Minggu, 15 April 2012

Kasih Untuk Sebuah Hati

0

Asih merapikan pakaiannya dalam tas ransel. Pagi ini dia akan berangkat menyusul suaminya, Bocing yang sedang merantau di Halmahera. Sendirian dirumah setelah ditinggal Acik pergi berlibur, membuat pikiran Asih mengembara tanpa tujuan. Kesepian dan rasa rindu pada Bocing membuat tekadnya bulat untuk pergi mengunjungi suami tercinta.

Beberapa hari sebelumnya, Asih tersentak kaget saat melihat kalender. Dia lupa kalau telah melingkari tanggal 24 Juli sebagai hari ulang tahun sang suami. Syukurlah hari itu belum lewat hingga Asih masih bisa bersiap-siap.


Mas mau ke pulau yang gak ada sinyal

Pesan dari Bocing masuk malam itu.

Berapa lama, mas?

Balas Asih.

Mungkin 4 hari. Kamu sabar saja ya. Cuma 4 hari.

Mata Asih melotot. Cuma 4 hari? Dia mengulang bunyi sms dari Bocing. Itu lama mas! Protesnya. Bisa kangen berat dia kalau sampai 4 hari tidak bisa menghubungi suaminya. Karena itu tanpa sepengetahuan Bocing, Asih merencanakan inspeksi mendadak. Kunjungan luar biasa untuk memberikan kejutan bagi suaminya.

Iya. Gak apa-apa. Saya bisa sabar kok, mas.

Balas Asih sambil tersenyum. Dalam pikirannya sudah penuh dengan rencana liburan yang akan dijalaninya nanti di pulau. Tentu saja liburan di pulau berbeda dengan liburan yang pernah dijalaninya selama ini. Apalagi disana dia akan menikmati keindahan laut bersama Bocing.

Malam sebelum keberangkatannya, Asih menyempatkan diri untuk keliling Desa Rangkat. Menikmati keindahan malam bulan purnama. Bulan bersinar terang menambah keindahan Desa Rangkat.

Saat melintas di Pos Ronda, Asih melihat kang Inin lagi berbicara. Didepannya beberapa warga nampak serius mendengarkan uraiannya.

“ Besok mas Bocing ulang tahun. Nah, sebagai warga yang baik..ehm.bagaimana kalau kita ikut memeriahkan acara ulang tahunnya.” Ucap kang Inin dengan semangat.

“ Tapi kan mas Bocing nggak ada. Orangnya lagi merantau.” kata mas Choky sambil meraih kopi hangat yang baru saja di bawa Dorma.

“ Ya nggak apa-apa. Nanti kita bisa menghubungi mas Erwin lewat teleconference. Biar dia bisa melihat acara kita.”

“ Teleconference itu apaan sih, kang?” tanya mbak Lia.

“ Ehm..apa ya…akang juga nggak ngerti..coba tanya sama mas Reporter.” Kang Inin terlihat bingung.

“ Kalo nggak tahu mah, jangan ngomong.”

Mbak Lia langsung beranjak pergi.

Asih yang semula tidak berniat singgah akhirnya tertarik untuk ikut meramaikan pos ronda. Bukan untuk jaga malam, melainkan untuk meluruskan informasi biar tidak makin kabur.

“ Maaf kang Inin, bapak-bapak, mbak, ibu-ibu. Ehm, mas Bocing mau pergi ke daerah yang nggak ada sinyal. Jadi percuma saja menghubungi. Saya mewakili mas Bocing mengucapkan terima kasih atas perhatian kalian. Tapi untuk kehadiran mas Bocing atau saya, itu jelas tidak mungkin. Saya besok mau menyusul mas Bocing. “

Terdengar keluhan warga.

“ Baru saja niat mau ikut lomba balap karung.”

“ Mau ikut lomba makan kerupuk.” Suara lain menimpali.

“ Huss. Itu mah tujuh belas agustusan..bukan sekarang.” Suara lain protes.

Asih kemudian meninggalkan pos ronda. Meninggalkan warga yang terlihat lesu karena lomba tidak jadi diadakan. Sayangnya Asih tidak melihat itu. Dalam pikirannya sudah dipenuhi wajah Bocing. Wajah yang sedang tersenyum, tertawa, merenung, lagi sedih hingga wajah saat marah.

“ Saya sangat rindu, mas.” Bisik Asih sambil menatap rembulan yang seperti tersenyum mendengar ucapannya.

******

Asih berjalan keluar dari bandara Buli pagi itu. Dia baru saja tiba setelah semalam menginap di Ternate. Tak ada penerbangan langsung hingga dia harus menunggu sebelum benar-benar tiba di Buli. Sambil memegang tas ranselnya, Asih melangkah memasuki kota Buli. Dia tahu akan menuju kemana karena Bocing selalu menceritakan tentang tempat tersebut.

Saat mesjid tempat Bocing biasa berkumpul dengan sesama jamaah terlihat, Asih merasa lega. Akhirnya dia tiba juga dan bisa bertemu dengan Bocing. Dia mengambil handphone lalu menelpon Bocing.

“ Iya, Halo. Kenapa Ci?” suara Bocing terdengar. Asih yang masih menempelkan handphone di telinganya tersenyum bahagia. Matanya menyimpan kerinduan yang dalam saat melihat sosok Bocing keluar dari mesjid sambil menerima telponnya.

“ Mas, cuaca di Buli agak panas, ya.” Asih menjawab sambil melangkah mendekati mesjid.

“ Iya memang agak panas.” Bocing masih belum menyadari kedatangan Asih.

“ Lagi ngapain sayang? Keadaan Rangkat gimana?” sambungnya sambil berniat duduk diteras mesjid. Saat berbalik untuk duduk Bocing terpaku. Didepannya muncul Asih sambil senyum-senyum. Pelan-pelan Bocing menurunkan tangannya yang sedang menempelkan handphone di telinganya.

Senyum sekaligus haru disertai rasa kaget bercampur diwajahnya. Namun tak ada kata-kata yang bisa mewakili. Asih segera mendekat dan disambut pelukan hangat oleh Bocing. Tak ada suara, hanya pelukan itu semakin erat. Kerinduan yang hanya mereka yang bisa merasakannya. Hampir dua bulan terpisah membuat Bocing dan Asih hanya bisa meluapkan perasaan dengan pelukan dan elusan lembut.

“ Kenapa nggak ngomong kalau mau datang, biar mas bisa jemput.” Bocing menatap mesra wajah istrinya. Dia masih tak percaya, Asih bisa hadir secara nyata didepan matanya.

“ Kan kejutan mas. Kalau diberitahu bukan kejutan namanya.” Jawab Asih sambil menggenggam erat jemari Bocing.

“ Hampir saja kamu terlambat, sayang. Ntar sore mas mau ke pulau.”

“ Saya sudah perhitungkan kok, mas. Karena itu tiba jam segini di Buli..hehehe.. “

“ Ci rindu berat ya sama mas, sampai nekad datang kemari.” Asih menggangguk cepat.

“ Iya, mas. Besok kan mas ulang tahun. Kita rayakan sambil menikmati malam di pulau. Kan seru, romantis. Duduk-duduk di pinggir pantai memandang langit…ehm..indahnya.”

Bocing mendekap Asih. Dia masih terus memandang wajah istrinya sambil tersenyum-senyum. Semoga saja dia tidak sedang bermimpi, batinnya.

“ Tempo hari mas lupa nitip baju.” Ucap Bocing.

“ Baju? Untuk apa mas?” tanya Asih heran.

“ Biar kalau Ci sayang kangen berat sama mas, bisa langsung nyium tuh baju. Tapi syaratnya, baju mas nggak boleh dicuci, ntar baunya hilang.”

“ Hah? Harus begitu ya..nanti saja kalau saya pulang. Baju mas ikutkan satu.”

“ Tapi baju Ci juga harus simpan satu disini. Ntar kalau mas kangen bisa dipeluk bajunya…hehehe..”

Asih mengangguk senang. Cuaca yang terasa panas tak lagi mereka rasakan. Hati mereka berdua telah dipenuhi kesejukan. Kerinduan itu akhirnya menemukan muaranya. Rindu yang terpisah oleh lautan. Asih dan Bocing kemudian bersiap-siap untuk menikmati bulan madu ke dua di pulau yang indah.***

( Bersambung )

0 komentar:

Posting Komentar