Tak
ada kegembiraan yang tergambar dari wajah Evan pagi ini. Sejak aku
duduk di belakangnya, dia hanya diam dan tak berbicara apapun.
“ Bagaimana Dewi?” tegurku saat motornya melaju pelan.
“
Susah, mbak. Dewi plin plan. Semalam dia marah, katanya kalau saya
masih suka sama dia, seharusnya saya tidak menghabiskan waktu bersama
mbak. Tapi kenyataannya, setiap saat dia melihat kita berdua.”
“ Hubungannya dengan Farid, bagaimana?”
“ Tetap. Dia juga susah melepaskan Farid. Makin lama saya makin bingung dengan sikapnya.”
“
Kamu yang harus tegas. Sebagai pihak yang ditinggalkan, seharusnya kamu
bisa memberi batas waktu bagi Dewi. Kalau sampai batas waktu itu
berakhir, dia belum juga memutuskan akan memilih siapa, kamu harus
berbesar hati untuk pergi dari kehidupannya.”
Evan terdiam.
“
Kamu harus kuat, Van. Dimana harga dirimu? Ditinggalkan tanpa rasa
kasihan, kamu masih saja memberikan perhatian yang lebih padanya. Sampai
kapan kamu seperti ini? Dunia tidak selebar daun kelor. “
“ Apa mbak siap menerima saya, jika saya putuskan meninggalkan Dewi?”
Pertanyaan
Evan membuatku tersentak kaget. Aku tidak menjawab pertanyaannya.
Bagaimana mungkin aku menerima Evan sementara aku sudah bertunangan?
“ Aku..aku..tidak bisa, Van. Aku sudah bertunangan.” Jawabku akhirnya.
“ Nah, bagaimana saya bisa meninggalkan Dewi, sementara mbak tidak bersedia menerima saya?”
“
Tapi..kenapa harus aku, Van? Banyak kok gadis-gadis yang pasti akan
menerima kamu. Kamu kurang apa? Ganteng, kerja mapan. Pasti ada yang
akan menerima kamu.”
“
Saya hanya ingin mbak, tidak mau yang lain. Kalau mbak tidak bersedia,
tolong jangan ungkit lagi masalah Dewi. “ Ucapan Evan yang terdengar
dingin membuatku terdiam. Mungkin benar juga apa yang dikatakannya. Aku
sebaiknya tidak lagi ikut campur dengan masalahnya, tapi bukankah sejak
awal dia yang pertama kali curhat padaku?
Hari-hari
selanjutnya tak lagi sama. Evan seperti sengaja menghindariku. Dia
tidak lagi mendampingiku setiap ke lokasi. Aku mengerti keputusannya
namun tidak demikian dengan Salim. Dia nampak marah dan berniat meminta
penjelasan pada Evan.
“ Ada tugas yang harus dia kerjakan, mas Salim. Jangan khawatir. Aku sudah terbiasa sendiri.”
“ Tugas apa? Tugasnya ya menemani mbak,dia tidak punya tugas lain.”
“
Sudahlah, kalau kalian ribut, aku yang akan disalahkan. Bisakah kita
diamkan saja masalah ini? Aku tidak mau pekerjaan jadi terganggu. Kalau
dia berubah pikiran dan ingin menemaniku lagi, terserah dia saja.”
Kutinggalkan
kamar Salim lalu bergegas mengendarai motor yang selalu di pakai Evan.
Sepertinya mulai sekarang, aku harus kembali membiasakan diri untuk
mengerjakan semuanya sendiri. Kebiasaan yang nyaris aku tinggalkan
karena Evan yang terlalu memberi perhatian padaku.
Aku
akui ada kemarahan dalam hatiku. Marah karena menganggap Evan belum
dewasa. Apa hubungannya aku dengan Dewi? Apa karena tidak ingin
menyakiti perasaan Dewi hingga dia memutuskan tidak lagi menjadi pendampingku? Pikiranku menjadi negatif
karena kesal pada Evan. Semoga aku bisa segera melepaskan diri dari
bayang-bayang Evan yang sudah terlanjur mewarnai hari-hariku.
Ternyata
aku salah. Beberapa hari tak bersama Evan membuatku tersiksa. Bukan
masalah kerja yang membuatku merindukannya. Sikap dan perhatiannya serta
canda tawa yang selalu hadir kala kami bersama, membuatku terus
mengingatnya. Aku tak sanggup lagi untuk melanjutkan kegiatan di lokasi.
Belum
tengah hari, aku sudah balik ke penginapan. Aku tiba-tiba
merindukannya. Saat kulihat dia duduk sendiri, ada rasa bahagia yang
menyelimuti hatiku. Memenuhi seluruh aliran darahku. Aku belum yakin
apakah ini cinta ataukah kerinduan biasa. Tapi mana ada kerinduan biasa?
Sesuatu yang bernama rindu pastilah ada unsur cinta di dalamnya.
Kudekati
Evan dengan ragu karena mengira dia akan segera beranjak pergi seperti
biasa jika aku berniat mendekatinya. Kali ini dia duduk saja. Tidak ada
tanda-tanda bakal meninggalkan tempat duduknya.
“ Evan, bisa kita bicara?” Evan menatapku. Dia terlihat tenang.
“ Kamu mau menemaniku lagi ke lokasi?”
“ Maaf, mbak. Saya udah ada kerjaan dengan Rama. Kami sudah janjian.”
Perasaanku saat ini benar-benar tidak nyaman. Memohon benar-benar tidak menyenangkan.
“
Oh, begitu. Aku kira kamu tidak ada kegiatan, jadi kutawarkan lagi..”
aku berusaha terlihat tegar walau dalam hati rasa kecewa sangat besar.
“ Ok, kalo begitu aku ke kamar dulu.” Kataku lalu berbalik, bersiap melangkah menuju kamarku.
“ Sebutkan satu alasan, hingga saya harus menemani mbak lagi.” Ucapan Evan membuatku refleks berbalik.
“ Harus ada alasan?” Dia mengangguk cepat.
“ Karena..karena…aku gak enak kerja sendirian. Terbiasa bersama kamu, jadi lain saat aku sendiri.”
“ Hanya itu? Tidak ada yang lain?”
“ Maksud kamu alasan apa?” aku makin tidak mengerti.
“ Apa ada alasan yang lain? kalau hanya alasan itu, saya lebih baik kerja dengan Rama.”
Evan berdiri. Dia menatapku lalu tersenyum sinis.
“ Mbak tidak butuh di dampingi. Mbak wanita mandiri, saya permisi dulu.”
Evan
meninggalkanku lalu masuk ke kamarnya. Susah payah kutahan air mataku
yang sejak tadi ingin menetes. Dengan langkah cepat aku menuju kamarku.
Kubuka pintu lalu bersandar di pintu. Ada apa denganku? Mengapa
penolakan dari Evan membuatku terluka? Bukankah ini lebih baik?
Bersamanya berarti memberi harapan yang diingikan Evan. Dia ingin
hubungan yang lebih dari sekedar hubungan kerja denganku. Sesuatu yang
sulit untuk aku berikan. Tapi perasaan tersiksa ini, sampai kapan
sanggup aku tahan?
Kesedihanku
terus berlanjut walau berusaha aku tepiskan dengan semangat dalam
bekerja. Makin dalam aku melibatkan diri dalam kesibukan, ternyata
bayangan Evan terus hadir dalam pikiranku. Aku tak bisa melepaskan diri
dari pesonanya. Walau tunanganku Rio rajin menelpon dari jauh, tetap
saja Evan yang memenuhi pikiranku.
Hingga
suatu hari aku benar-benar tak sanggup lagi, aku sangat merindukannya.
Merindukan kebersamaan kami yang dulu. Aku berhenti di tepi pantai lalu
duduk menangis di bebatuan. Air mataku tak sanggup lagi aku tahan.
“
Mbak masih ingin membohongi diri sendiri? Mungkin lebih baik menangis
disini daripada jujur dengan hati.” Suara seseorang mengagetkanku. Suara
yang sangat aku kenal. Suara yang selama berhari-hari ini membuat
batinku tidak tenang. Dia Evan. Aku menoleh melihatnya. Dia tiba-tiba
saja sudah duduk di sampingku, merangkulku.
“
Bagaimana? Masih butuh pendamping? Saya bersedia menemani putri kemana
saja.” Ucapnya dengan senyum yang sangat manis. Tatapannya lekat
menawarkan kesejukan di hatiku. Benarkah aku jatuh cinta? Batinku
seketika tenang saat dia mendekapku.**
( bersambung )
0 komentar:
Posting Komentar