Minggu, 15 April 2012

Masih Banyak Cinta Yang Menanti

0

1316493121281102714

Telpon Acik semalam membuat Asih tak tenang pagi ini. Acik dengan suara memelas memintanya kembali ke Rangkat.

“ Mbak Asih, pulang ya. Kasihan aku nih, sendirian terus. Mana bentar lagi Rangkat Ultah. Aku pengen kita sama-sama ngerayain, mbak.” Asih tidak mendengar suara Acik yang riang seperti biasa.

“ Gimana, ya..”

“ Ayolah mbak. Emang mbak tega ninggalin aku terus sendirian. Mana mas Halim nggak pernah muncul lagi. Katanya mau ngelamar, sampe sekarang nggak nongol-nongol.” Omelan Acik membuat Asih makin merasa bersalah. Dia jadi ingat, sebelum pergi, dia telah mengatakan pada Acik kalau mas Halim akan segera meminangnya. Ehm, mas Halim, dimanakah dirimu?

“ Baiklah. Tapi tunggu besok ya. Besok mbak beri keputusan.” Ucapan Asih mengubah intonasi suara Acik dari memelas menjadi riang. Dia berteriak kegirangan.


“ Makassssiiiiiiiiiiiiii mbak ku. Ok, jangan pake lama ya. Pokoknya aku nggak pengen denger berita yang mengecewakan. Harus mengembirakan. Hehehe..tau nggak mbak? Kucing kita si Geo, udah melahirkan. Anaknya lucu-lucu…akte kelahirannya udah ada mbak. Ehm, jadi nggak sabaran pengen ketemu mbak.”

Asih tertawa mendengar adiknya itu membicarakan kucing kesayangan mereka, si Geo.

“ Jadi kamu yang melihara? Itu kan kucing kesayangan mas Bocing. Dia nggak ikut sama mas Bocing, ya.”

“ Aku yang minta. Kadung sayang mbak sama si Geo. Ok, ya mbak aku mau sleep dulu. Tidurku bakalan nyenyak malam ini. Muachhhhh mbakku.”

“ Muachhh juga.”

Acik mungkin langsung terlelap disana, di Desa Rangkat. Lain dengan Asih. Dia hanya berbaring tanpa mampu memejamkan matanya. Kejadian menyedihkan di Desa Rangkat masih meninggalkan luka. Namun Desa Rangkat telah memanggilnya. Ultah Rangkat tak mungkin dia lewatkan begitu saja. Tidak mungkin dia absen dihari Ultah Desa yang banyak memberikan kebahagiaan untuknya.

“ Mbak Asih, minum teh dulu.” Istri kepala desa memanggilnya dari luar kamar.

“ Iya, bu.”

Asih keluar kamar. Nampak pisang goreng dan teh hangat telah terhidang di meja ruang tamu. Dia duduk lalu meraih gelas berisi teh hangat kemudian meminumnya. Rasa hangat menjalar keseluruh tubuhnya.

“ Kok murung, mbak Asih? Ada masalah, ya. Tidak seperti biasanya.”

Asih meletakkan kembali gelas di atas meja. Ada rasa ragu yang membuatnya terdiam beberapa saat. Haruskah dia menceritakan masalah rumah tangganya pada istri kepala desa? Tapi rasa itu tak sanggup lagi dia pendam. Dia butuh teman untuk curhat. Sejak dia datang ke desa ini dan menginap dirumah kepala desa. Dia melihat sosok ibu kepala desa itu mampu membuatnya tenang.

Selama ini Asih hanya memendam masalahnya seorang diri, bahkan Acik pun tak tahu. Acik hanya tahu dia terluka karena Bocing. Hanya itu. Masalah lain, Acik sepertinya belum mengerti.

“ Benar, bu. Adik saya meminta saya pulang ke Desa Rangkat.”

“ Oh, ya. Kok cepat amat. Mbak Asih kan baru sebentar disini. Apa tidak bisa ditunda dulu?”

Asih tersenyum perih.

“ Tidak bisa,bu. Padahal jika harus memilih, saya rasanya belum sanggup untuk kembali.”

Suara dan wajah Asih yang sedih membuat ibu itu menatap heran. Asih tidak sanggup lagi menahan bulir-bulir air mata yang menetes dari ke dua matanya. Dengan terisak dia menceritakan masalah yang membuatnya meninggalkan Desa Rangkat. Ibu kepala desa nampak tersentuh mendengar penuturan Asih. Dia lalu pindah duduk di samping Asih lalu perlahan menyentuh tangannya.

“ Sabar ya, mbak. Ada hikmah di balik setiap masalah yang dihadapi manusia. Ibu yakin, mbak Asih suatu ketika akan menemukan kebahagiaan. Mbak harus yakin, karena semua adalah takdir yang telah ditentukan oleh Allah SWT.”

Asih mengusap air matanya.

“ Jadi kapan mbak Asih rencana balik ke Desa Rangkat?”

“ Mungkin seminggu lagi, bu. Saya juga harus membereskan pekerjaan disini baru bisa pergi dengan tenang.”

“ Oh,ya. Sebelum pulang ke Rangkat mungkin ada baiknya mbak Asih konsultasi dulu dengan mas Firman.”

“ Mas Firman?” Asih merasa heran dengan ucapan ibu kepala desa.

“ Maaf, maksud ibu, Mas Firman bisa memberikan masukan dari sudut pandang agama. Tentu beliau lebih paham akan masalah mbak. Ya..saran ibu seperti itu. Kalau mbak Asih keberatan,tidak usah ditanggapi kata-kata ibu.”

Ibu desa lalu meninggalkan Asih yang masih termenung. Saran istri pak kades itu membuatnya ragu. Konsultasi dengan mas Firman? Apa baik menceritakan aib rumah tangganya pada orang asing? Lain dengan ibu kades, Asih seperti menemukan sosok ibunya pada diri istri kepala desa itu.

****

Keesokan harinya saat sholat maghrib di mesjid. Firman mendekati Asih yang siap-siap untuk meninggalkan mesjid.

“ Mbak Asih, bisa minta waktu sebentar aja..” Asih menoleh melihat lelaki berwajah teduh itu.

“ Ada apa, mas?”

“ Besok sehabis sholat Ashar, mbak Asih ada kegiatan?”

“ Tidak ada mas. Kerjaan saya kelar jam dua siang. Memang ada apa? Ada yang bisa saya bantu?”

“ Oh, bukan, bukan bantuan. Hanya mbak bisa datang ke mesjid besok sehabis Ashar?”

Suara Firman yang terdengar penuh pengharapan membuat Asih mengangguk.

“ Baiklah. Saya tunggu besok ya, mbak.Assalamu Alaikum.”

Asih masih berdiri melihat Firman meninggalkannya. Dalam hati dia bertanya-tanya, ada masalah apa hingga Firman memintanya datang besok setelah shalat Ashar. Rasa heran itu terbawa hingga ke rumah kepala desa. Sejak dia tiba, ibu kepala desa terus bertanya apa dia telah bertemu dengan Firman?

Rasa penasaran juga terus hadir hingga keesokan paginya saat Asih menikmati teh hangat seperti biasa. Kali ini dia minum teh dengan ditemani kepala desa.

“ Jadi bertemu hari ini dengan mas Firman?” tanya kepala desa yang membuat Asih tersedak karena kaget.

Mengapa bapak kepala desa juga jadi ikut-ikutan menanyakan masalah Firman? Apa pertemuan nanti memang begitu penting hingga pak kades dan istrinya menaruh perhatian yang besar?

Janji pertemuan dengan Firman membuat Asih tidak konsentrasi bekerja. Beberapa kali kegiatannya terhenti karena larut dalam lamunan. Jam tangan dan jam dinding menjadi pusat perhatiannya. Bergantian dua benda itu dia lirik. Padahal tak ada bedanya jam dinding dan jam tangan. Dua benda itu tidak akan berubah walau Asih ingin hari berlalu dengan cepat.

“ Mbakkkk…gimana? jadi pulang kan?” suara Acik dari seberang membuat lamunan Asih terhenti.

“ Jadi. Minggu depan mbak pulang.”

“ Asyeeekkkkkkk. Makasih mbakku. Ternyata hatimu masih selembut salju. Kasihanilah adikmu ini yang tinggal seorang diri. Tapiiiii…” suara Acik tertahan.

“ Tapi kenapa?”

“ Tapi mbak mau pergi lagi. Jangan pergi lagi ya, mbak. Jangan pedulikan mas Bocing. Banyak cinta yang menanti mbak disini. Desa Rangkat tidak akan pernah meninggalkan mbak dalam kesedihan. Kembali dan menetap ya, mbak. Acik rindu kebersamaan kita yang dulu. Biarlah satu cinta pergi, ada banyak cinta yang nanti mbak terima di sini.”

Asih terharu. Tanpa sadar air mata menetes di pipinya.

“ Makasih adikku sayang. Kamu benar, mbak jangan larut dalam kesedihan. Hidup mbak tidak harus di isi dengan masa lalu. Masih banyak cinta dari warga Rangkat untuk mbak. Desa Rangkat memberikan kasih sayang yang tulus. Mbak tidak akan meninggalkan Desa Rangkat lagi. Mbak ingin kita berdua memberikan persembahan terbaik untuk Rangkat sebagai kado ultah kita.”

“ Setuju mbakku. Aku udah siapkan ide. Nanti aku beritahu saat mbak kembali.”

Baru saja Asih menaruh hapenya, tiba-tiba bunyi sms masuk. Jantung Asih berdegup kencang saat membaca nama si pengirim pesan. Firman.

Mbak Asih, sholat Ashar di mesjid saja ya. Saya tunggu.

Lamunan Asih ingin mengembara jauh, tapi mendadak Asih tersadar. Walau penasaran, Asih akhirnya menyingkirkan jauh-jauh segala pikiran yang bisa menimbulkan dosa. Dia masih istri bocing. Ada ikatan suci yang mengikat hati dan pikirannya. Semua tentang dirinya adalah milik Bocing. Walau Bocing membuatnya terluka, tapi dia tetaplah istri yang sah. Tidak boleh menghianati suami.

Pikiran itu akhirnya membuat Asih tenang. Saat sholat Ashar tiba, dia melangkah menuju mesjid. Dia tidak lagi memikirkan tujuan Firman mengundangnya. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah, menikmati hidup dengan pikiran positif. Bahwa selain cinta Bocing, masih banyak cinta yang menanti dari seluruh warga Rangkat untuknya.

Selamat Ultah Rangkatku.

0 komentar:

Posting Komentar