Kesedihan
yang awalnya akan menemani hari-hariku ternyata tak berumur panjang.
Aku akhirnya bisa tersenyum kembali bersama kehadiran Evan di pantai
itu. Tak ada kebahagiaan yang bisa membuatku tersenyum selain melihat
senyumnya dan tatapannya yang penuh kasih. Kami kembali seperti saat
pertama kali mulai bekerja. Namun kali ini berbeda, Evan telah tahu apa
yang tersimpan dalam hatiku. Sesuatu yang diharapkan sejak awal. Sayang sekali, aku akhirnya harus menyerah dan mengakui kalau rasa yang ada dalam hatiku adalah miliknya.
Tapi
hari ke tiga sejak aku resmi menyatakan perasaan pada Evan, terjadi hal
diluar perkiraanku. Entah aku mimpi apa semalam, pagi hari saat aku
membuka pintu, Rio muncul dengan senyum kerinduan dan langsung
memelukku.
“ Aku menyusulmu, sayang. Penasaran dengan keindahan laut yang selalu kamu ceritakan.”
Ucapnya
riang lalu melangkah masuk ke kamar membawa tas kecilnya. Aku yang tak
menyangka dirinya akan datang tiba-tiba hanya bisa terpaku.
“ Kamarmu lumayan. Ehm, pantas kamu betah disini, suasananya benar-benar sejuk.”
Aku
bergerak ke depan cermin, mencoba melihat wajahku. Apakah aku tampak
pucat dan gugup? Mengapa Rio muncul tiba-tiba tanpa memberitahu aku?
“ Kenapa kamu nggak ngomong mau kemari? aku bisa membatalkan kerja hari ini kalau tahu kamu bakal datang.”
Rio yang berbaring langsung mengangkat tangannya.
“
Nggak usah batal kerja. Ntar aku ikut kamu ke lokasi. Liburku tidak
lama, hanya 7 hari. Mungkin hanya hari ini dengan besok aku bisa temani
kamu. Tiga hari lagi aku sudah harus ada di bandara.”
Pikiranku
berkecamuk saat kulihat binar mata Rio yang begitu bersemangat.
Bagaimana dengan Evan? Semoga dia bisa menerima kehadiran Rio tanpa rasa
cemburu.
Karena
gugup aku tak sadar kalau sejak tadi belum membalas sms dari Evan. Aku
baru menyadarinya saat hapeku dalam genggaman Rio. Cepat ku raih hapeku
dari tangannya. Tentu saja dia terkejut melihat sikapmu.
“ Kenapa sayang? Apa ada rahasia?” aku menggeleng lalu menekan tuts hape.
“
Bukan, tadi aku lupa membalas pesan dari teman.” Jawabku tanpa
memandangnya. Syukurlah Rio tidak bertanya lagi. Dia bangun dari
pembaringan lalu menyalakan tivi, mencari channel tivi yang menarik.
Tayangan berhenti pada acara berita, dia asyik memperhatikan liputan
berita yang disajikan stasiun TV yang terkenal khusus membawa acara
berita.
“
Sayang, udah siap?” jantungku hampir copot saat seseorang menegur
persis didekat telingaku. Aku menoleh, Rio juga ikut mendongak. Tanganku
yang memegang hape jadi gemetar karena gugup. Aku berdoa semoga Rio
tidak mendengar ucapan Evan. Suara tivi yang lumayan besar kuharap bisa
menyelamatkan aku dari rasa curiga Rio.
Evan
mundur setelah melihat ada seseorang dalam kamarku. Dia belum mengenal
Rio namun dari sorot matanya, aku tahu dia mulai curiga.
“ Eh, maaf. Sudah siap? Bisa berangkat sekarang?”
“Iya, eh..Evan..kenalkan ini Rio tunanganku.” Kataku memperkenalkan Rio pada Evan.
Rio
berdiri lalu mengulurkan tangan. Evan nampak sungkan walau tetap
mengulurkan tangannya. Aku yang berdiri di dekat mereka berdua makin
cemas. Kuperhatikan dua orang ini secara bergantian. Apa kira-kira yang
ada dalam benak mereka. Apakah Rio merasa curiga?
“ Rio.” Ucapnya dengan senyum menatap Evan.
“ Evan.” Balas Evan dengan senyum manis pula.
“ Ehm, kita berangkat sekarang saja, Van. Sayang, siap-siap kita berangkat sekarang.”
Evan mengangguk lalu keluar menuju motornya. Kuraih tas ku lalu menanti Rio mengambil tas nya.
“ Tempatnya jauh, ya?” tanya Rio saat aku mengunci pintu kamar. Dia memperhatikan Evan yang duduk diatas motornya.
“ Lumayan jauh.”
“ Dia yang menemani kamu selama disini?” tanya Rio lagi. Arah matanya tetap tertuju ke Evan.
“ Iya. Tiap ke lokasi aku bareng sama dia. Yuk..” ajakku.
Semula
aku berniat untuk menyewa motor lagi. Syukurlah ada teman yang tidak
turun ke lokasi hingga motor bisa kami pinjam. Aku akhirnya duduk manis
di belakang Rio, sementara Evan mengikuti kami dari belakang. Aku jadi
kikuk dan gugup. Pikiranku tetap tertuju pada Evan. Mengingat
kecemburuannya pada Farid, akankah rasa itu kembali saat dia melihatku
berboncengan dengan Rio?
Hari
ini berlalu dengan suasana yang menurutku tidak nyaman. Saat kami
kembali ke penginapan, wajah Evan murung. Dia memarkir motor lalu masuk
ke dalam kamarnya. Sementara aku dan Rio, terus berbincang di kamar.
Setelah mandi sore, Rio bahkan mengajakku berkeliling kota dengan naik
motor.
Saat menikmati pemandangan sore di pelabuhan, hapeku berbunyi sms masuk. Dari Evan.
Jangan cemaskan saya, saya gak apa-apa
“ Sms dari siapa?” Rio tiba-tiba merangkulku.
“
Dari teman.” Kataku gugup. Aku batal mengetik pesan balasan untuk Evan.
Ku raih botol minuman dari tangan Rio. Aku butuh sesuatu untuk
meredakan kecemasanku. Aku tahu saat ini kondisi Evan jauh dari kata
baik. Walau dia mengirim pesan seolah kehadiran Rio tidak berpengaruh
untuknya, namun aku yakin dia sedang cemburu. Dia bisa saja berkata-kata
dengan bijaksana, namun wajahnya tidak mencerminkan itu. Murung dan
kusut saat kami kembali dari lokasi, sudah menjadi gambaran hatinya saat
ini.
“
Gimana rencana pernikahan kita? Kamu selalu gak bisa di ajak bicara
kalau di telpon. Pagi kamu sibuk, malam udah capek. Apa masih sesuai
rencana? Kembali dari sini, kita langsung mengurus semuanya. Kamu sudah
janji ini tugas terakhir keluar daerah.”
Rio menatapku sambil menyentuh lembut tanganku. Ucapannya membuatu tersadar ada rencana pernikahan yang menunggu kami.
“
Kalau sesuai tanggal, maka gedung yang sudah aku pesan bisa kita pakai.
Aku sudah menghitung jadwal kamu ada di Jakarta. Aku bisa saja meminta
keluargaku untuk mengurus semuanya, tapi rasanya lebih nyaman kalau kita
yang memilih. Gimana? Kamu setuju kan?”
“ Apa harus secepat itu?”
“ Kenapa sayang? Bukankah pertunangan kita sebagai langkah awal untuk pernikahan? apa kamu ingin menunda dulu?”
Aku tak menjawab. Kehadiran Evan saat ini membuatku tak bisa memberi keputusan. Rio membelai rambutku.
“ Aku tidak akan memaksa jika masih ada keraguan dihatimu. Aku mungkin hanya akan sedih jika tahu tunanganku ragu menikah denganku.”
“ Aku minta waktu sebulan untuk istrahat. Biarkan aku berpikir. Kamu mengerti kan sayang?” aku membalas menggenggam jemarinya.
Terlihat
Rio memaksa diri untuk tersenyum. Andai dia tahu keraguan datang
menyerangku saat Evan hadir mengisi hari-hariku. Bahkan saat bersamanya
sekarang ini, wajah Evan yang sendu membayang di pelupuk mataku. Aku
benar-benar bingung dengan perasaanku. Meski baru mengenal Evan, namun
sepertinya dia sudah menjadi bagian diriku sejak dulu. Aneh, bukankanh
perasaan itu seharusnya kunikmati bersama Rio, mengapa justru Evan. Anak
muda yang belum lama kukenal?
**
Ke esokan harinya Rio tidak menemaniku ke lokasi. Dia merasa lelah karena seharian menemaniku kemarin. Sebagai toleransi, aku hanya akan ada dilokasi hingga tengah hari, setelah itu kembali untuk menemaninya.
“
Mbak harus menentukan pilihan. Dia atau saya..” Evan tak menunggu waktu
untuk berbicara. Kami baru beberapa meter meninggalkan penginapan.
“ Evan..sekarang ini aku sedang bingung..” kataku mencoba mengalihkan perhatiannya.
“
Saya juga bingung. Beberapa hari yang lalu Dewi menanyakan keseriusan
saya untuk kembali padanya. Dia sadar hubungannya dengan Farid tak bisa
di pertahankan. Banyak hal yang membuatnya menyesal dan ingin hubungan
kami kembali seperti dulu.”
Aku termenung memikirkan ucapan Evan.
“
Mbak Febi harus memutuskan. Dewi juga mendesakku. Semalam saya
memikirkan, diantara kita harus ada keputusan secepatnya. Terus terang
sekarang ini, perasaan saya lebih berat ke mbak Febi. Tapi saya juga gak
mungkin melepaskan kesempatan bersama Dewi. Sejak dulu saya
menginginkan hubungan kami kembali utuh. Jika mbak memutuskan ingin
bersama saya, maka saya akan meninggalkan impian saya bersama Dewi.”
Kata-kata
Evan terus terngiang di pikiranku. Aku harus memilih siapa? Apakah aku
harus memilih Rio dan menikah dengannya? Tapi rasanya aku tidak siap
untuk kehilangan Evan. Satu hal yang pasti, jika aku memutuskan
menolaknya, maka Evan akan memilih Dewi dan melupakan aku.
Aku
makin bingung. Haruskah aku memutuskan ikatan pertunangan dengan Rio?
Bagaimana cara mengatakan padanya? Dan apakah aku siap jika dia tidak
sanggup menerima kenyataan kalau akhirnya aku ingin perpisahan?
Aku
benar-benar tidak sanggup memikirkan semua ini dalam waktu bersamaan.
Akhirnya karena bingung, aku keluar dari penginapan saat jam menunjukkan
pukul 12 malam. Rio tidur di kamar lain. Aku berjalan sendiri menuju
teras. Duduk dibawah keremangan lampu. Aku termenung mencoba menenangkan
diri. Setengah jam kemudian aku masuk lagi ke kamar. Berusaha untuk
tidur meski mataku tak bisa terpejam hingga adzan subuh terdengar.
( bersambung )
0 komentar:
Posting Komentar