Minggu, 15 April 2012

Panggilan Sungai ( DR 3 )

0



gambar www.google.com

Jalan-jalan pagi yang menyegarkan. Menikmati pagi pertama di Desa Rangkat. Asih dan Uleng terus berjalan menyusuri jalan-jalan desa. Embun terlihat menambah keindahan pagi yang masih terasa dingin. Asih menyesal tadi tidak memakai sweater sementara Uleng melipat kedua tangannya untuk menghalau hawa dingin.

” Apa Desa Rangkat memang sedingin ini kalau pagi, Leng?” Uleng menggangguk. Terlihat bibirnya gemetar. Tangannya juga bergerak-gerak karena dingin yang menusuk.

” Brrr..dingin mbak Asih. Uleng lupa pake jaket”

” Kalau dingin begini, lebih enak berenang di sungai. Di sini ada sungai ya uleng?” Uleng tertawa.

” Mbak Asih bisa saja. Mandi disungai jam begini?”

” Iya. Sungainya di mana? Jauh dari sini?” Uleng masih tersenyum tidak percaya.

” Dekat. Ayo, Uleng antar kalo mbak Asih benar ingin mandi di sungai”


Mereka kemudian berbelok masuk ke kebun di samping jalan. Kata Uleng itu jalan pintas agar lebih cepat sampai di sungai. Kaki mereka yang memakai sendal jepit jadi basah terkena embun dari rumput-rumput dan tanaman yang mereka lewati. Pohon-pohon pisang memamerkan buahnya. Asih yang suka pisang jadi terpesona melihat buahnya yang berwarna kuning.

” Kasihan pisang itu, ya Leng. Kenapa belum di ambil pemiliknya?”

” Kebun terlalu luas, mbak Asih. Pemiliknya mungkin belum sempat melihat pohon pisangnya”

” Sayang sekali”

” Mbak Asih suka makan pisang?”

” Iya..he..he… kurang ekor nih..saking sukanya sama pisang..he..he…”

” Di sana juga banyak pohon pepaya” Asih mengikuti arah yang Uleng tunjukkan. Pemandangan yang indah. Pepaya yang sudah kuning seperti hiasan emas yang bergantungan. Sayang sekali buah-buah itu belum diambil yang punya.

Tiba-tiba Uleng menghentikan langkahnya. Asih juga ikut berhenti.

” Kenapa, Leng?” tanya Asih heran. Wajah Uleng terlihat agak pucat. Dia ketakutan. Tangannya menunjuk sesuatu di depan.

” Jangan bergerak, mbak Asih” katanya masih dengan posisi diam bagai patung.

” Kenapa?”

” Ada ular!”

” Apa? Ular? Mana???” Asih sudah bersiap-siap lari kalau ular itu mendekati mereka.

Uleng tidak menjawab.

” Lari!!!!! ayo pulang, mbak Asih.!” Uleng berbalik lalu berlari kearah mereka datang tadi.Asih yang belum sempat melihat ular itu langsung melepas sendal dan berlari menyusul Uleng. Mereka berdua berlari tanpa melihat lagi jalan yang mereka lewati. Tapi saat berlari Asih masih memperhatikan Uleng. Melihat sikap dan tuturnya yang lembut, Asih tidak menyangka Uleng lari begitu kencang. Susah payah dia berusaha menyusulnya.

” Uleng!!!!!!!!!!!!! tunggu saya!!!!” Teriak Asih. Uleng tidak berhenti. Dia terus berlari. Dia berhenti tepat di dipinggir jalan tempat mereka berbelok pertama kali.

Begitu tiba didekatnya, Asih memegang perut. Nafas tersengal-sengal sehabis lari.

” Dimana ularnya?” Asih bertanya dengan nafas ngos-ngosan. Uleng tidak segera menjawab. Dinginnya hawa makin membuat wajahnya terlihat pucat.

” Ularnya besar atau kecil?” Tanya Asih lagi. Uleng kemudian merentangkan tangannya.

” Segitu panjangnya???” Asih kaget melihat Uleng merentangkan tangan begitu lebar. Uleng menggeleng.

” Jarak kita dengan ular itu, segini” katanya setelah mengatur nafas.

” Oh, saya kira ular itu panjangnya segitu. Kaget saya. Besarnya gimana? Seperti ban motor?” Uleng menggeleng lagi. Tangannya merogoh kantong celananya lalu mengelurkan hape. Tali hape yang kecil tipis itu kemudian dia pegang.

” Ularnya gimana,Leng?”

” Segini” katanya mengukur tali hapenya yang mungkin sekitar lima belas centimeter.

” Hah? Segitu? kenapa lari? Ularnya juga takut sama kita”

” Mbak Asih belum pernah digigit sih. Kalau sudah pernah, pasti akan lari terbirit-birit juga kayak Uleng” Uleng memasukkan hape nya lagi ke kantong celana.

” Jadi Uleng sudah pernah digigit?” Uleng mengangguk sambil berjalan. Asih mengikuti langkahnya. Merekaberiringan pulang. Semburat keemasan sudah mulai terlihat dari balik bukit.

” Uleng harus mengajar ya? Andai saya tahu jalan menuju sungai, saya bisa pergi sendiri”

” Mbak Asih benar-benar mau pergi ke sungai?” tanya Uleng yang menatap Asih dengan wajah serius. Asih mengangguk cepat.

” Tuh, dia orangnya yang selalu bermain dekat sungai. Mbak Asih bisa pergi sama dia. Orangnya baik. Mbak Asih tidak usah khawatir apalagi takut” kata Uleng. Matanya memandang seseorang dari kejauhan. Asih ikut melihat lelaki itu. Siapa dia? pikir Asih. Mudah-mudahan lelaki  mau bersama-sama ke sungai. Asih sangat ingin mandi disungai saat ini.

Hape Uleng berdering. Sekali angkat, suara Uleng yang merdu langsung terdengar.

” Iya, pi. Uleng pulang sekarang” Uleng menaruh hapenya.

” Mbak Asih, maaf ya. Uleng tidak bisa menemani mbak Asih. Papi panggil Uleng pulang. Uleng pulang dulu, ya. Oh, ya dia bisa menemani mbak Asih. Mbak Asih disini saja. Nanti Uleng yang bicara dengannya”

Setelah berbicara Uleng melangkah meninggalkan Asih Langkahnya sangat terburu-buru. Saat Uleng berpapasan dengan lelaki itu, mereka terlihat serius berbicara. Sesekali dia menatap Asih sambil berbincang dengan Uleng. Terlihat lelaki itu mangangguk-angguk. Suara air yang mengalir dari sungai terasa dekat di telinga. Panggilan sungai. Rasanya Asih ingin segera tiba di sana.***

Bersambung…

0 komentar:

Posting Komentar