Malam
terasa sangat dingin di Desa Rangkat. Hawa dingin pertanda musim
kemarau panjang akan segera tiba. Hembusan angin membuat dahan-dahan
pohon bergerak mengikuti irama angin. Pohon mangga yang ada di depan
rumah Bocing nampak bergerak bebas. Daun-daunnya saling bersentuhan
menghadirkan suasana malam yang syahdu. Namun suasana berbeda terjadi
dalam rumah. Para penghuninya hanya diam di dalam rumah. Tak ada yang bersuara hanya saling memandang.
“
Uleng tidak akan pulang sebelum nasib Uleng jelas.” Ucap Uleng dengan
sorot mata tajam menatap Bocing yang duduk tidak jauh darinya. Asih,
istri Bocing berusaha menenangkan dirinya. Sejak tadi dia hanya diam
sambil sesekali menatap Uleng dan suaminya bergantian. Sementara itu di
balik gorden kamar, nampak Acik mengintip dengan mata berkaca-kaca. Dia
sedih melihat rumah tangga kakaknya sedang mengalami masalah. Padahal
dia baru saja merasa gembira karena mbak Asih dan Bocing telah kembali
ke Rangkat. Keinginan untuk memberitahukan tentang lamaran mas Halim
akhirnya hanya tersimpan di dalam hatinya. Bagaimana dia akan
menyampaikan berita gembira jika sang kakak sedang terbelit dengan
masalah rumah tangga?
“ Tapi Uleng kan sudah jadi istri mas.” Ucap Bocing yang membuat bibir Uleng bergetar.
“ Tapi Uleng tidak mau dijadikan istri kedua! Sekarang juga Uleng minta cerai!”
Uleng
menutup wajahnya dengan ujung jilbab. Sejak tadi dia berurai air mata.
Dia tidak menyangka jika keputusannya untuk menerima mas Erwin alias
Bocing ternyata berbuntut masalah. Bocing yang dikiranya adalah duda
ternyata belum bercerai dari Asih. Mereka tetap resmi sebagai pasangan
suami istri.
“
Dik Uleng, sabar dulu. Asih saja belum berbicara sejak tadi. Padahal
yang seharusnya marah adalah dia karena mas menikah tanpa memberitahu
Asih sebelumnya.”
Uleng
menatap Asih yang ternyata sedang menatapnya. Tatapan Asih terlihat
kosong dan dingin, seperti dinginnya hawa diluar rumah. Tak ada
kata-kata yang keluar dari bibirnya. Asih mengalihkan pandangannya ke
arah Bocing. Sikapnya juga sama. Tak berbicara hanya menatap dengan
tatapan sendu dan dingin.
“
Uleng tetap jadi istri mas. Biarkan saya yang mengalah. Sejak awal saya
tahu, mas Erwin sangat mencintai Uleng. Saya tahu, mas hanya menjadikan
saya sebagai pelarian karena sedang terpuruk dengan perkawinan mas yang
gagal. Tapi cinta mas untuk Uleng tetap tidak berubah. Saya bisa
merasakannya. Karena itu, biarkan saya yang pergi dari kehidupan mas.
Saya tidak ingin menjadi beban diantara kalian. Mas Erwin bisa mengikuti
Uleng kerumahnya. Jangan khwatirkan saya. Sejak dulu saya terbiasa
sendiri. Mengatasi masalah sendiri tanpa seseorang yang yang ada
disamping saya. Jangan pikirkan hati saya. Sejak mas memilih menikah
dengan Uleng, saat itulah saya tahu cinta mas telah hilang untuk saya.
Bahkan mungkin memang tak pernah ada. Saya hanya ingin melihat mas Erwin
bahagia. Jadi tolong, Uleng jaga mas Erwin dengan baik ya. Jangan buat
dia sedih. Maaf karena mungkin selama hidup bersama dengan saya, mas
Erwin tak pernah merasakan bahagia. Mas Erwin, jangan sia-siakan
pengorbanan Uleng. Jadikan dia istri yang paling bahagia di dunia. Saya
juga tidak akan memakai nama mas lagi. Biarkan itu menjadi hak Uleng
untuk memakainya.”
“ Mbak Asih kenapa berbicara seperti itu? mbak Asih mau kemana?” tanya Uleng dengan pandangan sedih.
“
Saya akan meninggalkan desa rangkat. Pergi merantau mencari kehidupan.
Nanti jika luka ini telah sembuh, saya janji akan kembali ke Desa
Rangkat lagi.”
Asih
berdiri lalu masuk ke dalam kamar melewati Acik yang sedang menyeka air
matanya. Acik mengikuti kakaknya dengan rasa penasaran.
“ Mbak Asih benar mau pergi? Jadi Acik tinggal sendirian..”
“
Sabar, Cik. Tidak lama lagi kamu akan menikah. Mas Halim sudah melamar
kamu. Dia mendatangi mbak meminta restu agar bisa menjadikanmu istri.”
Acik tertegun mendengar kata-kata Asih. Jadi tanpa sepengetahuannya mas
Halim sudah melamar langsung pada kakaknya. Mas Halim ternyata kamu
memang lelaki yang berani, batin Acik dengan rasa senang bercampur
sedih.
Tiba-tiba mas Bocing masuk ke dalam kamar. Acik segera menyingkir keluar saat melihat kakak iparnya masuk.
“ Mas tidak ingin kita bercerai. Kalau Ci pergi, sama saja dengan kita bercerai.” Suara Bocing terdengar berat.
Asih menatap lembut ke arah suaminya.
“
Kita tidak bercerai mas, Cuma saya harus pergi. Menghilang dari
kehidupan mas. Kalau kelak mas tidak bahagia dan membutuhkan saya, mas
bisa mencari saya. Saya akan menerima mas dengan cinta yang tetap sama.
Cinta saya tidak berkurang untuk mas.”
“ Ci sayang, bisakah tidak ada diantara kalian yang meninggalkan mas?”
“
Mas, saya tidak ingin membuat mas berada dalam masalah. Jika saya
tinggal, mas akan berat memilih antara saya atau Uleng. Jadi lebih baik
saya yang mengalah, setidaknya saya pernah merasakan kebahagiaan bersama
mas walau hanya sebentar.” Asih membelakangi suaminya. Dia menarik
nafas beberapa kali berusaha menahan airmatanya yang sejak tadi akan
tumpah.
“
Jangan sia-siakan Uleng, mas.” Ucap Asih masih tetap membelakangi
suaminya. Dia menunduk meraih tas yang ada di bawah tempat tidur. Tak
sedikitpun dia berpaling melihat ke arah suaminya. Asih tidak ingin
berdamai dengan hatinya. Sudah cukup membuktikan cinta Bocing padanya.
Dia tak perlu bukti yang lain lagi. Jika Bocing mencintainya, maka
Bocing akan memilihnya. Namun jika tidak, berarti cinta itu memang telah
hilang.
Detik-detik
berlalu. Namun tak satupun warga yang mengetahui keadaan di rumah
Bocing malam ini. Semua warga larut dalam kebahagiaan menjelang lebaran.
Bahkan saat Asih melangkah keluar rumah dan hanya di temani adiknya,
Acik, tak ada warga yang melihat. Menggunakan sweater pink, Asih
berjalan pelan. Dia berusaha tegar menahan kesedihannya. Menahan air
matanya. Tadi sebelum keluar kamar, dia masih menyempatkan diri mencium
tangan suaminya, mengucapkan salam perpisahan. Begitu juga saat pamit
pada Uleng. Asih memeluknya sebelum keluar dari rumah.
Mereka
berdua terus berjalan menuju gerbang desa, menunggu angkot. Acik tak
bersuara sejak keluar dari rumah. Dia tak bisa berkata-kata. Lidahnya
terasa kelu. Pikirannya berkecamuk namun tak bisa di jabarkan seperti
apa. Dia ingin marah pada Bocing, namun melihat sikap kakaknya,
kemarahannya mereda. Mbak Asih saja tidak marah pada mas Bocing, mengapa
dia harus marah?
“
Tetap perhatiaan sama mas Bocing, ya. Acik jangan membenci mas Bocing.
Dia hanya manusia biasa. Asal mas Bocing bahagia, mbak juga bahagia.”
Ucap Asih sambil memeluk Acik sesaat sebelum naik ke angkot yang akan
mengantarnya ke terminal. Acik menggangguk dengan air mata berlinang.
Dalam pikirannya dia tidak mengerti mengapa kakaknya begitu tegar dan
ikhlas melepaskan mas Bocing pada wanita lain.
“
Kelak kamu akan mengerti, Cik. Cinta bukan hanya untuk di ucapkan tapi
dibuktikan dengan perbuatan. Mbak sudah melihat kenyataan kalau mas
Bocing tak lagi mencintai mbak. Jadi lebih baik mbak yang pergi, selain
untuk mengobati luka. Mbak juga belum siap melihat mas Erwin dengan
wanita lain.Entahlah nanti jika mbak benar-benar siap, mungkin mbak akan
kembali.” Batin Asih dengan air mata berderai. Dia terus memandangi
tubuh Acik yang kian jauh karena angkot yang ditumpanginya melaju dengan
kencang. Terngiang kembali kata-kata Bocing padanya di masa lalu,
“ Tak ada orang lain yang akan mas panggil dengan sebutan sayang selain dirimu, Ci.”
Asih menutup matanya. Kata-kata itu sekarang terasa seperti duri yang menusuk jantungnya.****
0 komentar:
Posting Komentar