Tiba
di penginapan aku segera masuk ke kamarku. Debar jantungku masih tak
beraturan setelah Evan mencium keningku tadi, saat kami di perjalanan.
Kupandangi wajahku di depan cermin. Ada apa denganku? Mengapa aku diam
saja setelah Evan menciumku? Aku tak marah atau protes. Evan
juga tak berbicara lagi. Rupanya dia juga sadar dengan perbuatannya.
Akhirnya sepanjang jalan kami hanya berdiam diri. Andai debar jantungku
bisa berbicara mungkin mereka akan bersaksi betapa aku gelisah sepanjang
jalan.
Saat
hendak membuka pintu kamarku, aku sempat melihat sekilas Evan yang
memarkir motornya. Dia terlihat murung. Tidak menoleh hingga masuk ke
kamarnya. Aku juga bingung melihatnya. Seharusnya dia meminta maaf bukan
malah berdiam diri seperti itu. Aku memilih tidak peduli dan menganggap
kejadian itu tak pernah ada.
Saat
makan malam di warung, kulihat Evan memilih duduk di pojok. Dia duduk
sendiri. Diam tak banyak komentar. Kulihat teman-teman juga seperti tak
memperhatikan sikap Evan. Mungkin bagi mereka itu hal biasa.
“
Jangan dianggap. Dia memang seperti itu.” Suara Salim yang begitu dekat
ditelingaku membuatku kaget. Refleks aku berbalik. Ternyata dia
mendorong tubuhnya hingga dekat denganku.
“ Maksud mas Salim?” tanyaku. Aku bingung dengan ucapannya.
“ Sejak Dewi dan Farid pacaran, sikapnya sering aneh-aneh. Kadang dia gembira, kadang murung.”
Ucapan
Salim membuatku ingat kejadian saat Evan menciumku. Apakah itu juga
bagian dari sikapnya yang aneh? Seharian bersamaku dia terlihat gembira.
Apa itu gembira yang wajar? Aku belum bisa menebaknya. Mengenalnya saja
baru kemarin.
Selesai
makan aku diam di kamar. Memeriksa semua laporan dari teman-teman
membuatku tak bisa keluar kamar. Kudengar suara dari teras penginapan.
Sepertinya teman-teman lagi berdiskusi. Aku memilih mengerjakan tugas
ketika sms masuk. Dari Evan. Kubuka pesannya dengan perasaan gugup. Aku
penasaran dengan apa yang akan dia sampaikan.
Mbak Febi, maaf atas kejadian tadi. Saya harap mbak Febi tetap menjadikan saya pendamping dilapangan.
Kubalas pesannya..
Jangan khawatir, kamu tetap bisa jadi pendampingku.
Tidak ada lagi pesan dari Evan setelah kubalas pesannya. Aku merasakan sesuatu yang lain dalam diriku. Mengapa
aku jadi senang menerima pesan dari Evan. Ada rasa lega karena akhirnya
dia memulai pembicaraan denganku walau hanya dengan mengirim pesan.
Subuh
aku terbangun karena bunyi alarm dari hape. Kuperhatikan sesaat layar
hapeku. Ternyata Rio semalam menelponku. Mungkin karena tertidur
lelap hingga aku tak mendengar dering hapeku. Aku ingin menelpon balik,
tapi kemudian aku tersadar. Kami berada di lokasi waktu yang berbeda.
Aku tidak ingin mengganggu tidurnya.
Selesai
sholat subuh aku memilih berjalan-jalan di sekitar penginapan. Hawa
pegunungan terasa menyegarkan walau lumayan dingin. Aku menyesal lupa
memakai jaket. Dengan mengigil aku memaksa diri menyusuri jalan
beraspal. Jalan masih sangat sepi. Hanya beberapa kendaraan yang lalu
lalang.
Aku
tersentak kaget dan menoleh ke samping saat seseorang menempelkan jaket
ke tubuhku. Nampak Evan tersenyum dengan manisnya sambil memasang jaket
menutupi bahuku.
“ Nggak usah, Van. Nggak apa-apa.” Kataku menolak lalu mencoba melepaskan jaket itu. Tapi dia memaksa bahkan merangkulku.
“ Jangan menolak. Kan lebih baik mbak pake jaket daripada kedinginan.Iya, kan?”
Aku
membenarkan ucapannya. Sejak tadi rasa dingin seperti mengigit
tulang-tulangku. Cuma aku merasa aneh. Mengapa Evan bersikap sangat
mesra. Padahal baru semalam dia nampak murung pasca kejadian dia mencium
keningku. Sikapnya memang sulit ditebak. Benar kata Salim, sifat Evan susah untuk ditebak.
Kami
terus berjalan. Tapi kali ini aku merasa tidak nyaman. Rangkulan Evan
membuyarkan semua konsentrasiku. Aku mencoba melepaskan rangkulannya
tapi dengan tertawa dia merangkulku lagi. Benar-benar keras kepala.
Entah apa yang merasuki pikiran anak ini, batinku gelisah.
Suara
kendaraan yang mengerem mendadak membuat kami kaget dan refleks
berbalik ke belakang. Aku mengira terjadi kecelakaan. Tapi ada hal yang
membuatku lebih kaget lagi. Beberapa meter dibelakang kami, nampak Dewi
dan Evi sedang jalan berdua. Mereka tak terkejut saat pandangan kami bertemu. Sekali lagi aku melihat tatapan yang aneh dari Dewi.
Aku
merasa kikuk. Cepat-cepat kulepaskan rangkulan Evan lalu berbalik arah
berjalan pulang ke penginapan. Evan juga mengikuti langkahku. Jika tadi
langkahku pelan,maka sekarang sengaja kupercepat. Entah mengapa, aku
tiba-tiba merasa di manfaatkan Evan. Apakah dia sengaja bersikap mesra
padaku karena dia tahu ada Dewi di belakang kami?
“ Mbak Febi! Jalannya bisa pelan sedikit? Mengapa terburu-buru?” Evan menarik lenganku.
“ Ini sudah hampir pagi. Aku mau mandi baru ke lokasi.” Kataku sambil tetap berjalan.
“ Baiklah.” Aku lega karena Evan tak memaksaku lagi.
Tiba
di kamar aku menyandarkan tubuhku di pintu. Ada apa denganku? Mengapa
aku tak bisa menolak jika Evan memberikan perhatian padaku? Seharusnya
sebagai supervisor dan perempuan yang telah mempunyai tunangan,aku harus bisa bersikap tegas. Aku bahkan tak bisa menebak apa yang terjadi dengan diriku.
****
Sejak
tiba di lokasi, aku sibuk berdiskusi dengan aparat desa. Sesekali Evan
menimpali pembicaraan kami. Mungkin karena terlalu serius, aku tidak
memperhatikan sorot matanya. Aku baru sadar ketika tanpa sengaja mataku
menatapnya. Rupanya sejak tadi dia memperhatikan aku berbicara. Senyum
manisnya membuatku cepat mengalihkan mata.
Penyambutan
luar biasa kami terima dari Pak Kades. Hidangan makan siang lumayan
mengundang selera makan. Aku merasa terharu atas perhatian yang kami
terima hingga tak menyadari posisi duduk aku dan Evan berdekatan. Aku mulai memperhatikannya ketika dia mulai mengambil nasi untukku lalu lauk. Dia juga bertanya hidangan apa yang aku inginkan.
Aku
yang asyik berbincang dengan Pak Kades hanya mengangguk setuju saat dia
menaruh lauk di atas piringku. Dalam hati aku ingin protes tapi tak
baik berdebat di depan kepala desa. Bisa saja kami malah dianggap
sepasang kekasih. Akhirnya kubiarkan dia berlaku seperti keinginannya.
“
Makanannya enak ya,mbak.” Ujar Evan dalam perjalanan pulang. Belum
lewat tengah hari tapi tugasku telah selesai. Aku hanya perlu
mengolahnya di penginapan.
“
Ehm..iya.” Jawabku singkat. Aku berusaha diam dan tak mengajak Evan
bicara. Menikmati keindahan alam sepanjang jalan menjadi solusi agar aku
terlupa.
Syukurlah
Evan juga tak berbicara lagi. Dia menjalankan motor dengan cepat seolah
ingin segera tiba di rumah. Aku senang tapi kemudian jadi curiga. Cara
Evan melarikan motor seperti mengejar sesuatu agar tiba secepatnya.
Benar
saja. Ketika kami tiba di penginapan dan aku turun dari motor. Evan
langsung meninggalkanku tanpa berbicara. Dia berlari menuju kamar Dewi.
Aku masih penasaran dan terus memperhatikannya.
Pintu terbuka dan Dewi keluar dari kamarnya. Evan lalu mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya.
“
Ini, selamat ultah ya.” Ucapnya yang disambut dingin oleh Dewi. Dewi
hanya tersenyum tipis saat menerima bingkisan dari Evan lalu menutup
pintu kembali.
Aku
melangkah menuju kamarku setelah melihat kejadian tadi. Jadi itukah
alasan Evan ingin cepat tiba di penginapan? Dia ingin memberi ucapan
selamat ulang tahun untuk Dewi. Padahal sambutan yang dia terima juga
tidak begitu manis. Dewi bahkan langsung menutup pintu tanpa basa basi.
Aku tiba-tiba merasa kasihan pada Evan. Cintakah yang membuatmu jadi
buta dan membiarkan diri terluka? Apa yang kamu harapkan dari sikap
Dewi? Perhatianmu tak mendapat sambutan apa-apa.
“ Mbak Febi pernah mencintai seseorang?” Evan tiba-tiba bertanya.
Kami
berdua saja dalam kamarku. Tadi dia muncul di depan pintu kamarku yang
terbuka lalu masuk dan menonton tivi. Aku jadi ingat kejadian saat dia
mengucapkan selamat ultah pada Dewi. Kuhentikan memeriksa laporan.
Perasaan kasihan membuatku ingin menghiburnya.
“ Iya.” Jawabku singkat.
“ Mbak pernah ditinggalkan seseorang yang sangat mbak cintai?”
“ Belum.”
“
Pantas. Mbak tidak bisa merasakan apa yang saya rasakan sekarang.
Rasanya sakit sekali. Andai bisa, rasanya saya ingin menarik Dewi dan
mengikatnya hingga dia tak bisa pergi lagi.”
“ Tapi seperti itu bukan cinta namanya?”
“ Saya tidak peduli mbak. Daripada dia pergi bersama orang lain, lebih baik dia terus bersama saya.”
“ Tapi dia tersiksa, Evan. Karena dia tidak mencintai kamu lagi?”
“ Jadi
apa yang saya rasakan,mbak? Apa saya tidak tersiksa? Bukan saya yang
pertama mengajak Dewi untuk pacaran. Dia yang mengejar-ngejar saya
hingga kemudian saya tertarik. Kenapa awalnya saya tidak peduli? karena
saya tahu dia menyukai Farid. Tapi dia terus meyakinkan saya kalau dia
tidak peduli lagi dengan Farid. Saya akhirnya luluh apalagi dia terus
menangis tidak ingin pisah dengan saya. Sekarang, setelah Farid
menerimanya, dia kemudian melempar saya seperti barang yang tidak lagi
berharga. Pas dengan lagunya Afgan, sadis. Benar-benar sadis. Herannya
saya justru tak bisa melupakannya.”
Aku
beranjak dari pembaringan. Ucapan Evan membuat hatiku tersentuh. Aku
baru tahu kisah yang sebenarnya. Cerita yang aku dengar tidak seperti
itu. Ternyata inilah yang menyebabkan Evan sangat terluka. Kalau aku
berada diposisinya, pasti akan merasakan hal yang sama. Posisi
terabaikan memang tak menyenangkan. Apalagi kalau di lakukan orang yang
dulu pernah mengatakan sangat mencintai kita. Teramat pedih jika hanya
dijadikan pelarian cinta demi mendapatkan perhatian seseorang. Wajar
jika mental Evan jadi tidak stabil.
Aku
duduk di samping Evan. Dengan lembut aku menepuk bahunya. Tak ada
perhatian lain yang bisa aku berikan. Aku hanya ingin membuatnya tenang
karena tiba-tiba dia terdiam. Saat aku perhatikan ternyata dia menangis.
“
Dewi cinta pertama saya,mbak. Saya nggak pernah pacaran. Sejak dulu
saya menyukainya tapi saya menganggap itu hanya hayalan karena dia
menyukai Farid. Itulah mengapa ketika dia bilang mencintai saya dan
akhirnya memilih untuk pacaran, saya jadi sangat bahagia. Mendapatkan
sesuatu yang memang jadi impian, bukankah itu anugrah?”
Aku
menyimak ucapannya. Menjadi teman curhat mungkin lebih baik bagiku saat
ini. Aku jadi makin mengerti akan perasaan Evan yang sebenarnya.
“
Tapi sekarang, hatiku sakit sekali mbak. Terluka berat. Kalau tidak
ingat susahnya cari kerjaan, mungkin saya sudah keluar dari perusahaan
dan mencari kerjaan lain. Benar-benar tersiksa berada satu tempat kerja
dan sekarang satu lokasi. Melihat mereka berdua, rasanya saya ingin lari
memisahkan mereka. Saya bukan sakit ditinggalkan Dewi, yang saya
sesalkan mengapa dulu dia memilih saya dan meyakinkan saya. Bukankah
banyak waktu yang saya berikan untuk berpikir sebelum dia mengambil
keputusan? Tapi apa jawabnya? Dia yakin memilih saya. Sekarang
kenyataannya dia malah memilih Farid. Dasar lidah tidak bertulang.”
Aku
makin terharu. Ternyata laki-laki juga bisa menangis. Cinta memang tak
mengenal jenis kelamin. Jika terluka, siapapun itu bisa menangis.
Evan
menarik tanganku. Menggenggamnya dengan erat. Aku tak tahu apa
maksudnya. Kubiarkan karena menganggap dia sedang sedih. Aku yang larut
dalam kesedihan Evan tak menyadari seseorang tengah berdiri menatap
kami. Aku baru sadar ketika Evan tiba-tiba terlonjak kaget.
“
Dewi!!!” teriaknya lalu berlari keluar mengejar Dewi. Aku hanya bisa
terpaku. Mata Dewi yang berkaca-kaca saat menatap kami membuatku merasa
aneh. Ada apa dengan anak itu? Sejak aku dekat dengan Evan, sikapnya
sangat dingin padaku. Aku merasa dia sengaja menjaga jarak denganku.
Entah apa alasannya. Setelah melihat kejadian tadi, aku jadi mengambil
satu kesimpulan, mungkinkah Dewi cemburu padaku?***
( Bersambung )
0 komentar:
Posting Komentar