Aku
sering bersamanya, berada dekat dengannya. Belum terhitung tahun, hanya
bulan. Karena dia adalah karyawan baru di kantor kami. Kedekatan kami
hanya sebatas kerja, tidak lebih. Bercanda juga hanya disela-sela jam
istrahat. Tak ada waktu khusus yang bisa kami nikmati berdua.
Aku
yang semula tak tertarik padanya, jadi mulai sering memperhatikan.
Mungkin karena kekaguman akan sikap dan penampilannya yang sederhana
namun bersahaja. Awal yang biasa untuk bisa dikatakan jatuh cinta. Namun
semakin lama kekagumanku padanya semakin besar.
Aku
mulai merasa kehilangan jika dia tidak ada. Merindukannya jika dia
keluar daerah. Namun jika dia berada didekatku, aku hanya bisa terpaku.
Bercanda tak lagi seperti dulu. Seperti ada sesuatu di kerongkonganku
yang membuat kata-kataku tak bisa meluncur dengan lancar seperti biasa
jika aku bercanda.
Bingung
dengan rasa yang aku miliki saat ini membuatku menjaga jarak dengannya.
Selain takut terlibat lebih jauh, aku juga sudah memiliki kekasih.
Seorang gadis yang jelita, yang modern dan selalu mengikuti perkembangan
mode. Aku mungkin masih memiliki cinta untuknya hingga aku masih ingin
bersamanya. Namun kebersamaanku dengan gadis sederhana itu telah
menguras seluruh pikiranku. Menyedot perhatianku hingga aku tidak lagi
konsentrasi dalam bekerja.
Keinginan
yang terus mengejar dalam batinku tidak sejalan dengan kondisi yang aku
jalani. Teman sekantorku, Lutfi lebih banyak bersamanya. Selain karena
mereka dulu teman sma, Lutfi juga belum mempunyai kekasih. Aku makin
gamang. Apakah lebih baik aku melupakan perasaanku dan membiarkan Lutfi
menjadi pangeran dalam hati gadis polos itu?
Hari-hari
berlalu. Setiap hari perasaanku makin dekat dengannya. Setiap bagian
dirinya sangat mempesona. Bahkan diamnya sangat menarik buatku. Saat dia
merentangkan tangannya untuk melepaskan penat setelah bekerja, adalah
pemandangan yang selalu aku nantikan.
Matanya
akan menutup lalu dia akan menarik nafas kemudian tersenyum. Indah
sekali. Tapi akhir-akhir ini dia mulai jarang melakukannya. Mungkin
karena beberapa kali pandangan mata kami bertemu saat dia selesai
merentangkan kedua tangannya.
Kuperhatikan dia lebih memilih keluar ruangan lalu melakukannya di tangga.
“ Ehm, Raini. Capek ya?” sapaku. Tak sadar aku mengikutinya keluar ruangan. Berdiri dengannya di dekat tangga membuatnya kikuk.
“ Eh, mas Rizal. Istrahat bentar, leher rasanya pegel-pegel.” Dia menggerakkan lehernya.
“ Ntar malam, malam minggu loh. Udah janjian dengan Lutfi?” Dia menoleh sambil tersenyum.
“
Janjian dengan mas Lutfi? Untuk apa mas? Dia kan udah punya pacar, aku
bisa di damprat sama pacarnya kalau macam-macam..he..he..he.. “ ada
kelegaan dalam batinku. Jadi Lutfi bukan sainganku lagi. Asa dihatiku
makin membara. Lupa dengan statusku yang resmi sebagai kekasih Najwa.
“ Oh, jadi masih terbuka peluang nih untuk datang ke rumah kamu?” aku mulai berani untuk bertanya.
“ Oh, silahkan mas. Datang berkunjung tidak dilarang kok. Hanya jangan malam minggu atau minggu pagi. Minggu sore baru boleh.”
“ Kok seperti itu, apa ada acara khusus?”
“
Iya, sih. Malam minggu dan minggu pagi, waktu khusus berdua dengan
suamiku. Sorenya baru bisa terima tamu.” Ucapnya dengan senyum yang
sangat manis.
Tapi
senyum itu tak lagi manis dalam pandanganku. Ucapannya membuatku
termangu. Bodohnya aku, mengapa aku masih menganggap gadis seperti dia,
masih belum menikah? Seharusnya aku bertanya tentang statusnya.
Menganggap dia belum punya pendamping, terlalu merendahkannya. Aku saja
tertarik dengannya, bagaimana dengan orang lain?
Seharian
aku menertawai diriku. Kutanya teman-teman wanita, mereka juga belum
tahu kalau gadis idamanku itu telah menikah. Hanya Silvana, bagian
administrasi yang tahu persis keadaannya. Dia yang terkenal tidak suka
mencampuri urusan orang, tentu saja tidak akan sengaja menceritakan
keadaaan gadis itu pada teman-teman kantor.
“
Dia memang udah lama menikah kok? Sejak tamat sma. Hanya sampai
sekarang mereka belum punya anak. Kok kamu tiba-tiba nanya tentang dia?
Naksir ya, jangan macam-macam kamu udah ada Najwa loh!”
“ Siapa yang tertarik? Aku Cuma penasaran, ternyata benar dia udah nikah. Itu saja.”
Kutinggalkan Silvana yang mulai curiga padaku. Gawat kalau dia mulai curiga, bisa terjadi perang dunia antara aku dengan Najwa.
Hari-hari
selanjutnya tak lagi membuatku bergairah. Semua tentang gadis itu
membuat semangat kerjaku hilang. Mengapa aku bertemu dengannya saat dia
telah menikah? Apakah ini cobaan agar aku bisa lebih setia menjadi
kekasih dari Najwa? Tidak mudah tertarik pada wanita?
Entahlah. Yang kurasakan malah sebaliknya, rasa itu kian besar. Semoga waktu bisa membuatku lupa pada gadis sederhana itu.
****
0 komentar:
Posting Komentar