakah sama sepertiku, terus memikirkan masalah kami dan mencari jalan keluar?

Istrahat siang ku lewatkan begitu saja tanpa tertarik untuk menuju kantin kantor.  Sambil menenangkan diri, aku sengaja membereskan pekerjaan yang menumpuk di mejaku. Besok hari Sabtu. Meski kantor libur ke esokan hari namun aku biasanya masuk kerja dan membereskan pekerjaan. Karena itu hari ini kuluangkan waktu  demi menikmati libur besok yang mungkin tak menyenangkan bagiku.

Saat jam kantor usai, kuraih tas ku dan segera berlari keluar dari kantor menuju lift. Aku ingin secepatnya tiba di rumah. Meski lift kurasakan  sangat lambat berhubung banyak karyawan yang juga antri. Tiba di parkiran aku berlari menuju mobilku. Namun mesin mobil batal kunyalakan karena di depanku sosok wajah Poppy tiba-tiba menghadang. Dia masuk ke mobil dengan wajah dan rambut kusut seperti baru terhempas  angin.

“ Aku baru saja hendak menjemput.” Kataku. Poppy menarik tissu dalam tasnya lalu mengusap air mata dari pipinya.

“ Kamu kenapa, Pop? Apa ada masalah?” tanyaku berharap bukan masalah yang menimpa aku dan Wawan. Sikap Poppy memang jenaka dan penuh canda, namun jika hatinya terluka dia menjadi sangat rapuh seperti kapas. Itulah alasan mengapa Wawan memilihku untuk mengutarakan masalahnya. Meski sebenarnya hatiku juga bukan terbuat dari batu, aku tetap merasakan sakit jika hatiku terluka.

“ Aku mencintai Wawan, Regina..” ucapan Poppy tanpa basa-basi dan langsung menerobos jantungku. Meski aku telah tahu namun tetap saja terasa sakit manakala itu terucap langsung dari Poppy. Ku coba tenangkan hati dan bersikap seperti biasa. Aku tak ingin Poppy turut merasakan badai dalam hatiku. Cukuplah aku menjadi pendengar saat ini.

“ Mengapa kamu diam saja? Kok tidak terkejut?” Poppy menatap heran seolah merasakan kegelisahanku.

“ Aku sudah menebaknya.” Kataku. Tak ingin timbul curiga dalam pikirannya.

Sorot matanya kembali tenang.

“ Oh..”

“ Lalu kenapa kamu menangis? Apa terjadi sesuatu yang buruk?”

“ Aku bingung dengan Wawan. Hubungan kami menggantung, nggak jelas. Aku sudah seringkali menanyakan tapi dia selalu menghindar dan membicarakan hal lain. Aku kesal Regina. Aku ingin, sebagai sahabat, kamu bicara baik-baik padanya. Aku tidak tahan lagi karena ke dua orang tuaku sudah mendesakku. Aku bingung hendak menjawab pertanyaan mereka.”

Kerongkonganku tercekat. Teringat perbincangan dengan Wawan tadi pagi. Haruskah aku berterus terang pada Poppy tentang masalah kami? Lalu jika aku terus terang, bukankah dia akan tambah terluka? Bagaimana seandainya dia tahu Wawan juga mencintaiku, bukan hanya dirinya? Aku makin bingung menatap wajahnya.

“ Tolong ya, Regina. Aku mohon. Aku tahu Wawan sangat menghargai apapun yang kamu katakan. Dia pasti akan mendengar dan menuruti kata-katamu..”

Aku terdiam. Kata-kata mengendap dalam pikiranku. Apa yang harus aku katakan pada Wawan? Tidakkah Poppy tahu jika ucapanku juga tak lagi memiliki makna? Saat ini Wawan tak membutuhkan siapapun di antara kami. Kehadiran kami justru makin membuatnya terpuruk.

“ Aku akan bicara padanya. Rencanamu untuk menginap malam ini jadi kan?”

Poppy menggeleng.

“ Karena itu aku datang menemuimu sekarang. Ada acara keluarga yang harus aku hadiri. Aku takut Regina. Entah mengapa, aku merasakan jika ke dua orang tuaku tengah menyusun rencana menjodohkan aku dengan salah seorang keluarga kami. Belum pasti, namun sejak mereka terus mendesakku tentang Wawan, sejak itu pula aku melihat sinyal-sinyal jika ada orang lain yang di siapkan ayah untukku.”

“ Jangan berpikir yang rumit-rumit dulu. Semua juga belum pasti. Lebih baik kamu jaga hubungan baik dengan kedua orang tuamu. Jangan membuat mereka sedih. Ok?”

Poppy mengangguk lalu memelukku. Dia keluar dari mobil dengan wajah yang tak lagi sendu. Sepertinya pembicaraan denganku membuat perasaannya lega.

***

Tiba di rumah, kulihat Wawan tengah menarik koper-koper ke mobilnya. Buru-buru kumatikan mesin mobil lalu berlari ke arahnya.

“ Ada apa ini?” tanyaku panik. Aku tiba-tiba merasakan Wawan akan segera pergi meninggalkanku. Wawan tak berpaling. Dia menutup bagasi lalu berjalan kembali ke dalam rumah.

“ Apakah kamu ingin pergi malam ini? Benarkah? Lalu kami bagaimana? Aku dan Poppy bukan sesuatu yang berharga yang bisa menahanmu?” kataku mengejarnya hingga ke ruang tengah. Wawan tak menghentikan langkahnya.

“ Persahabatan kita kemana perginya? Sudah benar-benar hilangkah?!” teriakku.

Langkah Wawan terhenti di anak tangga. Perlahan dia berbalik.

“ Apa harapan terbaik darimu untukku.” Katanya pelan. Aku tidak mengerti dengan ucapannya.

Wawan terus melangkah semakin dekat ke arahku. Dia menatap tanpa berkedip membuatku kikuk.

“ Apa doa mu untukku?” katanya lagi. Kali ini suaranya terasa menggetarkan hatiku. Tanganku gemetar.

“ Apa maksudmu?” Aku berusaha membalas tatapannya namun aku kalah. Elusan lembut jemarinya kembali mengalirkan desiran hangat keseluruh sendi-sendi tubuhku.

“Jika kamu menginginkan aku hidup bahagia dan damai selamanya. Maka tolong, ikhlaskan aku pergi. Aku tidak akan menemukan ketenangan dan kedamaian selagi masih bersama kalian. Bukan karena benci hingga aku memilih pergi. Kamu sudah tahu masalahku  dari awal.”

“ Tapi Poppy sangat mencintaimu, Wan?”

“ Lalu kamu sendiri tidak? bagaimana denganku? Ini bukan hanya masalah Poppy tapi juga masalahmu dan masalahku. Aku yang paling tersiksa di antara kalian, jadi percuma saja kita bersama dan terus menjalin persahabatan kalau ada yang mengganjal dalam hati kita.”

“ Tapi Poppy..”

Jemari Wawan menutup mulutku.

“ Berhentilah membicarakan Poppy. Tak ada jalan keluar untuk masalah kita. Sekali lagi aku katakan tak ada jalan keluar. Satu hal, jangan ceritakan apapun tentang semua yang telah kita bicarakan. Jika takut Poppy membencimu, apakah kamu pikir dia tidak marah padaku dan ikut membencimu juga jika dia tahu aku mencintaimu?”

“ Haruskah aku dan Poppy berpisah juga?”

Wawan menghembuskan nafas berat. Sesaat dia terdiam seolah mencari jawaban atas pertanyaanku.

“ Aku berharap tak ada perpisahan di antara kalian. Aku juga tak ingin ada saling membenci di antara kita. Namun satu hal yang harus kamu ingat. Saat aku meninggalkan rumah ini, meninggalkan kamu dan Poppy. Maka komunikasi di antara kita tak ada lagi. Jika terus saling berhubungan, masalah kita bukan tambah selesai malah akan semakin runyam.”

Pesan Wawan terus bergema di pikiranku meski malam telah larut. Malam tadi, kulepas dia dengan derai air mata. Wawan tak sekalipun menoleh melihatku namun aku yakin dia sangat sedih. Langit yang terang dengan sinar rembulan tak mampu menghilangkan kesedihanku.

Sejak kepergian Wawan, dia menepati janjinya tak lagi berhubungan denganku. Beberapa kali hape nya tak aktif saat aku hubungi. Akun facebooknya juga di non aktifkan. Dia ternyata telah pindah kantor, entah kemana. Jejaknya benar-benar hilang tak berbekas. Keluarganya bahkan tak tahu keberadaannya selain kabar kalau Wawan baik-baik saja.

***

Hari-hari berlalu terasa hampa bagiku. Setelah berulangkali tidak membalas pesan dan telpon Poppy. Akhirnya dia  muncul di rumahku dengan linangan air mata. Sikapnya  makin menambah kesedihanku. Poppy, sahabat yang aku cintai dan sayangi,  mengucapkan kata-kata yang menusuk hatiku lebih dalam.

“ Jangan bersandiwara lagi, Regina. Kamu sahabatku atau bukan? Pantaskah kita di sebut sahabat jika sahabatku sendiri tega menghianati aku? Aku tahu sekarang, mengapa Wawan menghindariku. Itu pasti karena dirimu. Benarkan? Pesanku bukankah tidak kamu sampaikan?”

Aku tak membalas ucapannya. Bibirku seolah mengatup dan tak bisa kugerakkan. Aku ingin menjelaskan semuanya agar Poppy tahu dan tidak lagi menuduhku. Namun aku hanya mampu terpaku tanpa mengucapkan sepatah kata.

“ Tolong bicara Regina! Aku tidak suka melihatmu hanya diam. Jelaskan padaku! Ayo jelaskan! Mengapa Wawan meninggalkan aku…..” Poppy terisak sambil memegang ke dua tanganku. Dia terduduk di lantai tepat di depanku.

Rasa iba membuatku menarik tanganku lalu mengelus rambutnya. Namun sentuhan jemariku malah menyadarkan Poppy. Dia mengangkat wajahnya melihatku.

“ Aku tahu kamu mencintainya, Regina. Aku tahu….”

Kulepaskan tangannya lalu menjauh mendekati jendela. Kurasakan pandangan Poppy terus  mengikuti langkahku.

“ Aku masih menganggapku sahabatku, kakakku, saudaraku Regina. Setidaknya harapanku sampai hari ini meski aku yakin, sedikit banyak ada hal yang kamu katakan hingga Wawan tak memilihku.”

“ Bukan seperti itu, Poppy!” Aku tak tahan lagi. Terus mendapat tuduhan tak benar membuatku gerah.

“ Lalu seperti apa? Aku hanya melihat kenyataan jika Wawan meninggalkan aku. Itu pasti karena dia tahu kamu juga mencintainya. Alasan apa lagi yang membuatnya rela pergi? Dia tentu tidak enak hati jika harus menyakitimu. Tebakanku benar, kan?”

” Karena dia mencintai kita berdua!” teriakku kesal. Hilang sudah kesabaranku. Wajahku memanas, terngiang ucapan Wawan jika Poppy tak perlu tahu segalanya. Tak ada bedanya dia tahu atau tidak.

Maafkan aku Wawan, aku tak bisa memendamnya, batinku.

Poppy terkejut. Menatapku dengan sorot mata yang makin lama penuh kebencian. Aku tak menyangka ekspresinya akan seperti itu.

” Aku sangat membencimu, Regina. Seharusnya kamu memikirkan perasaanku, jangan malah menambah beban dalam pikiran Wawan!”

” Bukan..bukan aku, Poppy! kamu salah paham!” jeritku putus asa.

Poppy tak memperdulikan ucapanku. Dia beranjak pergi dengan kemarahan yang masih terlihat di wajahnya. Namun sebelum pergi dia meninggalkan sesuatu di atas meja. Entah apa. Setelah yakin dia benar-benar telah pergi, aku melangkan mendekati meja. Sebuah undangan pink tergeletak manis.

Dengan gemetar ku raih undangan pernikahan yang baru dia serahkan. Perlahan ku buka, terbaca nama Poppy dan seseorang yang tentu saja bukan Wawan. Aku tak tahu haruskah aku sedih atau gembira mengetahui Poppy akan melangsungkan pernikahan. Rasa di hati bercampur aduk. Air mataku tak henti mengalir terlebih jika mengingat  persahabatan kami.

Perjalanan manusia tak ada yang bisa menebak. Kegembiraan hari ini bisa menjadi kesedihan esok hari. Tangis hari ini mungkin saja adalah tawa di kemudian hari. Langkah silih berganti. Persahabatanku seperti roda yang berputar. Pernah  saling menyayangi, kini kami menjadi asing satu sama lain. Namun tetap dalam doaku, terucap harap agar persahabatanku kembali seperti yang dulu.

T a m at

0 komentar:

Posting Komentar