Selasa, 10 April 2012

Bintang Di Hatiku

0

 

Hujan awal Desember menyambutku saat kembali ke tempat ini. Kuparkir mobil silverku di bawah pohon mangga yang tumbuh rindang di depan rumah kakek. Lewat jendela mobil, ku lihat kakek ke luar ke teras dengan gembira menyambut kedatanganku. Aku tak sabar ingin segera memeluknya.

Kumatikan mesin mobil lalu secepatnya keluar menghindari guyuran hujan yang deras. Aku berlari cepat menaiki anak tangga satu persatu. Kerinduan pada kakek membuatku terus berlari hingga memeluknya dengan erat.

“ Dinda kangen sama kakek.” Kataku sambil memeluknya. Kakek membalas pelukanku lalu menepuk-nepuk pundakku dengan penuh sayang.

“ Kakek juga kangen sama Dinda.” Kami saling melepaskan rasa rindu beberapa saat lamanya.


*

“ Kamu ada masalah apa?” tanya kakek saat kami sudah duduk di teras menikmati teh hangat dan pisang rebus. Hujan masih deras mengguyur kampung tempat kakek tinggal.

“ Tidak ada kek. Apa kelihatan wajah Dinda penuh masalah?” candaku sambil tersenyum. Kakek tertawa. Dia menyentuh hidungku.

“ Kamu sejak kecil selalu saja tidak jujur kalau ada masalah. Wajahmu bukan lagi mencerminkan masalah, seluruh sikapmu membuat kakek yakin kamu kesini bukan saja karena kangen dengan kakek. Benarkan?”

Aku tertawa perih. Kakek benar. Aku orangnya seperti itu. Sejak kecil aku tidak pernah terbuka dengan perasaanku. Hanya kakek yang mengerti dan tahu jika aku tengah gundah. Kakek yang selama ini selalu menjadi tempat pelarianku jika aku tak sanggup lagi memikirkan masalahku atau aku tidak bisa mencari jalan keluar. Setelah berbincang dengan kakek, aku baru merasa tenang dan bisa kembali menjalani hidup tanpa beban kegundahan lagi.

“ Ada apa? Ayo cerita, masalah adikmu lagi?” tebakan kakek selalu benar. Namun kali ini aku menggeleng. Bukan karena Dita aku menemui kakek. Meski hingga kini Dita masih menjadi duri dalam daging di kehidupanku, tapi sejak nasehat kakek terakhir, aku tak lagi peduli padanya. Aku tahu, percuma membuang energi memikirkan Dita. Papa dan mama selalu membelanya. Sebagai kakak, selalu aku yang disalahkan. Karena itu aku kemudian memilih menetap di luar. Tinggal di rumah yang di belikan kakek untukku.

Aku beruntung memiliki kakek yang kaya dan baik hati. Hingga keluhanku sejak dulu selalu ada pemecahan. Sejak aku bekerja, kakek yang membelikan rumah dan mobil untukku. Ini membuat Dita merasa tidak senang karena menganggap kakek pilih kasih. Tapi menurut kakek itu wajar karena sebenarnya, akulah pemilik sah semua kekayaan kakek.

Kalau mengingat silsilah keluarga, maka garis keturunan kakek hanya menyentuh diriku. Dita tidak termasuk di dalamnya. Papa dan mama menikah saat keduanya berstatus duda dan janda dengan membawa anak masing-masing. Dita adalah anak papa sedangkan aku anak mama. Waktu itu umurku 3 tahun sedangkan Dita setahun. Tapi papa dan mama tak pernah tahu kalau aku telah tahu kisah ini. Kakek yang menceritakan semuanya. Keluarga besar kami juga tahu namun tidak ada yang lancang untuk bercerita. Papa dan mama meminta mereka untuk diam demi menjaga perasaan Dita. Semua karena Dita. Demi dia kebenaranpun akan mama tutupi.

Karena itu dalam pemikiran Dita, kakek adalah kakeknya juga. Padahal mama adalah anak kakek. Otomatis akulah cucu kakek yang sebenarnya. Walau menurut kakek dia tidak pilih kasih terhadap kami berdua namun Dita sering cemburu jika aku mendapat perhatian lebih dari kakek. Sementara kakek menyayangiku karena tahu keadaanku di dalam rumah. Kakek tahu aku tidak bahagia karena itulah kakek selalu menghiburku.

“ Eh,kok malah melamun?” tegur kakek menyadarkanku dari lamunan.

“ Dinda gak ada masalah kek. Dinda cuma mau nginap disini. Seminggu ini Dinda cuti karena itu Dinda mau menemani kakek.” Kataku sambil merangkulnya. Kakek tertawa senang.

“ Benarkah? Bagus kalo begitu. Kakek tidak akan makan sendirian lagi.”

Aku bahagia melihat mata kakek yang berbinar. Sudah sejak lama aku ingin tinggal bersama kakek tapi karena alasan pekerjaan hingga aku selalu menunda keinginan tersebut. Pernah sekali aku ingin berhenti dari pekerjaanku demi menemani kakek di kampung. Tapi kakek menentangnya. Menurut kakek aku tidak akan betah tinggal lama di kampung karena sejak kecil terbiasa menetap di kota. Wajar ketika itu kakek hanya tertawa menanggapi ide yang menurutnya lucu.

**

Hingga malam hujan tak kunjung reda. Derasnya masih saja sama. Aku baru saja selesai berbincang dengan kakek lalu masuk ke dalam kamar dan bersiap untuk tidur. Kulihat jam di hape sudah menunjukkan pukul 10 malam. Cuaca yang dingin membuat kantukku makin tak tertahankan. Kumatikan lampu kamar lalu menyalakan lampu tidur yang temaram. Kamar ini terlihat lebih teduh.

Kubaringkan tubuhku lalu menarik selimut. Terasa hangat. Aku bersiap tidur namun sebelumnya aku membaca doa, berharap bermimpi yang indah. Ingin kulupakan masalahku sejenak. Aku tidak ingin bermimpi tentang mas Randi. Lelaki yang baru setengah tahun ini mengisi hidupku. Aku tidak ingin mengingatnya. Meski dia masih kekasihku tapi aku tidak ingin menerbangkan anganku terlalu jauh. Aku takut akhirnya terluka.

Hubungan yang indah awalnya. Banyak impian yang ingin aku wujudkan bersamanya. Meski belum lama saling mengenal, aku yakin dia lelaki yang selama ini aku cari. Perhatian dan kasih sayangnya membuatku jatuh hati. Dia benar-benar baik. Begitu dewasa dan mempunyai pola pikir yang berbeda denganku. Aku cenderung tidak sabar dalam memutuskan masalah sementara mas Randi begitu hati-hati. Mungkin karena usia kami yang terpaut 8 tahun hingga pengalaman hidup juga berbeda.

Namun 2 minggu yang lalu, Amanda sahabatku menceritakan kisah yang membuatku cemas. Dia mendengar gosip kalau mas Randi ada affair dengan bos wanita di tempat kerjanya. Bukan Amanda saja yang sering memergoki mereka jalan berdua, bahkan teman-teman sekantor yang lain juga pernah melihatnya. Mereka tak ingin ikut campur karena itu tak ada yang menyampaikan padaku.

Aku gelisah meski masih berusaha untuk mempercayai mas Randi. Aku tidak ingin menuduh berdasarkan informasi dari orang lain. Aku ingin melihatnya sendiri atau setidaknya ucapan itu jujur dari mas Randi bukan dari omongan orang.

Namun sayang, keinginan untuk mendapat penjelasan dari mas Randi tertunda karena dia mendapat tugas ke luar propinsi. Aku mencoba menanyakan lewat telpon dan sms tapi mas Randi hanya memintaku untuk sabar hingga dia pulang. Dia tidak bisa menjelaskan lewat telpon atau sms karena sibuk mempersiapkan meeting dengan klien.

Aku yang makin gelisah akhirnya tak bisa konsentrasi untuk bekerja. Syukurlah permohonan cuti yang aku ajukan sebulan sebelumnya di setujui hingga aku bisa menenangkan diri untuk sementara waktu di rumah kakek. Aku datang dengan beban masalah seperti tebakan kakek. Hanya aku tidak ingin kakek mengetahui masalahku. Cukup aku saja yang mencari cara penyelesaiannya.

**

Pagi yang indah walau masih menyisakan sisa hujan semalam, namun sinar mentari yang menembus sela-sela pepohonan nampak seperti bintang yang hadir di siang hari. Keinginan untuk jalan-jalan menikmati perkebunan hadir di benakku. Aku melangkah keluar rumah dengan penuh semangat untuk merasakan udara pagi yang segar.

Sambil berjalan aku mencari sosok kakek. Sejak selesai sholat subuh, kakek telah keluar untuk meninjau perkebunan. Namun meski telah berjalan cukup jauh, aku tidak juga berhasil menemukan kakek. Mungkin kakek berada di kebun yang paling jauh, pikirku. Biarlah kali ini aku berjalan seorang diri. Semoga perkebunan coklat milik kakek mampu menenangkan perasaanku.

Getaran handphone dari saku celana menghentikan langkahku. Ku rogoh hape dan dering panggilan terus berbunyi. Tampak di layar terbaca nama Randi. Aku segera menerimanya dengan rasa cemas yang tiba-tiba hadir. Aku takut mendengar jika ternyata gosip tentang mas Randi yang menjalin hubungan dengan bos di kantornya benar adanya. Tapi apakah mas Randi akan berani mengakui jika benar dia telah berselingkuh di belakangku?

“ Hallo..” suara mas Randi terdengar. Hatiku merasa nyaman mendengar suaranya. Ada kerinduan berbalut kecemasan akan kehilangan dirinya.

“ Hallo..mas Randi lagi dimana?” tanyaku dengan suara bergetar karena rindu.

“ Di depan rumah kakekmu. Kamu dimana?” untuk sejenak aku diam terpaku. Kaget mendengar ucapannya. Ada rasa tidak percaya. Aku ragu apakah saat ini mas Randi benar-benar serius atau hanya bercanda. Aku baru tersadar saat dia memanggil namaku.

“ Dinda..Dinda sayang. Kamu masih dengar kan?” panggilnya dengan suara lembut.

“ Iya….sekarang mas Randi benar-benar ada di depan rumah kakek?” tanyaku masih tidak percaya.

Mas Randi tertawa. Aku makin yakin kalau dia hanya bercanda.

“ Tuh..kan mas Randi bikin aku kaget saja. Aku kira beneran…”

“ Lho..aku serius sekarang aku malah lagi duduk di teras rumah kakek.”

“ Benar kah? Aku masih tidak percaya. Apa buktinya kalo mas lagi ada di teras rumah kakek?” Aku masih ragu.

“ Ehm.apa ya? Apa harus ada bukti?…oh, iya..ini di teras masih ada segelas teh dan roti sisa setengah.” Tanpa sadar aku melonjak karena gembira. Berarti mas Randi benar ada di rumah kakek. Mas Randi ada di sini, pekikku sambil bersorak dalam hati.

“ Kenapa mas Randi tiba-tiba kemari? Kan lagi ke luar daerah. Apa kerjaannya udah kelar?”

“ Aku kesini mau ngelamar kamu.”

“ Apa?!?!?” tak sadar aku berteriak saking kagetnya.

“ Daripada aku dituduh selingkuh lebih baik sekarang juga aku melamar kamu.”

“ Aku gak nuduh selingkuh, mas. Aku cuma minta penjelasan. Tapi..kok Mas Randi tahu kalau aku lagi di rumah kakek?” Aku bertanya lagi dengan wajah penuh rasa heran bercampur bahagia. Kali ini aku menerima telpon sambil melangkah cepat menuju ke rumah kakek.

“ Kakek yang menelponku.”

“ Kakek?”.

“ Iya. Kakek memberitahu kalau aku masih berminat terhadap Dinda, jangan mempermainkan Dinda hingga membuat pikiran Dinda kacau. Jangan membuat Dinda sedih dan penuh dengan masalah. Kakek bilang aku adalah penyebab hingga kamu kabur ke tempat kakek. Kamu curhat sama kakek ya?”

Aku melongo mendengar ucapan mas Randi. Aku bahkan belum menceritakan masalahku pada kakek. Kenapa kakek bisa tahu semuanya? Jadi benar perkataan kakek tentang sikapku yang terlihat mencerminkan sedang dirundung masalah. Kakek ternyata bisa menebaknya.

Tiba-tiba kakek muncul agak jauh di depanku. Dengan mata penuh embun aku berlari menghampirinya. Aku ingin memeluknya. Aku terharu karena kakek bisa mengetahui apa yang aku rasakan walau tak pernah aku ucapkan. Kakek aku menyayangimu. Kakek adalah bintang di hatiku, batinku terharu.***

0 komentar:

Posting Komentar