Minggu, 15 April 2012

Ultah Membawa Berkah

0

Angkot yang Asih tumpangi perlahan meninggalkan terminal kecamatan menuju Desa Rangkat. Perasaan haru hadir dalam hati Asih. Dia akhirnya memilih untuk kembali ke Rangkat. Sebuah keputusan yang tak lagi dapat digangu gugat. Sementara itu disebelahnya nampak Firman yang masih terlihat lesu. Perjalanan jauh membuat tubuh mereka berdua sangat lelah.

“ Desa Rangkat masih jauh ya, mbak?” tanya Firman sambil melihat keluar jendela.

“ Masih jauh. Mungkin sekitar setengah jam lagi kita akan sampai.”

Mobil melaju kencang. Jalan menuju Desa Rangkat telah diperbaiki setahun lalu. Karena itu transportasi bukan lagi masalah. Sejak jalan menjadi mulus, banyak warga yang membeli kendaraan, baik itu roda dua atau roda empat.


Saat hampir mendekati Desa Rangkat, Asih menoleh cepat. Dia seperti melihat bayangan Bocing yang sedang naik motor. Asih menajamkan pandangannya keluar jendela. Benar. Suaminya, Bocing tengah mengendarai motor menuju Desa Rangkat. Asih membuka jendela angkot.

“ Mas!!!” panggilnya dengan rasa rindu. Bocing terlihat kaget namun kemudian wajahnya berubah gembira. Dengan semangat dia mengikuti angkot yang di tumpangi Asih.

Tiba digerbang, Asih turun. Bocing yang masih merindukan istrinya tersenyum bahagia. Dia menghentikan motornya di dekat angkot. Rasa penasaran hinggap dalam batinnya, saat melihat Firman menyusul turun di belakang istrinya.

Asih mendekati suaminya, meraih tangannya lalu menciumnya.

“ Mas, perkenalkan, ini mas Firman.”

Firman maju mendekati Bocing lalu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Bocing yang masih terkejut melihat istrinya datang bersama lelaki lain, menatap Firman tanpa berkedip.

“ Firman.”

“ Aku suami mbak Asih. Namaku Erwin.” Wajah Bocing nampak khawatir.

“ Oh, mas suaminya mbak Asih. Senang bisa berkenalan dengan mas. Semoga kita bisa menjalin silaturahmi karena saya berniat tinggal didesa ini.”

Alis Bocing terangkat.

“ Tinggal disini? Sama siapa? Bersama mbak Asih?” Bocing langsung curiga.

“ Bukan mas. Saya tidak tinggal dengan mbak Asih. Untuk sementara mungkin saya akan menginap dulu di mesjid sampai saya menemukan rumah untuk di jadikan tempat tinggal.”

Bocing bernafas lega. Dia hampir saja cemburu saat melihat Firman. Ternyata dugaannya meleset.

“ Ayo sayang, mas bonceng kamu pulang kerumah.” Ucap Bocing sambil menatap istrinya. Asih merasa serba salah. Dia tidak enak hati meninggalkan Firman sendirian di gerbang desa.

“ Mas Firman naik ojek saja ya. Ojek tau kok rumah saya.” Katanya lalu duduk di belakang Bocing. Firman hanya tersenyum saat mereka berdua berlalu. Tidak lama kemudian ada ojek yang lewat. Benar saja. Saat Firman memberitahu tujuannya, tukang ojek segera menuju lokasi tanpa bertanya lagi.

Sementara Asih yang sedang dibonceng suaminya, tak berani bertanya mengenai Uleng. Dia tak ingin mengungkit masalah yang membuatnya pergi dari Desa Rangkat. Asih tidak mau membebani pikirannya dengan masalah. Dia ingin menjalani hidup dengan tenang seperti nasehat Firman padanya.

Tiba dirumah mereka, Acik tidak ada. Dia masih sibuk mengurus kerjaan di kantor desa. Asih segera masuk kamar, disusul Bocing yang membawakan ranselnya.

“ Mas mau minta maaf sama kamu.” Bocing berdiri disamping istrinya yang meletakkan tas kecilnya diatas meja rias.

“ Minta maaf kenapa, mas?” Asih balik bertanya sambil menatap Bocing.

“ Karena mas, Ci jadi pergi. Mas tahu kamu terluka.”

Asih meraih tangan Bocing lalu meletakkan tangan suaminya itu didadanya.

“ Mas merasakan detak jantungku?” Bocing menatap heran.

“ Saya merasa hidup karena mas, jika mas tak ada sama saja saya kehilangan hidupku. Selama mas merasa bahagia, saya akan menemani mas sampai kapanpun.”

Bocing terharu mendengar kata-kata istrinya. Dengan lembut dia merengkuh Asih ke dalam pelukannya. Dia bahagia akhirnya istrinya kembali lagi ke Desa Rangkat. Sejak kepergian Asih, Bocing merasa khawatir namun tidak berani untuk menjemput. Dia selalu berdoa agar istrinya itu segera kembali. Dan doanya terkabul.

“ Kamu tidak marah lagi kan sayang sama mas?” Asih menggeleng.

“ Ultah Rangkat dan mas Firman yang membuat saya sadar, mas. Ternyata saya masih membutuhkan cinta mas dan cinta Desa Rangkat. Saya tidak sanggup jika kehilangan.”

Asih dan Bocing tidak menyadari, Acik mendengarkan pembicaraan mereka dengan berlinang air mata. Dia melangkah keluar menuju teras. Acik bersyukur, ternyata Ultah Rangkat telah menyatukan keluarganya kembali. Kakaknya dan Bocing kini kembali kerumah. Acik bahagia. Dia bisa menikmati kehidupan keluarga seperti sebelumnya. Keluarga yang penuh tawa dan canda walau terkadang ada air mata.***

0 komentar:

Posting Komentar