Senin, 16 April 2012

(Girlband Rangkat) Langsing Sebuah Keharusan

0

13285927551623326449

Hujan rintik menghiasi Desa Rangkat malam ini. Maghrib baru saja lepas ketika Yuli tergopoh-gopoh mendatangi rumah Asih. Karena tak memakai payung, Yuli harus berlari untuk menghindari hujan yang tiba-tiba turun saat dia dalam perjalanan.

” Wa Alaikum Salam. Mbak Yuli?” sambut Asih kaget ketika membuka pintu. Wajah Yuli yang manis hadir dengan senyum simpatiknya. Selang beberapa menit, Pak Nov Windu Hernowo yang baru pulang dari mesjid juga menegurnya ramah.

” Gimana kabarnya, pak Nov? sehat-sehat saja, kan?” balas Yuli yang di sambut senyuman oleh pak Nov.

” Baik, Yuli. Silahkan ngobrol dengan Asih. Bapak ke dalam dulu ya.”


Pak Nov  masuk ke dalam rumah. Tinggallah Asih yang penasaran dengan kunjungan Yuli. Maklum keadaan desa sekarang ini sangat sensitif. Hal kecil saja bisa menimbulkan gosip yang panas. Aa kades Hans yang tak kunjung menentukan pilihan  calon ibu kades menjadi salah satu pemicu hingga skandal bisa saja muncul tanpa di duga.

Asih yang bekerja sebagai sekdes di Desa Rangkat, harus menjaga setiap kemungkinan yang bakal terjadi. Posisinya yang dekat dengan Aa kades, tentu akan menghadirkan gosip-gosip, sekiranya ada seseorang yang mendekat padanya. Bisa di maklumi jika antena curiga Asih selalu selangkah lebih maju.

” Ada apa, mbak Yuli? kok tumben malam-malam begini kemari?”

Yuli pindah tempat duduk. Jika tadi mereka berhadapan maka sekarang posisinya berdampingan. Asih makin heran.

” Begini, mbak Asih. Aku ada ide.” Wajah Yuli begitu bersemangat membuat Asih hanya menyimak menunggu kelanjutan.

” Bagaimana kalau di desa kita ada grup penyanyi yang anggotanya perempuan semua.”

Asih terus menyimak tanpa menyela ucapan Yuli.

” Kalau grup itu sudah terbentuk, trus terkenal, nama Rangkat pasti juga akan terkenal.”

” Trus?”

” Grup ini juga bisa tampil saat acara pernikahan Aa kades.”

Mendengar kata pernikahan, mata Asih melebar.

” Pernikahan? Aa kades sudah menentukan calon? kok saya gak tau ya?”

Yuli menepuk lengannya.

” Belum ada calon, mbak Asih. Ini hanya persiapan kalau pernikahan itu benar-benar terjadi. Semalaman saya tidak bisa tidur memikirkan rencana ini. Girlband Rangkat. Nama yang keren. Kita bisa menyulap gadis-gadis Rangkat menjadi seperti artis-artis Korea yang menggemaskan itu.”

Wajah Yuli sumringah. Hanya wajah Asih yang tidak berubah. Dia belum paham dengan rencana Yuli.

” Tapi mbak Yuli, gadis-gadis yang bakal kita sulap itu, kita bisa temukan di mana?”

” Loh mbak Asih gak sadar ya? di desa kita ini banyak bibit-bibit yang terpendam. Belum terlihat kilaunya. Wartawan kita, kang Inin terlalu banyak kesibukan. Bayangkan selain ojek, dia juga merangkap tukang pos, guru mengaji, guru bahasa sunda, belum lagi mengurusi kisah cintanya yang selalu terancam badai tsunami. Bagaimana dia bisa meliput tentang bakat-bakat alami yang ada di desa Rangkat?”

Asih mengangguk setuju.

” Kalau bukan kita yang memulai mencari bibit-bibit terpendam itu, siapa lagi mbak?”

” Tapi kok mbak Yuli malah datang kemari? bukan ke tempat mas Reporter. Di sana tentu banyak foto-foto warga yang yang bisa di jadikan pilihan.”

” Aduh mbak Asih belum paham juga, ya. Aku pengen, mbak Asih jadi produser untuk mengorbitkan grup pendatang baru dari desa kita.”

Asih menyandarkan tubuhnya di kursi. Dia baru paham akan rencana Yuli. Pantas saja malam ini Yuli datang berkunjung ke rumahnya. Tapi jadi produser, tunggu dulu..

” Kenapa saya yang mbak Yuli pilih jadi produser? saya mau jadi manager saja..”

” Itu bagianku, mbak Asih. Aku manager, mbak Asih produser, klop kan? gimana, setuju saja ya?”

Wajah Yuli yang penuh harap menimbulkan iba  dalam hati Asih. Tidak ada salahnya mencoba, pikirnya. Semua juga demi kemajuan Rangkat. Asih kemudian mengangguk yang di sambut pelukan senang oleh Yuli.

” Jumlah anggotanya berapa orang, mbak? enam,tujuh,delapan,atau sembilan orang?” tanya Asih. Yuli berpikir sejenak.

” Nanti saja mbak Asih kita pikirkan. Sekarang ini  kita harus menemukan anggotanya dulu. Terserah nanti mau jumlahnya berapa orang, yang pasti grup kita terbentuk.”

Kembali Asih mengangguk setuju.

Yuli akhirnya pulang dengan senyum kebahagiaan. Keinginannya mendapat sambutan baik dari Asih. Dalam kepalanya telah tersusun banyak rencana. Yuli tidak tahu sesaat setelah dia meninggalkan rumah, Asih segera masuk ke dalam kamar membuka laptop dan segera mencari info tentang girlband korea lewat internet.

” Harus kerja keras menciptakan grup seperti ini. Terutama  disiplin dengan barat badan. Badan langsing harus tercipta. Diet  jadi keharusan!” gumam Asih penuh semangat.

***********

0 komentar:

Posting Komentar