
Awan
hitam sepertinya menaungi kami bertiga. Entah harus memulai dari mana
menyelesaikan masalah cinta di antara kami. Kurasakan waktu sangat cepat
bergulir. Aku sadar sesuatu yang buruk bakal terjadi hingga kesedihan
menyelimuti hatiku. Perpisahan meski berusaha kami hindari akan terjadi
cepat atau lambat.
Rasa khawatir membuatku gelisah
sepanjang hari. Konsentrasiku sedikit terganggu karena dalam pikiranku
hanya terbayang wajah Wawan yang sedih. Tak ada petunjuk yang bisa aku
dapatkan. Artikel dari internet yang sempat kubaca, tak satupun yang
bisa menjawab masalah kami.
Pesan sms membuyarkan kegelisahanku.
Regina, ntar malam aku nginap di rumahmu ya. Aku pengen curhat. Penting.
Aku berusaha tenang membaca pesan Poppy.
Bukan hal aneh jika dia ingin curhat padaku. Tapi sejak kami bersahabat
tak pernah sekalipun Poppy curhat tentang kekasih. Hal yang baru aku
sadari saat ini. Seringkali kami ngobrol tentang pria idaman, namun kami
selalu berhenti pada sosok Wawan. Hal yang untuk kesekian kali aku
sadari lagi. Mengapa aku tak merasakan sejak dulu jika di antara kami
ada rasa cinta yang terikat tali persahabatan?
Datang saja.
Ku balas pesannya dengan hati gundah.
Pikiranku tak berpaling dari Wawan. Sejak ke kantor tak ada satupun
telpon atau sms dari Wawan. Aku ingin tahu keadaannya saat ini. Sedang
apakah dia? Apakah sama sepertiku, terus memikirkan masalah kami dan
mencari jalan keluar?
Istrahat siang ku lewatkan begitu saja
tanpa tertarik untuk menuju kantin kantor. Sambil menenangkan diri, aku
sengaja membereskan pekerjaan yang menumpuk di mejaku. Besok hari
Sabtu. Meski kantor libur ke esokan hari namun aku biasanya masuk kerja
dan membereskan pekerjaan. Karena itu hari ini kuluangkan waktu demi
menikmati libur besok yang mungkin tak menyenangkan bagiku.
Saat jam kantor usai, kuraih tas ku dan
segera berlari keluar dari kantor menuju lift. Aku ingin secepatnya tiba
di rumah. Meski lift kurasakan sangat lambat berhubung banyak karyawan
yang juga antri. Tiba di parkiran aku berlari menuju mobilku. Namun
mesin mobil batal kunyalakan karena di depanku sosok wajah Poppy
tiba-tiba menghadang. Dia masuk ke mobil dengan wajah dan rambut kusut
seperti baru terhempas angin.
“ Aku baru saja hendak menjemput.” Kataku. Poppy menarik tissu dalam tasnya lalu mengusap air mata dari pipinya.
“ Kamu kenapa, Pop? Apa ada masalah?”
tanyaku berharap bukan masalah yang menimpa aku dan Wawan. Sikap Poppy
memang jenaka dan penuh canda, namun jika hatinya terluka dia menjadi
sangat rapuh seperti kapas. Itulah alasan mengapa Wawan memilihku untuk
mengutarakan masalahnya. Meski sebenarnya hatiku juga bukan terbuat dari
batu, aku tetap merasakan sakit jika hatiku terluka.
“ Aku mencintai Wawan, Regina..” ucapan
Poppy tanpa basa-basi dan langsung menerobos jantungku. Meski aku telah
tahu namun tetap saja terasa sakit manakala itu terucap langsung dari
Poppy. Ku coba tenangkan hati dan bersikap seperti biasa. Aku tak ingin
Poppy turut merasakan badai dalam hatiku. Cukuplah aku menjadi pendengar
saat ini.
“ Mengapa kamu diam saja? Kok tidak terkejut?” Poppy menatap heran seolah merasakan kegelisahanku.
“ Aku sudah menebaknya.” Kataku. Tak ingin timbul curiga dalam pikirannya.
Sorot matanya kembali tenang.
“ Oh..”
“ Lalu kenapa kamu menangis? Apa terjadi sesuatu yang buruk?”
“ Aku bingung dengan Wawan. Hubungan
kami menggantung, nggak jelas. Aku sudah seringkali menanyakan tapi dia
selalu menghindar dan membicarakan hal lain. Aku kesal Regina. Aku
ingin, sebagai sahabat, kamu bicara baik-baik padanya. Aku tidak tahan
lagi karena ke dua orang tuaku sudah mendesakku. Aku bingung hendak
menjawab pertanyaan mereka.”
Kerongkonganku tercekat. Teringat
perbincangan dengan Wawan tadi pagi. Haruskah aku berterus terang pada
Poppy tentang masalah kami? Lalu jika aku terus terang, bukankah dia
akan tambah terluka? Bagaimana seandainya dia tahu Wawan juga
mencintaiku, bukan hanya dirinya? Aku makin bingung menatap wajahnya.
“ Tolong ya, Regina. Aku mohon. Aku tahu
Wawan sangat menghargai apapun yang kamu katakan. Dia pasti akan
mendengar dan menuruti kata-katamu..”
Aku terdiam. Kata-kata mengendap dalam
pikiranku. Apa yang harus aku katakan pada Wawan? Tidakkah Poppy tahu
jika ucapanku juga tak lagi memiliki makna? Saat ini Wawan tak
membutuhkan siapapun di antara kami. Kehadiran kami justru makin
membuatnya terpuruk.
“ Aku akan bicara padanya. Rencanamu untuk menginap malam ini jadi kan?”
Poppy menggeleng.
“ Karena itu aku datang menemuimu
sekarang. Ada acara keluarga yang harus aku hadiri. Aku takut Regina.
Entah mengapa, aku merasakan jika ke dua orang tuaku tengah menyusun
rencana menjodohkan aku dengan salah seorang keluarga kami. Belum pasti,
namun sejak mereka terus mendesakku tentang Wawan, sejak itu pula aku
melihat sinyal-sinyal jika ada orang lain yang di siapkan ayah untukku.”
“ Jangan berpikir yang rumit-rumit dulu.
Semua juga belum pasti. Lebih baik kamu jaga hubungan baik dengan kedua
orang tuamu. Jangan membuat mereka sedih. Ok?”
Poppy mengangguk lalu memelukku. Dia
keluar dari mobil dengan wajah yang tak lagi sendu. Sepertinya
pembicaraan denganku membuat perasaannya lega.
***
Tiba di rumah, kulihat Wawan tengah menarik koper-koper ke mobilnya. Buru-buru kumatikan mesin mobil lalu berlari ke arahnya.
“ Ada apa ini?” tanyaku panik. Aku
tiba-tiba merasakan Wawan akan segera pergi meninggalkanku. Wawan tak
berpaling. Dia menutup bagasi lalu berjalan kembali ke dalam rumah.
“ Apakah kamu ingin pergi malam ini?
Benarkah? Lalu kami bagaimana? Aku dan Poppy bukan sesuatu yang berharga
yang bisa menahanmu?” kataku mengejarnya hingga ke ruang tengah. Wawan
tak menghentikan langkahnya.
“ Persahabatan kita kemana perginya? Sudah benar-benar hilangkah?!” teriakku.
Langkah Wawan terhenti di anak tangga. Perlahan dia berbalik.
“ Apa harapan terbaik darimu untukku.” Katanya pelan. Aku tidak mengerti dengan ucapannya.
Wawan terus melangkah semakin dekat ke arahku. Dia menatap tanpa berkedip membuatku kikuk.
“ Apa doa mu untukku?” katanya lagi. Kali ini suaranya terasa menggetarkan hatiku. Tanganku gemetar.
“ Apa maksudmu?” Aku berusaha membalas
tatapannya namun aku kalah. Elusan lembut jemarinya kembali mengalirkan
desiran hangat keseluruh sendi-sendi tubuhku.
“Jika kamu menginginkan aku hidup
bahagia dan damai selamanya. Maka tolong, ikhlaskan aku pergi. Aku tidak
akan menemukan ketenangan dan kedamaian selagi masih bersama kalian.
Bukan karena benci hingga aku memilih pergi. Kamu sudah tahu masalahku
dari awal.”
“ Tapi Poppy sangat mencintaimu, Wan?”
“ Lalu kamu sendiri tidak? bagaimana
denganku? Ini bukan hanya masalah Poppy tapi juga masalahmu dan
masalahku. Aku yang paling tersiksa di antara kalian, jadi percuma saja
kita bersama dan terus menjalin persahabatan kalau ada yang mengganjal
dalam hati kita.”
“ Tapi Poppy..”
Jemari Wawan menutup mulutku.
“ Berhentilah membicarakan Poppy. Tak
ada jalan keluar untuk masalah kita. Sekali lagi aku katakan tak ada
jalan keluar. Satu hal, jangan ceritakan apapun tentang semua yang telah
kita bicarakan. Jika takut Poppy membencimu, apakah kamu pikir dia
tidak marah padaku dan ikut membencimu juga jika dia tahu aku
mencintaimu?”
“ Haruskah aku dan Poppy berpisah juga?”
Wawan menghembuskan nafas berat. Sesaat dia terdiam seolah mencari jawaban atas pertanyaanku.
“ Aku berharap tak ada perpisahan di
antara kalian. Aku juga tak ingin ada saling membenci di antara kita.
Namun satu hal yang harus kamu ingat. Saat aku meninggalkan rumah ini,
meninggalkan kamu dan Poppy. Maka komunikasi di antara kita tak ada
lagi. Jika terus saling berhubungan, masalah kita bukan tambah selesai
malah akan semakin runyam.”
Pesan Wawan terus bergema di pikiranku
meski malam telah larut. Malam tadi, kulepas dia dengan derai air mata.
Wawan tak sekalipun menoleh melihatku namun aku yakin dia sangat sedih.
Langit yang terang dengan sinar rembulan tak mampu menghilangkan
kesedihanku.
Sejak kepergian Wawan, dia menepati
janjinya tak lagi berhubungan denganku. Beberapa kali hape nya tak aktif
saat aku hubungi. Akun facebooknya juga di non aktifkan. Dia ternyata
telah pindah kantor, entah kemana. Jejaknya benar-benar hilang tak
berbekas. Keluarganya bahkan tak tahu keberadaannya selain kabar kalau
Wawan baik-baik saja.
***
Hari-hari berlalu terasa hampa bagiku.
Setelah berulangkali tidak membalas pesan dan telpon Poppy. Akhirnya
dia muncul di rumahku dengan linangan air mata. Sikapnya makin
menambah kesedihanku. Poppy, sahabat yang aku cintai dan sayangi,
mengucapkan kata-kata yang menusuk hatiku lebih dalam.
“ Jangan bersandiwara lagi, Regina. Kamu
sahabatku atau bukan? Pantaskah kita di sebut sahabat jika sahabatku
sendiri tega menghianati aku? Aku tahu sekarang, mengapa Wawan
menghindariku. Itu pasti karena dirimu. Benarkan? Pesanku bukankah tidak
kamu sampaikan?”
Aku tak membalas ucapannya. Bibirku
seolah mengatup dan tak bisa kugerakkan. Aku ingin menjelaskan semuanya
agar Poppy tahu dan tidak lagi menuduhku. Namun aku hanya mampu terpaku
tanpa mengucapkan sepatah kata.
“ Tolong bicara Regina! Aku tidak suka
melihatmu hanya diam. Jelaskan padaku! Ayo jelaskan! Mengapa Wawan
meninggalkan aku…..” Poppy terisak sambil memegang ke dua tanganku. Dia
terduduk di lantai tepat di depanku.
Rasa iba membuatku menarik tanganku lalu
mengelus rambutnya. Namun sentuhan jemariku malah menyadarkan Poppy.
Dia mengangkat wajahnya melihatku.
“ Aku tahu kamu mencintainya, Regina. Aku tahu….”
Kulepaskan tangannya lalu menjauh mendekati jendela. Kurasakan pandangan Poppy terus mengikuti langkahku.
“ Aku masih menganggapku sahabatku,
kakakku, saudaraku Regina. Setidaknya harapanku sampai hari ini meski
aku yakin, sedikit banyak ada hal yang kamu katakan hingga Wawan tak
memilihku.”
“ Bukan seperti itu, Poppy!” Aku tak tahan lagi. Terus mendapat tuduhan tak benar membuatku gerah.
“ Lalu seperti apa? Aku hanya melihat
kenyataan jika Wawan meninggalkan aku. Itu pasti karena dia tahu kamu
juga mencintainya. Alasan apa lagi yang membuatnya rela pergi? Dia tentu
tidak enak hati jika harus menyakitimu. Tebakanku benar, kan?”
” Karena dia mencintai kita berdua!”
teriakku kesal. Hilang sudah kesabaranku. Wajahku memanas, terngiang
ucapan Wawan jika Poppy tak perlu tahu segalanya. Tak ada bedanya dia
tahu atau tidak.
Maafkan aku Wawan, aku tak bisa memendamnya, batinku.
Poppy terkejut. Menatapku dengan sorot mata yang makin lama penuh kebencian. Aku tak menyangka ekspresinya akan seperti itu.
” Aku sangat membencimu, Regina. Seharusnya kamu memikirkan perasaanku, jangan malah menambah beban dalam pikiran Wawan!”
” Bukan..bukan aku, Poppy! kamu salah paham!” jeritku putus asa.
Poppy tak memperdulikan ucapanku. Dia
beranjak pergi dengan kemarahan yang masih terlihat di wajahnya. Namun
sebelum pergi dia meninggalkan sesuatu di atas meja. Entah apa. Setelah
yakin dia benar-benar telah pergi, aku melangkan mendekati meja. Sebuah
undangan pink tergeletak manis.
Dengan gemetar ku raih undangan
pernikahan yang baru dia serahkan. Perlahan ku buka, terbaca nama Poppy
dan seseorang yang tentu saja bukan Wawan. Aku tak tahu haruskah aku
sedih atau gembira mengetahui Poppy akan melangsungkan pernikahan. Rasa
di hati bercampur aduk. Air mataku tak henti mengalir terlebih jika
mengingat persahabatan kami.
Perjalanan
manusia tak ada yang bisa menebak. Kegembiraan hari ini bisa menjadi
kesedihan esok hari. Tangis hari ini mungkin saja adalah tawa di
kemudian hari. Langkah silih berganti. Persahabatanku seperti roda yang
berputar. Pernah saling menyayangi, kini kami menjadi asing satu sama
lain. Namun tetap dalam doaku, terucap harap agar persahabatanku kembali
seperti yang dulu.
T a m at
0 komentar:
Posting Komentar