Selasa, 10 April 2012

Kembali Sepi

0

 

Lani mendekati teman-teman kampus yang duduk berkumpul walau dia tahu mereka tengah membicarakan dirinya. Tapi dia tidak peduli. Begitu tiba, beberapa orang beranjak pergi. Hanya dua orang yang tinggal. Itu juga tak lain adalah Nina dan Laras. Dua gadis yang terkenal santun dan tidak membeda-bedakan teman dalam bergaul.

“ Ehm, kalian masih ada kuliah ya?” tegur Lani ramah. Mereka tersenyum sambil menggeser duduk hingga Lani bisa duduk di antara mereka.

“ Masih, kuliah kita kan sama?” Nina menjawab namun ekspresi matanya gelisah.

“ Maaf, aku boleh tanya sesuatu?” tanya Lani membuat mereka berdua menatapnya.

“ Hanya kalian yang tidak menghindar jika aku datang. Kalian juga mau bicara denganku. Aku minta tolong, kalian jawab dengan jujur. Kenapa teman-teman menghindariku?”

Ninda dan Laras saling pandang lalu menunduk. Lani menyentuh lengan Nina.

“ Kenapa? Apa kalian tahu sesuatu? Aku tidak punya teman. Hanya kalian yang bisa menjawab pertanyaanku. Bisa kan?”

“ Semua sudah tahu kamu wanita panggilan.” Jawab Nina pelan namun serasa menampar wajah Lani.

“ Siapa yang bilang? Kalian dengar darimana??” tanya Lani cemas.

“ Aku kira kamu juga sudah tahu namun pura-pura tidak tahu. Kami bertahan berteman denganmu karena kami ingin kamu kembali ke jalan yang benar. Kalau semua orang meninggalkanmu, kamu tidak akan tahu perbuatanmu itu tidak baik.”

“ Aku bukan seperti itu! Kalian berdua harus percaya sama aku. Gosip darimana yang mengatakan aku wanita panggilan? Selama ini aku mendengar gosip miring tentang diriku. Tapi aku anggap itu hanya obrolan iseng yang gak tahu pekerjaanku. Tapi makin hari aku lihat tak ada teman yang mau dekat sama aku. Teman lelaki juga makin iseng menggoda. Apa kalian percaya kalau aku wanita panggilan?”

“ Yang tahu tentang dirimu adalah kamu sendiri. Jika menurutmu tidak seperti itu, jangan pedulikan tanggapan orang-orang. Mereka juga bersikap seperti itu tentu ada alasannya. Kami juga meski masih ragu namun tidak bisa mengabaikan perkataan mereka. Kamu hanya perlu memperlihatkan, bahwa kamu bukan orang seperti itu. Maaf Lani, kami permisi dulu.”

Nina dan Laras kemudian beranjak meninggalkan Lani yang diam terpaku. Matanya berkaca-kaca berusaha menahan beban batin yang membuncah. Karena tak tahan lagi, Lani kemudian meninggalkan kampus. Dia berjalan ke parkiran lalu mengendarai mobilnya dengan kencang.

**

“ Kamu berhenti saja kuliah atau pindah kampus saja!” ucap kakaknya saat mendengar Lani menangis di kamar. Dia membuka gorden pintu lalu duduk dekat adiknya dengan wajah penuh kemarahan.

“ Apa yang mereka tahu tentang kamu? Seenaknya saja menganggap kamu wanita panggilan. Apa mereka tahu susahnya mencari uang? kamu kerja keras siang malam mencari rezki tidak seperti mereka yang hanya menanti uang dari orang tua.”

Lani terus saja menangis. Bukan karena dirinya dianggap wanita panggilan. Namun karena kanyataan yang ada, dia memang adalah wanita panggilan. Kakaknya yang buta juga tidak tahu tentang itu.

Perumahan yang mereka tempati sekarang adalah hasil dari pekerjaan Lani. Selama ini kakaknya mengira dia bekerja sebagai penyanyi cafe. Mengharapkan hasil dari panggilan nyanyi yang makin hari makin seret membuat Lani berubah pikiran. Ajakan temannya untuk alih pekerjaan dia ikuti.

Namun dia tidak pernah menyangka jika pekerjaan yang dijanjikan temannya adalah sebagai wanita penghibur para lelaki yang kesepian. Saat tahu tentang itu, Lani protes lalu kembali ke pekerjaannya sebagai penyanyi panggilan. Namun tuntutan hidup dan keinginan untuk mendapat kehidupan yang layak membuat Lani akhirnya tak kuat bertahan.

Dia kembali dan menekuni pekerjaan yang menurutnya tidak baik. Terus menerus terbelenggu dalam masalah ekonomi yang tak kunjung reda malah semakin hari semakin membuat kepalanya nyaris meledak membuat Lani pasrah. Orang-orang tak ada yang tahu penderitaannya. Tetangga mereka hanya tahu mencibir dan bergosip. Bahkan jika Lani meminta pinjaman uang hanya caci maki yang dia terima.

Lani ingin keluar dari kehidupan kumuh yang membuatnya serasa di neraka. Tinggal di perkampungan dimana orang-orangnya hanya sibuk menyelamatkan diri mereka dari himpitan ekonomi. Cara tercepat keluar dari tempat itu adalah pindah dan menetap di rumah yang memberikan rasa nyaman dan aman.

Akhirnya Lani benar-benar bisa mewujudkan impiannya. Dia bersama kakakknya yang buta bisa tinggal di salah satu rumah di kompleks perumahan yang lumayan elit. Dan demi masa depannya pula Lani mendaftar kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta. Dia ingin merubah kehidupannya.

Saat perlahan-lahan dia ingin meninggalkan kehidupan gelapnya, gosip tentang dirinya menyebar di kampus. Entah darimana awalnya. Sesuatu yang dia tutup rapat-rapat ternyata bisa juga tercium.

Handphonenya berdering saat dia tengah galau dengan masalahnya.

“ Hallo.” Lani menahan isak tangisnya. Dia tidak lagi membaca nama si penelpon di layar hape.

“ Kamu sudah merasakan sendiri akibatnya jika mulai membantah.” Lani bergerak bangun. Dia mulai sadar siapa yang tengah berbicara dengannya.

“ Bimo? Jadi kamu yang menyebarkan gosip kalau aku wanita panggilan?!?”

Tawa renyah terdengar dari seberang.

“ Benar dan itu baru permulaan. Kami juga punya kejutan lain untukmu.”

“ Aku gak peduli! Sekarang juga aku mau keluar dari tempatmu!” jerit Lani histeris.

“ Keluar saja. Tapi ingat hidupmu tidak akan tenang kecuali kamu kembali kerja bersamaku. Percayalah aku tidak akan berhenti memberi kejutan padamu. Aku akan menunggu sebelum fotomu dengan tubuh aduhai tanpa busana tersebar di internet.”

“ Kamu jahat Bimo! Lepaskan aku!” pekik Lani dengan airmata berlinang. Namun hanya tawa yang dia dengar sebelum Bimo menutup telpon.

Tinggal Lani kini yang menelengkup sambil menangis di pembaringan. Dia ingin lepas dari bayang-bayang Bimo, tapi bagaimana caranya? Baru beberapa hari dia menolak untuk bekerja, gosip tentang dirinya telah tersebar di kampus. Sekarang Bimo mengancam akan menyebarkan foto-foto dirinya tanp busana di internet.

Apa yang harus dia lakukan? Terus bersama Bimo dan melakoni pekerjaan yang membuatnya terhina? Mencoba pergi juga tidak mudah karena ancaman Bimo yang akan lebih mempermalukan dirinya. Lani menangis. Dia tak tahan lagi. Perlahan-lahan dia bangun dari pembaringan. Dia mencari sesuatu di laci meja riasnya.

“ Hanya ini jalan terbaik. Tak akan ada yang mempermalukan aku lagi. Cukup sudah. Tabungan dan deposito yang aku miliki bisa membiayai mbak Ratna selama hidupnya. Dia tidak akan kekurangan.”

Lani menaruh perhiasaan emas,buku tabungan dan deposito itu dalam bungkusan. Dia menulis selembar surat dengan air mata berlinang. Surat itu kemudian dia masukkan dalam bungkusan bersama dengan barang-barang berharga miliknya.

“ Selamat tinggal mbak Ratna. Maafkan adikmu ini. Jangan menyalahkan semua perbuatanku. Aku hanya ingin kehidupan kita lebih baik. Selamat tinggal.”

Dengan gemetar Lani mengiris nadi di lengannya. Terasa perih namun semua tertutupi dengan bayang-bayang kehidupan masa lalu yang penuh penderitaan. Sebuah layar besar nampak di depan matanya. Perjalanan hidup sejak dia masih kecil hingga mengenal arti pentingnya uang dalam hidup. Dia tak peduli dengan kasih sayang. Baginya kasih sayang tak penting asal ada uang. Kasih sayang akan hilang jika kita miskin, pikirnya saat itu.

Airmata Lani menitik saat melihat dia dan kakaknya di usir oleh paman dan bibi yang tidak mau menampung mereka lagi. Berdua mereka terasing dari keluarga. Hidup terlunta di jalan hingga di tampung juragan minyak. Kenangan saat dia harus bekerja keras di rumah juragan itu membuat air matanya makin deras mengalir.

Penderitaan mereka tak jua berhenti karena kakaknya tiba-tiba saja buta. Si juragan tidak mau membantu mengobati penyakit kakaknya. Ada syarat yang membuat Lani merinding kala itu. Juragan yang ternyata genit itu mau membantu jika Lani bersedia menjadi teman tidurnya. Syarat yang membuat Lani jijik dan memilih kabur bersama kakaknya.

Perjalanan hidup terus menghadirkan episode penuh air mata. Dalam pandangan Lani yang mulai kabur yang terdengar hanya tangisan pilu dari dia dan kakaknya. Marah dan sakit hati pada kehidupan yang tak juga memberi pilihan kebahagiaan membuat Lani muak. Dia dan kakaknya harus bahagia. Jangan lagi ada air mata. Tinggalkan penderitaan dan mulai awal kehidupan yang bahagia dengan harta yang melimpah.

Tubuh Lani tergeletak. Dia menangis sambil tersenyum. Ada bahagia meski perih. Salahkah jika dia dan kakaknya menikmati kebahagiaan yang jadi impian mereka malam-malam panjang sebelumnya? Tak ada yang peduli selain diri mereka sendiri.

Makin gelap saat Lani menutup matanya. Semua hilang tak ada lagi penderitaan. ***

0 komentar:

Posting Komentar