Aku bukan siapa-siapa. Bukan orang
terkenal. Bukan bintang di kampus. Bukan kembang di kompleks. Bukan
anak orang kaya. Bukan anak pejabat. Pokoknya semua yang wah-wah bukan
aku.
Tapi
pagi ini aku dikejutkan dengan serombongan orang yang sudah ada didepan
rumahku. Orang-orang yang tidak pernah aku temui apalagi kenal. Mereka
datang dan bertanya macam-macam.
Mama
yang kaget dengan kedatangan mereka tak membiarkan aku jauh darinya.
Dengan gugup mama berdiri di belakangku sambil memegang bahuku. Teras
rumah yang luas jadi terasa sempit karena kedatangan mereka.
“
Benar nama kamu, Ristiani Maya Fitri?” suara lelaki berkacamata dan
berbaju hitam itu terdengar tegas dan menakutkan. Aku mengangguk cepat.
“ Benar, pak. Memang ada apa? Kok bapak-bapak datang kemari?”
Lelaki yang satunya lagi membisikkan sesuatu ke bapak itu. Bapak yang tadi manggut-manggut lalu menatapku lagi.
“ Minggu lalu kamu ke ATM di jalan Cendrawasih?” kembali aku mengangguk.
Tiba-tiba
saja beberapa lelaki yang sebelumnya acuh saja duduk diteras, buru-buru
memotretku.Ada yang memasang kamera seperti merekam gambarku. Ada
beberapa orang yang siap-siap merekam suaraku.
“
Berarti kamu kenal orang ini!” serunya yang membuatku kaget. Dia
memperlihatkan sebuah foto. Aku mendorong tubuhku ke depan agar bisa
melihat dengan lebih jelas gambar yang dia tunjukkan. Nampak wajah
seorang gadis yang sangat cantik.
Aku menggeleng.
“ Tapi foto kamu dan nama kamu ada sama dia.”
“
Bener, pak. Saya nggak tahu siapa orang ini.” Aku berusaha mengelak.
Sejujurnya aku lupa, apakah aku pernah bertemu dengan gadis itu atau
tidak. Dikepung banyak orang membuat ingatanku kacau. Aku tak bisa fokus
mengingat kejadian seminggu yang lalu.
“ Lalu ini apa? Foto kamu berdua dengan gadis itu. Kalian tersenyum bersama. Apa namanya kalo tidak saling kenal?”
Aku lemas. Kusandarkan tubuhku di kursi. Mama yang sejak tadi khawatir, makin khwatir lagi.
“ Bapak-bapak ini maunya apa sih? Apa anak saya melakukan kesalahan? Kok dari tadi tanya-tanya melulu?” tanya mama sewot.
Lelaki itu tersenyum. Pertama kalinya dia tersenyum. Mungkin karena melihat mama yang mulai emosi.
“ Ibu sabar saja. Kami hanya ingin memastikan, jika orang yang telah menghipnotis gadis itu bukan anak ibu.”
“ Apa? Anakku menghipnotis orang? Bagaimana bisa?”
Aku juga ikutan kaget.
“
Kenapa bapak bisa menuduh saya yang menghipnotis? Apa karena foto saya
ada sama gadis itu? saya ingat minggu lalu pernah foto bareng dengan
seseorang. Waktu itu katanya dia mau ngirim untuk seseorang. Katanya
biar nggak dikira lagi jalan bareng dengan seorang pria. Karena itu dia
ngaku kalo saya adalah temannya. Waktu itu saya ingat, saya juga sempat
ngomong dengan seseorang via hape.”
“ Tapi gadis itu mengaku yang menghipnotis dia adalah kamu.”
“
Apa??? Kok bisa sih gadis itu menyebarkan berita bohong. Sumpah. Saya
nggak pernah menghipnotis orang. Benar pak.” Mataku mulai berkaca-kaca.
Rasa sedih, bingung dan takut bercampur jadi satu. Aku takut jika
dituduh melakukan kesalahan yang tidak pernah aku lakukan.
Mama langsung duduk disebelahku lalu merangkulku.
“
Bapak jangan sembarang menuduh ya. Anak saya tidak pernah kami ajarkan
sesuatu yang buruk. Sejak kecil kami mendidik dia dengan ajaran agama,
moral dan sopan santun.Saya tidak percaya jika kalian menuduh anak saya
pelakunya. Apa coba buktinya? Selembar foto itu? apa itu bukti yang
kuat?” mama benar-benar marah. Suaranya bergetar menahan amarah.
Tiba-tiba
muncul seorang gadis. Wajah gadis itu mirip dengan gambar yang tadi
diperlihatkan padaku. Dia melangkah tergesa-gesa bersama dua orang
lelaki.
“ Benar. Dia orangnya, pak.”serunya sambil menunjuk padaku. Aku yang tidak terima langsung berdiri.
“
Mbak tega, ya. Sampai hati menuduh saya menghipnotis mbak. Kan tempo
hari yang minta tolong foto bareng itu, mbak?” teriakku panik. Aku mulai
tak bisa mengontrol diriku. Apalagi tetangga-tetangga mulai
berdatangan. Mereka heran melihat keramaian dirumah kami. Pandanganku
makin kabur saat kulihat seseorang menatap heran padaku. Dia adalah
Lutfi, pemuda yang dengan diam-diam kucintai.
“
Kita kekantor polisi saja. Bagaimana bisa mbak berbohong sementara uang
di ATM saya udah mbak ambil.Ngaku saja. Untung saja waktu itu saya
minta foto sebelum mbak menghipnotis saya.”
Ucapan
gadis itu di sambut gemuruh oleh tetangga-tetanggaku. Mereka
berbisik-bisik. Aku makin tertekan. Karena tak sanggup lagi, kurasakan
lututku melemah. Aku tidak kuat lagi berdiri. Tubuhku lunglai, tergolek
di kursi. Mama meraihku lalu menyandarkan aku ditubuhnya.
Suasana
kacau tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan seorang artis. Dia menjadi
serbuan warga yang ingin berjabat tangan. Senyum ramah dan sapa yang
hangat membuat warga makin menghampirinya. Segera saja beberapa lelaki
itu menghampirinya dan memberikan perlindungan agar dia bisa mendekati
rumahku. Artis itu masuk lalu berjabat tangan dengan mamaku.
Aku
mulai sadar telah terjadi sesuatu. Pikiranku tertuju ke acara reality
show yang ada di tivi. Apakah aku telah di jebak dalam sebuah sandiwara
untuk di tanyangkan di tivi? atau apakah aku sedang bermimpi?kucubit tanganku, rasanya sakit. Berarti aku tidak bermimpi.
Artis
idolaku itu menghampiriku lalu merangkulku. Aku makin yakin telah masuk
dalam reality show. Tangis pun tak tertahankan lagi.
“
Jangan menangis dong, Resti.” Tegur artis itu sambil merangkulku lebih
erat lagi. Senyum dan tangis menghiasi wajahku saat kudengar tepuk
tangan dari tetangga-tetangga yang menyaksikan kami. Tapi aku tidak
memperdulikan itu. Aku hanya mencari sosok Lutfi. Hatiku benar-benar
lega saat kulihat dia tersenyum bahkan tertawa menyaksikan aku di
plonco.
Hari
ini tak akan terlupa selamanya. Setelah membuat aku jantungan dan
nyaris pingsan, mereka lalu memberiku bingkisan. Sesuatu yang sangat
berharga buatku. Aku juga tak lupa foto bareng dengan artis idolaku dan
para kru. Anehnya tetangga-tetangga malah ikut-ikutan ingin foto bareng
dengan aku, padahal setiap hari mereka bisa menemuiku. Tiba-tiba saja
aku merasa menjadi artis. Tidak apa-apa, toh ini hanya sehari, batinku
senang.***
0 komentar:
Posting Komentar