Festival Fiksi Kolaborasi
(No. 31 Trio Bombastis)
Subuh hampir menyapa. Alunan ayat suci sudah terdengar berkumandang
dari pengeras suara Masjid di ujung jalan. Seperti biasanya, selalu
terulang, pada saat-saat semacam inilah akan terdengar ketukan keras di
pintu. Mi, seperti biasa pula, hanya membaringkan tubuh dan berusaha
keras agar tak tertidur, betapapun dirinya telah letih dan sangat
mengantuk. Ia tak ingin tidak terjaga. Bila sampai terjadi, maka ketukan
akan terus bertubi-tubi, dengan keras, seakan hendak menjebolnya. Ya,
Mi, tak ingin hal itu terjadi. Ia tidak ingin tetangga menjadi terganggu
dan menjadi bahan omongan di kampung ini. Oh, bukan hanya itu
sebenarnya. Terlambat membuka pintu bisa mengakibatkan tubuh-tubuhnya
menjadi sasaran empuk hantaman Bo, suaminya.
Ketukan pertama sudah terdengar. Mi tak perlu menunggu ketukan
berikutnya untuk segera bangkit dari ranjang. Ketukan demi ketukan yang
mengeras saat ia masih tergesa menuju pintu. Segera ia membukanya. Aroma
minuman keras menyeruak. Walaupun telah menjadi sarapan pada dini hari,
aroma itu tetap saja menyesakkan pernafasan Mi. Sesosok tubuh di depan
pintu, dengan langkah terhuyung akan masuk ke dalam rumah ini.Belum
tentu bisa sampai ranjang. Seringkali sudah terjatuh diruang tamu.
Walau dengan kekuatan yang nyaris tak ada, Mi akan memaksakan diri
untuk membawa suaminya ke tempat tidur. Bukan karena Mi kasihan terhadap
Bo, tapi Mi takut dengan tindakan Bo. Seperti yang pernah terjadi,
karena tidak kuat memapah Bo, akhirnya Mi membiarkan saja Bo tertidur di
ruang tamu.
Akibatnya tak pernah Mi bayangkan. Seperti beruang mengamuk, Bo
menghancurkan apa saja yang ada di dalam rumah. Teriakan-teriakan
kemarahan, sumpah serapah, hingga kata-kata penghinaan terdengar di
telinga Mi. Saat itu Mi hanya bersembunyi di balik lemari. Dia memeluk
ke dua anaknya yang sama takutnya dengan dirinya. Dua bocah perempuan
yang tak tahu apa-apa. Mi khawatir dengan keselamatan ke dua putrinya.
Dia tidak ingin anak-anaknya menjadi sasaran kemarahan Bo. Karena itu
saat Bo mengamuk, Mi terus memeluk ke dua putrinya yang masih balita
dengan erat. Dia bisa saja meminta ke dua anaknya untuk lari ke
tetangga. Tapi sejak suaminya membuat keributan dengan para tetangga,
tak ada lagi yang bersimpati untuk menolong Mi dan kedua anaknya.
Mungkin mereka sudah lelah atau juga sudah kesal dengan tingkah Bo yang
selalu membuat masalah dengan mereka.
”Mengapa harus dipertahankan bila dirimu selalu tersiksa,”
Wi, seorang sahabat dekatnya berkomentar. Sungguh, Mi sama sekali
tidak menceritakan apapun tentang dirinya. Sama sekali tidak curhat.
Mungkin saja Wi berusaha menebak melihat kondisinya. Atau ia mendengar
kisah-kisah dari para tetangga.
Ini masalah rumah tangga sendiri, tidak baik diobral kesana kemari.
Apapun yang terjadi, biarlah aku sendiri yangmenanggungnya. Demikian Mi
berpikir dan bersikap.Bo adalah pilihan hatinya sendiri. Bukan paksaan.
Ia memang sangat mencintai Bo, seorang laki-laki dari desa sebelah.
Memang, Bo bukanlah lelaki sempurna. Ia tidak berperawakan tegap ataupun
ganteng. Ia biasa-biasa saja. Tubuhnya kurus, walau tidak kurus sekali.
Penampilannya selalu ceria, banyak canda dan senyum. Ia juga memiliki
jiwa sosial yang tinggi. Tak segan membantu kawan-kawan semampu ia bisa.
Ia juga biasa menyiikapi hidup dengan enteng.
”Sudah susah hidup ini, biarlah kita buat tertawa,” demikian ia selalu berkomentar.
Perjumpaan Mi berkenalan pertama kali saat ada lomba karnaval tingkat
kecamatan. Waktu itu ia menjadi salah satu panitia. Demikian juga Bo.
Semula tidak ada perasaan apa-apa. Tapi kepergiannya dengan Bo,
menggunakan sepeda keliling desa-desa untuk menyampaikan undangan,
mengompori agar terlibat dalam lomba, membuatnya menjadi dekat.Kisah
berjalan begitu saja sehingga mereka menjadi pasangan walau tiada kata
cinta terlontar.
”Bukankah cinta tak perlu dikatakan? Biarlah ia mengalir bagaikan
air,” demikian Bo pernah berkata ketika ditanyakan apakah ia mencintai
Mi dengan sungguh-sungguh. Jawaban yang mengambang dan bisa menjadi
pembelaan bila kelak terjadi sesuatu. Tapi Mi diam saja, akhirnya
mengikuti aliran kehidupan bersama Bo. Sampai pada akhirnya Bo, setelah
mendapatkan pekerjaan sebagai buruh di sebuah pabrik di pinggiran kota,
menyatakan ingin memperistrinya, ia sama sekali tak menolak.
Pernikahan mereka berlangsung sederhana. Namun itu tak mengurangi
kebahagiaan yang Mi rasakan. Baginya, asal mereka sudah menikah,
sesederhana apapun acara itu tak lagi penting. Bahkan andai Bo
mengajaknya menikah hanya berdua saja menghadap penghulu, Mi bersedia.
Cinta dalam hati Mi sudah seperti bola salju, yang setiap hari bertambah
besar. Mi sadar ia tak bisa lagi berpaling dari sosok Bo, lelaki
pertama yang singgah dan menempati ruang dalam hatinya.
Hari-hari berlalu dengan tawa dan cerita bahagia. Sinar cinta
terlihat jelas dari rumah mereka. Rumah peninggalan orang tua Mi. Rumah
yang lumayan tua dan tak lagi terlihat keindahannya. Tapi karena cinta,
rumah itu terlihat bercahaya. Oleh Bo rumah itu kemudian di cat dengan
warna cerah, hingga tak tampak lagi kalau rumah itu adalah rumah tua
yang sudah ketinggalan jaman.
Setiap pagi, saat Bo akan berangkat kerja. Mi akan mencium tangan
suaminya. Ciuman tangan itu di iringi doa, agar suaminya mendapat
kemudahan dalam mencari rejeki. Dengan lembut pula, Bo akan mencium
kening istrinya. Berharap saat kembali nanti, ia masih bisa melihat
senyum dan wajah manis istrinya. Dan dengan lambaian tangan, pasangan
yang tengah di penuhi bunga-bunga cinta itu pun berpisah. Kehidupan yang
indah. Langit mendung tak pernah terlihat di atas rumah mereka. Hanya
sinar mentari dan siluet senja yang mewarnai. Sesekali keindahan
pelangi, juga menampakkan diri
.Kelengkapan kebahagiaan kehidupan mereka saat anak pertama lahir
sangat terasa sekali. Sayang, situasi berubah pada tahun ke lima
pernikahan mereka. Peristiwa yang harus dialami selepas melahirkan anak
perempuannya yang kedua.
Pada saat itu, ketika kehamilannya mencapai tujuh bulan, Bo
mengabarkan kepadanya bahwa dirinya mendapatkan tawaran menggiurkan dari
juragan Min yang dikenal bisa menyalurkan orang-orang untuk bekerja di
luar negeri. Bo mendapatkan pilihan apakah ke daerah Timur Tengah,
Singapore, Malaysia, atau Korea. Ketika disampaikan kepada Mi tentang
niatnya, Mi merestui.
”Bila itu pilihan terbaik, aku pasti akan selalu mendukungmu, Kang Mas,”
Surat-surat mulai diurus. Semuanya butuh uang. Tabungan dan seluruh
perhiasan Mi yang memang tak seberapa telah berpindah tangan ke pihak
lain untuk memenuhi kebutuhan itu.
”Mi, harus bayar 25 juta.” kata Bo, di suatu senja, di teras rumah sembari duduk berdua menikmati kopi dan pisang goreng.
”Kalau tidak, perjalanan akan gagal.”
”Dua puluh lima juta?!” Mi terpana. Darimana mendapatkan uang sebesar
itu? Uang yang tak pernah terpegangtangan olehnya. Membayangkan-pun
juga takpernah.
”Diberi waktu dua minggu, ini, Mi.” Bo sambil menatap cahaya matahari yang memerah, yang menelusup lewat dedaunan pohon mangga.
Bo sendiri merasa pasrah. Ia merasa tidak bisa melanjutkan
perjalanannya untuk mencapai harapan untuk melakukan perubahan dalam
kehidupan mereka. Walau sudah keluar uang sekitar dua juta lebih untuk
mengurus dan melengkapi surat-surat yang dibutuhkan, uang itu dapat
hangus begitu saja tanpa guna. Surat keterangan kesehatan, paspor, dan
setumpuk surat-surat lainnya hanya menjadi kertas belaka.
”Ya, sudahlah, Mi,” Bo sambil meraih dan menggenggam jemari Mi yang
duduk tertunduk. ”Jangan dipikir. Memang bukan rejeki kita,” lanjut Bo
sambil berdiri dan membungkuk di depan Mi. Tangannya mengelus-elus perut
Mi yang telah semakin membesar.
Mi mengangguk-anggukkan kepala. Tapi pikirannya berkecamuk. Mencoba
menerobos berbagai dinding di kepala mencari celah dan harapan guna
membuka jalan agar uang yang dibutuhkan bisa tersedia. Sudah separo
jalan, tak perlu dihentikan.
”Eh, kemana si Si, Mi?” Bo membuyarkan bayang-bayang yang tengah
bermain dalam kepala Mi menanyakan tentang Si,anak pertama mereka.
Mi menoleh ke arah Bo. Lalu matanya menjelajah sekeliling rumah yang
tertangkap mata. ”Tidak kelihatan, mungkin masih asyik bermain di rumah
Mpok Ani. Biar aku cari dulu, hampir Maghrib”
0 komentar:
Posting Komentar