Hujan yang turun sore ini menciptakan gelap seolah malam telah memeluk bumi. Suara guntur dan kilat yang saling menyambar makin menambah malas orang-orang untuk keluar rumah. Apalagi jalan di depan pemukiman penduduk yang tidak terlalu luas tersebut, jika hujan deras langsung banjir. Buruknya saluran air di pemukiman serta saluran pembuangan kota yang juga tak tertata dengan baik makin menambah parah kondisi.
Elok terus berdiri di depan kios sambil memegang tas sekolah. Anak perempuan berumur 8 tahun itu entah sudah berapa lama berada di sana. Dia tiba saat hujan deras telah mengguyur. Seluruh tubuhnya basah. Payung kecil yang di pegangnya tidak pantas lagi untuk di pakai. Hanya layak untuk segera di buang.
” Kehujanan lagi, Lok?” tegur pemilik kios. Elok mengangguk sambil menahan dingin.
” Nih, pinjam payung tante. Kasihan kalau nunggu hujan berhenti bisa lama.” pemilik kios menyodorkan payung. Elok melihatnya namun tidak menerimanya.
” Nanti mama marah tante. Kan Elok sudah punya payung.” Ucapnya dengan wajah takut.
Pemilik kios melihat payung yang tengah di pegang elok. Pandangan matanya menaruh iba, namun dia segera berjalan masuk ke kios. Andai tidak mengenal orang tua Elok, mungkin dia akan memaksa anak itu untuk memakainya. Namun orang tua elok, terutama mamanya terkenal sangat mudah naik darah dan cepat tersinggung.
Bisa saja perhatian yang dia berikan dianggap merendahkan. Kehidupan keluarga Elok yang pas-pasan membuat miris orang yang melihatnya. Pekerjaan ayahnya tidak menentu sementara ibunya hanya menjadi tukang cuci harian. Elok akhirnya harus ikut membantu mencari nafkah untuk keluarganya.
Makin lama hujan makin deras. Elok terlihat kelelahan dan mulai duduk di tembok pembatas kios. Sesekali dia berdiri menadahkan tangannya menahan air hujan yang jatuh dari seng.
Pemilik kios terus memperhatikannya.
” Elok, kamu sudah makan sayang?” teriaknya. Elok berbalik mendengar namanya di sebut.
” Belum tante.” balasnya.
” Ayo, masuk sini dulu. Makan sama Wita di dalam. Kamu pasti lapar.”
Elok tak bergerak. Dia hanya diam dengan tatapan menerawang.
” Tidak usah, tante. Nanti mama marah. Biar Elok makan di rumah saja.”
Pemilik kios menggumam tak jelas sambil menggelengkan kepala. Dia lalu masuk ke dapurnya. Tidak lama kemudian dia keluar dengan piring berisi makanan. Ditariknya tangan Elok agar duduk menghadap makanan tersebut.
” Kamu makan saja. Mamamu itu bukan orang lain, kita sudah seperti keluarga. Kalau kamu tidak mau makan, besok-besok jangan berteduh di sini lagi. Mamamu itu tidak punya perasaan. Sekolahmu pagi kan?”
Elok mengangguk.
” Tuh, kan? tadi pagi kamu sarapan?” Elok menggeleng.
” Hanya makan kue satu, tante.” jawabnya dengan wajah memelas.
” Pasti kamu belum makan siang? iya,kan?” kembali Elok mengangguk.
” Pulang sekolah kamu langsung jualan air di kuburan. Baru pulang jam segini. Pasti kamu kelaparan. Ayo, makan. Kalau mamamu marah biar nanti tante yang beritahu.”
Elok akhirnya tak menolak lagi. Sejak tadi dia memang kelaparan apalagi dengan cuaca yang dingin seperti sekarang ini, perutnya makin cepat lapar. Dengan lahap Elok menyantap makanan tersebut. Sambil makan dia menghitung uang hasil dari penjualan air di kuburan. Ada juga pelayat yang langsung memberikan uang meski tak mengambil air jualannya. Uang ini harus diserahkan pada mamanya jika tidak ingin mendapat pukulan.
Dalam sekejap Elok menghabiskan makanan di piringnya. Dia berdiri lalu membawa piring tersebut ke dalam kios.
” Sudah, tante. Makasih.” Ucapnya. Pemilik warung nampak senang, dia menyodorkan permen ke arah Elok.
” Nih, buat kamu. Kalau takut ketahuan mama, di simpan saja di tas.” pesannya, seperti telah hapal akibat yang akan di terima Elok jika permennya ditemukan.
” Tante, Elok pulang saja. Nanti di cari mama. Makasih, tante.” Seru Elok lalu berlari meninggalkan kios.
Tubuhnya yang mungil dan kurus menerobos hujan dan banjir yang hampir mencapai pinggangnya. Tak ada pilihan lain bagi Elok selain harus tiba di rumah agar orang tuanya tidak mencari dan memarahinya. Tapi dalam hati Elok merasa lega. Wajahnya terihat gembira. Dia tidak perlu kelaparan lagi malam ini karena telah diberi makan oleh tante pemilik kios.
*****
0 komentar:
Posting Komentar