Selasa, 03 April 2012

Hadiah Dari Nenek ( 9 )

0

13300549041858784387

Dalam perjalanan menuju rumahnya, wajah Ferdy terlihat begitu gembira. Wajar saja jika hari ini merupakan hari terindah dalam hidupnya. Sekian lama meredam tanya tentang warisan kemampuan gaib dari ayahnya sekarang dia berhasil menemukan jawaban sekaligus bisa membebaskan ayahnya dari sekapan kekuatan cahaya hitam.

” Ada apa?” tanya Ferdy saat aku mengerem mendadak. Tiba-tiba saja  jantungku serasa di tarik. Sakit sekali.

” Entahlah. Perasaanku tidak tenang.” Jawabku sambil memegang kemudi.

” Kamu tidak melihat sesuatu?”

” Tidak ada.”

” Begini saja. Kita berdua konsentrasi untuk menerawang.”

Kejadian yang aneh. Biasanya jika terjadi hal yang buruk aku segera bisa melihatnya namun mengapa kali ini tidak?

Kami  lalu menerawang dengan cara kami masing-masing. Seperti latihan yang kompak, kami serempak tersadar.

” Papaku.”

” Papamu.”

Ucapan kami berbarengan. Aku dan Ferdy saling pandang.

” Tapi kulihat papa baik-baik saja. Papa saat ini ada di rumah sedang tidur. Tidak ada yang mencurigakan.” Kataku.

” Sama. Aku juga melihat papamu seperti itu.”

Kami terdiam mencoba memikirkan apa yang sebenarnya terjadi ketika terdengar suara tawa yang menakutkan.

” Hahahaha..Papamu dalam penguasan kami..hahahahaha..”

Suara itu kemudian hilang.

” Kamu mendengarnya, Ferdy?” tanyaku. Ferdy mengangguk.

” Kita temui papamu sekarang! semoga kecurigaanku tidak terbukti.”

Aku mengikuti saran Ferdy meski  belum paham dengan apa yang sebenarnya terjadi. Hanya saja jantungku terus berdebar-debar membuat perasaanku tidak nyaman.

Tiba di rumah, aku dan Ferdy segera berlari menuju kamar papa. Ku buka pintu kamar dengan perlahan agar tidak menganggu papa yang sedang istrahat. Nampak papa tengah berbaring dengan tubuh miring menghadap ke tembok. Aku merasa lega. Setidaknya papa tidak hilang, dia nyata berada di rumah.

Aku bermaksud berbalik ke luar ketika Ferdy menahan lenganku.

” Tunggu, Lita. Apa kamu tidak melihat hal yang ganjil?” Ferdy melihatku lalu melihat papa.

” Apa? aku tidak ingin mengganggu papa. Kasihan papa sedang tidur.”

” Papamu tidak tidur!” Ferdy bergerak cepat mendekati pembaringan. Aku mengikutinya. Aku nyaris terjatuh karena kaget saat Ferdy membalikkan tubuh papa. Wajah papa nampak pucat. Aku baru menyadari kalau papa tidak bernafas!

Aku panik. Kusentuh tubuh papa dan berusaha membangunkannya. Namun tubuh papa tetap kaku. Aku tak lagi dapat menahan tangisku.

” Papa!!!!!” jeritku sambil menangis. Ferdy segera memelukku dari belakang.

” Lita! sadar Lita. Kamu jangan histeris. Papamu belum mati!”

” Tapi kenapa papa seperti ini. Kalau belum mati apalagi namanya?”

Tangisku makin keras.

” Jiwa papamu sedang di culik kekuatan hitam. Apa kamu lupa dengan suara yang tadi kita dengar? papamu sedang dalam penguasaan mereka.”

Aku tersentak kaget. Karena panik aku bahkan tidak ingat dengan pesan suara yang ku dengar.

” Semoga papa tidak meninggal. Jadi sekarang kita harus bagaimana? aku bingung, Ferdy. Aku tidak menyangka mereka secepat itu membalas perbuatan kita.”

” Pertama kita harus tenang. Jangan panik. Jika panik kita tidak bisa berpikir dengan baik. Kita sebaiknya tetap di sini, jangan meninggalkan papamu.”

” Lalu apa tindakan kita? apa kita bisa menyelamatkan papa dengan hanya menunggu di sini?”

” Tenanglah Lita, aku mohon.” Ferdy menyentuh jemariku. Suara dan tatapannya sangat lembut. Aku merasakan desiran halus yang tiba-tiba hadir di hatiku.

” Kita tidak tahu kemana mereka membawa jiwa papamu. Andai mereka membawa tubuh maka kita akan mudah melacaknya, namun ini berbeda. Syukurlah aku sudah mendapatkan kemampuan yang selama ini hilang jadi kita berdua bisa menyatukan kekuatan untuk melawan mereka. Cara paling aman sekarang ini, menggunakan kemampuan pikiran kita. “

” Sayangnya, kemampuanku belum sempurna. Delapan kemampuan cahaya  masih belum aku miliki. Andai kemampuanku telah lengkap, aku tidak akan gelisah seperti ini.”

” Tapi kamu bisa meminta mereka menolongmu.”

” Itu yang akan aku lakukan…”

Aku kemudian duduk bersila di lantai di samping pembaringan. Ku baca mantra yang telah aku hapal. Tubuhku menegang lalu kaku. Ruangan seketika menjadi biru. Sinar biru lalu membentuk lingkaran kemudian perlahan menyatu dengan tubuhku.

” Lita, kemampuan cahaya ini akan selamanya menyatu dalam dirimu. Para pemilik ilmu sebelumnya hanya akan datang padamu untuk berpamitan, setelah itu kamu akan sendirian. Menjadi penuntun untuk dirimu sendiri. Ingat baik-baik, jaga kertas itu. Akan tiba hari di mana kamu akan secara resmi di tasbihkan sebagai pemilik kemampuan cahaya ke 13.”

Suara itu kemudian menghilang seiring dengan tubuhku yang mulai meregang tidak lagi tegang dan kaku.

” Ferdy.” panggilku. Nampak Ferdy  seperti baru saja melakukan ritualnya.

” Kita bisa memulainya sekarang?” tanyanya lalu meluruskan kaki.

” Iya.  Fokus dengan pikiran kita dan biarkan kemampuan cahaya yang aku miliki membawa kita.”

Kami kemudian naik ke pembaringan. Duduk di sisi tubuh papa yang terlihat kaku. Ku sentuh jemari papa sementara Ferdy menyentuh bagian kaki.

Kututup mataku lalu mulai konsentrasi membaca mantra. Sedetik kemudian kami telah berada di suatu tempat yang asing. Tubuh kami berjalan di atas udara. Tak ada tempat berpijak. Sekeliling yang nampak hanya warna hitam.

Tiba-tiba muncul seorang kakek, berjanggut dan berambut putih. Tubuh mungilnya terbungkus jubah putih yang sangat bersih.

” Hai, pemilik hati dan cahaya, gunakan kulit kacang ini sebagai tempatmu berpijak.” ucap kakek itu sambil menyerahkan dua kulit kacang.

Aku dan Ferdy menerimanya sambil berpandangan. Entah bagaimana menggunakan kulit kacang ini.

” Letakkan di bawah kaki kalian.” Suara kakek itu memerintahkan.

Kami mengikut perintahnya. Ajaib seketika kulit kacang itu berubah menjadi kuda putih yang sangat gagah.

” Karena bukan raga kalian  melainkan hanya jiwa, maka kuda putih ini akan menjadi pengawal kalian. Dia akan menemani kalian. Percayalah, kedua kuda putih ini tahu kemana akan menghantarkan kalian.”

Kakek itu kemudian menghilang dengan cepat bahkan saat kami belum mengedipkan mata.

Kuda kemudian melesat  tanpa kami perintahkan. Di perjalanan semua yang tampak hanya warna hitam.

“Yang Mulia, perkenalkan namaku Nayong. Saudaraku, bernama Nayang. Kami kembar.”

Suara kuda itu mengagetkanku. Ternyata dia bisa berbicara.

” Kamu bisa berbicara?”

” Iya, Yang Mulia. Mulai sekarang, akulah pengawal yang mulia. Perjalanan kita kali ini tidak akan mudah. Ini seperti mengulang kisah lama.”

” Mengulang kisah lama?” tanyaku heran.

” Iya, Yang Mulia. Kisah ini pernah terjadi ketika Yang Mulia Maira juga kehilangan jiwa ayahnya. Inilah asal mula mengapa kemampuan cahaya terbagi dua. Kalian berdua berasal dari keturunan yang sama. Hanya karena peristiwa ini membuat Yang Mulia Maira harus melaksanakan sumpah.”

” Maksudmu, aku dan Ferdy satu keluarga?”

” Iya, Yang Mulia. Sebelum sampai di tempat yang akan kita tuju, maka Yang Mulia juga harus mengadakan ritual perjanjian.”

” Perjanjian? perjanjian seperti apa?” Aku makin tidak mengerti.

” Setelah tiba di sana, Yang Mulia akan tahu.”

Nayong si kuda putih tidak bersuara lagi. Sementara aku sibuk mereka-reka bentuk ritual sumpah yang akan aku lakukan.

<><><><><>

( Bersambung )

0 komentar:

Posting Komentar