Dua bulan setelah jadi murid di sekolah menengah atas. Donny mulai uring-uringan. Ini membuat heran Ahmad, teman sebangkunya.
“
Kamu kenapa, Don?” tanya Ahmad ketika jam istrahat. Donny mengais
rambut hitamnya hingga terlihat rapi. Namun kegelisahan tetap terpancar
dari pandangan matanya.
“ Mia..” ucap Donny sementara arah matanya tertuju ke seseorang yang baru saja memasuki kantin.
Ahmad mengikuti arah pandangnya. Ternyata Mia murid kelas A yang terkenal cantik.
“ Mia? Kenapa dengan Mia? Kamu naksir dia?” tebak Ahmad dengan senyum.
“
Dia lain. Aku juga heran kenapa jadi memperhatikan dia. Padahal dulu
kami juga satu sekolah waktu SD. Sekarang dia lain. Tambah cantik.”
“ Kenapa kamu nggak dekati saja dia. Ngobrol tentang teman SD dulu kan bisa.”
Raut wajah Donny berubah murung.
“
Aku dulu suka mengganggunya, ehm bisa dibilang jahat sama dia. Aku suka
usil membuatnya menangis. Kalo dia masih ingat kenakalanku, apa dia
masih mau tersenyum?”
Ahmad menepuk pundaknya.
“
Jangan pesimis. Dulu ya dulu. Perlihatkan kalo sekarang kamu adalah
cowok yang baik, nggak suka jahil lagi. Berdoa juga semoga dia lupa.”
Tapi
ternyata tidak semudah itu. Mia begitu sulit untuk di dekati dan di
ajak bicara oleh Donny. Dia selalu menghindar bukan saja dari Donny tapi
dari semua teman lelaki. Donny nyaris putus asa, untung saja ada Ahmad
yang begitu gigih membantunya.
“ Ayo cepat, keburu dia pergi.” Seru Ahmad yang menunggu di sudut pagar. Donny berlari mendekatinya.
“ Mana dia?” tanya Donny begitu sampai. Matanya mencari ke sekeliling.
“ Tuh, dia lagi berdiri di depan toko. Lagi nunggu jemputan. Aku udah bicara tadi.Ayo..”
“ Kenapa dia mau bicara dengan kamu?” tanya Donny sambil berjalan.
“ Makanya pake pendekatan yang kalem dan lembut. Siapapun kalo diserang, pasti takut duluan..hehehe..” Ahmad tertawa.
“ Siapa yang nyerang. Aku tuh udah sopan banget tau…”
“ Eits..jangan berisik…”
Mereka tiba di depan Mia. Senyum Mia segera hadir saat melihat Ahmad.
“
Ehm, Mia ini kenalkan temanku, namanya Donny.” Ucap Ahmad seraya
mendorong tubuh Donny biar lebih dekat dengan Mia. Dia juga
memperhatikan ekspresi Mia saat dia menyebut nama Donny. Anehnya, Mia
nampak biasa saja seolah nama Donny baru di dengarnya.
Donny yang tidak menyangka sambutan Mia akan seperti itu seketika kikuk.
“ Mia kenal Donny gak? Katanya temenan waktu SD dulu?” Ahmad rupanya menyadari kalau Donny gugup. Mia menatap Donny agak lama.
“ Kamu sekolah di Menado ya dulu?” Donny makin heran.
“
Kok Menado, kita dulu kan sekolah di SDN Pagi Kemuning.” Balas Donny.
Tiba-tiba Mia tersenyum manis sekali. Tapi kali ini diikuti dengan tawa
kecil.
“ Oh, itu adikku. Kami kembar, aku sekolah di Menado, dia disini.” Donny dan Ahmad saling pandang karena kaget.
“ Jadi bukan kamu ya?” Mia mengangguk cepat.
“ Kami memang mirip. Nama kami juga nyaris sama. Dia Mia Fiandri sedang aku Mia Fiandra.”
Donny yang semula bersemangat mendadak lesu. Untunglah ada Ahmad sebagai teman setia yang sigap mengantisipasi keadaan.
“ Oh, gitu ya Mia. Trus adikmu si Mia itu dimana sekarang?” tanya Ahmad lagi.
Mia terdiam. Agak lama dia menjawab. Itu juga dengan mata berkaca-kaca.
“
Adikku udah meninggal setahun lalu. Karena itu aku di jemput sama mama
dan papa. Dulu aku ikut tante yang gak punya anak. Setelah Mia meninggal
aku kembali ke sini.”
“ Meninggal??”
Donny
dan Ahmad hampir serempak terlonjak kaget. Terlebih Donny. Dia baru
saja ingin memulai jalinan pertemanan dengan Mia, tiba-tiba harus
mendengar kabar yang mengejutkan.
“ Mia meninggal karena kecelakaan.” Jawab Mia sedih.
Mereka
berbincang tidak lama karena mobil jemputan Mia telah datang. Setelah
saling bertukar nomor handphone, Mia kemudian naik ke mobilnya. Dia
melambaikan tangan saat mobil berlalu meninggalkan Donny dan Ahmad yang
juga melambaikan tangan dengan wajah lesu. Tatapan Donny kosong.
Pikirannya menerawang ke masa lalu. Masa saat Mia masih hidup.
“
Ayo teman, jangan lesu begitu. Mia temanmu udah meninggal, tapi kan ada
Mia kembarannya. Gak dapat dia kan masih ada satu lagi. Wajah mereka
juga sama.”
“
Lain. Mereka tidak sama.” Jawab Donny sambil melangkah menuju parkiran
sekolah. Langkahnya tak lagi penuh semangat seperti tadi. Berulangkali
dia menghela nafas. Ahmad rupanya sadar. Dia tidak berkata-kata lagi.
“ Selamat jalan,Mia. Maafkan kesalahanku di masa lalu.” Ucap Donny dengan sedih sebelum menjalankan motornya. **
0 komentar:
Posting Komentar