Senin, 16 April 2012

[Pojok Baca rangkat] Selembar Surat Dalam Komik

0



132877860172742808

Pojok Baca Rangkat siap diresmikan. Warga terlihat antusias menyambut. Pengumuman yang di sampaikan langsung oleh Aa Kades Hans saat  sholat maghrib di mesjid Rangkat rupanya telah menyebar dan menjadi isu yang paling hangat. Warga sibuk mengumpulkan buku-buku, ada juga yang mulai mengumpulkan papan dan balok. Bagi warga yang ingin menyumbangkan dana juga telah disediakan rekening sehingga mereka bisa mentransfer sendiri ke pihak panitia.

Kesibukan seluruh warga juga berimbas ke kantor desa. Sejak kemarin, dari pagi hingga menjelang jam tutup kantor, warga terlihat hilir mudik membawa buku-buku, meja, kursi, kain, keset, alat tulis dan macam-macam sumbangan lainnya. Semua di terima Asih dengan senyum gembira. Begitu juga dengan Aa Kades yang menyambut setiap warga yang datang.

” Silahkan, apapun sumbangannya akan sangat berguna untuk Pojok Baca Rangkat.” Ucap Aa Kades Hans sambil berdiri menyapa warga. Asih, Acik, mbak Marla , Pak RT,  serta Kang Inin mulai sibuk mengatur buku-buku dan semua peralatan bantuan warga.

” Kang Inin, tolong di cek lagi rumah Pojok Baca Rangkat, apa di sana sudah siap untuk menerima buku-buku ini?” seru pak RT yang terlihat mulai keringatan. Peluh bercucuran di keningnya. Kang Inin yang mendengar namanya di sebut langsung berdiri dalam posisi siap.

” Siyaaaap, Pak RT. Saya segera meluncur.” ucap Kang Inin penuh semangat.

” Kang Inin!!!” Acik berteriak hingga kang Inin mengerem mendadak sebelum mencapai pintu.

” Tolong saat kembali nanti, titip gorengan, kripik nangka terus roti ya…” Wajah Acik terlihat sangat manis saat mengucapkan permintaan. Kang Inin tak sanggup untuk berkata tidak. Terlebih saat melihat Asih, kakak Acik juga ikut menghadirkan wajah lemas seolah belum sarapan.

” Baik. Ada lagi permintaan sebelum saya cabut?” Kang Inin menatap sekeliling. Semua menggeleng. Sedetik kemudian dia meluncur dengan sepeda onthelnya menuju lokasi Pojok Baca Rangkat.

Sepeninggal Kang Inin semua kembali sibuk membenahi buku-buku. Jumlah sumbangan buku warga yang banyak masih harus di seleksi layak atau tidaknya di masukkan dalam taman baca. Buku-buku juga di bungkus plastik agar terlihat rapi dan awet.

Di tempat lain, kang Inin memacu sepedanya dengan semangat. Dia begitu senang di tugaskan oleh Pak RT menjenguk rumah baca. Senyum tak lepas dari wajahnya bila mengingat bakal bertemu Kembang sang pujaan hati. Hari ini Kembang dan seluruh personil Girlband sedang latihan. Lokasi latihan mereka persis di samping taman baca. Wajar jika kang Inin serasa terbang dengan onthelnya menuju taman baca.

” Kang Inin?” tegur Kembang yang kaget melihat wajah Kang Inin tiba-tiba muncul di jendela.

” Ssssttttt..Kembang sayang, Akang tidak lama. Cuma pengen lihat wajah Kembang saja.” Kembang tersipu malu. Namun saat menoleh dan hendak mengucapkan kata-kata, Kang Inin telah lenyap. Kembang menjulurkan kepala keluar jendela, nampak Kang Inin masuk ke rumah baca. Dia paham kini apa yang sedang dikerjakan kang Inin.

Di rumah baca, kesibukan juga tidak kalah dengan di kantor desa. Mas Relly, mbak Dwee, Icha, Babeh, mas Pongky, Dewa, Pak Nov serta Ki Dalang tengah sibuk mengatur buku-buku dan perabotan yang lebih dulu tiba. Buku-buku di susun dalam rak-rak yang telah di atur.

” Kang Inin bawa pesan apa dari kantor desa?” tanya Icha yang tampak manis dalam balutan kemeja coklat.

” Cuma ngecek, apa di sini sudah siap menerima kiriman buku berikutnya?”

” Siap kang Inin.” Mas Relly menjawab.

” Segera saja kirim buku-bukunya.” lanjut mas Relly.

Kang Inin segera meluncur kembali ke kantor desa. Saat meninggalkan taman baca masih sempat dia melirik lokasi latihan para girlband Rangkat. Hati kang Inin makin bergemuruh.

Tidak lama kang Inin tiba di kantor desa. Setelah menyampaikan pesan, kardus-kardus pun segera di isi dengan buku-buku yang telah di lapisi plastik. Ada beberapa kardus yang siap di angkut.

” Pakai pedati saja, Pak RT.” usul Kang Inin.

Semua tampak memikirkan cara mengirim buku. Tidak seperti pengiriman pertama yang menggunakan mobil mas Halim hingga mudah memindahkan buku. Untuk kali ini mobil mas Halim tidak bisa di pergunakan berhubung mas Halim sedang menjenguk Pak RW yang sakit dan sedang di rawat di rumah sakit kabupaten.

Namun ada yang aneh dengan Asih. Sejak tadi tangannya memegang sebuah komik dan matanya tak berhenti menatap komik tersebut. Kang Ini yang gemes segera mendekati dan berniat menggoda.

” Komik apaan sih?” tegurnya sambil menarik buku dari tangan Asih. Asih yang kaget tak siap untuk menahan komik tersebut. Pemandangan selanjutnya membuat keduanya tertegun. Bukan hanya mereka berdua, namun yang lain juga terpana ketika melihat selembar kertas jatuh dari lipatan komik tersebut.

Asih yang sadar buru-buru menunduk dan mengambil kertas tersebut. Dengan cepat dia memasukkan ke dalam kantongnya.

” Hanya kertas biasa.” sahut Asih seolah paham akan wajah-wajah heran yang menanti penjelasan darinya. Insiden pun berakhir. Asih menghela nafas lega. Hampir saja, batinnya cemas.

Namun Kang Ini rupanya masih curiga. Saat kardus diletakkan di atas pedati, dia masih menanyakan tentang kertas itu.

” Itu kertas apa, mbak Asih. Kok sepertinya misterius sekali?” tanyanya penuh harap.

” Jangan main rahasia, mbak Asih. Kita kan sudah sering dapat tugas rahasia. Apa ini ada hubungannya dengan Aa kades?”lanjut kang Inin masih penasaran.

Hati Asih tersentuh. Dia teringat kebersamaannya dengan kang Inin dalam menjalankan misi rahasia. Berulangkali mereka terlibat kerja sama menunaikan tugas penting. Akhirnya, saat mereka hanya berdua saja di atas pedati, Asih mengeluarkan kertas itu dari kantong bajunya.

” Maaf , kang Inin. Tapi tolong jangan kaget ya. Setelah membaca kertas ini harap kang Inin tetap menjalankan pedati sampai di rumah baca.”

Kang Inin mulai dihinggapi rasa cemas. Jantungnya berdebar cepat. Ada apa gerangan hingga mbak Asih memintanya tetap tenang? pikir kang Inin.

Di ambilnya kertas dari tangan Asih. Membukanya lalu membacanya. Matanya melotot. Dia nampak geram.

” Kang Inin, jangan marah. Kan sudah janji bakal tenang.” Asih mengingatkan. Namun rupanya kang Inin tak sanggup lagi menahan gejolak hatinya. Tiba-tiba dia menghentikan pedati lalu melompat turun.

” Mbak Asih, tolong bawa pedatinya ke rumah baca. Saya ada tugas penting yang harus di selesaikan.”

Kang Inin berlari cepat meninggalkan Asih yang bingung ditinggal berdua saja dengan sapi. Beruntung sapi tersebut tetap tenang hingga tak menambah panik Asih.

” Aduh, bagaimana kang Inin ini. Saya kok di tinggal dengan sapi.” gumam Asih dengan wajah cemberut.

**********

0 komentar:

Posting Komentar