Alarm
berbunyi. Asih mematikannya dengan cepat. Masih pagi. Hari minggu. Tak
ada salahnya dia bermalas-malasan. Tidur lagi, ah. Asih memeluk bantal
guling yang terasa lembut.Aromanya harum. Tapi,eit. Tangan siapa yang
berani mengambil bantal guling yang sudah dia peluk? Asih memeluk dengan
kuat tapi tetap saja bantal guling itu hampir terlepas. Siapa sih yang
berani masuk dalam kamar dan mengganggu kenyamanan tidurnya? Tadi alarm,
sekarang ada lagi yang usil mau merebut bantal guling yang dia peluk.
Pasti ini ulah si Mika, sang keponakan cantik. Dia selalu datang setiap
hari minggu. Dasar kurang kerjaan, apa dia tidak tahu semalam saya
begadang membuat kue? pikir Asih.
Refleks
Asih menendang. Terasa menyentuh tubuh seseorang. Tak lama terdengar
suara buk. Asih senang. Akhirnya dia bebas memeluk bantal nan lembut
ini. Tapi kenapa tidak ada suara? Kalau si Mika pasti dia sudah berkicau
melebihi burung-burung tetangga. Karena penasaran, Asih menggeser
kepala agak kepinggir lalu membuka mata sedikit. Kantuk langsung hilang
saat dia melihat seorang wanita tengah tidur di lantai. Siapa dia?
Kenapa ada wanita yang berani masuk ke dalam kamar dan tidur tanpa dia
ketahui? Mama kemana sih? kenapa membiarkan orang lain tidur di
kamarnya?
Belum
hilang rasa terkejutnya, Asih melihat lagi seorang wanita tidur
dilantai. Masih dekat tempat tidur juga. Siapa dia? Kenapa mereka bisa
ada dalam kamar? Dan kenapa mereka bisa tidur dilantai?Asih makin
bingung.
Saat wanita yang satunya berbalik, terlihat jelas wajahnya. Astaga, itukan Uleng?.
Asih mengerjapkan mata. Mencoba menggali kesadaran yang hilang lenyap
karena rasa kantuk. Dia mengurai ingatan satu persatu. Kemarin dia naik
bus ke terminal, trus dijemput Uleng, mereka naik motor sampai
dirumahnya di Desa Rangkat. Desa Rangkat???? ini rumah Uleng berarti ini Desa Rangkat!
Asih
segera bangun dan duduk. Masih diatas tempat tidur. Dia memperhatikan
Uleng dan wanita yang satunya lagi. Kenapa mereka bisa ada dilantai?
Semalam kalau tidak salah, dia tidur di sebelah dalam sementara Uleng di
sisi luar. Apa Uleng semalam terjatuh? Atau jangan-jangan…
Asih
lompat dari pembaringan dan keluar kamar. Celingak-celinguk diamenuju
dapur. Rupanya benar ini rumah Uleng. Ini ruang tamu yang kemarin dia
lihat. Asih menuju dapur. Letak kamar mandi ada di dekat dapur. Begitu
tangan menyentuh air, rasa kantuk benar-benar hilang. Air ini sangat
dingin dan segar. Beda dengan air yang ada dikota. Asih membasuh wajah
sambil terus memikirkan Uleng. Kalau wanita yang satunya ada dilantai,
dia tahu, pasti dia penyebabnya. Wanita itu terjatuh karena tendangan
jurus kaki melayang yang Asih arahkan tepat ditubuhnya. Tapi Uleng? Apa
karena tendangan dia juga?. Asih coba mengingat mimpi. Semalam dia
memang bermimpi tengah berkelahi dengan seseorang. Apa seseorang yang
dia tendang dalam mimpi itu versi Uleng dalam kenyataan? Ahk, kenapa dia
begitu ceroboh? Harusnya dia tidak boleh menendang. Inikan rumahnya?
Bagaimana kalau Uleng tahu? Seharusnya saat dalam mimpi, dia lari saja.
Toh musuhnya banyak, melawan juga percuma.
Asih
menyiram wajah dengan air. Adzan subuh sudah terdengar. Sebentar lagi,
pasti penghuni rumah akan bangun. Dengan cepat dia berwudhu lalu keluar
dari kamar mandi. Sampai di kamar,tampak Uleng dan wanita itu masih
tertidur dengan lelapnya. Asih kemudian mengambil mukena yang tergantung
dibalik pintu. Dengan khusyuk dia sholat sambil tak lupa berdoa.
Selesai sholat, dia menggantung kembali mukena dibalik pintu. Saat
itulah terdengar suara bergumam. Asih berbalik melihat mereka berdua.
Uleng sudah bangun. Matanya terbuka. Dia menyentuh kaki wanita itu lalu
menggerakkan telunjuknya seperti menulis sesuatu di kaki wanita itu.
Asihberdoa semoga Uleng tidak sadar kalau dirinya semalam jadi korban tendangan salah sasaran. Asih terus memperhatikan Uleng.
“
Uleng.” Asih memanggil dengan suara pelan, takut membangunkan wanita di
dekat Uleng. Uleng mendongak, melihat ke tempat Asih berdiri.
“ Wah, mbak Asih sudah bangun?”
“ Iya, sudah subuh. Uleng tidak sholat subuh?”
“
Hampir lupa! Hampir saja” Uleng bergerak bangun. Merapikan rambutnya
lalu meraih jilbab yang ada diatas tempat tidur. Sewaktu mengambil
jilbabnya, terlihat Uleng terdiam. Dia seperti memikirkan sesuatu. Asih
sudah tidak bernafas karena tegang. Apakah Uleng ingat kejadian semalam?
Mudah-mudahan saja tidak.
“
Selesai sholat,kita jalan-jalan ya,mbak Asih. Udara pagi di Rangkat
sangat menyegarkan” Asih mengangguk. Uleng kemudian keluar lalu menutup
pintu.
Asih menghembuskan nafas yang tadi tertahan. Rasanya lega.
***
“
Gimana, mbak Asih? Suasananya beda kan?” tanya Uleng. Mereka belum jauh
melangkah meninggalkan rumahnya. Asih mengangguk sambil tersenyum. Dia
tiba-tiba teringat wanita yang tidur bersama mereka di kamar.
“ Oh,ya Leng. Perempuan yang ada dikamarmu itu siapa?”
“ Itu tante Deasy. Adik angkatnya mami” jawab Uleng sambil menggerakkan tangannya seperti gerakan senam.
“ Mbak Asih, tadi malam kita kan sama-sama tidur ditempat tidur. Kog, tadi Uleng bisa ada di lantai ya?”
Tenggorokan Asih seperti tersumbat biji durian. Dia menatap Uleng sekilas lalu pura-pura takjub dengan pemandangan sekitar.
“ Ternyata pemandangan di sini indah, ya” Asih mengalihkan pembicaraan mereka.
“ Iya.Desa Rangkat memang seperti itu..”
Mereka
terus berjalan menyusuri jalan desa sambil asyik berbincang. Syukurlah
Uleng tidak mengungkit lagi masalah perpindahannya saat tidur dari
tempat tidur ke lantai. Semoga dia melupakannya.Tapi bagaimana dengan
tantenya? Mbak Deasy. Mudah-mudahan dia juga tidak ingat.pinta Asih dalam hati*****
Bersambung…
0 komentar:
Posting Komentar