Rabu, 11 April 2012

Menggapai Impian

0


Di ruang travel yang sejuk. Aku duduk menghadap mbak cantik yang berpakaian ungu. Mbak itu memintaku untuk menunggu sebentar sementara dia masih melayani telpon yang masuk. Aku terus berpikir sambil sesekali menatap dia dan hape ku. Sejak dari rumah aku merasa bimbang untuk datang ke tempat ini. Haruskah aku membeli tiket atau tidak. Sementara keputusan harus segera aku ambil.

“ Maaf, mbak menunggu lama. Oh,ya apa yang bisa saya bantu?”

Aku tersadar dari lamunan.

“ Engg..ini mbak mau cari tiket untuk besok tujuan Menado. Yang termurah pesawat apa ya?”

Mbak itu segera mengecek lewat komputer. Aku menatap pasrah. Sepertinya tak ada jalan keluar. Aku terpaksa harus membeli tiket hari ini juga.

“ Yang termurah masih kisaran 800 ribu, pesawat Merpati. Berangkat jam 2 siang. Gimana mau booking dulu? Tapi batasnya dua jam dari sekarang.”

Aku makin bingung. Benarkah keputusanku ini? Haruskah aku membeli tiket dan benar-benar pergi besoknya? Aku tidak yakin bisa meninggalkan kota ini jika suamiku tidak ikut bersamaku. Tapi aku sudah mengatakan akan pergi? Mana mungkin aku membatalkannya. Walaupun sebenarnya hatiku masih ragu jika harus berpisah dengan suamiku.


Padahal itu hanya ancaman, agar mas Mardin tegas dengan keputusannya. Sikapnya yang bimbang membuatku kehilangan kesabaran. Dia tidak bisa mantap dengan keinginannya. Selalu saja keputusan pribadinya ditentukan oleh orang tuanya. Sampai kapan kami akan hidup seperti ini. Kami sudah berumah tangga, sudah seharusnya keputusan rumah tangga, kami yang berhak memutuskan.

Tapi kenyataannya, mas Mardin selalu saja tunduk pada keinginan orang tuanya. Tidak punya keputusan sendiri. Padahal ini demi masa depan kami. Tidak mungkin selamanya kami bergantung pada orang tua. Suatu saat kami akan mempunyai anak. Tentu saja kebutuhan kami akan meningkat seiring bertambahnya jumlah anggota keluarga dalam rumah tangga kami. Tidak mungkin kedua orang tua mas Mardin akan terus membiayai kehidupan kami. Andai bersedia, tentu batin kami utamanya aku akan merasa tersiksa. Banyak kebutuhan yang seharusnya kami sediakan jadi terhambat karena segan meminta uang pada orang tua. Sementara jika kami hendak mencari penghasilan dengan bekerja, kedua orang tua mas Mardin melarangnya.

“ Kamu laki-laki satu-satunya di rumah. Kalau kamu pergi, bagaimana adik-adik kamu?”

Bapak mertua mengungapkan alasan pada kami malam itu, ketika kami mengajukan ijin untuk merantau. Ada perusaahan asing yang menawarkan kerja pada suamiku. Seseorang yang pernah di tolong mas Mardin dalam sebuah kecelakaan, ingin membalas jasa. Dia memberikan lowongan kerja. Dia menjanjikan gaji yang lumayan besar untuk suamiku, Cuma syaratnya mas Mardin harus keluar propinsi.

Aku gembira saat mendengar berita itu. Bagiku merantau kemana saja aku siap, demi mencari nafkah. Karena percuma saja kami menetap di kampung sendiri jika tak mempunyai penghasilan. Sementara suamiku sudah bosan mencari pekerjaan. Selalu saja jenis pekerjaan yang dia temukan tidak sesuai dengan harapan kami.

Tapi ucapan bapak mertuaku membuat semangat kami mengendur. Kami hanya bisa berdiam dan segera masuk ke kamar. Berdebat di dalam kamar. Aku marah karena suami sama sekali tidak bisa memberikan balasan atas ucapan bapak.

“ Nggak mungkin mas, kita seperti ini terus? Bukan hanya makan yang kita butuhkan. Gimana nanti kalau kita udah punya anak? Kita tentu makin banyak kebutuhan. Sementara adik-adikmu juga membutuhkan biaya untuk sekolah. Apa seumur hidup kita bergantung sama mereka?” protesku.

“ Tapi kalau bapak sudah melarang, kita bisa apa?”

“ Kalau gitu mas ngomong dong. Nggak gampang cari kerja dengan gaji setinggi itu. Ada yang menawarkan pada kita trus kita tolak, bukankah itu bodoh namanya?” aku makin kesal. Apa suamiku tahu beban batin yang aku rasakan? Aku juga punya keluarga yang membutuhkan aku. Ada adik-adikku yang masih sekolah. Aku juga ingin sesekali memberi mereka uang walau mungkin tidak banyak. Aku sudah menikah. Seharusnya bisa mandiri. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Orang tua ku yang terus menerus memberiku uang karena uang yang diberikan mertuaku pada kami tidak mencukupi.

“ Aku nggak bisa bicara seperti itu pada bapak.”

“ Jadi sampai kapan kita seperti ini terus mas? Sampai kapan mas membantu usaha bengkel bapak. Sejak dulu sampai sekarang nggak ada kemajuan. Bengkel bapak malah makin hari makin sepi. Di rumah ini sudah dua keluarga mas. Kita dan bapak. Belum lagi kalau adikmu akan menikah. Apa akan tinggal disini juga? Aku benar-benar nggak habis pikir. Kok melarang anak sendiri mencari nafkah? Padahal itu demi kebaikan sendiri. Tempat itu hanya masalah jarak, mas. Kalau duit ada, sejauh apapun itu mudah untuk di jangkau. Tapi kalau nggak ada duit, mau jaraknya dekat juga, pasti kita kesulitan untuk datang berkunjung.”

“ Jadi gimana dong? Kamu terus-terus mendesak sementara aku juga bingung menghadapi bapak?”

“ Mas harus tegas. Bicara sama bapak dengan alasan yang bisa di terima bapak. Sentuh perasaan bapak dengan memberikan gambaran kehidupan kita akan datang. Pasti bapak akan berpikir dan mempertimbangkan keputusannya melarang kita merantau.”

“ Ya, udah besok saja. Aku juga pusing memikirkan ini.”

“ Aku juga pusing mas. Ingat waktu kita tinggal 3 hari lagi. Kalau nggak ada kepastian ke Pak Wardio, lowongan itu akan diberikan ke orang lain. Mas ingat? Sudah tiga kali kita membatalkan lowongan kerja, hanya karena tempatnya di luar propinsi. Padahal kalau bapak mengijinkan, sejak dua tahun yang lalu mas udah kerja.”

“ Iya, besok aku ngomong.”

Tapi besoknya sungguh membuat aku kecewa. Sejak pagi aku terus menanyakan pada suamiku, apakah dia sudah menyampaikan pembicaraan kami semalam. Ternyata belum. Jadi sejak tadi mereka bersama di bengkel, tidak membicarakan keputusan kami yang ingin merantau.

“ Kok belum ngomong, mas?” bisikku saat suamiku masuk ke dapur untuk minum.

“ Ya, ntar. Sabar dong sayang.”

Kutunggu hingga siang, sore dan sekarang saat kami sudah ada di dalam kamar. Suami ku ternyata belum mengatakan sesuatu ke bapak mertuaku.

“ Kok belum ngomong, mas? Jadi kapan mau bicara sama bapak?”

“ Sabar dong! Kamu gimana sih? Coba gimana perasaan kamu jika punya anak? Apa kamu mau melepaskan dia pergi merantau?”

“ Kok ngomongnya seperti itu? Namanya sudah menikah, toh kita wajib mencari nafkah sendiri. Orang tua, suatu saat pasti harus melepas anaknya menempuh hidup sendiri jika sudah menikah. Nggak mungkin terus-terusan ada dalam pelukan orang tua.”

“ Iya, besok aku bicara.”

“ Janji ya, mas.”

Ternyata harapanku tinggal harapan. Bapak mertua tetap tidak mengijinkan kami untuk pergi. Aku tidak tahu apakah cara menyampaikan yang salah atau memang bapak mertuaku yang berat melepaskan kami pergi.

“ Aku nggak peduli lagi. Mas tinggal memilih, pilih aku atau bapak.”

Akhirnya terucap juga kata-kata yang terpendam dalam hatiku. Seperti biasa kami berdebat di dalam kamar.

“ Kok ngomongnya begitu? Aku nggak bisa milih di antara kalian. Kalian berdua itu sama-sama penting.”

“ Kalau gitu, besok aku akan beli tiket. Aku akan jual kalung pemberian ibu. Kalau mas nggak mau pergi, biar aku yang pergi. Aku yang akan menempati posisi pekerjaan itu. Pak Wardio toh tidak mengatakan itu khusus untuk laki-laki atau perempuan.”

“ Pikiran kamu kok jadi ngelantur begitu? sampai tega mau meninggalkan aku?”

“ Habis gimana lagi? Mas nggak bisa mengambil keputusan. Aku nggak tahan hidup seperti ini terus. Kita harus berusaha mencari penghasilan agar bisa membiayai hidup kita. Gimana mau punya anak kalo kita sendiri masih numpang makan sama bapak. Apa mas nggak mau punya anak? Sampai kapan kita menunda punya anak? Kalau mas ada penghasilan, kita bisa membiayai hidup kita dan anak kita. Tapi kalau seperti sekarang, bagaimana bisa?”

Suamiku tidak berkomentar lagi. Aku tahu dia juga pusing mencari jalan keluar dari masalah kami. Saat kami menikah dulu, aku begitu yakin karena mas Mardin menjanjikan setelah kami menikah, kami akan merantau. Namun setelah beberapa bulan, kami tak juga pergi merantau mencari pekerjaan. Bapak mertua melarang kami. Dan hingga sekarang tetap saja alasan yang dikemukakan seperti itu. Apa kami terus menumpang sampai tua?

Hari ini aku keluar rumah dengan tekad bulat. Aku harus pergi membeli tiket. Kalau mas Mardin tidak bersedia, aku yang akan pergi. Aku tidak ingin ada penyesalan seperti sebelumnya. Beberapa tawaran menarik lepas dari kami karena alasan bapak. Sekarang aku tidak ingin mengulang kejadian yang lalu. Kami harus tegas dengan keputusan kami.

Setelah menjual kalung pemberian ibu, aku menuju travel yang aku tahu menjual tiket dengan harga murah. Walau masih bimbang karena kalau suamiku menolak, maka aku yang akan pergi sendiri. Tapi kalau tidak nekad, sampai kapan kami bisa melepaskan diri untuk berusaha menghidupi diri kami.

“ Mbak gimana? Jadi beli tiketnya?” suara mbak itu membuyarkan lamunanku. Aku baru hendak menjawab ketika hapeku berdering.

“ Kamu di mana?” suara suamiku terdengar di ujung telpon.

“ Di travel, mau beli tiket untuk kita.” Kataku walau dalam hati masih cemas.

“ Ya, udah kamu beli saja. Bapak udah mengijinkan kita pergi.”

Aku bahagia mendengar ucapan suamiku. Dengan mantap aku menatap mbak yang cantik itu.

“ Pesan dua tiket ya mbak.” ***

0 komentar:

Posting Komentar