Selasa, 03 April 2012

Menjelang Tengah Malam

0

1328941353935199443

Di pojok jalan kompleks menjelang tengah  malam.

” Rumahnya yang mana, ya?” gumam seorang lelaki yang nampak bingung. Sejak tadi memutari jalan poros dan memasuki beberapa kompleks  perumahan, dia belum juga menemukan alamat yang di cari.

” Cari siapa,mas?” tegur pemilik kios kecil yang sejak tadi memperhatikan tingkahnya. Dia tidak sempat lagi menghitung beberapa kali lelaki itu melintas dengan motornya sejak lepas maghrib.

Lelaki itu tersenyum lalu menghampiri bapak pemilik warung. Dia memperlihatkan kertas yang  dipegangnya.

” Alamat ini? mas serius mencari alamat ini?” wajah pemilik warung nampak pucat. Lelaki itu menatap heran.

” Iya, pak memang ada apa? kok wajah bapak pucat?”

Bapak itu tak menjawab. Buru-buru dia menutup kios lalu menarik tangan lelaki itu agar masuk ke dalam kiosnya. Mereka  duduk berdua di dalam kios yang penuh sesak dengan barang-barang.

” Mas dapat alamat ini dari mana?” tanya bapak itu dengan suara pelan seolah takut terdengar. Semula lelaki itu tidak terlihat takut namun melihat ekspresi wajah dari si bapak akhirnya dia ikut merinding juga.

” Saya dapat dari seorang kenalan, Pak. Perempuan. Kebetulan malam itu saya memberi tumpangan karena dia kemalaman dan tidak dapat angkutan. Saya kasihan dan tidak tega membiarkan dia lama menunggu di pinggir jalan. Akhirnya saya bonceng hingga di depan jalan poros itu. Katanya rumahnya di sekitar sini. Apa benar begitu?”

Bapak itu menghela nafas  lalu menatap lekat-lekat lelaki di depannya.

” Itu alamat kuburan. Di dekat kompleks ini ada pemakaman umum namun sudah di tutup sejak lama. Jangan-jangan yang mas temui itu bukan manusia melainkan…” Bapak itu tak melanjutkan kata-katanya mungkin takut membayangkan  apa yang ada dalam pikirannya.

Si lelaki makin gemetaran karena takut.

” Kalau begitu saya permisi pulang dulu, pak. Terima kasih karena sudah memberitahu saya.”

Dia lalu membuka pintu kios. Merasakan hawa dingin malam membuatnya merinding.

” Mari pak, saya jalan dulu.” Pamitnya yang di sambut anggukan kepala oleh bapak pemilik warung.

Motor lalu melaju menembus keheningan malam.

Saat si lelaki berlalu, bapak pemilik warung bersiap untuk menutup pintu kios.

” Pak, jangan tutup dulu warungnya!”

Suara teriakan perempuan membuat si bapak urung menarik pintu kios. Dia mencari asal suara. Matanya menatap dalam keremangan lampu jalanan. Nampak seorang perempuan tengah tergopoh-gopoh menghampirinya. Teringat dengan kisah pemuda tadi membuat si bapak gemetar.

Si bapak kemudian membaca doa pengusir makhluk-makhluk halus, namun perempuan itu tetap saja mendekatinya. Si bapak tak hilang akal, dia melihat kaki di si perempuan. Menyentuh tanah! berarti dia nyata bukan makhluk halus.

Si bapak pemilik warung akhirnya merasa lega. Rasa takut hilang berganti senyum  saat perempuan itu tepat berada di depannya.

” Maaf, pak. Mau beli obat. Bapak saya tiba-tiba deman trus sakit kepala. Saya benar-benar takut dan panik.” Suara lembut si perempuan makin menambah keyakinan si bapak kalau yang dihadapinya adalah manusia bukan makhluk jadi-jadian.

” Anak ini tinggal di mana? kok tengah malam berani jalan sendiri?” tanyannya sambil mencarikan obat yang dimaksud.

” Di sana pak, di dalam kompleks pemakaman.” Jawaban perempuan itu  membuat si bapak kaget dan hampir terjatuh dari kursi kecilnya. Dia menatap perempuan itu sekali lagi dengan rasa gugup. Takut jika tadi pandangannya salah. Jangan-jangan perempuan ini benar makhluk halus?

” Bapak ini, saya tau yang bapak pikirkan. Bapak jangan takut, saya ini manusia bukan hantu. Nama saya Banowati. Saya benar tinggal di dalam kompleks pemakaman. Rumah saya benar di sana sejak dulu. Kalau tidak percaya, besok pagi saya ke sini lagi biar bapak yakin kalau saya bukan hantu. Saya ini benar manusia, pak. Nih lihat kaki saya, nginjak tanah kok.” Jelas si perempuan dengan penuh semangat.

Si bapak tidak menjawab. Dia teringat dengan lelaki yang tadi mencari alamat. Pada kertas yang diperlihatkan lelaki itu tertulis, Banowati Jl. Lembayung kompleks TPU Kemboja II. Ternyata perempuan yang dia temui benar nyata bukan hantu seperti dugaannya.

**********

0 komentar:

Posting Komentar