Malam
gelap. Tak ada siapapun di pos ronda. Lampu yang menerangi jalan depan
pos ronda juga lagi mati. Mungkin karena itu di pos ronda hanya ada
sebatang lilin. Entah siapa yang meletakkan di sana. Angin yang
berhembus, nyaris membuat lilin itu meredup. Suasana sekitar yang gelap,
makin terasa menyeramkan.
Acik
berjalan sambil matanya bergantian melihat kedepan, belakang, samping
kiri dan kanan. Matanya tajam melihat sekeliling. Acik menyesal keluar
malam ini. Padahal tadi, mas Bocing mau mengantarnya. Tapi Acik menolak
karena kasihan dengan iparnya itu yang baru saja pulang dari mengurus
bisnis.
Mendekati pos ronda, suasana makin menyeramkan.
“ Ihhh..yang ronda mana sehhh? Kok pada ngilang semua. Nggak tau ya ada orang yang mau lewat.”
Omel Acik sambil berjalan pelan. Dia ingin berlari tapi takut dengan perasaannya sendiri. Seolah ada yang mengejarnya.
“ Aciiiiiiiiiiik.”
Acik
terdiam. Dia konsentrasi mendengar sesuatu. Seperti seseorang sedang
memanggil namanya. Tapi siapa? Acik mencari arah suara itu.
“
Aciiiiiiiiik.” Suara halus itu makin jelas dan berasal dari pos ronda.
Tapi tidak ada seseorang di sana. Lalu siapa yang memanggilnya?
Acik makin ketakutan. Dia berlari dengan kencang namun tiba-tiba berhenti mendadak.
“ Acikkkk! Kamu mau kemana sih?? Aku kan manggil-manggil
kamu dari tadi!” Jingga muncul dari balik pos ronda. Rona ketakutan
terbaca jelas di wajahnya. Acik yang kaget segera menghampiri.
“ Loh, mbak Jingga toh yang manggil. Saya kira hantuuuuu..” katanya sambil cekikikan.
Jingga menaruh telunjuk di bibirnya.
“
Jangan sebut-sebut itu sekarang Cik. Ayo, antarkan aku pulang sekarang.
Aku takut banget. Aku kira di pos ronda rame, ternyata sunyi senyap.
Pada kemana sih? ronda kok menghilang.”
Omelan
Jingga membuat Acik tertawa. Akhirnya rasa takut hilang dalam
pikirannya. Sekarang ada orang yang lebih takut dari dirinya. Mereka
berdua pulang bergandengan tangan sambil tertawa. ***
0 komentar:
Posting Komentar