Sore
ini tidak seperti hari-hari kemarin. Anak-anak kecil berkumpul di pos
ronda. Depe Kecil, Suri dan Sinar asyik bermain dan bercanda dengan
Dorma. Tentu saja sambil bermain, mulut mereka juga sibuk mengunyah
makanan, sama dengan Dorma.
“
Ayo, anak-anak sekarang kita main game cita-cita, kalian harus menyebut
cita-cita kalian kalau besar mau jadi apa. Lengkap dengan alasannya.”
Anak-anak menyambut gembira.
“ Setuju, tante Dolma.” Teriak mereka.
“ Tapi alasan itu apa ya?” Suri nyelutuk.
“ Alasan itu, kenapa Suri memilih cita-cita.” Dorma terlihat bingung menjelaskan.
“ Bisa kita mulai??? Nah, Pertama tante mo nanya Depe. Kalo besar mau jadi apa?”
“ Pemain sepak bola tante! Biar bisa ikut timnas.”
Mereka tepuk tangan.
“ Bagus.Bagus. Cita-cita yang luhur. Kalo Suri, mau jadi apa?”
“ Suli mau jadi plesiden tante…engggg..kalna kalo jadi plesiden, foto
Suli bisa ada di kelas.” Dorma tersenyum. Hanya Depe dan Sinar yang
tidak. Mungkin mereka belum mengerti mengapa Dorma tersenyum.
“ Nanti kalo Suli jadi plesiden, minta om lepoltel foto ya.” Suri mengangguk setuju. Makin lebar senyum Dorma.
“ Kalo Sinar mau jadi apa?”
“ Sinal mau jadi hanscip sepelti tante Dolma.”
Dorma
terlonjak kaget. Cita-cita yang meleset dari perkiraannya. Dalam hati
Dorma merasa senang. Akhirnya generasi penerus hansip di Desa Rangkat
telah lahir. Dia adalah Sinar.
“ Kenapa Sinar mau jadi Hansip seperti tante?” tan ya Dorma dengan lembut.
“
Kalna kalo jadi hanscip sepelti tante, bisa maen telus di pos londa.
Tlus banyak makanan,tlus bisa tidulan, enak cuma duduk-duduk aja.”
Dorma
terkesima. Inikah alasan Sinar memilih jadi hansip? Jadi kerja Dorma
selama ini di mata anak-anak hanya main-main, makan dan duduk-duduk
saja? Dorma jadi lemas. Nasib-nasib. Dasar anak-anak. Cita-cita mereka
begitu lugu selugu alasannya. **
0 komentar:
Posting Komentar