Beberapa tahun yang lalu…
Aku si kupu-kupu, begitu panggilan sayang mas Banu untukku. Entah mengapa dia memanggilku demikian, karena sebenarnya aku tidak menyukai kupu-kupu. Berbagai rupa warna yang indah tak mampu menepiskan ingatanku akan metamorfosis dari ulat menjadi kupu-kupu. Aku sangat takut dengan ulat bulu. Jadi wajar bukan jika aku bertanya mengapa mas Banu memanggilku demikian?
“Karena kamu mirip kupu-kupu.” jawabnya saat aku menanyakannya untuk kesekian kali. Aku bahkan terus mendesaknya untuk mengatakan dengan jujur.
” Aku harus jawab apalagi, itu jawaban tulus dari hatiku.” jawab mas Banu dengan tatapan penuh harap dariku.
” Apa miripnya aku dengan kupu-kupu?” tanyaku mengganti topik pertanyaan. Mas Banu merenung sejenak lalu meminum kopi buatan mama yang sejak tadi belum sempat dia minum karena aku terus mencecarnya dengan pertanyaan.
” Kupu-kupu itu cantik, indah, menarik.” jawabannya membuatku mengernyitkan kening.
” Cantik, indah, menarik? aku seperti itu? apa mas Banu tidak salah lihat?” tanyaku sambil berdiri di depannya. Seragam smp yang masih aku kenakan membuat mama terus memelototiku.
” Ganti dulu bajunya!” teriak mama dari dapur. Mama tertawa melihat tingkahku. Aku belum beranjak.
” Iya, benar. Kamu seperti kupu-kupu. Karena sebelum jadi kupu-kupu yang indah, dia adalah ulat….”
” Hah? jadi aku ulat? begitu kan maksud mas Banu?!” teriakku sambil memukul bahunya. Mas Banu meringis kesakitan membuat mama tertawa.
” Nanti kamu bakal jadi kupu-kupu.” balasnya namun tidak juga menghentikan tanganku untuk memukulnya.
” Kamu gimana sih? dipanggil kupu-kupu gak mau, eh di panggil ulat malah ngambek..” sahut mas Banu sambil tertawa.
Aku berlari masuk ke kamarku dengan wajah cemberut. Namun setelah pintu kamar tertutup wajahku merona merah. Aku terus berdiri di depan cermin. Menatap setiap detil diriku. Benarkah aku si kupu-kupu itu? Kupandangi rambutku yang cepak, kulitku yang sedikit gelap, wajahku yang jika di paksa akan terlihat manis. Bisakah aku berubah menjadi kupu-kupu yang cantik, indah dan menarik. Benarkah?
*****
Kini….
Aku mendapatkan alamat mas Banu dari seorang teman. Aku tidak tahu bagaimana awalnya hingga akhirnya kami membicarakan dirinya. Pembicaraan yang semula membosankan bagiku berubah menjadi perbincangan yang menarik. Akhirnya aku menemukan alamat mas Banu setelah bertahun-tahun kehilangan jejaknya.
Kepindahannya beberapa tahun yang lalu karena ingin melanjutkan kuliah di kota lain membuatku sedih. Kamar yang dia sewa di rumahku selama beberapa tahun masih sering aku pandangi jika kangen padanya. Waktu berlalu aku tetap tak bisa melupakannya. Aku merindukannya, sangat!
Kulangkahkan kaki dengan anggun menuju kantor mas Banu. Setelah bertanya pada resepsionis, aku kemudian di antar security menuju ruangannya. Ku buka pintu dengan detak jantung berdebar kencang. Namun mas Banu tidak ada, aku di minta menunggu karena dia sedang ada meeting.
Menunggu membuatku tak tahan. Setelah bosan mengutak-atik handphone aku kemudian mematikannya. Aku tidak ingin terganggu. Hari ini aku ingin menikmati kebahagiaanku setelah bertahun-tahun kunanti. Aku ingin menikmati setiap menit kebersamaan dengan mas Banu.
Pintu terbuka. Aku berpaling. Melihat sosok yang baru saja masuk membuatku terpana. Suaraku tercekat. Pandangan mas Banu juga sama denganku. Kami berdua tak ada yang sanggup berbicara.
” Si kupu-kupu?”
” Mas Banu?”
Mas Banu meraih tanganku sambil terus memandangiku.
” Bagaimana mas Banu bisa mengenalku?” tanyaku heran.
” Karena saat kamu masih jadi ulat, aku sudah membayangkan bagaimana bentukmu jika bermetamorfosis…hahaha..benar bukan? ulat itu sudah menjadi kupu-kupu yang cantik.”
Aku tersipu malu. Sejujurnya aku juga terperangah melihat perubahan mas Banu. Bukan hanya aku yang berubah, dirinya juga demikian. Mas Banu terlihat begitu gagah berwibawa. Dengan kemeja garis-garis biru, dia benar-benar menawan.
Kami berbincang dengan sangat akrab layaknya saudara yang lama tidak saling berjumpa. Hingga tiba pertanyaan yang membuatku merinding..
” Kamu sudah punya pacar?” pertanyaan itu membuatku bingung untuk menjawabnya. Bagaimana aku harus menjawab pertanyaan mas Banu jika selama bertahun-tahun aku hanya merindukan dirinya?
Rasa cemas mulai menghinggapiku. Aku jadi teringat dengan status mas Banu, apakah dia juga sudah menikah?
” Ditanya kok malah bengong? kalau kamu belum punya pacar, gimana kalo jadi istri aku saja. Kamu setuju?”
Aku makin tersipu.
” Mas Banu bercanda ya, masak sih tidak ada yang tertarik dengan mas Banu?”
Debar di dadaku kian kencang.
” Bukan mereka tidak tertarik padaku, aku nya yang tidak tertarik pada mereka. Kamu tahu kenapa? karena aku masih menanti si kupu-kupu terbang mencariku. Kalau dia tidak datang, maka aku yang akan mencarinya ke taman bunga, siapa tahu dia ada di sana terbang menari di antara bunga..”
” Si kupu-kupu itu masih aku kah?” mas Banu menggiyakkan. Aku bersorak dalam hati.
” Trus kenapa mas Banu tidak mencariku? setidaknya menelpon ke rumah mencari tahu tentang aku?”
” Aku kehilangan nomor telpon rumahmu selain itu aku juga terus mencari di facebook, tapi aku tidak menemukanmu? kok bisa sih? kamu pake nama apa dan gambar apa?”
Aku tertawa. Teringat dengan foto profil dan nama yang aku gunakan. Gambar ulat dengan warna yang manis sengaja kupajang lengkap dengan nama panggilanku sewaktu kecil. Jelas saja mas Banu tidak akan bisa menemukanku. Padahal aku memasang gambar ulat karena mengira mas Banu masih menganggapku seekor ulat dan belum berubah menjadi kupu-kupu!
” Tawaranku bagaimana? kalau setuju sekarang juga kita telpon mamamu agar aku bisa melamar.”
Mendapat tawaran seperti ini, bagaimana mungkin aku menolak?
<><><><><>
0 komentar:
Posting Komentar