Senin, 14 Mei 2012

[FFK] Saat Subuh Menyapa #1#

0

 

Festival Fiksi Kolaborasi

Kolaborasi Asih Suwarsy, Odi Salahuddin, fitri y.Yeye

(No. 31 Trio Bombastis)

Ilustrasi google.com

Subuh hampir menyapa. Alunan ayat suci sudah terdengar berkumandang dari pengeras suara Masjid di ujung jalan. Seperti biasanya, selalu terulang, pada saat-saat semacam inilah akan terdengar ketukan keras di pintu. Mi, seperti biasa pula, hanya membaringkan tubuh dan berusaha keras agar tak tertidur, betapapun dirinya telah letih dan sangat mengantuk. Ia tak ingin tidak terjaga. Bila sampai terjadi, maka ketukan akan terus bertubi-tubi, dengan keras, seakan hendak menjebolnya. Ya, Mi, tak ingin hal itu terjadi. Ia tidak ingin tetangga menjadi terganggu dan menjadi bahan omongan di kampung ini. Oh, bukan hanya itu sebenarnya. Terlambat membuka pintu bisa mengakibatkan tubuh-tubuhnya menjadi sasaran empuk hantaman Bo, suaminya.

Ketukan pertama sudah terdengar. Mi tak perlu menunggu ketukan berikutnya untuk segera bangkit dari ranjang. Ketukan demi ketukan yang mengeras saat ia masih tergesa menuju pintu. Segera ia membukanya. Aroma minuman keras menyeruak. Walaupun telah menjadi sarapan pada dini hari, aroma itu tetap saja menyesakkan pernafasan Mi. Sesosok tubuh di depan pintu, dengan langkah terhuyung akan masuk ke dalam rumah ini.Belum tentu bisa sampai ranjang. Seringkali sudah terjatuh diruang tamu.

Walau dengan kekuatan yang nyaris tak ada, Mi akan memaksakan diri untuk membawa suaminya ke tempat tidur. Bukan karena Mi kasihan terhadap Bo, tapi Mi takut dengan tindakan Bo. Seperti yang pernah terjadi, karena tidak kuat memapah Bo, akhirnya Mi membiarkan saja Bo tertidur di ruang tamu.

Akibatnya tak pernah Mi bayangkan. Seperti beruang mengamuk, Bo menghancurkan apa saja yang ada di dalam rumah. Teriakan-teriakan kemarahan, sumpah serapah, hingga kata-kata penghinaan terdengar di telinga Mi. Saat itu Mi hanya bersembunyi di balik lemari. Dia memeluk ke dua anaknya yang sama takutnya dengan dirinya. Dua bocah perempuan yang tak tahu apa-apa. Mi khawatir dengan keselamatan ke dua putrinya. Dia tidak ingin anak-anaknya menjadi sasaran kemarahan Bo. Karena itu saat Bo mengamuk, Mi terus memeluk ke dua putrinya yang masih balita dengan erat. Dia bisa saja meminta ke dua anaknya untuk lari ke tetangga. Tapi sejak suaminya membuat keributan dengan para tetangga, tak ada lagi yang bersimpati untuk menolong Mi dan kedua anaknya. Mungkin mereka sudah lelah atau juga sudah kesal dengan tingkah Bo yang selalu membuat masalah dengan mereka.

”Mengapa harus dipertahankan bila dirimu selalu tersiksa,”

Wi, seorang sahabat dekatnya berkomentar. Sungguh, Mi sama sekali tidak menceritakan apapun tentang dirinya. Sama sekali tidak curhat. Mungkin saja Wi berusaha menebak melihat kondisinya. Atau ia mendengar kisah-kisah dari para tetangga.

Ini masalah rumah tangga sendiri, tidak baik diobral kesana kemari. Apapun yang terjadi, biarlah aku sendiri yangmenanggungnya. Demikian Mi berpikir dan bersikap.Bo adalah pilihan hatinya sendiri. Bukan paksaan. Ia memang sangat mencintai Bo, seorang laki-laki dari desa sebelah. Memang, Bo bukanlah lelaki sempurna. Ia tidak berperawakan tegap ataupun ganteng. Ia biasa-biasa saja. Tubuhnya kurus, walau tidak kurus sekali. Penampilannya selalu ceria, banyak canda dan senyum. Ia juga memiliki jiwa sosial yang tinggi. Tak segan membantu kawan-kawan semampu ia bisa. Ia juga biasa menyiikapi hidup dengan enteng.

”Sudah susah hidup ini, biarlah kita buat tertawa,” demikian ia selalu berkomentar.

Perjumpaan Mi berkenalan pertama kali saat ada lomba karnaval tingkat kecamatan. Waktu itu ia menjadi salah satu panitia. Demikian juga Bo. Semula tidak ada perasaan apa-apa. Tapi kepergiannya dengan Bo, menggunakan sepeda keliling desa-desa untuk menyampaikan undangan, mengompori agar terlibat dalam lomba, membuatnya menjadi dekat.Kisah berjalan begitu saja sehingga mereka menjadi pasangan walau tiada kata cinta terlontar.

”Bukankah cinta tak perlu dikatakan? Biarlah ia mengalir bagaikan air,” demikian Bo pernah berkata ketika ditanyakan apakah ia mencintai Mi dengan sungguh-sungguh. Jawaban yang mengambang dan bisa menjadi pembelaan bila kelak terjadi sesuatu. Tapi Mi diam saja, akhirnya mengikuti aliran kehidupan bersama Bo. Sampai pada akhirnya Bo, setelah mendapatkan pekerjaan sebagai buruh di sebuah pabrik di pinggiran kota, menyatakan ingin memperistrinya, ia sama sekali tak menolak.

Pernikahan mereka berlangsung sederhana. Namun itu tak mengurangi kebahagiaan yang Mi rasakan. Baginya, asal mereka sudah menikah, sesederhana apapun acara itu tak lagi penting. Bahkan andai Bo mengajaknya menikah hanya berdua saja menghadap penghulu, Mi bersedia. Cinta dalam hati Mi sudah seperti bola salju, yang setiap hari bertambah besar. Mi sadar ia tak bisa lagi berpaling dari sosok Bo, lelaki pertama yang singgah dan menempati ruang dalam hatinya.

Hari-hari berlalu dengan tawa dan cerita bahagia. Sinar cinta terlihat jelas dari rumah mereka. Rumah peninggalan orang tua Mi. Rumah yang lumayan tua dan tak lagi terlihat keindahannya. Tapi karena cinta, rumah itu terlihat bercahaya. Oleh Bo rumah itu kemudian di cat dengan warna cerah, hingga tak tampak lagi kalau rumah itu adalah rumah tua yang sudah ketinggalan jaman.

Setiap pagi, saat Bo akan berangkat kerja. Mi akan mencium tangan suaminya. Ciuman tangan itu di iringi doa, agar suaminya mendapat kemudahan dalam mencari rejeki. Dengan lembut pula, Bo akan mencium kening istrinya. Berharap saat kembali nanti, ia masih bisa melihat senyum dan wajah manis istrinya. Dan dengan lambaian tangan, pasangan yang tengah di penuhi bunga-bunga cinta itu pun berpisah. Kehidupan yang indah. Langit mendung tak pernah terlihat di atas rumah mereka. Hanya sinar mentari dan siluet senja yang mewarnai. Sesekali keindahan pelangi, juga menampakkan diri

.Kelengkapan kebahagiaan kehidupan mereka saat anak pertama lahir sangat terasa sekali. Sayang, situasi berubah pada tahun ke lima pernikahan mereka. Peristiwa yang harus dialami selepas melahirkan anak perempuannya yang kedua.

Pada saat itu, ketika kehamilannya mencapai tujuh bulan, Bo mengabarkan kepadanya bahwa dirinya mendapatkan tawaran menggiurkan dari juragan Min yang dikenal bisa menyalurkan orang-orang untuk bekerja di luar negeri. Bo mendapatkan pilihan apakah ke daerah Timur Tengah, Singapore, Malaysia, atau Korea. Ketika disampaikan kepada Mi tentang niatnya, Mi merestui.

”Bila itu pilihan terbaik, aku pasti akan selalu mendukungmu, Kang Mas,”

Surat-surat mulai diurus. Semuanya butuh uang. Tabungan dan seluruh perhiasan Mi yang memang tak seberapa telah berpindah tangan ke pihak lain untuk memenuhi kebutuhan itu.
”Mi, harus bayar 25 juta.” kata Bo, di suatu senja, di teras rumah sembari duduk berdua menikmati kopi dan pisang goreng.

”Kalau tidak, perjalanan akan gagal.”

”Dua puluh lima juta?!” Mi terpana. Darimana mendapatkan uang sebesar itu? Uang yang tak pernah terpegangtangan olehnya. Membayangkan-pun juga takpernah.

”Diberi waktu dua minggu, ini, Mi.” Bo sambil menatap cahaya matahari yang memerah, yang menelusup lewat dedaunan pohon mangga.

Bo sendiri merasa pasrah. Ia merasa tidak bisa melanjutkan perjalanannya untuk mencapai harapan untuk melakukan perubahan dalam kehidupan mereka. Walau sudah keluar uang sekitar dua juta lebih untuk mengurus dan melengkapi surat-surat yang dibutuhkan, uang itu dapat hangus begitu saja tanpa guna. Surat keterangan kesehatan, paspor, dan setumpuk surat-surat lainnya hanya menjadi kertas belaka.

”Ya, sudahlah, Mi,” Bo sambil meraih dan menggenggam jemari Mi yang duduk tertunduk. ”Jangan dipikir. Memang bukan rejeki kita,” lanjut Bo sambil berdiri dan membungkuk di depan Mi. Tangannya mengelus-elus perut Mi yang telah semakin membesar.

Mi mengangguk-anggukkan kepala. Tapi pikirannya berkecamuk. Mencoba menerobos berbagai dinding di kepala mencari celah dan harapan guna membuka jalan agar uang yang dibutuhkan bisa tersedia. Sudah separo jalan, tak perlu dihentikan.

”Eh, kemana si Si, Mi?” Bo membuyarkan bayang-bayang yang tengah bermain dalam kepala Mi menanyakan tentang Si,anak pertama mereka.

Mi menoleh ke arah Bo. Lalu matanya menjelajah sekeliling rumah yang tertangkap mata. ”Tidak kelihatan, mungkin masih asyik bermain di rumah Mpok Ani. Biar aku cari dulu, hampir Maghrib”

0 komentar:

Posting Komentar