Aku sering mendengarnya. Selalu kau ucapkan manakala aku cemburu.
“ Sayang, itu cuma bercanda. Jangan di bawa ke hati. Namanya juga main-main, ya seperti itu.”
Ucapmu
dengan nada tinggi bahkan nyaris emosi karena keluhanku yang tiada
henti setiap kali aku baca komentarmu di facebook. Kamu rajin menyapa
teman-temanmu dengan panggilan mesra. Tidak membedakan lelaki dan
perempuan. Awalnya aku merasa biasa saja setiap kali aku membaca
komentarmu. Lama kelamaan aku mulai merasa ada sesuatu yang aneh saat
komentarmu lebih banyak tertuju ke seorang wanita yang sangat cantik menurutku.
“
Dia? Ahk, dia itu udah punya suami. Kami memang sering bercanda. Santai
saja. Suaminya juga tidak marah, kok.” Katamu dengan ekspresi tenang.
Kali ini kamu tidak emosi. Entah mengapa aku yang selalu percaya padamu,
mulai meragukan kesetiaanmu. Ucapanmu tak lagi mampu menyurutkan rasa
penasaran dalam benakku. Aku yakin hatiku tak pernah berbohong. Ada
sesuatu yang kamu sembunyikan di balik komentar-komentar mesramu
padanya.
Suatu
hari, aku sengaja membuka inbox di di akunmu. Terlihat ada pesan antara
kamu dan wanita itu. Kubuka dan kubaca. Darahku mulai mendidih. Inikah
yang kamu sebut bercanda? Janji pertemuan yang entah sudah beberapa kali
terlaksana. Kuperhatikan tanggalnya sudah berlangsung sejak 3 bulan
yang lalu. Setiap kali selesai kencan, kalian menulis dengan bahasa yang
sangat mesra. Kalimat-kalimat itu, masihkah ingin kamu sebut sebagai
canda atau komentar biasa?
Aku
tak tahan lagi. Akunmu sengaja aku blokir. Aku tidak perduli betapa
gelisahnya dirimu saat tak bisa membuka akun sendiri. Aku pura-pura
tidak tahu apa-apa. Aku yakin kegelisahanmu bukan karena pekerjaan di
kantor. Pasti karena tak bisa mengirim pesan untuk wanita itu. Apalagi
kemudian hape mu lebih banyak bersuara pesan masuk. Aku yakin, pasti
dari wanita itu. Hape mu kemudian berdering. Kamu mendengarkan dengan
serius.
“ Sialan.” Ucapmu dengan nanda kesal.
“ Ada apa, mas?” tanyaku seolah tak paham arti kemarahanmu.
Kamu
tak menjawab tapi malah berjalan keluar menuju teras. Hatiku yang
dibakar cemburu tak bisa membiarkanmu berbicara dengan leluasa. Ku ikuti
langkahmu lalu berhenti pada jarak yang bisa untuk mendengar
percakapanmu.
“ Apa? Suamimu tahu? Jadi bagaimana? Kamu pengen putus? Kok begitu? Gak bisa, aku gak setuju!”
Suaramu terdengar kecewa. Aku makin yakin suara dari seberang itu adalah milik wanita selingkuhanmu.
“ Kamu serius ingin bubar? Tolong dengarkan aku dulu…Yuni dengarkan dulu…” wanita itu mematikan sambungan telponnya.
Suaramu
yang putus asa ternyata tak mendapat sambutan dari wanita itu. Maafkan
aku suamiku, karena cintaku padamu aku terpaksa menempuh berbagai cara.
Aku terpaksa mengirim semua komentar-komentar mesra kalian pada suami
wanita itu. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan wanita itu, aku hanya
ingin mempertahankanmu, mempertahankan rumah tangga kita. ***
0 komentar:
Posting Komentar