” Any body home? Ada orang nggak di dalem? Keluar dulu dong atau berenti bentar aja.”
Asih
tegang di dalam kamar mandi. Bagaimana dia bisa mandi sementara ada
seseorang diluar yang berteriak membutuhkan pertolongan? Harus nekad.
Kalau mbak Deasy marah,
maka jalan terbaik adalah minta maaf. Apa susahnya. Toh dia tidak
melakukan kesalahan. Dia hanya mimpi dan mimpi itu berakibat dua orang
jadi korban. Uleng dan mbak Deasy.
Asih
membuka pintu. Benar. Wanita yang ada saat ini adalah wanita yang tadi
pagi dia temui tergeletak tidur di lantai kamar Uleng.
” Oh, maaf ya mbak. Mbak yang semalam di kamar Uleng,
ya?” tanya Deasy sambil bergerak masuk ke kamar mandi. Asih mengangguk
dengan senyum lebar. Deasy lalu menutup pintu. Asih tidak percaya dia
bisa bertemu juga dengan Deasy. Padahal sejak pagi dia sudah
ketakutan untuk bertemu dengannya. Tapi bukankan tadi Deasy sedang
dalam keadaan emergency, jadi belum sadar atau mungkin lupa karena
terdesak oleh suatu keinginan yaitu buang air. Berarti ini belum kelar.
Semoga saja mbak Deasy lupa, Asih berdoa dalam hati.
Asih
kemudian memilih berdiri di pintu dapur. Melihat pemandangan dari
belakang rumah Uleng tetap indah. Sawah membentang luas di samping
rumah. Hijaunya menyejukkan mata. Pemandangan yang indah. Orang-orangan
yang bergerak tertiup angin, makin menambah keindahan itu.
” Asih? Belum mandi, ya?” tegur seseorang. Asih berbalik sedikit kaget. Ternyata mas petani.
” Ada mbak Deasy di kamar mandi, nanti saja setelah mbak Deasy selesai.”
Asih melihat mas petani seperti ingin bicara.
”
Ehm..begini mbak Asih. Sepanjang jalan saat kita pulang tadi, aku
kepikiran tentang kelompok tani. Sepertinya itu bagus di realisasikan
secepatnya. Tapi syarat-syaratnya bagaimana ya?”
” Gampang, mas. Kalau mas benar-benar berminat untuk membuat kelompok tani di Desa Rangkat,
nanti biar saya saja yang ke kantor dinas koperasi di kota. Disana
nanti akan ada penjelasan persyaratan untuk membentuk kelompok tani.”
” Tapi mbak Asih bisa ke kota sendirian?” wajah mas petani terlihat ragu. Asih tersenyum.
”
Jangan khawatir mas, saya sudah terbiasa keliling kota sendirian.
Lagipula kalau melibatkan mas petani, akan sangat repot. Mas juga
sedang mempersiapkan pernikahan dengan Uleng. Kalau ditambah dengan
kesibukan ke dinas koperasi, lama-lama mas tidak punya waktu untuk
mengurus diri sendiri. Nanti sepulangnya saya dari kantor koperasi,
tugas mas adalah mengumpulkan para petani untuk membicarakan rencana
ini. Kalau perlu nanti saya akan meminta bantuan tenaga penyuluh dari
dinas koperasi. Setahu saya ada petugas lapangan yang khusus membina
para kelompok tani ini.”
Asih terdiam karena teringat sesuatu.
”
Tapi mas, mudah-mudahan ini bukan kendala. Setahu saya harus ada
koperasi tempat bernaung para kelompok tani. Tapi saya belum jelas
juga. Nanti saja saya tanyakan.”
Asih menghentikan obrolan dengan mas petani karena Deasy sudah keluar dari kamar mandi.
” Deasy, sudah kenal dengan mbak Asih?” tanya mas petani ke Deasy. Deasy mengangguk.
”
Sudah kog, semalam kita malah tidur bareng. Ya nggak mbak Asih.” ucap
Deasy sambil tersenyum memandang Asih. Asih jadi ikut mengangguk lalu
buru-buru masuk ke dalam kamar mandi. Masih terdengar obrolan mas petani
dengan mbak Deasy di luar. Ada rasa lega dalam hati Asih. Deasy
ternyata tidak mengingat insiden itu.
~
Asih sedang merapikan diri sehabis mandi ketika derit pintu terdengar.
”
Mbak Asih!” panggil seseorang. Asih berbalik melihat ke arah pintu.
Deasy muncul dengan memegang sebuah gelas besar ditangannya. Dia
membawa es kelapa muda!
”
Mau?” tanyanya. Asih mengangguk cepat tanpa malu-malu. Mereka berdua
duduk di lantai dekat tempat tidur Uleng. Segelas berdua. Benar-benar
terasa akrab. Jauh dari perkiraan Asih. Dia mengira bakal menerima
omelan dari mbak Deasy karena membuatnya terjatuh dari tempat tidur.
Tapi ternyata tidak. Sekarang mereka malah menikmati es kelapa berdua.
”
Kata mas petani, Uleng mau buat acara es kelapa muda. Tapi mbak Deasy
sudah buat duluan. Apa nanti Uleng tidak marah?” Asih sedikit
khawatir. Deasy menggeleng cepat.
”
Jangan khawatir. Ponakanku itu orangnya baik. Cuma ambil sebiji kog.
Habis Uleng pulangnya kelamaan..keburu ngiler liat tuh kelapa nangkring
di dapur. Hilang satu kan tidak apa-apa.”
Akhirnya Asih tenang menikmati es kelapa buatan Deasy. Rasanya memang enak.
” Ehm…mbak Asih, semalam kan kita tidur bertiga. Tapi kog bisa ya saya tidur di lantai?”
Asih langsung terbatuk. Untunglah kelapa sudah tertelan jadi tidak muncrat ke luar.
” Kenapa mbak Asih? Pelan-pelan nelan kelapanya, tuh kan sampai tersedak.”
Deasy
memukul punggung Asih dengan pelan. Asih masih terbatuk-batuk. Wajah
Deasy terlihat cemas. Mbak Deasy, saya terbatuk bukan karena kelapa
tapi karena kata-kata mbak, suara hati Asih menjerit cemas.
Batuk-batuk Asih tidak berlangsung lama. Mereka melanjutkan menikmati es kelapa muda.
” Habis ini, kita jalan-jalan yuk mbak Asih.”
” Jalan-jalan?”
” Iya. Liat-liat Desa Rangkat. Lagian rumah juga sepi. Mommy dan Pak Kades
rencana ntar siang baru berangkat. Tapi tadi Mommy keluar dengan Pak
kades. Mungkin ada urusan di kantor desa. Mas petani juga menghilang,
pasti melihat sawahnya. Mbak Jingga sejak pagi tadi juga keluar. Tinggal kita berdua dirumah.”
” Tapi yang jaga rumah siapa? Kan pesan mommy harus menjaga rumah selama beliau pergi?”
” Iya ya. Kalau kita berdua jalan-jalan, yang jaga rumah siapa?”
Handphone Deasy berbunyi. Deasy menyorongkan ke Asih gelas yang sedang dipegangnya lalu mencari handphone di saku celananya.
“Dari mommy.” kata Deasy setelah melihat layar handphone.
” Hallo, ya mom? Iya..ya..iya..ya..mom..iya….iya..mom…daaagg mom…”
Asih melihat Deasy. Wajah Deasy berubah lesu.
” Jalan-jalannya nggak jadi, mbak Asih.”
” Kenapa, mbak?”
” Kita harus masak dirumah. Mommy tidak ada, jadi kita yang harus masak untuk orang rumah.”
Deasy kemudian berdiri.
” Ayo, mbak kita ke dapur. Kita buat mereka terkejut dengan masakan kita.”
Asih mengikuti Deasy keluar kamar.
” Tapi saya tidak tahu masak, mbak Deasy.”
” Jangan khawatir. Mommy sudah siapkan resep di lemari. Khusus untuk yang tidak tahu masak..he..he…”
Mereka
melangkah ke dapur. Menyiapkan bahan-bahan lalu memasak. Disela-sela
waktu mereka bercanda, tertawa bersama. Hari yang menyenangkan.
Ternyata Deasy tidak jutek seperti sangkaan Asih selama ini. Orangnya
ternyata baik.*** SELESAI **
_______________________________________________________________________________________
*
Sekian dulu cerita tentang pengalaman pertama saya ke Desa Rangkat.
Selanjutnya saya akan bergabung di Episode Cinta Rangkat… sampai
ketemu….
0 komentar:
Posting Komentar