Minggu, 15 April 2012

Perbincangan Dengan Mas Petani ( DR 4)

0

gambar www.google.com

Asih berdiri menanti lelaki itu mendekat. Dari jauh senyumnya terlihat menyapa. Senyum itu makin merekah saat kami berhadapan.

” Kenalkan namaku Arif, Uleng dan orang-orang di desa ini biasa memanggil dengan sebutan paman petani” ucap lelaki itu sambil menunduk sedikit seolah memberi kesan penghormatan kepada seseorang yang baru saja dikenalnya.Asih teringat dengan penampilan orang-orang yang keimanannya kuat. Mereka tidak akan bersalaman dengan wanita yang bukan muhrim. Apakah lelaki yang bernama Arif alias paman petani itu seperti mereka?pikir Asih.

” Saya, Asih. Baru datang di desa ini. Jadi belum tahu banyak. Kata Uleng, mas bisa mengantar saya ke sungai”


” Oh, iya. Tapi jangan panggil aku dengan sebutan mas Arif. Mas petani lebih akrab. Aku juga sudah terbiasa mendengar panggilan itu.” Asih tersenyum sambil mengangguk.

Mas petani kemudian melangkah. Asih mengikutinya. Mereka berjalan melalui jalan desa. Lumayan jauh sebelum akhirnya mas petani berbelok masuk ke perkebunan jagung. Kebun jagung yang indah dipandang. Setiap pohon memiliki buah yang besar-besar. Mungkin sebentar lagi akan siap di panen. Mereka terus menyusuri kebun jagung. Baju mereka sedikit basah karena bersentuhan dengan dengan tanaman jagung.

” Desa Rangkat ini sangat subur ya, mas?” mas petani mengangguk

” Ini satu kelebihan yang harus kami syukuri. Tanam apapun di tanah Desa Rangkat, pasti akan tumbuh subur. Buah-buahan yang dihasilkan juga kualitasnya bagus, tidak kalah dengan daerah lain.”

Asih makin tertarik mendengar cerita dari mas petani.

” Saya lihat, kebun jagung sangat luas. Apa hasil panen di jual langsung ke pasar? Atau ada orang yang datang kemari untuk membeli?”

” Biasanya, ada yang datang untuk membeli. Kadang warga juga membawanya ke pasar, menjual langsung.”

” Dari segi harga, bagaimana mas? Apa para petani sudah bisa menikmati keuntungan dari menjual hasil pertanian mereka utamanya jagung?”

Mas petani kelihatan merenung.

” Kalo itu tergantung permintaan pasar, mbak Asih. Kadang-kadang kalau produksi jagung membanjiri pasar, ya..harganya turun. Soal keuntungan itu tergantung dari petaninya. Tidak bisa mengambil kesimpulan, mereka untung atau tidak.”

” Tidak mencoba dengan model lain, mas? Maksud saya, jagung-jagung ini di jual dalam bentuk kering.”

” Kering? Maksud mbak Asih?”

” Begini mas, karena kebun jagung di Desa Rangkat sangat luas. Bagaimana kalau jagung itu di jual dengan bentuk lain. Ini juga untuk meningkatkan harga jual jagung itu. Sekarang banyak makanan yang berbahan dasar jagung. Bahkan saya pernah ke suatu daerah, jagung-jagung di sana di ekspor ke Jepang. Ada perusahaan yang khusus membeli jagung-jagung mereka, kemudian di proses lalu di ekspor ke Jepang.”

Mereka keluar dari kebun jagung kemudian menyusuri saluran irigasi kecil yang mengairi sawah-sawah.

” Seperti itu, ya?”

” Iya, mas. Oh,ya disini ada kelompok tani ya?”

” Kelompok tani? itu apa ya mbak?”

” Itu mas, wadah yang menjadi tempat berkumpulnya para petani. Kelompok tani ini biasa di singkat Koptan. Wadah ini sangat berguna mas, selain bisa menjadi sumber informasi bagi petani di Desa Rangkat. Kelompok tani ini juga bisa membantu warga dalam hal mendapatkan bantuan kredit. Tempat berdiskusi terhadap masalah-masalah yang dihadapi petani. Pokoknya manfaat kelompok tani sangat banyak, mas”

” Oh,ya. Kedengarannya bagus.”

” Dengan adanya kelompok tani, para petani akan terorganisir. Ada struktur organisasi yang dibuat. Ada pembagian kelompok juga. Oh, ya disini pembagian desa bagaimana mas?”

” Desa dibagi berdasarkan dusun, mbak Asih” jawab mas petani sambil menarik tananam merambat yang menghalangi jalan.

” Kalau begitu kelompok tani dibagi berdasarkan dusun. Masing-masing dusun ada ketua kelompok. Jadi kalau ada permasalahan di kalangan petani, bisa segera di ketahui dan dicarikan jalan keluarnya.”

” Sepertinya Desa Rangkat membutuhkan wadah seperti itu, mbak. Koperasi juga belum ada di sini. Padahal tidak semua warga mempunyai tingkat ekonomi yang sama. Ada petani yang mampu membiayai dirinya tapi ada juga yang tidak. Saran mbak Asih, nanti aku sampaikan ke teman-teman yang lain. Semoga mereka tertarik.”

Karena asyik berbincang tak terasamereka telah sampai di sungai. Asih berlari kepinggir sungai. Dia merasa senang bisa melihat sungai yang jernih bening. Sekian lama di kota membuatnya rindu dengan sungai. Dia kemudian berjalan perlahan melewati batu-batu kerikil. Sendal sengaja dia tinggalkan di pinggir sungai. Asih menarik nafas pelan-pelan, ingin merasakan udara sungai yang segar. Jarang-jarang dia bisa menikmati suasana yang begitu alami. Batu-batu besar yang ada di sungai makin menambah daya tarik di sungai ini. Asih berbalik mencari mas petani. Aneh, kemana mas petani? Bukankah tadi dia ada, kenapa sekarang menghilang? tanya Asih dalam hati.

Karena Asih begitu terpesona dengan sungai, dia tidak mencari tahu kemana mas petani pergi. Kaki-kakinya perlahan memasuki sungai. Rasa dingin langsung menjalar ke seluruh tubuhnya. Asih menunduk. Menenggelamkan tubuhnya dalam air. Segarnya. Seperti anak kecil, dia memukul-mukul air hingga membuat cipratannya terkena ke wajahnya. Asih tertawa senang. Badannya sudah basah.Tidak apa-apa sekalian mandi pagi .pikirnya…he..he.. ***

Bersambung…

0 komentar:

Posting Komentar