Angkot
yang Asih tumpangi perlahan meninggalkan terminal kecamatan menuju Desa
Rangkat. Perasaan haru hadir dalam hati Asih. Dia akhirnya memilih
untuk kembali ke Rangkat. Sebuah keputusan yang tak lagi dapat digangu
gugat. Sementara itu disebelahnya nampak Firman yang masih terlihat
lesu. Perjalanan jauh membuat tubuh mereka berdua sangat lelah.
“ Desa Rangkat masih jauh ya, mbak?” tanya Firman sambil melihat keluar jendela.
“ Masih jauh. Mungkin sekitar setengah jam lagi kita akan sampai.”
Mobil
melaju kencang. Jalan menuju Desa Rangkat telah diperbaiki setahun
lalu. Karena itu transportasi bukan lagi masalah. Sejak jalan menjadi
mulus, banyak warga yang membeli kendaraan, baik itu roda dua atau roda
empat.
Saat
hampir mendekati Desa Rangkat, Asih menoleh cepat. Dia seperti melihat
bayangan Bocing yang sedang naik motor. Asih menajamkan pandangannya
keluar jendela. Benar. Suaminya, Bocing tengah mengendarai motor menuju Desa Rangkat. Asih membuka jendela angkot.
“
Mas!!!” panggilnya dengan rasa rindu. Bocing terlihat kaget namun
kemudian wajahnya berubah gembira. Dengan semangat dia mengikuti angkot
yang di tumpangi Asih.
Tiba
digerbang, Asih turun. Bocing yang masih merindukan istrinya tersenyum
bahagia. Dia menghentikan motornya di dekat angkot. Rasa penasaran
hinggap dalam batinnya, saat melihat Firman menyusul turun di belakang
istrinya.
Asih mendekati suaminya, meraih tangannya lalu menciumnya.
“ Mas, perkenalkan, ini mas Firman.”
Firman
maju mendekati Bocing lalu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
Bocing yang masih terkejut melihat istrinya datang bersama lelaki lain,
menatap Firman tanpa berkedip.
“ Firman.”
“ Aku suami mbak Asih. Namaku Erwin.” Wajah Bocing nampak khawatir.
“
Oh, mas suaminya mbak Asih. Senang bisa berkenalan dengan mas. Semoga
kita bisa menjalin silaturahmi karena saya berniat tinggal didesa ini.”
Alis Bocing terangkat.
“ Tinggal disini? Sama siapa? Bersama mbak Asih?” Bocing langsung curiga.
“
Bukan mas. Saya tidak tinggal dengan mbak Asih. Untuk sementara mungkin
saya akan menginap dulu di mesjid sampai saya menemukan rumah untuk di
jadikan tempat tinggal.”
Bocing bernafas lega. Dia hampir saja cemburu saat melihat Firman. Ternyata dugaannya meleset.
“ Ayo sayang, mas bonceng kamu pulang kerumah.” Ucap Bocing sambil menatap istrinya. Asih merasa serba salah. Dia tidak enak hati meninggalkan Firman sendirian di gerbang desa.
“
Mas Firman naik ojek saja ya. Ojek tau kok rumah saya.” Katanya lalu
duduk di belakang Bocing. Firman hanya tersenyum saat mereka berdua
berlalu. Tidak lama kemudian ada ojek yang lewat. Benar saja. Saat
Firman memberitahu tujuannya, tukang ojek segera menuju lokasi tanpa
bertanya lagi.
Sementara
Asih yang sedang dibonceng suaminya, tak berani bertanya mengenai
Uleng. Dia tak ingin mengungkit masalah yang membuatnya pergi dari Desa
Rangkat. Asih tidak mau membebani pikirannya dengan masalah. Dia ingin
menjalani hidup dengan tenang seperti nasehat Firman padanya.
Tiba
dirumah mereka, Acik tidak ada. Dia masih sibuk mengurus kerjaan di
kantor desa. Asih segera masuk kamar, disusul Bocing yang membawakan
ranselnya.
“ Mas mau minta maaf sama kamu.” Bocing berdiri disamping istrinya yang meletakkan tas kecilnya diatas meja rias.
“ Minta maaf kenapa, mas?” Asih balik bertanya sambil menatap Bocing.
“ Karena mas, Ci jadi pergi. Mas tahu kamu terluka.”
Asih meraih tangan Bocing lalu meletakkan tangan suaminya itu didadanya.
“ Mas merasakan detak jantungku?” Bocing menatap heran.
“
Saya merasa hidup karena mas, jika mas tak ada sama saja saya
kehilangan hidupku. Selama mas merasa bahagia, saya akan menemani mas
sampai kapanpun.”
Bocing
terharu mendengar kata-kata istrinya. Dengan lembut dia merengkuh Asih
ke dalam pelukannya. Dia bahagia akhirnya istrinya kembali lagi ke Desa
Rangkat. Sejak kepergian Asih, Bocing merasa khawatir namun tidak berani
untuk menjemput. Dia selalu berdoa agar istrinya itu segera kembali.
Dan doanya terkabul.
“ Kamu tidak marah lagi kan sayang sama mas?” Asih menggeleng.
“
Ultah Rangkat dan mas Firman yang membuat saya sadar, mas. Ternyata
saya masih membutuhkan cinta mas dan cinta Desa Rangkat. Saya tidak sanggup jika kehilangan.”
Asih
dan Bocing tidak menyadari, Acik mendengarkan pembicaraan mereka dengan
berlinang air mata. Dia melangkah keluar menuju teras. Acik bersyukur,
ternyata Ultah Rangkat telah menyatukan keluarganya kembali. Kakaknya
dan Bocing kini kembali kerumah. Acik bahagia. Dia bisa menikmati
kehidupan keluarga seperti sebelumnya. Keluarga yang penuh tawa dan
canda walau terkadang ada air mata.***
0 komentar:
Posting Komentar