Matahari
bersinar dengan teriknya diluar rumah. Ayam juga sejak tadi berhenti
berkokok. Kini kelompok ayam-ayam itu sedang berebut mencari makan di
saluran air di samping sebuah rumah yang masih terlihat sepi. Jendela
dan pintu masih tertutup rapat. Suara ayam dan bebek yang saling berebut
makanan serta nyanyian dua ekor kambing dalam kandang, rupanya tidak
membuat tidur si pemilik rumah terganggu. Dia masih
terlelap bahkan sempat mematikan alarm handphone yang berbunyi tepat
pukul 7 tadi pagi. Sekarang jam diruang tamu berdentang sembilan kali.
Namun si pemilik rumah tetap berselimut ria dalam lelapnya.
“ Pos!!!pos!!possssss..” suara pak pos disertai bunyi klakson yang lumayan memekakan telinga.
Si
pemilik rumah yang tak lain adalah Acik segera melompat kaget. Dia
duduk sesaat melihat sekeliling kamarnya. Matanya membelalak kaget saat
melihat jam di handphonenya. Dia segera berlari keluar bersiap masuk
kamar mandi. Tak lupa disambarnya handuk yang tergeletak di kursi.
“
Tooot…tooootttttt….” Suara klakson menahan langkah Acik masuk kekamar
mandi. Badannya sudah setengah berada di dalam ketika kepalanya kembali
menyembul keluar.
“
Pak pos?” tanyanya bingung. Dia segera berlari ke ruang tamu. Mengintip
dibalik gorden. Acik tidak ingin langsung membuka pintu. Maklum suara
pak pos kadang terdengar didepan rumah padahal motornya lagi nangkring
di rumah tetangga. Acik harus memastikan dulu dimana posisi pak pos itu.
Acik tersenyum lega. Dia segera membuka pintu. Wajah pak pos terlihat sangar. Jauh dari senyuman.
“
Baru bangun ya, neng?” tanyanya sambil melihat Acik dari ujung kaki ke
ujung rambut. Acik tersipu malu. Sesekali tangannya merapikan rambutnya
yang awut-awutan.
“ Hehehe..iya..pak. Maklum puasa.” Pak Pos tersenyum kecut.
“
Jangan marah, pak. Ini kan puasa harus menahan amarah.” Sambung Acik
lagi. Pak pos tak merespon. Dia memberikan surat lalu bergerak pergi
meninggalkan Acik yang sibuk melihat surat bertuliskan kilat.
“
Masih ada ya yang mengirim surat jaman sekarang? Atau jangan-jangan
surat ini surat nyasar lagi. Tapi namaku ada disini, berarti bukan
nyasar.”
Acik berlari masuk ke dalam rumah. Ditutupnya pintu dengan cepat. Dia lalu
menaruh surat itu diatas meja kemudian masuk ke kamar mandi. Suara
guyuran air berlangsung cepat. Tak sampai lima menit Acik keluar lalu
melesat masuk ke kamarnya.
“
Hari kerja kok bangun telat. Gawat bisa dimarahin Pak Kades kalau
begini.” gumam Acik sambil buru-buru berpakaian. Dia lalu berdandan
secepatnya. Rambutnya yang panjang disisir terburu-buru. Setelah merasa
klop, Acik keluar dari kamarnya. Dia mengunci pintu ruang tamu sambil
bersenandung riang.
Langkahnya cepat meninggalkan rumah sambil melihat kearah belakang, mungkin saja ada ojek atau motor yang lewat. Dia
harap-harap cemas karena sudah terlambat untuk masuk kerja. Dalam
bayangan Acik, Pak Kades sedang menunggunya dengan wajah masam sementara
Pak RT dan Pak RW, duduk dengan wajah yang tak kalah sangarnya. Acik
bergidik, semoga itu hanya hayalannya. Wajah warga Rangkat tidak ada
yang sangar kok, semua manis-manis, batin Acik.
Doa
Acik terkabul. Belum lama berdoa, dari arah belakang muncul mobil mas
Halim. Mobil itu berhenti pas di depannya. Senyum mas Halim terkembang
seperti layar perahu. Nampak indah di terpa sinar mentari. Wajah mas
Halim juga nampak segar yang membuat hati Acik bergetar.
“
Eh, mas Halim…kebetulan, Acik lagi butuh tumpangan.” Acik segera
berlari ke samping mobil bersiap untuk membuka pintu mobil. Tapi suara
mas Halim menghentikannya.
“
Tunggu dulu, Cik.” Mas Halim keluar dari mobil. Dia melangkah mendekati
Acik lalu berdiri disamping pintu mobil. Membukannya lalu
mempersilahkan Acik untuk naik. Acik tersanjung. Dengan wajah bersemu
merah dia naik perlahan ke atas mobil.
“
Hamba sengaja menjembut tuan puteri, karena hamba tahu, pasti tuan
putri terlambat bangun.” Acik tertawa mendengar kata-kata mas Halim. Mas
Halim juga tersipu malu. Dia berusaha menghilangkan rasa gugupnya.
Semua karena ultimatum dari orang tuanya yang memintanya segera menikah.
Maklum usianya tidak lagi muda, 28 tahun. Pekerjaan sudah mapan. Rumah,
mobil dan usaha sampingan telah ada. Kenapa dia belum menikah juga? Itu
yang membuat orang tuanya heran. Untuk ukuran di kampungnya, yang
rata-rataa menikah di usia belasan, usia mas Halim
tergolong lewat. Karena itu orang tuanya panik. Segera meminta dengan
tegas mas Halim untuk segera menikah.
“ Mas Halim tidak mengajar, kok jam segini ada di desa?” Acik membuka percakapan.
“ Hari ini tidak ada mata kuliah.” Jawab mas Halim singkat. Dia sibuk mengatur kata-kata untuk diucapkan pada Acik.
“
Tapi tempo hari, Acik minta jemput hari seperti hari ini, mas Halim
bilang jadwal penuh.” Acik bertanya lagi dengan wajah polos. Mas Halim
kikuk.
“ Oh, itu..kan hari ini tidak sama dengan hari itu, Cik.” Mas Halim menjawab sekedarnya.
“ Sistem kuliah begitu ya..hehehe..maklum Acik kan tidak kuliah, jadi tidak tahu.”
Mas Halim makin gugup. Bagaimana caranya mengucapkan kalimat lamaran? Apa dia harus berlutut? Pikirnya kalut.
“
Maaf, mas Halim. Mobilnya bisa cepat nggak sampai ke kantor desa,
soalnya aku telat nih masuk kantor.” Mas Halim tersenyum lalu dengan
kecepatan penuh dia melarikan kendaraannya tepat berhenti di depan
kantor desa. Acik buru-buru turun tanpa menunggu mas Halim yang
siap-siap membukakan pintu mobil untuknya.
“ Makasih mas Halim, ntar aku sms ya…” Acik berlari masuk ke kantor desa meninggalkan mas Halim yang termenung menatapnya.
“ Sial..sial..kenapa juga aku nggak bisa ngomong. Payah, pantas ayah dan ibu ngamuk-ngamuk pengen datang ke Rangkat untuk melamar Acik. Anaknya nggak berani ngomong..”
Mas
Halim masih mengumpat sendiri tanpa menyadari sepasang wajah menyembul
dari jendela kantor desa. Wajah Pak RT yang heran melihatnya berbicara
sendiri. Tapi mas Halim beruntung. Dia segera sadar dan berlalu
meninggalkan kantor desa. Meninggalkan wajah penasaran yang masih
mematung di depan jendela. Persis seperti wajah foto postcard.
****
“
Gimana, kamu sudah melamar pacarmu itu?” suara berat namun tegas
terdengar ditelinga mas Halim. Wajah mas Halim sudah pucat saat menerima
telpon dari ibunya.
Mas Halim terdiam.
“
Pasti belum, ibu yakin itu. Anakku jangan mempersulit diri. Kalau kamu
tidak sanggup biar kami yang melamar si Acik. Ntar keburu di ambil
orang, katamu banyak yang naksir dia.”
“ Tapi cintanya hanya untuk aku, bu.” Mas Halim menjawab pelan.
“ Karena itu harus secepatnya dilamar. Gimana, kami datang ya ke Rangkat?”
Mas
Halim makin bingung. Orang tuanya begitu bersemangat untuk melamar.
Mereka sangat gembira saat mas Halim memberi tahu kalau dia sudah
mendapatkan pacar.
“
Syukurlah anakku, kami sudah rindu untuk menggendong cucu. Tetangga
semua cucunya sudah banyak, kami satupun belum ada. Ayolah cepat
menikah, biar tahun depan sudah ada cucu untuk kami.”
Mas Halim hanya tertawa mendengar keinginan orang tuanya. Orang tua dimana-mana sama, mau cepat-cepat menimang cucu.
“
Halim??? Bagaimana? Kalau besok kamu belum bisa melamar Acik, biarkan
kami yang mengurusnya. Mengerti? Percuma ayah dan ibumu terkenal sebagai
juru runding untuk lamar melamar kalau tidak bisa melamar untuk anak
sendiri.”
Telpon
ditutup. Mas Halim menatap aliran sungai Rangkat yang jernih. Suara
burung-burung berkicau lebih merdu terdengar dari lagu-lagu yang
mengalun dari mobilnya. Segera dia mematikan tape mobil lalu keluar dari
mobil. Dia duduk-duduk di bawah pohon, merenung. Rasanya malas untuk
pulang ke rumah. Percuma kalau tiba disana, hanya dia sendirian. Tak ada
orang lain yang menemani. Kapan rumah itu tersentuh tangan wanita? Mas Halim menghayal.
****
Siangnya
sepulang kantor, Acik tiba dirumah dengan keringat bercucuran. Maklum
dia jalan kaki karena tak satupun ojek yang lewat. Bulan puasa begini
biasanya ojek lebih banyak nongkrong di pos ronda. Mereka biasanya
tiduran sambil nunggu penumpang. Apalagi sinar matahari sangat terik,
pasti makin menambah malas untuk keliling kampung. Apalagi warga juga
kebanyakan berdiam dalam rumah dan mengurangi aktivitas keluar rumah.
Acik menghapus peluh di wajahnya sambil menutup pintu ruang tamu. Saat berbalik, tak sengaja matanya menatap surat yang tadi pagi diterimanya dari pak pos.
“
Waduuuuuuh…aku kok sampe lupa ama nih surat! Jangan-jangan ini surat
penting!’ Acik segera merobek sampul surat. Mengeluarkan isinya dan
melebarkan kertas dan matanya untuk membaca.
Teruntuk nak Acik yang manis,
Mendengar
kabar kalau anakda adalah kekasih dari putra kami, Halim Malik, membuat
kami gembira tak terkira. Sungguh itu doa kami yang kami panjatkan
setiap malam. Kami berpuasa berharap yang Kuasa membuka pintu jodoh
untuknya.
Walau
kami belum mengenal nak Acik, tapi kami sudah bisa menebak kalau nak
Acik sangat baik dan manis. Wajah nak Acik yang sangat manis membuat
kami ingin secepatnya melamar nak Acik untuk anak kami si Halim……………dst.
Karena
itu besar harapan kami, agar anakda Acik bersedia menjadi istri dari
anak kami Halim Malik. Jika berkenan segeralah membalas surat ini, agar
kami segera membuat persiapan lamaran.
Acik tidak membaca kelanjutannya. Tangannya gemetar mencari handphone dalam tas. Wajahnya pucat.
“ Bunda Selsa!!!!! Bunda dimana??? Teriaknya histeris. Suara di seberang tak kalah kagetnya.
“ Kenapa, Cik? Bunda dirumah…”
Acik
tidak mendengar lagi suara bunda Selsa. Dia segera berlari keluar
rumah. Terik mentari tak lagi dia hiraukan. Larinya kencang dengan
rambut yang berkibar tertiup angin. Acik tidak sadar dari kejauhan mas
Halim yang lewat di lorong jalan yang lain, melihatnya. Mas Halim heran
lalu mengikuti Acik yang terus berlari menuju rumah bunda Selsa.****
ECR-3#66
0 komentar:
Posting Komentar