Di ruang travel
yang sejuk. Aku duduk menghadap mbak cantik yang berpakaian ungu. Mbak
itu memintaku untuk menunggu sebentar sementara dia masih melayani
telpon yang masuk. Aku terus berpikir sambil sesekali menatap dia dan hape ku. Sejak dari rumah aku merasa bimbang untuk datang ke tempat ini. Haruskah aku membeli tiket atau tidak. Sementara keputusan harus segera aku ambil.
“ Maaf, mbak menunggu lama. Oh,ya apa yang bisa saya bantu?”
Aku tersadar dari lamunan.
“ Engg..ini mbak mau cari tiket untuk besok tujuan Menado. Yang termurah pesawat apa ya?”
Mbak
itu segera mengecek lewat komputer. Aku menatap pasrah. Sepertinya tak
ada jalan keluar. Aku terpaksa harus membeli tiket hari ini juga.
“
Yang termurah masih kisaran 800 ribu, pesawat Merpati. Berangkat jam 2
siang. Gimana mau booking dulu? Tapi batasnya dua jam dari sekarang.”
Aku
makin bingung. Benarkah keputusanku ini? Haruskah aku membeli tiket dan
benar-benar pergi besoknya? Aku tidak yakin bisa meninggalkan kota ini
jika suamiku tidak ikut bersamaku. Tapi aku sudah mengatakan akan pergi?
Mana mungkin aku membatalkannya. Walaupun sebenarnya hatiku masih ragu
jika harus berpisah dengan suamiku.
Padahal
itu hanya ancaman, agar mas Mardin tegas dengan keputusannya. Sikapnya
yang bimbang membuatku kehilangan kesabaran. Dia tidak bisa mantap
dengan keinginannya. Selalu saja keputusan pribadinya ditentukan oleh
orang tuanya. Sampai kapan kami akan hidup seperti ini. Kami sudah
berumah tangga, sudah seharusnya keputusan rumah tangga, kami yang
berhak memutuskan.
Tapi
kenyataannya, mas Mardin selalu saja tunduk pada keinginan orang
tuanya. Tidak punya keputusan sendiri. Padahal ini demi masa depan kami.
Tidak mungkin selamanya kami bergantung pada orang tua. Suatu saat kami
akan mempunyai anak. Tentu saja kebutuhan kami akan meningkat seiring
bertambahnya jumlah anggota keluarga dalam rumah tangga kami. Tidak
mungkin kedua orang tua mas Mardin akan terus membiayai kehidupan kami.
Andai bersedia, tentu batin kami utamanya aku akan merasa tersiksa.
Banyak kebutuhan yang seharusnya kami sediakan jadi terhambat karena
segan meminta uang pada orang tua. Sementara jika kami hendak mencari
penghasilan dengan bekerja, kedua orang tua mas Mardin melarangnya.
“ Kamu laki-laki satu-satunya di rumah. Kalau kamu pergi, bagaimana adik-adik kamu?”
Bapak
mertua mengungapkan alasan pada kami malam itu, ketika kami mengajukan
ijin untuk merantau. Ada perusaahan asing yang menawarkan kerja pada
suamiku. Seseorang yang pernah di tolong mas Mardin dalam sebuah
kecelakaan, ingin membalas jasa. Dia memberikan lowongan kerja. Dia
menjanjikan gaji yang lumayan besar untuk suamiku, Cuma syaratnya mas
Mardin harus keluar propinsi.
Aku
gembira saat mendengar berita itu. Bagiku merantau kemana saja aku
siap, demi mencari nafkah. Karena percuma saja kami menetap di kampung
sendiri jika tak mempunyai penghasilan. Sementara suamiku sudah bosan
mencari pekerjaan. Selalu saja jenis pekerjaan yang dia temukan tidak
sesuai dengan harapan kami.
Tapi
ucapan bapak mertuaku membuat semangat kami mengendur. Kami hanya bisa
berdiam dan segera masuk ke kamar. Berdebat di dalam kamar. Aku marah
karena suami sama sekali tidak bisa memberikan balasan atas ucapan
bapak.
“
Nggak mungkin mas, kita seperti ini terus? Bukan hanya makan yang kita
butuhkan. Gimana nanti kalau kita udah punya anak? Kita tentu makin
banyak kebutuhan. Sementara adik-adikmu juga membutuhkan biaya untuk
sekolah. Apa seumur hidup kita bergantung sama mereka?” protesku.
“ Tapi kalau bapak sudah melarang, kita bisa apa?”
“
Kalau gitu mas ngomong dong. Nggak gampang cari kerja dengan gaji
setinggi itu. Ada yang menawarkan pada kita trus kita tolak, bukankah
itu bodoh namanya?” aku makin kesal. Apa suamiku tahu beban batin yang
aku rasakan? Aku juga punya keluarga yang membutuhkan aku. Ada
adik-adikku yang masih sekolah. Aku juga ingin sesekali memberi mereka
uang walau mungkin tidak banyak. Aku sudah menikah. Seharusnya bisa
mandiri. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Orang tua ku yang terus
menerus memberiku uang karena uang yang diberikan mertuaku pada kami
tidak mencukupi.
“ Aku nggak bisa bicara seperti itu pada bapak.”
“
Jadi sampai kapan kita seperti ini terus mas? Sampai kapan mas membantu
usaha bengkel bapak. Sejak dulu sampai sekarang nggak ada kemajuan.
Bengkel bapak malah makin hari makin sepi. Di rumah ini sudah dua
keluarga mas. Kita dan bapak. Belum lagi kalau adikmu akan menikah. Apa
akan tinggal disini juga? Aku benar-benar nggak habis pikir. Kok
melarang anak sendiri mencari nafkah? Padahal itu demi kebaikan sendiri.
Tempat itu hanya masalah jarak, mas. Kalau duit ada, sejauh apapun itu
mudah untuk di jangkau. Tapi kalau nggak ada duit, mau jaraknya dekat
juga, pasti kita kesulitan untuk datang berkunjung.”
“ Jadi gimana dong? Kamu terus-terus mendesak sementara aku juga bingung menghadapi bapak?”
“
Mas harus tegas. Bicara sama bapak dengan alasan yang bisa di terima
bapak. Sentuh perasaan bapak dengan memberikan gambaran kehidupan kita
akan datang. Pasti bapak akan berpikir dan mempertimbangkan keputusannya
melarang kita merantau.”
“ Ya, udah besok saja. Aku juga pusing memikirkan ini.”
“
Aku juga pusing mas. Ingat waktu kita tinggal 3 hari lagi. Kalau nggak
ada kepastian ke Pak Wardio, lowongan itu akan diberikan ke orang lain.
Mas ingat? Sudah tiga kali kita membatalkan lowongan kerja, hanya karena
tempatnya di luar propinsi. Padahal kalau bapak mengijinkan, sejak dua
tahun yang lalu mas udah kerja.”
“ Iya, besok aku ngomong.”
Tapi besoknya sungguh membuat aku kecewa. Sejak pagi aku terus menanyakan pada suamiku, apakah dia sudah menyampaikan
pembicaraan kami semalam. Ternyata belum. Jadi sejak tadi mereka
bersama di bengkel, tidak membicarakan keputusan kami yang ingin
merantau.
“ Kok belum ngomong, mas?” bisikku saat suamiku masuk ke dapur untuk minum.
“ Ya, ntar. Sabar dong sayang.”
Kutunggu
hingga siang, sore dan sekarang saat kami sudah ada di dalam kamar.
Suami ku ternyata belum mengatakan sesuatu ke bapak mertuaku.
“ Kok belum ngomong, mas? Jadi kapan mau bicara sama bapak?”
“ Sabar dong! Kamu gimana sih? Coba gimana perasaan kamu jika punya anak? Apa kamu mau melepaskan dia pergi merantau?”
“
Kok ngomongnya seperti itu? Namanya sudah menikah, toh kita wajib
mencari nafkah sendiri. Orang tua, suatu saat pasti harus melepas
anaknya menempuh hidup sendiri jika sudah menikah. Nggak mungkin terus-terusan ada dalam pelukan orang tua.”
“ Iya, besok aku bicara.”
“ Janji ya, mas.”
Ternyata
harapanku tinggal harapan. Bapak mertua tetap tidak mengijinkan kami
untuk pergi. Aku tidak tahu apakah cara menyampaikan yang salah atau
memang bapak mertuaku yang berat melepaskan kami pergi.
“ Aku nggak peduli lagi. Mas tinggal memilih, pilih aku atau bapak.”
Akhirnya terucap juga kata-kata yang terpendam dalam hatiku. Seperti biasa kami berdebat di dalam kamar.
“ Kok ngomongnya begitu? Aku nggak bisa milih di antara kalian. Kalian berdua itu sama-sama penting.”
“
Kalau gitu, besok aku akan beli tiket. Aku akan jual kalung pemberian
ibu. Kalau mas nggak mau pergi, biar aku yang pergi. Aku yang akan
menempati posisi pekerjaan itu. Pak Wardio toh tidak mengatakan itu
khusus untuk laki-laki atau perempuan.”
“ Pikiran kamu kok jadi ngelantur begitu? sampai tega mau meninggalkan aku?”
“
Habis gimana lagi? Mas nggak bisa mengambil keputusan. Aku nggak tahan
hidup seperti ini terus. Kita harus berusaha mencari penghasilan agar
bisa membiayai hidup kita. Gimana mau punya anak kalo kita sendiri masih
numpang makan sama bapak. Apa mas nggak mau punya anak? Sampai kapan
kita menunda punya anak? Kalau mas ada penghasilan, kita bisa membiayai
hidup kita dan anak kita. Tapi kalau seperti sekarang, bagaimana bisa?”
Suamiku
tidak berkomentar lagi. Aku tahu dia juga pusing mencari jalan keluar
dari masalah kami. Saat kami menikah dulu, aku begitu yakin karena mas
Mardin menjanjikan setelah kami menikah, kami akan merantau. Namun
setelah beberapa bulan, kami tak juga pergi merantau mencari pekerjaan.
Bapak mertua melarang kami. Dan hingga sekarang tetap saja alasan yang
dikemukakan seperti itu. Apa kami terus menumpang sampai tua?
Hari
ini aku keluar rumah dengan tekad bulat. Aku harus pergi membeli tiket.
Kalau mas Mardin tidak bersedia, aku yang akan pergi. Aku tidak ingin
ada penyesalan seperti sebelumnya. Beberapa tawaran menarik lepas dari
kami karena alasan bapak. Sekarang aku tidak ingin mengulang kejadian
yang lalu. Kami harus tegas dengan keputusan kami.
Setelah menjual kalung pemberian ibu, aku menuju travel yang aku tahu menjual tiket dengan harga murah.
Walau masih bimbang karena kalau suamiku menolak, maka aku yang akan
pergi sendiri. Tapi kalau tidak nekad, sampai kapan kami bisa melepaskan
diri untuk berusaha menghidupi diri kami.
“ Mbak gimana? Jadi beli tiketnya?” suara mbak itu membuyarkan lamunanku. Aku baru hendak menjawab ketika hapeku berdering.
“ Kamu di mana?” suara suamiku terdengar di ujung telpon.
“ Di travel, mau beli tiket untuk kita.” Kataku walau dalam hati masih cemas.
“ Ya, udah kamu beli saja. Bapak udah mengijinkan kita pergi.”
Aku bahagia mendengar ucapan suamiku. Dengan mantap aku menatap mbak yang cantik itu.
“ Pesan dua tiket ya mbak.” ***
0 komentar:
Posting Komentar