Saat kau dan aku melangkah meninggalkan rumah nenek, hari itu. Aku merasa sikapmu sangat berbeda. Sentuhan jemarimu kala menuntunku menyeberangi jalan membuatku terhanyut. Larut dalam rasa yang sejak beberapa bulan ini terus menemaniku. Aku merindukanmu dalam kenyataan bukan hanya dalam mimpi. Selama ini aku hanya bisa merajut mimpiku dengan untaian benang-benang terindah. Ku rajut bersama hatiku yang makin lama makin gelisah. Aku masih dalam penantian cintaku.
Saat kita berdua telah berada dalam taksi menuju asrama tempatku menuntut ilmu, tiba-tiba kamu menyentuh jemariku. Menarik tanganku lalu menggenggamnya erat. Aku hanya bisa terpana, berusaha meredam rasa gugup yang hadir. Ternyata kamu merasakan tanganku yang gemetar hingga makin erat menggenggamnya. Sekilas kulihat dirimu, saat itu kamu juga melihatku. Benarkah kamu telah merasakan debar-debar di hatiku? jangan buat aku lelah dalam penantian. Hatiku makin resah dan jiwaku nyaris tak kuat lagi.
” Belajar yang rajin, biar kamu bisa kuliah di tempaku.” Ucapmu masih tetap memegang jemariku. Aku menunduk. Aku ingin menarik tanganku namun bisikan lain dari hatiku menahannya.
” Iya.” hanya itu jawabanku. Singkat. Aku ingin berbicara banyak hal denganmu, namun seperti biasa, lidahku kelu hingga tak mampu bersuara.
” Kelak, hanya aku yang boleh melihatmu saat melepaskan jilbabmu. Janji, ya.” Ucapanmu membuatku menoleh cepat melihatmu. Rasa kaget tak percaya mendengar ucapanmu barusan membuatku menarik tanganku.
” Kenapa? kamu tidak suka?” tanyamu. Aku makin gemetar. Dalam hati aku bersorak riang. Bersyukur karena Allah akhirnya menjawab doaku.
” Iya, kak. Hanum janji.” ucapku terbata. Kamu terlihat senang lalu merangkulku.
Tak ada pembicaraan lagi. Padahal aku mengharapkan kamu terus berbicara. Aku suka mendengar suaramu. Tanganmu yang merangkulku memberikan pesona tersendiri. Hangat namun membuatku panas dingin. Aku bahkan tak bisa bergerak. Aku takut jika tiba-tiba saja kamu melepaskan rangkulanmu. Aku ingin saat ini waktu berhenti dan membuatku bisa berlama-lama denganmu.
Namun Gedung asrama yang tampak dari kejauhan seolah memberi sinyal akan perpisahan kita. Aku akan kembali ke asrama dan baru bisa keluar sebulan kemudian. Bisakah kita tidak berpisah? pintaku dalam hati. Sayang supir taksi tidak mendengar suara hatiku. Dia membawa kendaraan di pelataran depan gedung asrama.
Rasanya berat meninggalkan taksi ini, begitu juga saat kakiku harus melangkah masuk ke dalam asrama dan melihatmu berdiri melambaikan tangan sebelum kembali ke dalam taksi yang akan membawamu pulang ke rumah nenek.
Kubuka kertas pemberianmu sesaat sebelum kita berpisah.
Rasamu dan rasaku sama, sabarlah, pelaminanku tidak akan sempurna tanpa hadirmu di sisiku.
Tak sadar air mataku menetes. Aku mencintaimu, kak Farid, batinku. Kuseret koperku lalu berjalan lesu memasuki asrama. Suara riuh teman-teman yang menyambutku membuatku malah semakin merindukanmu.
***
Sebulan berlalu, tak ada sms dan telpon darimu. Aku mulai dihinggapi rasa gelisah. Rindu akan suaramu. Akhirnya aku mengirim pesan. Pertama kalinya aku mengirim pesan terlebih dulu, tindakan yang tak pernah berani aku lakukan. Biasanya kamu yang selalu mengirim pesan dan menelponku.
Tanganku gemetar saat mengetik pesan untukmu.
Apa kabar, kak?
Pesanku terkirim. Tak ada balasan darimu. Kutunggu hingga malam menjelang tetap tak ada balasan. Aku menghubungi nenek menanyakan kabarmu, namun nenek juga tak tahu. Hingga aku keluar dari asrama, kamu tak juga datang menjemputku. Aku pulang ke rumah nenek dengan beribu tanya dalam hatiku. Kemana dirimu? tidakkah kamu merindukan aku?
Tak kutemukan sosokmu di rumah nenek. Kata nenek, sudah sebulan ini kamu tak lagi menetap di rumah nenek. Kamu pindah ke sebuah kompleks perumahan. Aku merasa lega, itukah sebabnya kamu tak menghubungiku? karena kamu sibuk mengurus kepindahan? Aku masih berharap rasaku tidak salah.
” Farid?” tante Laras menatapku ketika aku menanyakan tentangmu.
” Dia pindah ke sana, biar lebih dekat dengan pacarnya yang calon dokter itu.”
Aku tersentak kaget. Ku sentuh kursi agar tubuhku tak limbung. Pacarnya? kak Farid punya pacar? lalu aku?
Sore itu langit penuh jingga tak lagi indah. Telah tertutup derai air mataku. Kisahmu membuat hatiku hancur berkeping-keping hingga tak mampu lagi kurangkai. Seorang gadis telah memikat hatimu. Dia bakal menyandang gelar yang tak akan pernah bisa kamu raih. Gelar yang hanya jadi mimpimu. Gelar yang tak bisa aku berikan.
Kertas pemberianmu kala itu kini basah dengan air mata. Kubaca ulang dengan dada sesak.
Rasamu dan rasaku sama, sabarlah, pelaminanku tidak akan sempurna tanpa hadirmu di sisiku.
Ternyata, aku bukan gadis yang menyempurnakan hidupmu….
<><><><><><>
0 komentar:
Posting Komentar