Telpon Acik semalam membuat Asih tak tenang pagi ini. Acik dengan suara memelas memintanya kembali ke Rangkat.
“
Mbak Asih, pulang ya. Kasihan aku nih, sendirian terus. Mana bentar
lagi Rangkat Ultah. Aku pengen kita sama-sama ngerayain, mbak.” Asih tidak mendengar suara Acik yang riang seperti biasa.
“ Gimana, ya..”
“
Ayolah mbak. Emang mbak tega ninggalin aku terus sendirian. Mana mas
Halim nggak pernah muncul lagi. Katanya mau ngelamar, sampe sekarang
nggak nongol-nongol.” Omelan Acik membuat Asih makin merasa bersalah.
Dia jadi ingat, sebelum pergi, dia telah mengatakan pada Acik kalau mas
Halim akan segera meminangnya. Ehm, mas Halim, dimanakah dirimu?
“ Baiklah. Tapi tunggu besok ya. Besok mbak beri keputusan.” Ucapan Asih mengubah intonasi suara Acik dari memelas menjadi riang. Dia berteriak kegirangan.
“
Makassssiiiiiiiiiiiiii mbak ku. Ok, jangan pake lama ya. Pokoknya aku
nggak pengen denger berita yang mengecewakan. Harus mengembirakan.
Hehehe..tau nggak mbak? Kucing kita si Geo, udah melahirkan. Anaknya
lucu-lucu…akte kelahirannya udah ada mbak. Ehm, jadi nggak sabaran
pengen ketemu mbak.”
Asih tertawa mendengar adiknya itu membicarakan kucing kesayangan mereka, si Geo.
“ Jadi kamu yang melihara? Itu kan kucing kesayangan mas Bocing. Dia nggak ikut sama mas Bocing, ya.”
“
Aku yang minta. Kadung sayang mbak sama si Geo. Ok, ya mbak aku mau
sleep dulu. Tidurku bakalan nyenyak malam ini. Muachhhhh mbakku.”
“ Muachhh juga.”
Acik
mungkin langsung terlelap disana, di Desa Rangkat. Lain dengan Asih.
Dia hanya berbaring tanpa mampu memejamkan matanya. Kejadian menyedihkan
di Desa Rangkat masih meninggalkan luka. Namun Desa Rangkat telah
memanggilnya. Ultah Rangkat tak mungkin dia lewatkan begitu saja. Tidak
mungkin dia absen dihari Ultah Desa yang banyak memberikan kebahagiaan
untuknya.
“ Mbak Asih, minum teh dulu.” Istri kepala desa memanggilnya dari luar kamar.
“ Iya, bu.”
Asih
keluar kamar. Nampak pisang goreng dan teh hangat telah terhidang di
meja ruang tamu. Dia duduk lalu meraih gelas berisi teh hangat kemudian
meminumnya. Rasa hangat menjalar keseluruh tubuhnya.
“ Kok murung, mbak Asih? Ada masalah, ya. Tidak seperti biasanya.”
Asih
meletakkan kembali gelas di atas meja. Ada rasa ragu yang membuatnya
terdiam beberapa saat. Haruskah dia menceritakan masalah rumah tangganya
pada istri kepala desa? Tapi rasa itu tak sanggup lagi dia pendam. Dia
butuh teman untuk curhat. Sejak dia datang ke desa ini dan menginap
dirumah kepala desa. Dia melihat sosok ibu kepala desa itu mampu
membuatnya tenang.
Selama
ini Asih hanya memendam masalahnya seorang diri, bahkan Acik pun tak
tahu. Acik hanya tahu dia terluka karena Bocing. Hanya itu. Masalah
lain, Acik sepertinya belum mengerti.
“ Benar, bu. Adik saya meminta saya pulang ke Desa Rangkat.”
“ Oh, ya. Kok cepat amat. Mbak Asih kan baru sebentar disini. Apa tidak bisa ditunda dulu?”
Asih tersenyum perih.
“ Tidak bisa,bu. Padahal jika harus memilih, saya rasanya belum sanggup untuk kembali.”
Suara
dan wajah Asih yang sedih membuat ibu itu menatap heran. Asih tidak
sanggup lagi menahan bulir-bulir air mata yang menetes dari ke dua
matanya. Dengan terisak dia menceritakan masalah yang membuatnya
meninggalkan Desa Rangkat. Ibu kepala desa nampak tersentuh mendengar
penuturan Asih. Dia lalu pindah duduk di samping Asih lalu perlahan menyentuh tangannya.
“
Sabar ya, mbak. Ada hikmah di balik setiap masalah yang dihadapi
manusia. Ibu yakin, mbak Asih suatu ketika akan menemukan kebahagiaan.
Mbak harus yakin, karena semua adalah takdir yang telah ditentukan oleh
Allah SWT.”
Asih mengusap air matanya.
“ Jadi kapan mbak Asih rencana balik ke Desa Rangkat?”
“ Mungkin seminggu lagi, bu. Saya juga harus membereskan pekerjaan disini baru bisa pergi dengan tenang.”
“ Oh,ya. Sebelum pulang ke Rangkat mungkin ada baiknya mbak Asih konsultasi dulu dengan mas Firman.”
“ Mas Firman?” Asih merasa heran dengan ucapan ibu kepala desa.
“
Maaf, maksud ibu, Mas Firman bisa memberikan masukan dari sudut pandang
agama. Tentu beliau lebih paham akan masalah mbak. Ya..saran ibu
seperti itu. Kalau mbak Asih keberatan,tidak usah ditanggapi kata-kata
ibu.”
Ibu
desa lalu meninggalkan Asih yang masih termenung. Saran istri pak kades
itu membuatnya ragu. Konsultasi dengan mas Firman? Apa baik
menceritakan aib rumah tangganya pada orang asing? Lain dengan ibu
kades, Asih seperti menemukan sosok ibunya pada diri istri kepala desa
itu.
****
Keesokan harinya saat sholat maghrib di mesjid. Firman mendekati Asih yang siap-siap untuk meninggalkan mesjid.
“ Mbak Asih, bisa minta waktu sebentar aja..” Asih menoleh melihat lelaki berwajah teduh itu.
“ Ada apa, mas?”
“ Besok sehabis sholat Ashar, mbak Asih ada kegiatan?”
“ Tidak ada mas. Kerjaan saya kelar jam dua siang. Memang ada apa? Ada yang bisa saya bantu?”
“ Oh, bukan, bukan bantuan. Hanya mbak bisa datang ke mesjid besok sehabis Ashar?”
Suara Firman yang terdengar penuh pengharapan membuat Asih mengangguk.
“ Baiklah. Saya tunggu besok ya, mbak.Assalamu Alaikum.”
Asih
masih berdiri melihat Firman meninggalkannya. Dalam hati dia
bertanya-tanya, ada masalah apa hingga Firman memintanya datang besok
setelah shalat Ashar. Rasa heran itu terbawa hingga ke rumah kepala
desa. Sejak dia tiba, ibu kepala desa terus bertanya apa dia telah
bertemu dengan Firman?
Rasa penasaran juga terus hadir hingga keesokan paginya saat Asih menikmati teh hangat seperti biasa. Kali ini dia minum teh dengan ditemani kepala desa.
“ Jadi bertemu hari ini dengan mas Firman?” tanya kepala desa yang membuat Asih tersedak karena kaget.
Mengapa
bapak kepala desa juga jadi ikut-ikutan menanyakan masalah Firman? Apa
pertemuan nanti memang begitu penting hingga pak kades dan istrinya
menaruh perhatian yang besar?
Janji
pertemuan dengan Firman membuat Asih tidak konsentrasi bekerja.
Beberapa kali kegiatannya terhenti karena larut dalam lamunan. Jam
tangan dan jam dinding menjadi pusat perhatiannya. Bergantian dua benda
itu dia lirik. Padahal tak ada bedanya jam dinding dan jam tangan. Dua
benda itu tidak akan berubah walau Asih ingin hari berlalu dengan cepat.
“ Mbakkkk…gimana? jadi pulang kan?” suara Acik dari seberang membuat lamunan Asih terhenti.
“ Jadi. Minggu depan mbak pulang.”
“
Asyeeekkkkkkk. Makasih mbakku. Ternyata hatimu masih selembut salju.
Kasihanilah adikmu ini yang tinggal seorang diri. Tapiiiii…” suara Acik
tertahan.
“ Tapi kenapa?”
“
Tapi mbak mau pergi lagi. Jangan pergi lagi ya, mbak. Jangan pedulikan
mas Bocing. Banyak cinta yang menanti mbak disini. Desa Rangkat tidak
akan pernah meninggalkan mbak dalam kesedihan. Kembali dan menetap ya,
mbak. Acik rindu kebersamaan kita yang dulu. Biarlah satu cinta pergi,
ada banyak cinta yang nanti mbak terima di sini.”
Asih terharu. Tanpa sadar air mata menetes di pipinya.
“ Makasih adikku sayang. Kamu benar, mbak jangan larut dalam kesedihan. Hidup mbak tidak harus di isi dengan masa lalu. Masih banyak cinta dari warga Rangkat untuk
mbak. Desa Rangkat memberikan kasih sayang yang tulus. Mbak tidak akan
meninggalkan Desa Rangkat lagi. Mbak ingin kita berdua memberikan
persembahan terbaik untuk Rangkat sebagai kado ultah kita.”
“ Setuju mbakku. Aku udah siapkan ide. Nanti aku beritahu saat mbak kembali.”
Baru
saja Asih menaruh hapenya, tiba-tiba bunyi sms masuk. Jantung Asih
berdegup kencang saat membaca nama si pengirim pesan. Firman.
Mbak Asih, sholat Ashar di mesjid saja ya. Saya tunggu.
Lamunan
Asih ingin mengembara jauh, tapi mendadak Asih tersadar. Walau
penasaran, Asih akhirnya menyingkirkan jauh-jauh segala pikiran yang
bisa menimbulkan dosa. Dia masih istri bocing. Ada ikatan suci yang
mengikat hati dan pikirannya. Semua tentang dirinya adalah milik Bocing.
Walau Bocing membuatnya terluka, tapi dia tetaplah istri yang sah.
Tidak boleh menghianati suami.
Pikiran
itu akhirnya membuat Asih tenang. Saat sholat Ashar tiba, dia melangkah
menuju mesjid. Dia tidak lagi memikirkan tujuan Firman mengundangnya.
Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah, menikmati hidup dengan
pikiran positif. Bahwa selain cinta Bocing, masih banyak cinta yang
menanti dari seluruh warga Rangkat untuknya.
Selamat Ultah Rangkatku.
0 komentar:
Posting Komentar