Rabu, 11 April 2012

Hanya Sebatas Anganku

0

 

Aku sering bersamanya, berada dekat dengannya. Belum terhitung tahun, hanya bulan. Karena dia adalah karyawan baru di kantor kami. Kedekatan kami hanya sebatas kerja, tidak lebih. Bercanda juga hanya disela-sela jam istrahat. Tak ada waktu khusus yang bisa kami nikmati berdua.

Aku yang semula tak tertarik padanya, jadi mulai sering memperhatikan. Mungkin karena kekaguman akan sikap dan penampilannya yang sederhana namun bersahaja. Awal yang biasa untuk bisa dikatakan jatuh cinta. Namun semakin lama kekagumanku padanya semakin besar.

Aku mulai merasa kehilangan jika dia tidak ada. Merindukannya jika dia keluar daerah. Namun jika dia berada didekatku, aku hanya bisa terpaku. Bercanda tak lagi seperti dulu. Seperti ada sesuatu di kerongkonganku yang membuat kata-kataku tak bisa meluncur dengan lancar seperti biasa jika aku bercanda.


Bingung dengan rasa yang aku miliki saat ini membuatku menjaga jarak dengannya. Selain takut terlibat lebih jauh, aku juga sudah memiliki kekasih. Seorang gadis yang jelita, yang modern dan selalu mengikuti perkembangan mode. Aku mungkin masih memiliki cinta untuknya hingga aku masih ingin bersamanya. Namun kebersamaanku dengan gadis sederhana itu telah menguras seluruh pikiranku. Menyedot perhatianku hingga aku tidak lagi konsentrasi dalam bekerja.

Keinginan yang terus mengejar dalam batinku tidak sejalan dengan kondisi yang aku jalani. Teman sekantorku, Lutfi lebih banyak bersamanya. Selain karena mereka dulu teman sma, Lutfi juga belum mempunyai kekasih. Aku makin gamang. Apakah lebih baik aku melupakan perasaanku dan membiarkan Lutfi menjadi pangeran dalam hati gadis polos itu?

Hari-hari berlalu. Setiap hari perasaanku makin dekat dengannya. Setiap bagian dirinya sangat mempesona. Bahkan diamnya sangat menarik buatku. Saat dia merentangkan tangannya untuk melepaskan penat setelah bekerja, adalah pemandangan yang selalu aku nantikan.

Matanya akan menutup lalu dia akan menarik nafas kemudian tersenyum. Indah sekali. Tapi akhir-akhir ini dia mulai jarang melakukannya. Mungkin karena beberapa kali pandangan mata kami bertemu saat dia selesai merentangkan kedua tangannya.

Kuperhatikan dia lebih memilih keluar ruangan lalu melakukannya di tangga.

“ Ehm, Raini. Capek ya?” sapaku. Tak sadar aku mengikutinya keluar ruangan. Berdiri dengannya di dekat tangga membuatnya kikuk.

“ Eh, mas Rizal. Istrahat bentar, leher rasanya pegel-pegel.” Dia menggerakkan lehernya.

“ Ntar malam, malam minggu loh. Udah janjian dengan Lutfi?” Dia menoleh sambil tersenyum.

“ Janjian dengan mas Lutfi? Untuk apa mas? Dia kan udah punya pacar, aku bisa di damprat sama pacarnya kalau macam-macam..he..he..he.. “ ada kelegaan dalam batinku. Jadi Lutfi bukan sainganku lagi. Asa dihatiku makin membara. Lupa dengan statusku yang resmi sebagai kekasih Najwa.

“ Oh, jadi masih terbuka peluang nih untuk datang ke rumah kamu?” aku mulai berani untuk bertanya.

“ Oh, silahkan mas. Datang berkunjung tidak dilarang kok. Hanya jangan malam minggu atau minggu pagi. Minggu sore baru boleh.”

“ Kok seperti itu, apa ada acara khusus?”

“ Iya, sih. Malam minggu dan minggu pagi, waktu khusus berdua dengan suamiku. Sorenya baru bisa terima tamu.” Ucapnya dengan senyum yang sangat manis.

Tapi senyum itu tak lagi manis dalam pandanganku. Ucapannya membuatku termangu. Bodohnya aku, mengapa aku masih menganggap gadis seperti dia, masih belum menikah? Seharusnya aku bertanya tentang statusnya. Menganggap dia belum punya pendamping, terlalu merendahkannya. Aku saja tertarik dengannya, bagaimana dengan orang lain?

Seharian aku menertawai diriku. Kutanya teman-teman wanita, mereka juga belum tahu kalau gadis idamanku itu telah menikah. Hanya Silvana, bagian administrasi yang tahu persis keadaannya. Dia yang terkenal tidak suka mencampuri urusan orang, tentu saja tidak akan sengaja menceritakan keadaaan gadis itu pada teman-teman kantor.

“ Dia memang udah lama menikah kok? Sejak tamat sma. Hanya sampai sekarang mereka belum punya anak. Kok kamu tiba-tiba nanya tentang dia? Naksir ya, jangan macam-macam kamu udah ada Najwa loh!”

“ Siapa yang tertarik? Aku Cuma penasaran, ternyata benar dia udah nikah. Itu saja.”

Kutinggalkan Silvana yang mulai curiga padaku. Gawat kalau dia mulai curiga, bisa terjadi perang dunia antara aku dengan Najwa.

Hari-hari selanjutnya tak lagi membuatku bergairah. Semua tentang gadis itu membuat semangat kerjaku hilang. Mengapa aku bertemu dengannya saat dia telah menikah? Apakah ini cobaan agar aku bisa lebih setia menjadi kekasih dari Najwa? Tidak mudah tertarik pada wanita?

Entahlah. Yang kurasakan malah sebaliknya, rasa itu kian besar. Semoga waktu bisa membuatku lupa pada gadis sederhana itu.

****

0 komentar:

Posting Komentar