Senin, 16 April 2012

Ini Bukan Mimpi

0



1316837868325431055

Aku bukan siapa-siapa. Bukan orang terkenal. Bukan bintang di kampus. Bukan kembang di kompleks. Bukan anak orang kaya. Bukan anak pejabat. Pokoknya semua yang wah-wah bukan aku.

Tapi pagi ini aku dikejutkan dengan serombongan orang yang sudah ada didepan rumahku. Orang-orang yang tidak pernah aku temui apalagi kenal. Mereka datang dan bertanya macam-macam.

Mama yang kaget dengan kedatangan mereka tak membiarkan aku jauh darinya. Dengan gugup mama berdiri di belakangku sambil memegang bahuku. Teras rumah yang luas jadi terasa sempit karena kedatangan mereka.


“ Benar nama kamu, Ristiani Maya Fitri?” suara lelaki berkacamata dan berbaju hitam itu terdengar tegas dan menakutkan. Aku mengangguk cepat.

“ Benar, pak. Memang ada apa? Kok bapak-bapak datang kemari?”

Lelaki yang satunya lagi membisikkan sesuatu ke bapak itu. Bapak yang tadi manggut-manggut lalu menatapku lagi.

“ Minggu lalu kamu ke ATM di jalan Cendrawasih?” kembali aku mengangguk.

Tiba-tiba saja beberapa lelaki yang sebelumnya acuh saja duduk diteras, buru-buru memotretku.Ada yang memasang kamera seperti merekam gambarku. Ada beberapa orang yang siap-siap merekam suaraku.

“ Berarti kamu kenal orang ini!” serunya yang membuatku kaget. Dia memperlihatkan sebuah foto. Aku mendorong tubuhku ke depan agar bisa melihat dengan lebih jelas gambar yang dia tunjukkan. Nampak wajah seorang gadis yang sangat cantik.

Aku menggeleng.

“ Tapi foto kamu dan nama kamu ada sama dia.”

“ Bener, pak. Saya nggak tahu siapa orang ini.” Aku berusaha mengelak. Sejujurnya aku lupa, apakah aku pernah bertemu dengan gadis itu atau tidak. Dikepung banyak orang membuat ingatanku kacau. Aku tak bisa fokus mengingat kejadian seminggu yang lalu.

“ Lalu ini apa? Foto kamu berdua dengan gadis itu. Kalian tersenyum bersama. Apa namanya kalo tidak saling kenal?”

Aku lemas. Kusandarkan tubuhku di kursi. Mama yang sejak tadi khawatir, makin khwatir lagi.

“ Bapak-bapak ini maunya apa sih? Apa anak saya melakukan kesalahan? Kok dari tadi tanya-tanya melulu?” tanya mama sewot.

Lelaki itu tersenyum. Pertama kalinya dia tersenyum. Mungkin karena melihat mama yang mulai emosi.

“ Ibu sabar saja. Kami hanya ingin memastikan, jika orang yang telah menghipnotis gadis itu bukan anak ibu.”

“ Apa? Anakku menghipnotis orang? Bagaimana bisa?”

Aku juga ikutan kaget.

“ Kenapa bapak bisa menuduh saya yang menghipnotis? Apa karena foto saya ada sama gadis itu? saya ingat minggu lalu pernah foto bareng dengan seseorang. Waktu itu katanya dia mau ngirim untuk seseorang. Katanya biar nggak dikira lagi jalan bareng dengan seorang pria. Karena itu dia ngaku kalo saya adalah temannya. Waktu itu saya ingat, saya juga sempat ngomong dengan seseorang via hape.”

“ Tapi gadis itu mengaku yang menghipnotis dia adalah kamu.”

“ Apa??? Kok bisa sih gadis itu menyebarkan berita bohong. Sumpah. Saya nggak pernah menghipnotis orang. Benar pak.” Mataku mulai berkaca-kaca. Rasa sedih, bingung dan takut bercampur jadi satu. Aku takut jika dituduh melakukan kesalahan yang tidak pernah aku lakukan.

Mama langsung duduk disebelahku lalu merangkulku.

“ Bapak jangan sembarang menuduh ya. Anak saya tidak pernah kami ajarkan sesuatu yang buruk. Sejak kecil kami mendidik dia dengan ajaran agama, moral dan sopan santun.Saya tidak percaya jika kalian menuduh anak saya pelakunya. Apa coba buktinya? Selembar foto itu? apa itu bukti yang kuat?” mama benar-benar marah. Suaranya bergetar menahan amarah.

Tiba-tiba muncul seorang gadis. Wajah gadis itu mirip dengan gambar yang tadi diperlihatkan padaku. Dia melangkah tergesa-gesa bersama dua orang lelaki.

“ Benar. Dia orangnya, pak.”serunya sambil menunjuk padaku. Aku yang tidak terima langsung berdiri.

“ Mbak tega, ya. Sampai hati menuduh saya menghipnotis mbak. Kan tempo hari yang minta tolong foto bareng itu, mbak?” teriakku panik. Aku mulai tak bisa mengontrol diriku. Apalagi tetangga-tetangga mulai berdatangan. Mereka heran melihat keramaian dirumah kami. Pandanganku makin kabur saat kulihat seseorang menatap heran padaku. Dia adalah Lutfi, pemuda yang dengan diam-diam kucintai.

“ Kita kekantor polisi saja. Bagaimana bisa mbak berbohong sementara uang di ATM saya udah mbak ambil.Ngaku saja. Untung saja waktu itu saya minta foto sebelum mbak menghipnotis saya.”

Ucapan gadis itu di sambut gemuruh oleh tetangga-tetanggaku. Mereka berbisik-bisik. Aku makin tertekan. Karena tak sanggup lagi, kurasakan lututku melemah. Aku tidak kuat lagi berdiri. Tubuhku lunglai, tergolek di kursi. Mama meraihku lalu menyandarkan aku ditubuhnya.

Suasana kacau tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan seorang artis. Dia menjadi serbuan warga yang ingin berjabat tangan. Senyum ramah dan sapa yang hangat membuat warga makin menghampirinya. Segera saja beberapa lelaki itu menghampirinya dan memberikan perlindungan agar dia bisa mendekati rumahku. Artis itu masuk lalu berjabat tangan dengan mamaku.

Aku mulai sadar telah terjadi sesuatu. Pikiranku tertuju ke acara reality show yang ada di tivi. Apakah aku telah di jebak dalam sebuah sandiwara untuk di tanyangkan di tivi? atau apakah aku sedang bermimpi?kucubit tanganku, rasanya sakit. Berarti aku tidak bermimpi.

Artis idolaku itu menghampiriku lalu merangkulku. Aku makin yakin telah masuk dalam reality show. Tangis pun tak tertahankan lagi.

“ Jangan menangis dong, Resti.” Tegur artis itu sambil merangkulku lebih erat lagi. Senyum dan tangis menghiasi wajahku saat kudengar tepuk tangan dari tetangga-tetangga yang menyaksikan kami. Tapi aku tidak memperdulikan itu. Aku hanya mencari sosok Lutfi. Hatiku benar-benar lega saat kulihat dia tersenyum bahkan tertawa menyaksikan aku di plonco.

Hari ini tak akan terlupa selamanya. Setelah membuat aku jantungan dan nyaris pingsan, mereka lalu memberiku bingkisan. Sesuatu yang sangat berharga buatku. Aku juga tak lupa foto bareng dengan artis idolaku dan para kru. Anehnya tetangga-tetangga malah ikut-ikutan ingin foto bareng dengan aku, padahal setiap hari mereka bisa menemuiku. Tiba-tiba saja aku merasa menjadi artis. Tidak apa-apa, toh ini hanya sehari, batinku senang.***

0 komentar:

Posting Komentar