Lani mendekati teman-teman kampus yang duduk berkumpul walau
dia tahu mereka tengah membicarakan dirinya. Tapi dia tidak peduli.
Begitu tiba, beberapa orang beranjak pergi. Hanya dua orang yang
tinggal. Itu juga tak lain adalah Nina dan Laras. Dua gadis yang
terkenal santun dan tidak membeda-bedakan teman dalam bergaul.
“ Ehm, kalian masih ada kuliah ya?” tegur Lani ramah. Mereka tersenyum sambil menggeser duduk hingga Lani bisa duduk di antara mereka.
“ Masih, kuliah kita kan sama?” Nina menjawab namun ekspresi matanya gelisah.
“ Maaf, aku boleh tanya sesuatu?” tanya Lani membuat mereka berdua menatapnya.
“
Hanya kalian yang tidak menghindar jika aku datang. Kalian juga mau
bicara denganku. Aku minta tolong, kalian jawab dengan jujur. Kenapa
teman-teman menghindariku?”
Ninda dan Laras saling pandang lalu menunduk. Lani menyentuh lengan Nina.
“ Kenapa? Apa kalian tahu sesuatu? Aku tidak punya teman. Hanya kalian yang bisa menjawab pertanyaanku. Bisa kan?”
“ Semua sudah tahu kamu wanita panggilan.” Jawab Nina pelan namun serasa menampar wajah Lani.
“ Siapa yang bilang? Kalian dengar darimana??” tanya Lani cemas.
“
Aku kira kamu juga sudah tahu namun pura-pura tidak tahu. Kami bertahan
berteman denganmu karena kami ingin kamu kembali ke jalan yang benar.
Kalau semua orang meninggalkanmu, kamu tidak akan tahu perbuatanmu itu
tidak baik.”
“
Aku bukan seperti itu! Kalian berdua harus percaya sama aku. Gosip
darimana yang mengatakan aku wanita panggilan? Selama ini aku mendengar
gosip miring tentang diriku. Tapi aku anggap itu hanya obrolan iseng
yang gak tahu pekerjaanku. Tapi makin hari aku lihat tak ada teman yang
mau dekat sama aku. Teman lelaki juga makin iseng menggoda. Apa kalian
percaya kalau aku wanita panggilan?”
“
Yang tahu tentang dirimu adalah kamu sendiri. Jika menurutmu tidak
seperti itu, jangan pedulikan tanggapan orang-orang. Mereka juga
bersikap seperti itu tentu ada alasannya. Kami juga meski masih ragu
namun tidak bisa mengabaikan perkataan mereka. Kamu hanya perlu
memperlihatkan, bahwa kamu bukan orang seperti itu. Maaf Lani, kami
permisi dulu.”
Nina
dan Laras kemudian beranjak meninggalkan Lani yang diam terpaku.
Matanya berkaca-kaca berusaha menahan beban batin yang membuncah. Karena
tak tahan lagi, Lani kemudian meninggalkan kampus. Dia berjalan ke
parkiran lalu mengendarai mobilnya dengan kencang.
**
“ Kamu berhenti saja kuliah atau pindah kampus saja!” ucap kakaknya saat mendengar Lani menangis di kamar. Dia membuka gorden pintu lalu duduk dekat adiknya dengan wajah penuh kemarahan.
“
Apa yang mereka tahu tentang kamu? Seenaknya saja menganggap kamu
wanita panggilan. Apa mereka tahu susahnya mencari uang? kamu kerja
keras siang malam mencari rezki tidak seperti mereka yang hanya menanti
uang dari orang tua.”
Lani terus
saja menangis. Bukan karena dirinya dianggap wanita panggilan. Namun
karena kanyataan yang ada, dia memang adalah wanita panggilan. Kakaknya
yang buta juga tidak tahu tentang itu.
Perumahan
yang mereka tempati sekarang adalah hasil dari pekerjaan Lani. Selama
ini kakaknya mengira dia bekerja sebagai penyanyi cafe. Mengharapkan
hasil dari panggilan nyanyi yang makin hari makin seret membuat Lani berubah pikiran. Ajakan temannya untuk alih pekerjaan dia ikuti.
Namun
dia tidak pernah menyangka jika pekerjaan yang dijanjikan temannya
adalah sebagai wanita penghibur para lelaki yang kesepian. Saat tahu
tentang itu, Lani protes lalu kembali ke pekerjaannya sebagai penyanyi panggilan. Namun tuntutan hidup dan keinginan untuk mendapat kehidupan yang layak membuat Lani akhirnya tak kuat bertahan.
Dia
kembali dan menekuni pekerjaan yang menurutnya tidak baik. Terus
menerus terbelenggu dalam masalah ekonomi yang tak kunjung reda malah
semakin hari semakin membuat kepalanya nyaris meledak membuat Lani
pasrah. Orang-orang tak ada yang tahu penderitaannya. Tetangga mereka
hanya tahu mencibir dan bergosip. Bahkan jika Lani meminta pinjaman uang
hanya caci maki yang dia terima.
Lani
ingin keluar dari kehidupan kumuh yang membuatnya serasa di neraka.
Tinggal di perkampungan dimana orang-orangnya hanya sibuk menyelamatkan
diri mereka dari himpitan ekonomi. Cara tercepat keluar dari tempat itu
adalah pindah dan menetap di rumah yang memberikan rasa nyaman dan aman.
Akhirnya Lani benar-benar bisa mewujudkan impiannya. Dia bersama kakakknya yang buta bisa
tinggal di salah satu rumah di kompleks perumahan yang lumayan elit.
Dan demi masa depannya pula Lani mendaftar kuliah di salah satu
perguruan tinggi swasta. Dia ingin merubah kehidupannya.
Saat
perlahan-lahan dia ingin meninggalkan kehidupan gelapnya, gosip tentang
dirinya menyebar di kampus. Entah darimana awalnya. Sesuatu yang dia
tutup rapat-rapat ternyata bisa juga tercium.
Handphonenya berdering saat dia tengah galau dengan masalahnya.
“ Hallo.” Lani menahan isak tangisnya. Dia tidak lagi membaca nama si penelpon di layar hape.
“ Kamu sudah merasakan sendiri akibatnya jika mulai membantah.” Lani bergerak bangun. Dia mulai sadar siapa yang tengah berbicara dengannya.
“ Bimo? Jadi kamu yang menyebarkan gosip kalau aku wanita panggilan?!?”
Tawa renyah terdengar dari seberang.
“ Benar dan itu baru permulaan. Kami juga punya kejutan lain untukmu.”
“ Aku gak peduli! Sekarang juga aku mau keluar dari tempatmu!” jerit Lani histeris.
“
Keluar saja. Tapi ingat hidupmu tidak akan tenang kecuali kamu kembali
kerja bersamaku. Percayalah aku tidak akan berhenti memberi kejutan
padamu. Aku akan menunggu sebelum fotomu dengan tubuh aduhai tanpa
busana tersebar di internet.”
“
Kamu jahat Bimo! Lepaskan aku!” pekik Lani dengan airmata berlinang.
Namun hanya tawa yang dia dengar sebelum Bimo menutup telpon.
Tinggal
Lani kini yang menelengkup sambil menangis di pembaringan. Dia ingin
lepas dari bayang-bayang Bimo, tapi bagaimana caranya? Baru beberapa
hari dia menolak untuk bekerja, gosip tentang dirinya telah tersebar di
kampus. Sekarang Bimo mengancam akan menyebarkan foto-foto dirinya tanp
busana di internet.
Apa
yang harus dia lakukan? Terus bersama Bimo dan melakoni pekerjaan yang
membuatnya terhina? Mencoba pergi juga tidak mudah karena ancaman Bimo
yang akan lebih mempermalukan dirinya. Lani menangis. Dia tak tahan
lagi. Perlahan-lahan dia bangun dari pembaringan. Dia mencari sesuatu di
laci meja riasnya.
“
Hanya ini jalan terbaik. Tak akan ada yang mempermalukan aku lagi.
Cukup sudah. Tabungan dan deposito yang aku miliki bisa membiayai mbak
Ratna selama hidupnya. Dia tidak akan kekurangan.”
Lani
menaruh perhiasaan emas,buku tabungan dan deposito itu dalam bungkusan.
Dia menulis selembar surat dengan air mata berlinang. Surat itu
kemudian dia masukkan dalam bungkusan bersama dengan barang-barang berharga miliknya.
“
Selamat tinggal mbak Ratna. Maafkan adikmu ini. Jangan menyalahkan
semua perbuatanku. Aku hanya ingin kehidupan kita lebih baik. Selamat
tinggal.”
Dengan gemetar Lani mengiris nadi di lengannya. Terasa
perih namun semua tertutupi dengan bayang-bayang kehidupan masa lalu
yang penuh penderitaan. Sebuah layar besar nampak di depan matanya.
Perjalanan hidup sejak dia masih kecil hingga mengenal arti pentingnya
uang dalam hidup. Dia tak peduli dengan kasih sayang. Baginya kasih
sayang tak penting asal ada uang. Kasih sayang akan hilang jika kita
miskin, pikirnya saat itu.
Airmata
Lani menitik saat melihat dia dan kakaknya di usir oleh paman dan bibi
yang tidak mau menampung mereka lagi. Berdua mereka terasing dari
keluarga. Hidup terlunta di jalan hingga di tampung juragan minyak. Kenangan saat dia harus bekerja keras di rumah juragan itu membuat air matanya makin deras mengalir.
Penderitaan
mereka tak jua berhenti karena kakaknya tiba-tiba saja buta. Si juragan
tidak mau membantu mengobati penyakit kakaknya. Ada syarat yang membuat
Lani merinding kala itu. Juragan yang ternyata genit itu mau membantu
jika Lani bersedia menjadi teman tidurnya. Syarat yang membuat Lani jijik dan memilih kabur bersama kakaknya.
Perjalanan hidup terus menghadirkan episode penuh air mata. Dalam pandangan Lani yang
mulai kabur yang terdengar hanya tangisan pilu dari dia dan kakaknya.
Marah dan sakit hati pada kehidupan yang tak juga memberi pilihan
kebahagiaan membuat Lani muak. Dia dan kakaknya harus bahagia. Jangan
lagi ada air mata. Tinggalkan penderitaan dan mulai awal kehidupan yang
bahagia dengan harta yang melimpah.
Tubuh
Lani tergeletak. Dia menangis sambil tersenyum. Ada bahagia meski
perih. Salahkah jika dia dan kakaknya menikmati kebahagiaan yang jadi impian mereka malam-malam panjang sebelumnya? Tak ada yang peduli selain diri mereka sendiri.
Makin gelap saat Lani menutup matanya. Semua hilang tak ada lagi penderitaan. ***
0 komentar:
Posting Komentar