Setelah berhari-hari mencari dan menyeleksi rumah kontrakan. Asih dan Elva akhirnya
memilih rumah kontrakan dekat mesjid. Kebetulan juga rumah kontrakan
mereka berdekatan dengan rumah mas Hikmat. Elva merasa senang karena
dengan begitu dia bisa membantu mas Hikmat dalam
mengurus administrasi warga desa. Mas Hikmat memang membutuhkan
seorang asisten. Kesibukan dalam mengurus warga telah banyak menyita
waktunya. Hingga mas Hikmat tidak punya waktu lagi untuk menikmati
kehidupan pribadinya.
Setelah seharian membereskan kamar mereka, Asih dan
Elva duduk- duduk di teras. Alam sedang bersahabat. Cuaca terasa
sejuk. Tak ada hawa panas yang membuat mereka gerah.
” Elva.” panggil Asih. Dia menjolorkan kakinya di
tembok yang ada di teras. Elva menengok memandangnya. Sejak tadi Elva
asyik membaca majalah remaja kesukaannya.
” Kita kan sudah sepakat nih jadi sepasang saudara,
jadi kakak adik. Ehm..menurut yang saya baca..tidak semudah itu
mengangkat diri menjadi saudara. Kita harus meresmikan persaudaraan
kita melalui ritual tertentu.”
Elva menaruh majalahnya diatas tembok.
” Ritual? Emang ritual apa mbak?”
” Kita harus membuat pengorbanan untuk mengikat perjanjian persaudaraan.”
” Maksudnya seperti cerita di filem-filem itu
ya..ehm kayak saling menempelkan darah? hii jangan mbak..Elva takut
kalau harus berdarah-darah..” wajah Elva meringis.
” Huss..jangan pake darah. Saya juga takut. Kita harus membuat ritual khusus. Sederhana namun bermakna.”
” Apa itu?”
” Kita harus mendatangi tujuh sumur yang ada di Desa Rangkat. Kita datangi sumur itu satu persatu lalu kita meminum airnya.”
” Tapi Elva nggak tahu di mana letak sumur-sumur itu?”
” Kita tanya saja sama mas Hikmat atau mbak Ningwang, katanya sih mereka tahu letak sumur-sumur itu.”
” Apa ritualnya bisa ditiadakan?” tanya Elva dengan
wajah lesu. Dia sudah membayangkan lelahnya mendatangi sumur itu satu
persatu.
” Jangan! bisa kena tula kita. Kata orang-orang dulu
kalau ritual ini kita sepelekan atau tidak kita laksanakan, maka kita
akan dapat hukuman.”
” Hukuman?”
” Iya. Perjanjian ini ada sejak jaman nenek moyang.
Katanya kalau laki-laki dia akan mendapat hukuman, menikah dengan
wanita tua. Sementara kalau perempuan akan bersuamikan kakek-kakek.”
” Tidaaakkk! Ayo mbak Asih sekarang saja kita
datangi sumur-sumur itu. Elva takut menikah dengan kakek-kakek.” Elva
langsung berdiri. Dia sudah ketakutan. Dia tidak bisa membayangkan
duduk bersanding dengan kakek-kakek. Padahal dalam pikirannya wajah mas
Lala selalu membayang dengan senyumnya yang menawan. Elva menarik
tangan Asih.
” Tapi pergi kemana? Kita kan nggak tahu sumur itu
ada dimana?” ucap Asih sambil berdiri. Elva merogoh kantongnya mencari
handphone. Dia memencet nomor-nomor dengan rasa panik.
” Sabar saja, Va. Jangan panik begitu. Ntar salah
pencet, salah sambung lagi.” Eva tidak mendengarkan kata-kata Asih. Dia
kemudian berbicara dengan seseorang lewat handphonenya.
” Mbak Ning. Ini Elva, mbak tahu nggak dimana letak
sumur-sumur di Desa Rangkat?” suara Elva terdengar sangat cemas. Elva
terdiam sambil mendengarkan. Dia mengangguk-angguk tanda mengerti
padahal orang diseberang tak melihat anggukannya. Asih hanya
senyum-senyum melihatnya.
Setelah menelpon, Elva menatap Asih dengan serius.
” Mbak Ning sudah memberitahu tempatnya. Ehm..begini
mbak Asih. Elva punya ide. Mending kita minta tolong orang untuk
mengambilkan air di tujuh sumur itu. Kan repot kalau harus kita yang
pergi mendatangi sumur itu satu persatu.” ucap Elva yang langsung di
setujui Asih.
” Benar ide kamu mantap, Elva. Ngomong-ngomong siapa orangnya yang bisa membantu kita?”
” Mas Lala.”
Jawab Elva dengan tersipu. Asih hanya tersenyum penuh arti. Dia selalu
merasa sedih tiap kali harus bertemu dengan Lala. Sudut hatinya selalu
merasa perih tiap kali melihat senyuman Lala. Dia selalu teringat
seseorang di masa lalunya. Luka itu ternyata belum benar-benar sembuh.
~~
Lala muncul dengan wajah penuh keringat. Dia
terlihat sangat lelah. Diletakkannya botol-botoll kecil berisi air
diatas meja. Elva menyambutnya dengan senyum lebar.
” Makasih mas Lala.” ucapnya sambil memegang
botol-botol itu. Lala melap keringatnya dengan saputangannya yang sudah
buram warnanya. Elva melihatnya. Dalam hati dia tersentuh melihat
perjuangan Lala mengambilkan air untuk mereka.
” Untuk apa sih Va, air-air itu? Kan sama saja semua sumur airnya bening.”
” Rahasia mas. Ini hanya antara Elva dan mbak Asih. Nggak boleh ada yang tahu.”
” Sekarang mbak Asih nya mana?”
” Lagi keluar mas. Nggak tahu kemana, katanya sih
mau cari bunga-bungaan..” Elva tidak melanjutkan kata-katanya. Dia
khawatir Lala jadi tahu mengapa dia meminta diambilkan air di tujuh
sumur. Tapi terlambat. Lala tersenyum-senyum melihatnya.
” Mau mandi kembang ya, Va? Kamu nggak perlu mandi
kembang. Nggak mandi saja banyak yang tertarik sama kamu. Gimana kalau
kamu mandi kembang.” ucap Lala sambil mesem-mesem.
” Lho ini bukan untuk mandi kembang, mas.”
” Lalu buat apa? Ngapain mbak Asih nyari kembang
kalau bukan untuk mandi kembang?…yeeee ketahuan kan?” tebakan Lala
membuat Elva termangu. Dia juga heran kenapa Asih harus mencari
bunga-bungaan. Bukankah dalam ritual itu tidak disebutkan harus memakai
bunga? Tanya Elva dalam hati.
~
Elva menunggu Asih yang telah pergi selama dua jam.
Lala sejak dua puluh menit yang lalu mohon pamit untuk pulang. Dia
sejak pagi meninggalkan rumahnya. Padahal hari minggu seperti ini
biasanya dia kerja bakti membersihkan halaman dan kebun dari tanaman
merambat. Tapi demi menarik perhatian Elva, rutinitas itu untuk hari
ini dia tinggalkan. Elva tidak tahu, sambil mengendari motornya Lala
tersenyum-senyum sendiri. Dia teringat kelakuannya yang hanya mengambil
air di satu sumur. Menurutnya semua air sama saja. Maka dengan ide
gila dalam kepalanya, dia mengisi ketujuh botol-botol itu dengan air
hanya dari satu sumur. Padahal menurut ritual yang Asih ketahui,
syaratnya harus dari tujuh sumur. Entah apakah ritual itu sah karena
melenceng dari syaratnya.
Satu lagi yang Elva tidak tahu. Asih sengaja memberi
alasan mencari bunga-bungaan. Padahal Asih hanya ingin menghindari
pertemuan dengan Lala. Elva tidak tahu kalau Asih sejak tadi
duduk-duduk di samping mesjid. Asih tidak ingin merasakan kesedihan
dihatinya. Dengan menghindar dia berharap bisa menenangkan hatinya.
” Lho, bunganya mana mbak Asih? Katanya nyari bunga?” Elva menyambut Asih diteras dengan pandangan heran.
” Nggak dapat bunganya.”
” Lho, trus ritualnya gimana,mbak? Kalo nggak ada bunga apa bisa?”
Asih mendekati botol-botol kecil diatas meja.
” Nggak perlu pake bunga. Saya juga nyari bunga
bukan untuk ritual itu kok.” jawab Asih lalu membawa botol-botol itu ke
dalam kamar. Elva mengikuti Asih dengan masih menyimpan rasa
penasaran. Dia memperhatikan Asih menuangkan air dalam botol - botol
kecil itu ke dalam panci.
” Lho katanya mau diminum, mbak. Kok malah di masak?” tanya Elva yang merasa heran saat Asih menaruh panci itu di atas kompor.
” Dalam ritual tidak disebutkan kalau air itu harus
diminum mentah. Kita bisa sakit perut kalau minum air yang nggak di
masak. Gitu Elva…” Elva manggut-manggut. Ternyata Asih masih
memikirkan kesehatan juga.
~~
Malamnya Asih dan Elva duduk di lantai. Didepan mereka ada dua gelas air yang berasal dari tujuh sumur (menurut mereka).
” Elva dengan kita meminum air ini, maka resmilah
kita menjadi sepasang saudara. Adik kakak. Saya kakakmu. Kamu boleh
memanggil saya dengan sebutan kakak dan saya akan memanggil kamu dengan
sebutan adik. Kita tidak boleh saling menyakiti, berebut pacar,
apalagi suami.Suka dan duka kita jalani bersama.”
Mereka kemudian mengangkat gelas itu lalu meminum airnya.
” Semoga air dari tujuh sumur ini menghindarkan kita
dari kutukan nenek moyang. Semoga kita terhindar dari kutukan menikah
dengan kakek-kakek.” ucap Asih setelah air dalam gelasnya habis.
Asih dan Elva tidak tahu kalau Lala sejak tadi
mengintip kegiatan mereka. Lala langsung bersandar di kursi yang ada
diteras. Jantungnya berdegup kencang. Dia cemas setelah mendengar
kata-kata dari Asih. Cemas karena dia telah mengambil air hanya dari
satu sumur. Padahal syaratnya harus dari tujuh sumur. Lala menyesal
telah mengabaikan pesan dari Elva. Bagaimana kalau kutukan itu
benar-benar terjadi?
Tapi Lala kemudian tersenyum. Kutukan
itu tidak akan terjadi kalau dia menikah dengan Elva. Ya itu ide yang
cemerlang. Tenanglah Elva. Kutukan itu tidak berlaku untukmu, batin
Lala gembira. Dia meninggalkan rumah kontrakan Asih dan Elva dengan
perasaan riang. Padahal tadi dia merasa cemas karena sudah melanggar
pesan dari Elva. ****
0 komentar:
Posting Komentar