Minggu, 15 April 2012

Good Bye, My Love

0

Malam terasa sangat dingin di Desa Rangkat. Hawa dingin pertanda musim kemarau panjang akan segera tiba. Hembusan angin membuat dahan-dahan pohon bergerak mengikuti irama angin. Pohon mangga yang ada di depan rumah Bocing nampak bergerak bebas. Daun-daunnya saling bersentuhan menghadirkan suasana malam yang syahdu. Namun suasana berbeda terjadi dalam rumah. Para penghuninya hanya diam di dalam rumah. Tak ada yang bersuara hanya saling memandang.

“ Uleng tidak akan pulang sebelum nasib Uleng jelas.” Ucap Uleng dengan sorot mata tajam menatap Bocing yang duduk tidak jauh darinya. Asih, istri Bocing berusaha menenangkan dirinya. Sejak tadi dia hanya diam sambil sesekali menatap Uleng dan suaminya bergantian. Sementara itu di balik gorden kamar, nampak Acik mengintip dengan mata berkaca-kaca. Dia sedih melihat rumah tangga kakaknya sedang mengalami masalah. Padahal dia baru saja merasa gembira karena mbak Asih dan Bocing telah kembali ke Rangkat. Keinginan untuk memberitahukan tentang lamaran mas Halim akhirnya hanya tersimpan di dalam hatinya. Bagaimana dia akan menyampaikan berita gembira jika sang kakak sedang terbelit dengan masalah rumah tangga?


“ Tapi Uleng kan sudah jadi istri mas.” Ucap Bocing yang membuat bibir Uleng bergetar.

“ Tapi Uleng tidak mau dijadikan istri kedua! Sekarang juga Uleng minta cerai!”

Uleng menutup wajahnya dengan ujung jilbab. Sejak tadi dia berurai air mata. Dia tidak menyangka jika keputusannya untuk menerima mas Erwin alias Bocing ternyata berbuntut masalah. Bocing yang dikiranya adalah duda ternyata belum bercerai dari Asih. Mereka tetap resmi sebagai pasangan suami istri.

“ Dik Uleng, sabar dulu. Asih saja belum berbicara sejak tadi. Padahal yang seharusnya marah adalah dia karena mas menikah tanpa memberitahu Asih sebelumnya.”

Uleng menatap Asih yang ternyata sedang menatapnya. Tatapan Asih terlihat kosong dan dingin, seperti dinginnya hawa diluar rumah. Tak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya. Asih mengalihkan pandangannya ke arah Bocing. Sikapnya juga sama. Tak berbicara hanya menatap dengan tatapan sendu dan dingin.

“ Uleng tetap jadi istri mas. Biarkan saya yang mengalah. Sejak awal saya tahu, mas Erwin sangat mencintai Uleng. Saya tahu, mas hanya menjadikan saya sebagai pelarian karena sedang terpuruk dengan perkawinan mas yang gagal. Tapi cinta mas untuk Uleng tetap tidak berubah. Saya bisa merasakannya. Karena itu, biarkan saya yang pergi dari kehidupan mas. Saya tidak ingin menjadi beban diantara kalian. Mas Erwin bisa mengikuti Uleng kerumahnya. Jangan khwatirkan saya. Sejak dulu saya terbiasa sendiri. Mengatasi masalah sendiri tanpa seseorang yang yang ada disamping saya. Jangan pikirkan hati saya. Sejak mas memilih menikah dengan Uleng, saat itulah saya tahu cinta mas telah hilang untuk saya. Bahkan mungkin memang tak pernah ada. Saya hanya ingin melihat mas Erwin bahagia. Jadi tolong, Uleng jaga mas Erwin dengan baik ya. Jangan buat dia sedih. Maaf karena mungkin selama hidup bersama dengan saya, mas Erwin tak pernah merasakan bahagia. Mas Erwin, jangan sia-siakan pengorbanan Uleng. Jadikan dia istri yang paling bahagia di dunia. Saya juga tidak akan memakai nama mas lagi. Biarkan itu menjadi hak Uleng untuk memakainya.”

“ Mbak Asih kenapa berbicara seperti itu? mbak Asih mau kemana?” tanya Uleng dengan pandangan sedih.

“ Saya akan meninggalkan desa rangkat. Pergi merantau mencari kehidupan. Nanti jika luka ini telah sembuh, saya janji akan kembali ke Desa Rangkat lagi.”

Asih berdiri lalu masuk ke dalam kamar melewati Acik yang sedang menyeka air matanya. Acik mengikuti kakaknya dengan rasa penasaran.

“ Mbak Asih benar mau pergi? Jadi Acik tinggal sendirian..”

“ Sabar, Cik. Tidak lama lagi kamu akan menikah. Mas Halim sudah melamar kamu. Dia mendatangi mbak meminta restu agar bisa menjadikanmu istri.” Acik tertegun mendengar kata-kata Asih. Jadi tanpa sepengetahuannya mas Halim sudah melamar langsung pada kakaknya. Mas Halim ternyata kamu memang lelaki yang berani, batin Acik dengan rasa senang bercampur sedih.

Tiba-tiba mas Bocing masuk ke dalam kamar. Acik segera menyingkir keluar saat melihat kakak iparnya masuk.

“ Mas tidak ingin kita bercerai. Kalau Ci pergi, sama saja dengan kita bercerai.” Suara Bocing terdengar berat.

Asih menatap lembut ke arah suaminya.

“ Kita tidak bercerai mas, Cuma saya harus pergi. Menghilang dari kehidupan mas. Kalau kelak mas tidak bahagia dan membutuhkan saya, mas bisa mencari saya. Saya akan menerima mas dengan cinta yang tetap sama. Cinta saya tidak berkurang untuk mas.”

“ Ci sayang, bisakah tidak ada diantara kalian yang meninggalkan mas?”

“ Mas, saya tidak ingin membuat mas berada dalam masalah. Jika saya tinggal, mas akan berat memilih antara saya atau Uleng. Jadi lebih baik saya yang mengalah, setidaknya saya pernah merasakan kebahagiaan bersama mas walau hanya sebentar.” Asih membelakangi suaminya. Dia menarik nafas beberapa kali berusaha menahan airmatanya yang sejak tadi akan tumpah.

“ Jangan sia-siakan Uleng, mas.” Ucap Asih masih tetap membelakangi suaminya. Dia menunduk meraih tas yang ada di bawah tempat tidur. Tak sedikitpun dia berpaling melihat ke arah suaminya. Asih tidak ingin berdamai dengan hatinya. Sudah cukup membuktikan cinta Bocing padanya. Dia tak perlu bukti yang lain lagi. Jika Bocing mencintainya, maka Bocing akan memilihnya. Namun jika tidak, berarti cinta itu memang telah hilang.

Detik-detik berlalu. Namun tak satupun warga yang mengetahui keadaan di rumah Bocing malam ini. Semua warga larut dalam kebahagiaan menjelang lebaran. Bahkan saat Asih melangkah keluar rumah dan hanya di temani adiknya, Acik, tak ada warga yang melihat. Menggunakan sweater pink, Asih berjalan pelan. Dia berusaha tegar menahan kesedihannya. Menahan air matanya. Tadi sebelum keluar kamar, dia masih menyempatkan diri mencium tangan suaminya, mengucapkan salam perpisahan. Begitu juga saat pamit pada Uleng. Asih memeluknya sebelum keluar dari rumah.

Mereka berdua terus berjalan menuju gerbang desa, menunggu angkot. Acik tak bersuara sejak keluar dari rumah. Dia tak bisa berkata-kata. Lidahnya terasa kelu. Pikirannya berkecamuk namun tak bisa di jabarkan seperti apa. Dia ingin marah pada Bocing, namun melihat sikap kakaknya, kemarahannya mereda. Mbak Asih saja tidak marah pada mas Bocing, mengapa dia harus marah?

“ Tetap perhatiaan sama mas Bocing, ya. Acik jangan membenci mas Bocing. Dia hanya manusia biasa. Asal mas Bocing bahagia, mbak juga bahagia.” Ucap Asih sambil memeluk Acik sesaat sebelum naik ke angkot yang akan mengantarnya ke terminal. Acik menggangguk dengan air mata berlinang. Dalam pikirannya dia tidak mengerti mengapa kakaknya begitu tegar dan ikhlas melepaskan mas Bocing pada wanita lain.

“ Kelak kamu akan mengerti, Cik. Cinta bukan hanya untuk di ucapkan tapi dibuktikan dengan perbuatan. Mbak sudah melihat kenyataan kalau mas Bocing tak lagi mencintai mbak. Jadi lebih baik mbak yang pergi, selain untuk mengobati luka. Mbak juga belum siap melihat mas Erwin dengan wanita lain.Entahlah nanti jika mbak benar-benar siap, mungkin mbak akan kembali.” Batin Asih dengan air mata berderai. Dia terus memandangi tubuh Acik yang kian jauh karena angkot yang ditumpanginya melaju dengan kencang. Terngiang kembali kata-kata Bocing padanya di masa lalu,

Tak ada orang lain yang akan mas panggil dengan sebutan sayang selain dirimu, Ci.

Asih menutup matanya. Kata-kata itu sekarang terasa seperti duri yang menusuk jantungnya.****

0 komentar:

Posting Komentar