Kedatangan sepupu Uleng, mbak Ama telah membuat suasana rumah Uleng sedikit
berbeda. Asih yang semula hanya bermaksud tinggal sementara, merasa
tidak enak hati untuk tetap tinggal di rumah Uleng. Rumah Uleng yang
sebelum kedatangan Asih saja sudah dihuni begitu banyak orang, apalagi
dengan kedatangan mbak Ama. Info yang Asih dengar, mbak Ama akan tinggal
sampai waktu yang tidak di tentukan.
Maka dengan tekad bulat, Asih memutuskan untuk segera mencari rumah kontrakan. Keputusan untuk menetap di Desa Rangkat tidak
datang begitu saja. Sebelumnya Asih ragu apakah akan menetap atau hanya
menunggu sampai Uleng menikah. Tapi perbincangan dengan mas petani,
telah membuka pikiran Asih. Dia ingin tinggal di desa ini untuk membantu
para petani. Dia bisa jadi pendamping mereka. Mendampingi para petani
dalam hal pertanian. Membantu mereka menyelesaikan masalah-masalah yang
berkaitan dengan pertanian. Apalagi dengan rencana mas petani membentuk
kelompok tani. Makin besar keinginan Asih untuk ikut berpartisipasi
membangun pertanian di Desa Rangkat.
Kemarin malam, saat acara ulang tahun Elva telah
selesai, Asih sengaja mendatangi gadis itu dikamarnya. Elva membuka
pintu kamar. Dia terlihat sedang bersiap-siap untuk tidur. Wajahnya
sudah terlihat sangat mengantuk. Maklum sekarang sudah jam dua belas
malam. Mereka baru selesai membantu Mommy dan Uleng membereskan peralatan makan sehabis acara.
“ Maaf,
Va. Saya ganggu kamu. Soalnya ini penting.” Elva duduk di atas tempat
tidurnya sambil memeluk guling. Matanya merem melek. Asih makin tidak
enak hati melihatnya.
“ Masalah penting apa, mbak?” tanya Elva sambil menguap.
“ Ehm..saya dengar kamu nyari kontrakan ya? Sebenarnya saya juga mau nyari..”
“ Mbak Asih juga mau pindah?” Asih mengangguk.
“ Nggak
enak numpang terus di rumah Uleng. Apalagi sepupunya, mbak Ama datang.
Semua tidur di kamar Uleng. Berdesak-desakan nggak enak. Rumah Uleng
makin rame. Lebih baik saya pindah saja.”
“ Kalo gitu besok kita sama-sama cari kontrakan. Tapi carinya dimana?”
“ Bagaimana
kalo kita tanya mbak Deasy? Diakan sudah lama disini. Mungkin dia tahu
dimana kita bisa ngontrak.” usul Asih. Elva mengangguk cepat.
“ Ehm, Va.. Bisa minta tolong lagi?” Asih terlihat sungkan.
“ Bilang saja mbak, mau minta tolong apa?”
“ Malam ini, saya tidur disini ya? Kamar Uleng penuh.” Wajah Asih penuh harap.
“ Yaaa…mbak
Asih bilang kek dari tadi. Kita bisa ngobrol sambil tiduran.” Elva
berdiri lalu mengunci pintu kemudian mematikan lampu kamarnya. Dia
segera naik ke tempat tidur berbaring.
“ Tidur
disini, mbak Asih.” ajaknya. Asih segera naik ke atas tempat tidur.
Berbaring di samping Elva. Dia juga sudah sangat mengantuk.
“ Makasih Elva, sudah bolehkan saya tidur disini.” ucap Asih sebelum terlelap.
~
“ Mbak Deasy
jangan cerita-cerita dulu ya, sama orang rumah. Nanti saja kalau sudah
ketemu rumah kontrakannya.” ucap Asih pagi itu di kamar Elva. Deasy
manggangguk. Elva sedang merapikan diri. Mereka hendak keluar bersama.
Mereka bertiga berjalan keluar dari rumah Uleng. Niat mereka pagi ini
adalah mencari rumah kontrakan.Deasy menyarankan untuk mengecek di rumah
kontrakan Jeng Pemi,
barangkali ada yang kosong. Sepanjang jalan, Asih melihat
pemandangan di Desa Rangkat. Sejak kedatangannya, Asih baru satu kali
keluar untuk menikmati pemandangan di desa Rangkat. Tapi waktu itu dia
ke sungai. Dia belum pernah melihat-lihat desa Rangkat secara
keseluruhan.
“ Rumah jeng Pemi masih jauh ya, mbak?” tanya Asih sambil melihat sekeliling. Deasy menggeleng.
“ Sedikit lagi. Nggak jauh kog?”
“ Rumahnya di mana sih, mbak Deasy?” tanya Elva. Dia juga penasaran karena sejak tadi mereka berjalan.
“ Nggak jauh. Kalian liat bukit itu?” Asih dan Elva terbelalak
“ Hah?!? disana??? sahut mereka berbarengan. Deasy hanya tersenyum melihat kepanikan dua gadis disebelahnya.
“ Kalo tau begini, mending kita cari ojek aja.” keluh Elva.
“ Iya. Paling sampe sana sudah malam.” lanjut Asih.
Deasy menatap kedua gadis itu dengan tatapan galak.
“ Kalian gimana, sih? Mau nyari kontrakan atau tidak? Kalau mau, ikut saja. Jangan banyak komentar.” ucapnya ketus.
Deasy
kemudian memalingkan wajahnya. Dia hampir tak bisa lagi menahan
tawanya. Sementara Elva dan Asih saling memandang. Wajah mereka berubah
lesu. Pandangan mereka hanya tertuju ke bukit yang masih sangat jauh.
Entah berapa tahun cahaya jaraknya. Bukit itu terlihat semakin jauh.
Akhirnya
mereka tiba di rumah kontrakan Jeng Pemi. Lama mengetuk pintu tak ada
gerakan dari dalam kamar Jeng Pemi. Deasy mencoba melihat lewat kaca
jendela yang tertutup.
“ Kalian
tunggu disini, ya. Aku cek kebelakang dulu.” Deasy kemudian melangkah
ke belakang rumah Jeng Pemi. Asih dan Elva memilih duduk di teras. Betis
mereka terasa pegal karena baru saja olah raga pagi. Berjalan kaki.
Tapi Asih merasa senang karena bisa menikmati Desa Rangkat.
“ Semoga ada yang kosong. Jadi kita bisa ngontrak.” ucap Elva.
“ Mudah-mudahan. Tapi Jeng Pemi kemana ya?” Asih berdiri melihat sekeliling rumah kontrakan Jeng Pemi.
Saat
itulah sebuah motor memasuki halaman. Asih dan Elva melihat
pengendara motor itu. Elva langsung tersenyum begitu pemuda itu turun
dari motornya. Dia memarkir motor lalu mendekati Elva dan Asih.
“ Mas Lala.” sapa Elva sambil tersenyum. Lala juga memberikan senyumnya yang menawan.
“ Mas Lala sudah kenal mbak Asih?” tanya elva. Lala mengangguk cepat.
“ Semalam kan ketemu di tempat Mommy.” Jawab Lala sambil duduk di salah satu kursi.
“ Kalian ngapain pagi-pagi udah nongol disini?”
“ Nyari rumah kost, mas Lala. Nggak enak numpang terus di rumah Mommy.” jawab Elva.
“ Lho kenapa kamu nggak bilang? Aku kan bisa nganterin kamu nyari rumah kost?”
Elva
tersenyum mendengar kata-kata Lala. Sementara Asih hanya terdiam.
Semalam dia tidak terlalu jelas melihat Lala karena mereka jarang
berdekatan. Sekarang saat matahari bersinar menjadi lampu yang super
terang. Dia bisa sangat sangat jelas melihat Lala. Ada rasa sedih di
sudut hatinya. Tak kuasa terus memandangi Lala, Asih mengalihkan
pandangannya ke taman yang ada didepan rumah Jeng Pemi. Dia harus cepat
melihat objek yang lain kalau ingin matanya bebas dari embun. Asih
tiba-tiba teringat seseorang yang sangat dia sukai. Seseorang yang telah
pergi menghadap Ilahi. Seseorang yang begitu dekat di hatinya.
Asih
hanya mendengarkan obrolan Elva dan Lala. Mereka terlihat asyik
berbincang. Tawa mereka sesekali terdengar. Asih hanya tersenyum perih.
Benarkah ada seseorang yang bisa begitu mirip? Pikirnya masih tak
percaya.
Sementara tanpa mereka ketahui, sepasang mata tengah menatap Lala dan Elva dengan sinar mata cemburu.*****
0 komentar:
Posting Komentar