Minggu, 15 April 2012

Ternyata Suara itu..

0

Malam gelap. Tak ada siapapun di pos ronda. Lampu yang menerangi jalan depan pos ronda juga lagi mati. Mungkin karena itu di pos ronda hanya ada sebatang lilin. Entah siapa yang meletakkan di sana. Angin yang berhembus, nyaris membuat lilin itu meredup. Suasana sekitar yang gelap, makin terasa menyeramkan.

Acik berjalan sambil matanya bergantian melihat kedepan, belakang, samping kiri dan kanan. Matanya tajam melihat sekeliling. Acik menyesal keluar malam ini. Padahal tadi, mas Bocing mau mengantarnya. Tapi Acik menolak karena kasihan dengan iparnya itu yang baru saja pulang dari mengurus bisnis.

Mendekati pos ronda, suasana makin menyeramkan.

“ Ihhh..yang ronda mana sehhh? Kok pada ngilang semua. Nggak tau ya ada orang yang mau lewat.”


Omel Acik sambil berjalan pelan. Dia ingin berlari tapi takut dengan perasaannya sendiri. Seolah ada yang mengejarnya.

“ Aciiiiiiiiiiik.”

Acik terdiam. Dia konsentrasi mendengar sesuatu. Seperti seseorang sedang memanggil namanya. Tapi siapa? Acik mencari arah suara itu.

“ Aciiiiiiiiik.” Suara halus itu makin jelas dan berasal dari pos ronda. Tapi tidak ada seseorang di sana. Lalu siapa yang memanggilnya?

Acik makin ketakutan. Dia berlari dengan kencang namun tiba-tiba berhenti mendadak.

“ Acikkkk! Kamu mau kemana sih?? Aku kan manggil-manggil kamu dari tadi!” Jingga muncul dari balik pos ronda. Rona ketakutan terbaca jelas di wajahnya. Acik yang kaget segera menghampiri.

“ Loh, mbak Jingga toh yang manggil. Saya kira hantuuuuu..” katanya sambil cekikikan.

Jingga menaruh telunjuk di bibirnya.

“ Jangan sebut-sebut itu sekarang Cik. Ayo, antarkan aku pulang sekarang. Aku takut banget. Aku kira di pos ronda rame, ternyata sunyi senyap. Pada kemana sih? ronda kok menghilang.”

Omelan Jingga membuat Acik tertawa. Akhirnya rasa takut hilang dalam pikirannya. Sekarang ada orang yang lebih takut dari dirinya. Mereka berdua pulang bergandengan tangan sambil tertawa. ***

0 komentar:

Posting Komentar