Hujan rintik menghiasi Desa Rangkat
malam ini. Maghrib baru saja lepas ketika Yuli tergopoh-gopoh mendatangi
rumah Asih. Karena tak memakai payung, Yuli harus berlari untuk
menghindari hujan yang tiba-tiba turun saat dia dalam perjalanan.
” Wa Alaikum Salam. Mbak Yuli?” sambut
Asih kaget ketika membuka pintu. Wajah Yuli yang manis hadir dengan
senyum simpatiknya. Selang beberapa menit, Pak Nov Windu Hernowo yang
baru pulang dari mesjid juga menegurnya ramah.
” Gimana kabarnya, pak Nov? sehat-sehat saja, kan?” balas Yuli yang di sambut senyuman oleh pak Nov.
” Baik, Yuli. Silahkan ngobrol dengan Asih. Bapak ke dalam dulu ya.”
Pak Nov masuk ke dalam rumah.
Tinggallah Asih yang penasaran dengan kunjungan Yuli. Maklum keadaan
desa sekarang ini sangat sensitif. Hal kecil saja bisa menimbulkan gosip
yang panas. Aa kades Hans yang tak kunjung menentukan pilihan calon
ibu kades menjadi salah satu pemicu hingga skandal bisa saja muncul
tanpa di duga.
Asih yang bekerja sebagai sekdes di Desa
Rangkat, harus menjaga setiap kemungkinan yang bakal terjadi. Posisinya
yang dekat dengan Aa kades, tentu akan menghadirkan gosip-gosip,
sekiranya ada seseorang yang mendekat padanya. Bisa di maklumi jika
antena curiga Asih selalu selangkah lebih maju.
” Ada apa, mbak Yuli? kok tumben malam-malam begini kemari?”
Yuli pindah tempat duduk. Jika tadi mereka berhadapan maka sekarang posisinya berdampingan. Asih makin heran.
” Begini, mbak Asih. Aku ada ide.” Wajah Yuli begitu bersemangat membuat Asih hanya menyimak menunggu kelanjutan.
” Bagaimana kalau di desa kita ada grup penyanyi yang anggotanya perempuan semua.”
Asih terus menyimak tanpa menyela ucapan Yuli.
” Kalau grup itu sudah terbentuk, trus terkenal, nama Rangkat pasti juga akan terkenal.”
” Trus?”
” Grup ini juga bisa tampil saat acara pernikahan Aa kades.”
Mendengar kata pernikahan, mata Asih melebar.
” Pernikahan? Aa kades sudah menentukan calon? kok saya gak tau ya?”
Yuli menepuk lengannya.
” Belum ada calon, mbak Asih. Ini hanya
persiapan kalau pernikahan itu benar-benar terjadi. Semalaman saya tidak
bisa tidur memikirkan rencana ini. Girlband Rangkat. Nama yang keren.
Kita bisa menyulap gadis-gadis Rangkat menjadi seperti artis-artis Korea
yang menggemaskan itu.”
Wajah Yuli sumringah. Hanya wajah Asih yang tidak berubah. Dia belum paham dengan rencana Yuli.
” Tapi mbak Yuli, gadis-gadis yang bakal kita sulap itu, kita bisa temukan di mana?”
” Loh mbak Asih gak sadar ya? di desa
kita ini banyak bibit-bibit yang terpendam. Belum terlihat kilaunya.
Wartawan kita, kang Inin terlalu banyak kesibukan. Bayangkan selain
ojek, dia juga merangkap tukang pos, guru mengaji, guru bahasa sunda,
belum lagi mengurusi kisah cintanya yang selalu terancam badai tsunami.
Bagaimana dia bisa meliput tentang bakat-bakat alami yang ada di desa
Rangkat?”
Asih mengangguk setuju.
” Kalau bukan kita yang memulai mencari bibit-bibit terpendam itu, siapa lagi mbak?”
” Tapi kok mbak Yuli malah datang
kemari? bukan ke tempat mas Reporter. Di sana tentu banyak foto-foto
warga yang yang bisa di jadikan pilihan.”
” Aduh mbak Asih belum paham juga, ya.
Aku pengen, mbak Asih jadi produser untuk mengorbitkan grup pendatang
baru dari desa kita.”
Asih menyandarkan tubuhnya di kursi. Dia
baru paham akan rencana Yuli. Pantas saja malam ini Yuli datang
berkunjung ke rumahnya. Tapi jadi produser, tunggu dulu..
” Kenapa saya yang mbak Yuli pilih jadi produser? saya mau jadi manager saja..”
” Itu bagianku, mbak Asih. Aku manager, mbak Asih produser, klop kan? gimana, setuju saja ya?”
Wajah Yuli yang penuh harap menimbulkan
iba dalam hati Asih. Tidak ada salahnya mencoba, pikirnya. Semua juga
demi kemajuan Rangkat. Asih kemudian mengangguk yang di sambut pelukan
senang oleh Yuli.
” Jumlah anggotanya berapa orang, mbak? enam,tujuh,delapan,atau sembilan orang?” tanya Asih. Yuli berpikir sejenak.
” Nanti saja mbak Asih kita pikirkan.
Sekarang ini kita harus menemukan anggotanya dulu. Terserah nanti mau
jumlahnya berapa orang, yang pasti grup kita terbentuk.”
Kembali Asih mengangguk setuju.
Yuli akhirnya pulang dengan senyum
kebahagiaan. Keinginannya mendapat sambutan baik dari Asih. Dalam
kepalanya telah tersusun banyak rencana. Yuli tidak tahu sesaat setelah
dia meninggalkan rumah, Asih segera masuk ke dalam kamar membuka laptop
dan segera mencari info tentang girlband korea lewat internet.
” Harus kerja keras menciptakan grup
seperti ini. Terutama disiplin dengan barat badan. Badan langsing harus
tercipta. Diet jadi keharusan!” gumam Asih penuh semangat.
***********
0 komentar:
Posting Komentar