Minggu, 15 April 2012

Kisah Masa Lalu Dan Cemburu Di Desa Rangkat ( ECR )

0



Kedatangan sepupu Uleng, mbak Ama telah membuat suasana rumah Uleng sedikit berbeda. Asih yang semula hanya bermaksud tinggal sementara, merasa tidak enak hati untuk tetap tinggal di rumah Uleng. Rumah Uleng yang sebelum kedatangan Asih saja sudah dihuni begitu banyak orang, apalagi dengan kedatangan mbak Ama. Info yang Asih dengar, mbak Ama akan tinggal sampai waktu yang tidak di tentukan.

Maka dengan tekad bulat, Asih memutuskan untuk segera mencari rumah kontrakan. Keputusan untuk menetap di Desa Rangkat tidak datang begitu saja. Sebelumnya Asih ragu apakah akan menetap atau hanya menunggu sampai Uleng menikah. Tapi perbincangan dengan mas petani, telah membuka pikiran Asih. Dia ingin tinggal di desa ini untuk membantu para petani. Dia bisa jadi pendamping mereka. Mendampingi para petani dalam hal pertanian. Membantu mereka menyelesaikan masalah-masalah yang berkaitan dengan pertanian. Apalagi dengan rencana mas petani membentuk kelompok tani. Makin besar keinginan Asih untuk ikut berpartisipasi membangun pertanian di Desa Rangkat.

Kemarin malam, saat acara ulang tahun Elva telah selesai, Asih sengaja mendatangi gadis itu dikamarnya. Elva membuka pintu kamar. Dia terlihat sedang bersiap-siap untuk tidur. Wajahnya sudah terlihat sangat mengantuk. Maklum sekarang sudah jam dua belas malam. Mereka baru selesai membantu Mommy dan Uleng membereskan peralatan makan sehabis acara.

“ Maaf, Va. Saya ganggu kamu. Soalnya ini penting.” Elva duduk di atas tempat tidurnya sambil memeluk guling. Matanya merem melek. Asih makin tidak enak hati melihatnya.

“ Masalah penting apa, mbak?” tanya Elva sambil menguap.

“ Ehm..saya dengar kamu nyari kontrakan ya? Sebenarnya saya juga mau nyari..”

“ Mbak Asih juga mau pindah?” Asih mengangguk.

“ Nggak enak numpang terus di rumah Uleng. Apalagi sepupunya, mbak Ama datang. Semua tidur di kamar Uleng. Berdesak-desakan nggak enak. Rumah Uleng makin rame. Lebih baik saya pindah saja.”

“ Kalo gitu besok kita sama-sama cari kontrakan. Tapi carinya dimana?”

“ Bagaimana kalo kita tanya mbak Deasy? Diakan sudah lama disini. Mungkin dia tahu dimana kita bisa ngontrak.” usul Asih. Elva mengangguk cepat.

“ Ehm, Va.. Bisa minta tolong lagi?” Asih terlihat sungkan.

“ Bilang saja mbak, mau minta tolong apa?”

“ Malam ini, saya tidur disini ya? Kamar Uleng penuh.” Wajah Asih penuh harap.

“ Yaaa…mbak Asih bilang kek dari tadi. Kita bisa ngobrol sambil tiduran.” Elva berdiri lalu mengunci pintu kemudian mematikan lampu kamarnya. Dia segera naik ke tempat tidur berbaring.

“ Tidur disini, mbak Asih.” ajaknya. Asih segera naik ke atas tempat tidur. Berbaring di samping Elva. Dia juga sudah sangat mengantuk.

“ Makasih Elva, sudah bolehkan saya tidur disini.” ucap Asih sebelum terlelap.

~

Mbak Deasy jangan cerita-cerita dulu ya, sama orang rumah. Nanti saja kalau sudah ketemu rumah kontrakannya.” ucap Asih pagi itu di kamar Elva. Deasy manggangguk. Elva sedang merapikan diri. Mereka hendak keluar bersama. Mereka bertiga berjalan keluar dari rumah Uleng. Niat mereka pagi ini adalah mencari rumah kontrakan.Deasy menyarankan untuk mengecek di rumah kontrakan Jeng Pemi, barangkali ada yang kosong. Sepanjang jalan, Asih melihat pemandangan di Desa Rangkat. Sejak kedatangannya, Asih baru satu kali keluar untuk menikmati pemandangan di desa Rangkat. Tapi waktu itu dia ke sungai. Dia belum pernah melihat-lihat desa Rangkat secara keseluruhan.

“ Rumah jeng Pemi masih jauh ya, mbak?” tanya Asih sambil melihat sekeliling. Deasy menggeleng.

“ Sedikit lagi. Nggak jauh kog?”

“ Rumahnya di mana sih, mbak Deasy?” tanya Elva. Dia juga penasaran karena sejak tadi mereka berjalan.

“ Nggak jauh. Kalian liat bukit itu?” Asih dan Elva terbelalak

“ Hah?!? disana??? sahut mereka berbarengan. Deasy hanya tersenyum melihat kepanikan dua gadis disebelahnya.

“ Kalo tau begini, mending kita cari ojek aja.” keluh Elva.

“ Iya. Paling sampe sana sudah malam.” lanjut Asih.

Deasy menatap kedua gadis itu dengan tatapan galak.

“ Kalian gimana, sih? Mau nyari kontrakan atau tidak? Kalau mau, ikut saja. Jangan banyak komentar.” ucapnya ketus.

Deasy kemudian memalingkan wajahnya. Dia hampir tak bisa lagi menahan tawanya. Sementara Elva dan Asih saling memandang. Wajah mereka berubah lesu. Pandangan mereka hanya tertuju ke bukit yang masih sangat jauh. Entah berapa tahun cahaya jaraknya. Bukit itu terlihat semakin jauh.

Akhirnya mereka tiba di rumah kontrakan Jeng Pemi. Lama mengetuk pintu tak ada gerakan dari dalam kamar Jeng Pemi. Deasy mencoba melihat lewat kaca jendela yang tertutup.

“ Kalian tunggu disini, ya. Aku cek kebelakang dulu.” Deasy kemudian melangkah ke belakang rumah Jeng Pemi. Asih dan Elva memilih duduk di teras. Betis mereka terasa pegal karena baru saja olah raga pagi. Berjalan kaki. Tapi Asih merasa senang karena bisa menikmati Desa Rangkat.

“ Semoga ada yang kosong. Jadi kita bisa ngontrak.” ucap Elva.

“ Mudah-mudahan. Tapi Jeng Pemi kemana ya?” Asih berdiri melihat sekeliling rumah kontrakan Jeng Pemi.

Saat itulah sebuah motor memasuki halaman. Asih dan Elva melihat pengendara motor itu. Elva langsung tersenyum begitu pemuda itu turun dari motornya. Dia memarkir motor lalu mendekati Elva dan Asih.

Mas Lala.” sapa Elva sambil tersenyum. Lala juga memberikan senyumnya yang menawan.

“ Mas Lala sudah kenal mbak Asih?” tanya elva. Lala mengangguk cepat.

“ Semalam kan ketemu di tempat Mommy.” Jawab Lala sambil duduk di salah satu kursi.

“ Kalian ngapain pagi-pagi udah nongol disini?”

“ Nyari rumah kost, mas Lala. Nggak enak numpang terus di rumah Mommy.” jawab Elva.

 

“ Lho kenapa kamu nggak bilang? Aku kan bisa nganterin kamu nyari rumah kost?”

Elva tersenyum mendengar kata-kata Lala. Sementara Asih hanya terdiam. Semalam dia tidak terlalu jelas melihat Lala karena mereka jarang berdekatan. Sekarang saat matahari bersinar menjadi lampu yang super terang. Dia bisa sangat sangat jelas melihat Lala. Ada rasa sedih di sudut hatinya. Tak kuasa terus memandangi Lala, Asih mengalihkan pandangannya ke taman yang ada didepan rumah Jeng Pemi. Dia harus cepat melihat objek yang lain kalau ingin matanya bebas dari embun. Asih tiba-tiba teringat seseorang yang sangat dia sukai. Seseorang yang telah pergi menghadap Ilahi. Seseorang yang begitu dekat di hatinya.


Asih hanya mendengarkan obrolan Elva dan Lala. Mereka terlihat asyik berbincang. Tawa mereka sesekali terdengar. Asih hanya tersenyum perih. Benarkah ada seseorang yang bisa begitu mirip? Pikirnya masih tak percaya.

Sementara tanpa mereka ketahui, sepasang mata tengah menatap Lala dan Elva dengan sinar mata cemburu.*****

0 komentar:

Posting Komentar