Minggu, 15 April 2012

Surat Yang Menggetarkan Hati

0

Matahari bersinar dengan teriknya diluar rumah. Ayam juga sejak tadi berhenti berkokok. Kini kelompok ayam-ayam itu sedang berebut mencari makan di saluran air di samping sebuah rumah yang masih terlihat sepi. Jendela dan pintu masih tertutup rapat. Suara ayam dan bebek yang saling berebut makanan serta nyanyian dua ekor kambing dalam kandang, rupanya tidak membuat tidur si pemilik rumah terganggu. Dia masih terlelap bahkan sempat mematikan alarm handphone yang berbunyi tepat pukul 7 tadi pagi. Sekarang jam diruang tamu berdentang sembilan kali. Namun si pemilik rumah tetap berselimut ria dalam lelapnya.

“ Pos!!!pos!!possssss..” suara pak pos disertai bunyi klakson yang lumayan memekakan telinga.


Si pemilik rumah yang tak lain adalah Acik segera melompat kaget. Dia duduk sesaat melihat sekeliling kamarnya. Matanya membelalak kaget saat melihat jam di handphonenya. Dia segera berlari keluar bersiap masuk kamar mandi. Tak lupa disambarnya handuk yang tergeletak di kursi.

“ Tooot…tooootttttt….” Suara klakson menahan langkah Acik masuk kekamar mandi. Badannya sudah setengah berada di dalam ketika kepalanya kembali menyembul keluar.

“ Pak pos?” tanyanya bingung. Dia segera berlari ke ruang tamu. Mengintip dibalik gorden. Acik tidak ingin langsung membuka pintu. Maklum suara pak pos kadang terdengar didepan rumah padahal motornya lagi nangkring di rumah tetangga. Acik harus memastikan dulu dimana posisi pak pos itu.

Acik tersenyum lega. Dia segera membuka pintu. Wajah pak pos terlihat sangar. Jauh dari senyuman.

“ Baru bangun ya, neng?” tanyanya sambil melihat Acik dari ujung kaki ke ujung rambut. Acik tersipu malu. Sesekali tangannya merapikan rambutnya yang awut-awutan.

“ Hehehe..iya..pak. Maklum puasa.” Pak Pos tersenyum kecut.

“ Jangan marah, pak. Ini kan puasa harus menahan amarah.” Sambung Acik lagi. Pak pos tak merespon. Dia memberikan surat lalu bergerak pergi meninggalkan Acik yang sibuk melihat surat bertuliskan kilat.

“ Masih ada ya yang mengirim surat jaman sekarang? Atau jangan-jangan surat ini surat nyasar lagi. Tapi namaku ada disini, berarti bukan nyasar.”

Acik berlari masuk ke dalam rumah. Ditutupnya pintu dengan cepat. Dia lalu menaruh surat itu diatas meja kemudian masuk ke kamar mandi. Suara guyuran air berlangsung cepat. Tak sampai lima menit Acik keluar lalu melesat masuk ke kamarnya.

“ Hari kerja kok bangun telat. Gawat bisa dimarahin Pak Kades kalau begini.” gumam Acik sambil buru-buru berpakaian. Dia lalu berdandan secepatnya. Rambutnya yang panjang disisir terburu-buru. Setelah merasa klop, Acik keluar dari kamarnya. Dia mengunci pintu ruang tamu sambil bersenandung riang.

Langkahnya cepat meninggalkan rumah sambil melihat kearah belakang, mungkin saja ada ojek atau motor yang lewat. Dia harap-harap cemas karena sudah terlambat untuk masuk kerja. Dalam bayangan Acik, Pak Kades sedang menunggunya dengan wajah masam sementara Pak RT dan Pak RW, duduk dengan wajah yang tak kalah sangarnya. Acik bergidik, semoga itu hanya hayalannya. Wajah warga Rangkat tidak ada yang sangar kok, semua manis-manis, batin Acik.

Doa Acik terkabul. Belum lama berdoa, dari arah belakang muncul mobil mas Halim. Mobil itu berhenti pas di depannya. Senyum mas Halim terkembang seperti layar perahu. Nampak indah di terpa sinar mentari. Wajah mas Halim juga nampak segar yang membuat hati Acik bergetar.

“ Eh, mas Halim…kebetulan, Acik lagi butuh tumpangan.” Acik segera berlari ke samping mobil bersiap untuk membuka pintu mobil. Tapi suara mas Halim menghentikannya.

“ Tunggu dulu, Cik.” Mas Halim keluar dari mobil. Dia melangkah mendekati Acik lalu berdiri disamping pintu mobil. Membukannya lalu mempersilahkan Acik untuk naik. Acik tersanjung. Dengan wajah bersemu merah dia naik perlahan ke atas mobil.

“ Hamba sengaja menjembut tuan puteri, karena hamba tahu, pasti tuan putri terlambat bangun.” Acik tertawa mendengar kata-kata mas Halim. Mas Halim juga tersipu malu. Dia berusaha menghilangkan rasa gugupnya. Semua karena ultimatum dari orang tuanya yang memintanya segera menikah. Maklum usianya tidak lagi muda, 28 tahun. Pekerjaan sudah mapan. Rumah, mobil dan usaha sampingan telah ada. Kenapa dia belum menikah juga? Itu yang membuat orang tuanya heran. Untuk ukuran di kampungnya, yang rata-rataa menikah di usia belasan, usia mas Halim tergolong lewat. Karena itu orang tuanya panik. Segera meminta dengan tegas mas Halim untuk segera menikah.

“ Mas Halim tidak mengajar, kok jam segini ada di desa?” Acik membuka percakapan.

“ Hari ini tidak ada mata kuliah.” Jawab mas Halim singkat. Dia sibuk mengatur kata-kata untuk diucapkan pada Acik.

“ Tapi tempo hari, Acik minta jemput hari seperti hari ini, mas Halim bilang jadwal penuh.” Acik bertanya lagi dengan wajah polos. Mas Halim kikuk.

“ Oh, itu..kan hari ini tidak sama dengan hari itu, Cik.” Mas Halim menjawab sekedarnya.

“ Sistem kuliah begitu ya..hehehe..maklum Acik kan tidak kuliah, jadi tidak tahu.”

Mas Halim makin gugup. Bagaimana caranya mengucapkan kalimat lamaran? Apa dia harus berlutut? Pikirnya kalut.

“ Maaf, mas Halim. Mobilnya bisa cepat nggak sampai ke kantor desa, soalnya aku telat nih masuk kantor.” Mas Halim tersenyum lalu dengan kecepatan penuh dia melarikan kendaraannya tepat berhenti di depan kantor desa. Acik buru-buru turun tanpa menunggu mas Halim yang siap-siap membukakan pintu mobil untuknya.

“ Makasih mas Halim, ntar aku sms ya…” Acik berlari masuk ke kantor desa meninggalkan mas Halim yang termenung menatapnya.

“ Sial..sial..kenapa juga aku nggak bisa ngomong. Payah, pantas ayah dan ibu ngamuk-ngamuk pengen datang ke Rangkat untuk melamar Acik. Anaknya nggak berani ngomong..”

Mas Halim masih mengumpat sendiri tanpa menyadari sepasang wajah menyembul dari jendela kantor desa. Wajah Pak RT yang heran melihatnya berbicara sendiri. Tapi mas Halim beruntung. Dia segera sadar dan berlalu meninggalkan kantor desa. Meninggalkan wajah penasaran yang masih mematung di depan jendela. Persis seperti wajah foto postcard.

****

“ Gimana, kamu sudah melamar pacarmu itu?” suara berat namun tegas terdengar ditelinga mas Halim. Wajah mas Halim sudah pucat saat menerima telpon dari ibunya.

Mas Halim terdiam.

“ Pasti belum, ibu yakin itu. Anakku jangan mempersulit diri. Kalau kamu tidak sanggup biar kami yang melamar si Acik. Ntar keburu di ambil orang, katamu banyak yang naksir dia.”

“ Tapi cintanya hanya untuk aku, bu.” Mas Halim menjawab pelan.

“ Karena itu harus secepatnya dilamar. Gimana, kami datang ya ke Rangkat?”

Mas Halim makin bingung. Orang tuanya begitu bersemangat untuk melamar. Mereka sangat gembira saat mas Halim memberi tahu kalau dia sudah mendapatkan pacar.

“ Syukurlah anakku, kami sudah rindu untuk menggendong cucu. Tetangga semua cucunya sudah banyak, kami satupun belum ada. Ayolah cepat menikah, biar tahun depan sudah ada cucu untuk kami.”

Mas Halim hanya tertawa mendengar keinginan orang tuanya. Orang tua dimana-mana sama, mau cepat-cepat menimang cucu.

“ Halim??? Bagaimana? Kalau besok kamu belum bisa melamar Acik, biarkan kami yang mengurusnya. Mengerti? Percuma ayah dan ibumu terkenal sebagai juru runding untuk lamar melamar kalau tidak bisa melamar untuk anak sendiri.”

Telpon ditutup. Mas Halim menatap aliran sungai Rangkat yang jernih. Suara burung-burung berkicau lebih merdu terdengar dari lagu-lagu yang mengalun dari mobilnya. Segera dia mematikan tape mobil lalu keluar dari mobil. Dia duduk-duduk di bawah pohon, merenung. Rasanya malas untuk pulang ke rumah. Percuma kalau tiba disana, hanya dia sendirian. Tak ada orang lain yang menemani. Kapan rumah itu tersentuh tangan wanita? Mas Halim menghayal.

****

Siangnya sepulang kantor, Acik tiba dirumah dengan keringat bercucuran. Maklum dia jalan kaki karena tak satupun ojek yang lewat. Bulan puasa begini biasanya ojek lebih banyak nongkrong di pos ronda. Mereka biasanya tiduran sambil nunggu penumpang. Apalagi sinar matahari sangat terik, pasti makin menambah malas untuk keliling kampung. Apalagi warga juga kebanyakan berdiam dalam rumah dan mengurangi aktivitas keluar rumah.

Acik menghapus peluh di wajahnya sambil menutup pintu ruang tamu. Saat berbalik, tak sengaja matanya menatap surat yang tadi pagi diterimanya dari pak pos.

“ Waduuuuuuh…aku kok sampe lupa ama nih surat! Jangan-jangan ini surat penting!’ Acik segera merobek sampul surat. Mengeluarkan isinya dan melebarkan kertas dan matanya untuk membaca.

Teruntuk nak Acik yang manis,

Mendengar kabar kalau anakda adalah kekasih dari putra kami, Halim Malik, membuat kami gembira tak terkira. Sungguh itu doa kami yang kami panjatkan setiap malam. Kami berpuasa berharap yang Kuasa membuka pintu jodoh untuknya.

Walau kami belum mengenal nak Acik, tapi kami sudah bisa menebak kalau nak Acik sangat baik dan manis. Wajah nak Acik yang sangat manis membuat kami ingin secepatnya melamar nak Acik untuk anak kami si Halim……………dst.

Karena itu besar harapan kami, agar anakda Acik bersedia menjadi istri dari anak kami Halim Malik. Jika berkenan segeralah membalas surat ini, agar kami segera membuat persiapan lamaran.

Acik tidak membaca kelanjutannya. Tangannya gemetar mencari handphone dalam tas. Wajahnya pucat.

“ Bunda Selsa!!!!! Bunda dimana??? Teriaknya histeris. Suara di seberang tak kalah kagetnya.

“ Kenapa, Cik? Bunda dirumah…”

Acik tidak mendengar lagi suara bunda Selsa. Dia segera berlari keluar rumah. Terik mentari tak lagi dia hiraukan. Larinya kencang dengan rambut yang berkibar tertiup angin. Acik tidak sadar dari kejauhan mas Halim yang lewat di lorong jalan yang lain, melihatnya. Mas Halim heran lalu mengikuti Acik yang terus berlari menuju rumah bunda Selsa.****

ECR-3#66

0 komentar:

Posting Komentar