Jalan-jalan pagi yang menyegarkan. Menikmati pagi pertama di Desa Rangkat. Asih dan Uleng terus
berjalan menyusuri jalan-jalan desa. Embun terlihat menambah keindahan
pagi yang masih terasa dingin. Asih menyesal tadi tidak memakai sweater
sementara Uleng melipat kedua tangannya untuk menghalau hawa dingin.
”
Apa Desa Rangkat memang sedingin ini kalau pagi, Leng?” Uleng
menggangguk. Terlihat bibirnya gemetar. Tangannya juga bergerak-gerak
karena dingin yang menusuk.
” Brrr..dingin mbak Asih. Uleng lupa pake jaket”
” Kalau dingin begini, lebih enak berenang di sungai. Di sini ada sungai ya uleng?” Uleng tertawa.
” Mbak Asih bisa saja. Mandi disungai jam begini?”
” Iya. Sungainya di mana? Jauh dari sini?” Uleng masih tersenyum tidak percaya.
” Dekat. Ayo, Uleng antar kalo mbak Asih benar ingin mandi di sungai”
Mereka
kemudian berbelok masuk ke kebun di samping jalan. Kata Uleng itu jalan
pintas agar lebih cepat sampai di sungai. Kaki mereka yang memakai
sendal jepit jadi basah terkena embun dari rumput-rumput dan tanaman
yang mereka lewati. Pohon-pohon pisang memamerkan buahnya. Asih yang
suka pisang jadi terpesona melihat buahnya yang berwarna kuning.
” Kasihan pisang itu, ya Leng. Kenapa belum di ambil pemiliknya?”
” Kebun terlalu luas, mbak Asih. Pemiliknya mungkin belum sempat melihat pohon pisangnya”
” Sayang sekali”
” Mbak Asih suka makan pisang?”
” Iya..he..he… kurang ekor nih..saking sukanya sama pisang..he..he…”
”
Di sana juga banyak pohon pepaya” Asih mengikuti arah yang Uleng
tunjukkan. Pemandangan yang indah. Pepaya yang sudah kuning seperti
hiasan emas yang bergantungan. Sayang sekali buah-buah itu belum diambil
yang punya.
Tiba-tiba Uleng menghentikan langkahnya. Asih juga ikut berhenti.
” Kenapa, Leng?” tanya Asih heran. Wajah Uleng terlihat agak pucat. Dia ketakutan. Tangannya menunjuk sesuatu di depan.
” Jangan bergerak, mbak Asih” katanya masih dengan posisi diam bagai patung.
” Kenapa?”
” Ada ular!”
” Apa? Ular? Mana???” Asih sudah bersiap-siap lari kalau ular itu mendekati mereka.
Uleng tidak menjawab.
”
Lari!!!!! ayo pulang, mbak Asih.!” Uleng berbalik lalu berlari kearah
mereka datang tadi.Asih yang belum sempat melihat ular itu langsung
melepas sendal dan berlari menyusul Uleng. Mereka berdua berlari tanpa
melihat lagi jalan yang mereka lewati. Tapi saat berlari Asih masih
memperhatikan Uleng. Melihat sikap dan tuturnya yang lembut, Asih tidak
menyangka Uleng lari begitu kencang. Susah payah dia berusaha
menyusulnya.
”
Uleng!!!!!!!!!!!!! tunggu saya!!!!” Teriak Asih. Uleng tidak berhenti.
Dia terus berlari. Dia berhenti tepat di dipinggir jalan tempat mereka
berbelok pertama kali.
Begitu tiba didekatnya, Asih memegang perut. Nafas tersengal-sengal sehabis lari.
”
Dimana ularnya?” Asih bertanya dengan nafas ngos-ngosan. Uleng tidak
segera menjawab. Dinginnya hawa makin membuat wajahnya terlihat pucat.
” Ularnya besar atau kecil?” Tanya Asih lagi. Uleng kemudian merentangkan tangannya.
” Segitu panjangnya???” Asih kaget melihat Uleng merentangkan tangan begitu lebar. Uleng menggeleng.
” Jarak kita dengan ular itu, segini” katanya setelah mengatur nafas.
”
Oh, saya kira ular itu panjangnya segitu. Kaget saya. Besarnya gimana?
Seperti ban motor?” Uleng menggeleng lagi. Tangannya merogoh kantong
celananya lalu mengelurkan hape. Tali hape yang kecil tipis itu kemudian
dia pegang.
” Ularnya gimana,Leng?”
” Segini” katanya mengukur tali hapenya yang mungkin sekitar lima belas centimeter.
” Hah? Segitu? kenapa lari? Ularnya juga takut sama kita”
”
Mbak Asih belum pernah digigit sih. Kalau sudah pernah, pasti akan lari
terbirit-birit juga kayak Uleng” Uleng memasukkan hape nya lagi ke
kantong celana.
”
Jadi Uleng sudah pernah digigit?” Uleng mengangguk sambil berjalan.
Asih mengikuti langkahnya. Merekaberiringan pulang. Semburat keemasan
sudah mulai terlihat dari balik bukit.
” Uleng harus mengajar ya? Andai saya tahu jalan menuju sungai, saya bisa pergi sendiri”
” Mbak Asih benar-benar mau pergi ke sungai?” tanya Uleng yang menatap Asih dengan wajah serius. Asih mengangguk cepat.
”
Tuh, dia orangnya yang selalu bermain dekat sungai. Mbak Asih bisa
pergi sama dia. Orangnya baik. Mbak Asih tidak usah khawatir apalagi
takut” kata Uleng. Matanya memandang seseorang dari kejauhan. Asih ikut
melihat lelaki itu. Siapa dia? pikir Asih. Mudah-mudahan lelaki mau
bersama-sama ke sungai. Asih sangat ingin mandi disungai saat ini.
Hape Uleng berdering. Sekali angkat, suara Uleng yang merdu langsung terdengar.
” Iya, pi. Uleng pulang sekarang” Uleng menaruh hapenya.
”
Mbak Asih, maaf ya. Uleng tidak bisa menemani mbak Asih. Papi panggil
Uleng pulang. Uleng pulang dulu, ya. Oh, ya dia bisa menemani mbak Asih.
Mbak Asih disini saja. Nanti Uleng yang bicara dengannya”
Setelah
berbicara Uleng melangkah meninggalkan Asih Langkahnya sangat
terburu-buru. Saat Uleng berpapasan dengan lelaki itu, mereka terlihat
serius berbicara. Sesekali dia menatap Asih sambil berbincang dengan
Uleng. Terlihat lelaki itu mangangguk-angguk. Suara air yang mengalir
dari sungai terasa dekat di telinga. Panggilan sungai. Rasanya Asih
ingin segera tiba di sana.***
Bersambung…
0 komentar:
Posting Komentar