Rabu, 11 April 2012

Pesan Mesra Di Facebook

0

Aku sering mendengarnya. Selalu kau ucapkan manakala aku cemburu.

“ Sayang, itu cuma bercanda. Jangan di bawa ke hati. Namanya juga main-main, ya seperti itu.”

Ucapmu dengan nada tinggi bahkan nyaris emosi karena keluhanku yang tiada henti setiap kali aku baca komentarmu di facebook. Kamu rajin menyapa teman-temanmu dengan panggilan mesra. Tidak membedakan lelaki dan perempuan. Awalnya aku merasa biasa saja setiap kali aku membaca komentarmu. Lama kelamaan aku mulai merasa ada sesuatu yang aneh saat komentarmu lebih banyak tertuju ke seorang wanita yang sangat cantik menurutku.


“ Dia? Ahk, dia itu udah punya suami. Kami memang sering bercanda. Santai saja. Suaminya juga tidak marah, kok.” Katamu dengan ekspresi tenang. Kali ini kamu tidak emosi. Entah mengapa aku yang selalu percaya padamu, mulai meragukan kesetiaanmu. Ucapanmu tak lagi mampu menyurutkan rasa penasaran dalam benakku. Aku yakin hatiku tak pernah berbohong. Ada sesuatu yang kamu sembunyikan di balik komentar-komentar mesramu padanya.

Suatu hari, aku sengaja membuka inbox di di akunmu. Terlihat ada pesan antara kamu dan wanita itu. Kubuka dan kubaca. Darahku mulai mendidih. Inikah yang kamu sebut bercanda? Janji pertemuan yang entah sudah beberapa kali terlaksana. Kuperhatikan tanggalnya sudah berlangsung sejak 3 bulan yang lalu. Setiap kali selesai kencan, kalian menulis dengan bahasa yang sangat mesra. Kalimat-kalimat itu, masihkah ingin kamu sebut sebagai canda atau komentar biasa?

Aku tak tahan lagi. Akunmu sengaja aku blokir. Aku tidak perduli betapa gelisahnya dirimu saat tak bisa membuka akun sendiri. Aku pura-pura tidak tahu apa-apa. Aku yakin kegelisahanmu bukan karena pekerjaan di kantor. Pasti karena tak bisa mengirim pesan untuk wanita itu. Apalagi kemudian hape mu lebih banyak bersuara pesan masuk. Aku yakin, pasti dari wanita itu. Hape mu kemudian berdering. Kamu mendengarkan dengan serius.

“ Sialan.” Ucapmu dengan nanda kesal.

“ Ada apa, mas?” tanyaku seolah tak paham arti kemarahanmu.

Kamu tak menjawab tapi malah berjalan keluar menuju teras. Hatiku yang dibakar cemburu tak bisa membiarkanmu berbicara dengan leluasa. Ku ikuti langkahmu lalu berhenti pada jarak yang bisa untuk mendengar percakapanmu.

“ Apa? Suamimu tahu? Jadi bagaimana? Kamu pengen putus? Kok begitu? Gak bisa, aku gak setuju!”

Suaramu terdengar kecewa. Aku makin yakin suara dari seberang itu adalah milik wanita selingkuhanmu.

“ Kamu serius ingin bubar? Tolong dengarkan aku dulu…Yuni dengarkan dulu…” wanita itu mematikan sambungan telponnya.

Suaramu yang putus asa ternyata tak mendapat sambutan dari wanita itu. Maafkan aku suamiku, karena cintaku padamu aku terpaksa menempuh berbagai cara. Aku terpaksa mengirim semua komentar-komentar mesra kalian pada suami wanita itu. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan wanita itu, aku hanya ingin mempertahankanmu, mempertahankan rumah tangga kita. ***

0 komentar:

Posting Komentar