Asih
merapikan pakaiannya dalam tas ransel. Pagi ini dia akan berangkat
menyusul suaminya, Bocing yang sedang merantau di Halmahera. Sendirian
dirumah setelah ditinggal Acik pergi berlibur, membuat pikiran Asih
mengembara tanpa tujuan. Kesepian dan rasa rindu pada Bocing membuat
tekadnya bulat untuk pergi mengunjungi suami tercinta.
Beberapa
hari sebelumnya, Asih tersentak kaget saat melihat kalender. Dia lupa
kalau telah melingkari tanggal 24 Juli sebagai hari ulang tahun sang
suami. Syukurlah hari itu belum lewat hingga Asih masih bisa
bersiap-siap.
Mas mau ke pulau yang gak ada sinyal
Pesan dari Bocing masuk malam itu.
Berapa lama, mas?
Balas Asih.
Mungkin 4 hari. Kamu sabar saja ya. Cuma 4 hari.
Mata
Asih melotot. Cuma 4 hari? Dia mengulang bunyi sms dari Bocing. Itu
lama mas! Protesnya. Bisa kangen berat dia kalau sampai 4 hari tidak
bisa menghubungi suaminya. Karena itu tanpa sepengetahuan Bocing, Asih
merencanakan inspeksi mendadak. Kunjungan luar biasa untuk memberikan
kejutan bagi suaminya.
Iya. Gak apa-apa. Saya bisa sabar kok, mas.
Balas
Asih sambil tersenyum. Dalam pikirannya sudah penuh dengan rencana
liburan yang akan dijalaninya nanti di pulau. Tentu saja liburan di
pulau berbeda dengan liburan yang pernah dijalaninya selama ini. Apalagi
disana dia akan menikmati keindahan laut bersama Bocing.
Malam
sebelum keberangkatannya, Asih menyempatkan diri untuk keliling Desa
Rangkat. Menikmati keindahan malam bulan purnama. Bulan bersinar terang
menambah keindahan Desa Rangkat.
Saat
melintas di Pos Ronda, Asih melihat kang Inin lagi berbicara.
Didepannya beberapa warga nampak serius mendengarkan uraiannya.
“
Besok mas Bocing ulang tahun. Nah, sebagai warga yang
baik..ehm.bagaimana kalau kita ikut memeriahkan acara ulang tahunnya.”
Ucap kang Inin dengan semangat.
“ Tapi kan mas Bocing nggak ada. Orangnya lagi merantau.” kata mas Choky sambil meraih kopi hangat yang baru saja di bawa Dorma.
“ Ya nggak apa-apa. Nanti kita bisa menghubungi mas Erwin lewat teleconference. Biar dia bisa melihat acara kita.”
“ Teleconference itu apaan sih, kang?” tanya mbak Lia.
“ Ehm..apa ya…akang juga nggak ngerti..coba tanya sama mas Reporter.” Kang Inin terlihat bingung.
“ Kalo nggak tahu mah, jangan ngomong.”
Mbak Lia langsung beranjak pergi.
Asih
yang semula tidak berniat singgah akhirnya tertarik untuk ikut
meramaikan pos ronda. Bukan untuk jaga malam, melainkan untuk meluruskan
informasi biar tidak makin kabur.
“
Maaf kang Inin, bapak-bapak, mbak, ibu-ibu. Ehm, mas Bocing mau pergi
ke daerah yang nggak ada sinyal. Jadi percuma saja menghubungi. Saya
mewakili mas Bocing mengucapkan terima kasih atas perhatian kalian. Tapi
untuk kehadiran mas Bocing atau saya, itu jelas tidak mungkin. Saya
besok mau menyusul mas Bocing. “
Terdengar keluhan warga.
“ Baru saja niat mau ikut lomba balap karung.”
“ Mau ikut lomba makan kerupuk.” Suara lain menimpali.
“ Huss. Itu mah tujuh belas agustusan..bukan sekarang.” Suara lain protes.
Asih
kemudian meninggalkan pos ronda. Meninggalkan warga yang terlihat lesu
karena lomba tidak jadi diadakan. Sayangnya Asih tidak melihat itu.
Dalam pikirannya sudah dipenuhi wajah Bocing. Wajah yang sedang
tersenyum, tertawa, merenung, lagi sedih hingga wajah saat marah.
“ Saya sangat rindu, mas.” Bisik Asih sambil menatap rembulan yang seperti tersenyum mendengar ucapannya.
******
Asih
berjalan keluar dari bandara Buli pagi itu. Dia baru saja tiba setelah
semalam menginap di Ternate. Tak ada penerbangan langsung hingga dia
harus menunggu sebelum benar-benar tiba di Buli. Sambil memegang tas
ranselnya, Asih melangkah memasuki kota Buli. Dia tahu akan menuju
kemana karena Bocing selalu menceritakan tentang tempat tersebut.
Saat
mesjid tempat Bocing biasa berkumpul dengan sesama jamaah terlihat,
Asih merasa lega. Akhirnya dia tiba juga dan bisa bertemu dengan Bocing.
Dia mengambil handphone lalu menelpon Bocing.
“
Iya, Halo. Kenapa Ci?” suara Bocing terdengar. Asih yang masih
menempelkan handphone di telinganya tersenyum bahagia. Matanya menyimpan
kerinduan yang dalam saat melihat sosok Bocing keluar dari mesjid
sambil menerima telponnya.
“ Mas, cuaca di Buli agak panas, ya.” Asih menjawab sambil melangkah mendekati mesjid.
“ Iya memang agak panas.” Bocing masih belum menyadari kedatangan Asih.
“
Lagi ngapain sayang? Keadaan Rangkat gimana?” sambungnya sambil berniat
duduk diteras mesjid. Saat berbalik untuk duduk Bocing terpaku.
Didepannya muncul Asih sambil senyum-senyum. Pelan-pelan Bocing
menurunkan tangannya yang sedang menempelkan handphone di telinganya.
Senyum
sekaligus haru disertai rasa kaget bercampur diwajahnya. Namun tak ada
kata-kata yang bisa mewakili. Asih segera mendekat dan disambut pelukan
hangat oleh Bocing. Tak ada suara, hanya pelukan itu semakin erat.
Kerinduan yang hanya mereka yang bisa merasakannya. Hampir dua bulan
terpisah membuat Bocing dan Asih hanya bisa meluapkan perasaan dengan
pelukan dan elusan lembut.
“
Kenapa nggak ngomong kalau mau datang, biar mas bisa jemput.” Bocing
menatap mesra wajah istrinya. Dia masih tak percaya, Asih bisa hadir
secara nyata didepan matanya.
“ Kan kejutan mas. Kalau diberitahu bukan kejutan namanya.” Jawab Asih sambil menggenggam erat jemari Bocing.
“ Hampir saja kamu terlambat, sayang. Ntar sore mas mau ke pulau.”
“ Saya sudah perhitungkan kok, mas. Karena itu tiba jam segini di Buli..hehehe.. “
“ Ci rindu berat ya sama mas, sampai nekad datang kemari.” Asih menggangguk cepat.
“
Iya, mas. Besok kan mas ulang tahun. Kita rayakan sambil menikmati
malam di pulau. Kan seru, romantis. Duduk-duduk di pinggir pantai
memandang langit…ehm..indahnya.”
Bocing
mendekap Asih. Dia masih terus memandang wajah istrinya sambil
tersenyum-senyum. Semoga saja dia tidak sedang bermimpi, batinnya.
“ Tempo hari mas lupa nitip baju.” Ucap Bocing.
“ Baju? Untuk apa mas?” tanya Asih heran.
“
Biar kalau Ci sayang kangen berat sama mas, bisa langsung nyium tuh
baju. Tapi syaratnya, baju mas nggak boleh dicuci, ntar baunya hilang.”
“ Hah? Harus begitu ya..nanti saja kalau saya pulang. Baju mas ikutkan satu.”
“ Tapi baju Ci juga harus simpan satu disini. Ntar kalau mas kangen bisa dipeluk bajunya…hehehe..”
Asih
mengangguk senang. Cuaca yang terasa panas tak lagi mereka rasakan.
Hati mereka berdua telah dipenuhi kesejukan. Kerinduan itu akhirnya
menemukan muaranya. Rindu yang terpisah oleh lautan. Asih dan Bocing
kemudian bersiap-siap untuk menikmati bulan madu ke dua di pulau yang
indah.***
( Bersambung )
0 komentar:
Posting Komentar