Selasa, 03 April 2012

Hadiah Dari Nenek ( 5 )

0

13287937231292492301

Ternyata aku tak salah lihat. Ferdy benar-benar melihatku. Dia menantiku lewat di depannya.

” Jangan sedih. Dia hanya belum paham.” katanya menyambutku saat aku tiba di dekatnya. Aku benar-benar lelah. Tubuh dan hatiku sama lelahnya.  Aku duduk di tangga. Ferdy ikut duduk di sebelahku.

” Aku belum menjelaskan apapun. Dia tidak memberiku kesempatan.” Aku menutup mata mencoba menahan tangis.

” Memang sulit untuk menjelaskan. Orang-orang seperti kita, kadang sulit untuk di mengerti.”

Aku tersentak kaget mendengar ucapan Ferdy. Bingung dengan ucapannya barusan. Apa maksudnya mengatakan orang-orang seperti kita?

” Maaf, Ferdy. Apa aku yang salah dengar? barusan kamu bilang, orang-orang seperti kita. Apa maksudmu?”

Ferdy menatapku lalu melihat mahasiswa yang lalu lalang melewati tangga.

” Sebelumnya aku minta maaf. Saat pertama kali kamu menolongku, aku telah tahu. Kamu punya kemampuan khusus yang tidak dimiliki semua orang. Aku juga memilikinya.” Ferdy menjawab setengah berbisik namun membuat jantungku nyaris lepas.

” Kamu juga memilikinya?” tanyaku dengan suara pelan.

” Iya. Tapi meski sama kita memiliki kemampuan yang berbeda. Itu sebabnya aku meminta nomor hape kamu. Banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu. Selama ini aku merasa sendiri. Tertekan karena tak boleh menceritakan kemampuan yang aku miliki pada orang lain. Aku yakin kamu juga seperti itu. Benarkan?”

Aku mengangguk.

” Iya. Maaf, Ferdy. Sebaiknya kita jangan membicarakan masalah ini di sini. Ini terlalu beresiko.”

” Aku setuju. Bagaimana kalau kita ke rumah nenekku saja. Di sana tidak ada siapapun. Nenekku sibuk di kiosnya hingga sore. Kita bisa  leluasa di rumah nenekku.”

Aku sepakat. Kami lalu melangkah ke parkiran. Aku dan Ferdy mengendarai motor masing-masing. Kejadian tadi membuatku malas mengikuti kuliah apalagi setelah aku tahu Ferdy juga memiliki kemampuan yang mirip denganku. Ini saat yang tepat bagi kami untuk saling bertukar pengalaman terutama aku yang baru saja menerima kemampuan cahaya dari nenek.

Setengah jam perjalanan kami akhirnya tiba di rumah nenek Ferdy. Pagar tinggi yang mengelilingi rumah serta pohon mangga yang tumbuh besar di halaman menambah rindang dan tenangnya suasana.

” Masuklah. Di sini tak ada orang lain selain nenekku. Hanya aku yang biasa menemani nenek. Dulu tempat ini sangat ramai namun karena semua sudah berkeluarga dan memiliki rumah, akhirnya cuma nenek yang kini menempati.” Ucap Ferdy menjelaskan.

Aku mengikutinya memasuki rumah. Ruang tamu yang tidak terlalu luas dengan perabotan sederhana namun masih terawat. Ruangan juga sangat bersih.

” Aku yang membersihkan.” Ucap Ferdy seolah bisa membaca pikiranku. Aku tersenyum.

” Kita lanjutkan pembicaraan saat di kampus tadi. Aku ingin menjelaskan sesuatu sebelum kamu bingung. Begini, aku menerima ilmu ini dari ayahku sebelum dia meninggal. Aku menerimanya lima bulan yang lalu namun hingga kini aku masih bingung untuk menggunakan ilmu itu.”

” Sama denganku. Benar-benar membingungkan. Kadang kalau gugup, aku malah tidak berpikir untuk memakainya.”

” Bagaimana kalau mulai hari ini kita berdua latihan bersama. Kamu setuju?” Ferdy menatapku.

Aku mengangguk. Sekarang aku lega karena Ferdy bisa menjadi temanku berbagi. Kami bisa membicarakan hal-hal yang menjadi rahasia kami.

” Ayo kita mulai sekarang. Aku atau kamu yang lebih dulu mempraktekkan?”

” Kamu saja.” jawabku.

Ferdy lalu duduk tegak. penuh konsentrasi di menatap meja di depannya. Beberapa detik kemudian, meja itu terangkat lalu turun kembali. Pandangannya kemudian berpindah ke perabotan lain. Sikapnya sama, juga dengan gerakan yang sama mengangkat perabotan lalu menurunkan kembali.

” Sekarang giliranmu.” Ucap Ferdy.

Aku juga mengambil sikap seperti Ferdy. Duduk tegak dan konsentrasi untuk melakukan kegiatan yang Ferdy lakukan tadi.  Gerakan ini sudah pernah aku lakukan saat bersama nenek  jadi bukan hal baru lagi untukku.

” Berarti ilmu kita ada kemiripan. Coba yang ini, apa kamu juga memilikinya?”

Ferdy berdiri. Perlahan dia menutup matanya lalu membuka kembali. Selang beberapa menit, tubuhnya terangkat. Dia melayang-layang di dalam ruangan. Langit-langit rumah yang tinggi mampu di jangkaunya. Kakinya melangkah seolah udara adalah lantai tempat  berpijak. Aku terperangah menatapnya. Apakah aku juga memiliki ilmu seperti itu?

” Sekarang giliranmu.” Ucap Ferdy sebelum kakinya menyentuh lantai.

” Aku tidak tahu apa bisa melakukannya.” kataku ragu. Setahuku nenek tidak pernah membicarakan tentang gerakan melayang seperti yang Ferdy lalukan.

” Konsentrasi saja. Intinya fokus dengan apa yang kamu inginkan.” Ferdy memberi semangat.

Aku mengikuti kata-kata Ferdy. Mencoba untuk konsentrasi dan fokus melakukan gerakan seperti Ferdy. Benar saja. Perlahan tubuhku terangkat dan aku bisa mengikuti gerakan sesuai fikiranku. Aku takjub. Melihat Ferdy di bawah membuat perasaan aneh menyelimutiku. Rasanya bahagia bisa melakukan adegan yang hanya kulihat di film-film. Ternyata dalam kehidupan nyata, itu benar-benar terjadi. Aku membuktikannya sekarang. Aku bisa terbang dan melayang di udara. Tubuhku terasa sangat ringan.

” Turunlah!” panggil Ferdy menyadarkan dari rasa bahagia. Aku bergerak turun dan berdiri di depan Ferdy.

” Kita sudah melakukan dua hal. Berarti sampai sejauh ini ilmu yang kita miliki masih ada persamaan. Apa kamu tidak lelah?”

Aku menggeleng. Meski lelah mungkin aku akan menahannya. Rasa penasaran mengalahkan rasa lelah pada tubuhku.

” Sekarang apa lagi?” tanyaku makin semangat untuk mengetahui kemampuan kami.

Ferdy menarik kursi lalu duduk di depan meja. Dengan gerakan tangan dia memintaku melakukan hal yang sama.

” Untuk gerakan fisik, kita lanjutkan saja besok. Sekarang aku ingin kita mencoba ilmu ini.”

Ferdy merobek selembar kertas lalu mengambil pulpen.

” Tulis nama sahabatmu, yang kamu kenal dengan baik. Ingat kamu mengenalnya dengan baik. Aku nanti akan menggambarkan sosok sahabatmu itu. Kalau tidak sesuai kamu bisa menyela ucapanku. Ingat menyela tidak asal menyela. Mungkin saja kamu malah belum tahu lebih detil pribadi sahabatmu itu.”

Aku menulis nama Deta lalu menyerahkan kertas itu ke Ferdy.

Ferdy melihatnya beberapa saat lalu memejamkan mata.

” Dia gadis yang cantik. Tingginya 162 cm. Putih dan langsing. Rambutnya hitam dengan bulu mata yang lentik serta alis mata yang tebal. Benar-benar sempurna. Sepertinya,aku pernah melihatnya. Oh, ya kenalkan aku sama dia, ya Lita. Sepertinya aku jatuh cinta nih.”

Aku tertawa. Dasar Ferdy,aku serius mendengarkan dia malah bercanda.

” Sayang sekali, apa kamu tahu cahaya yang mengelilinginya? dikampus cahaya hijau melindunginya namun di rumah berubah jadi warna coklat. Sepertinya dia tidak bahagia.”

Aku terhenyak. Deta di kelilingi warna coklat? apa gerangan masalahnya hingga aku sendiri tidak tahu?

” Aku melihat dia sering menangis. Ada seorang lelaki muda mungkin kekasihnya yang terlihat marah padanya….”

Ferdy menghentikan ucapannya. Dia membuka mata lalu menatapku.

” Adi kekasihmu,kan?” Pertanyaannya membuatku tertegun karena heran meski kemudian aku membenarkan.

” Kenapa kamu menanyakan seperti itu?”

Ferdy menunduk lalu menatapku lagi.

” Maaf, Lita. Mungkin aku yang salah melihat ataukah ada sesuatu yang tidak kamu ketahui.”

Aku menyimak dalam rasa bingung.

” Deta benar sahabatmu?” Aku mengangguk cepat. Makin lama ucapan Ferdy membuatku cemas.

” Apa ada sesuatu yang kamu lihat? ceritakan saja, aku siap mendengarkan.”

” Benar? kamu yakin?”

” Iya.” jawabku cepat. Percuma mengulur waktu. Sekarang adalah saat yang tepat untuk mengetahui batas kemampuan kami. Aku siap mendengar apapun yang diketahui Ferdy.

Ferdy menutup matanya. Beberapa saat dia terdiam, lalu…

” Aku lihat Adi memarahi Deta. Mereka tinggal di sebuah rumah. Tak ada orang lain, hanya berdua. Apa mereka bersaudara ataukah ada hubungan khusus? maaf Lita, ada juga gambaran mereka tertawa, bermesraan. Maaf, aku tidak bisa berbohong padamu.”

Ferdy membuka matanya.

” Aku tidak sanggup Lita. Maafkan aku.”

Ferdy menatapku. Di saat yang sama aku juga menatapnya. Namun arti tatapan kami berbeda. Kecemasan tergambar dari raut wajah Ferdy sementara mataku sudah berkaca-kaca.

” Mungkin aku yang salah lihat, Lita. Semoga aku yang salah..”

” Salah atau benar kita harus membuktikannya. Selama ini aku percaya terhadap mereka. Namun sejak aku memiliki kemampuan unik ini, aku melihat Adi di kelilingi cahaya hitam. Aku bingung melihat kenyataan hingga aku sempat shock. Walau masih percaya namun rasa ingin tahu membuatku terus mencari. Aku ingin tahu mengapa ada sinar hitam yang melekat pada Adi. Mungkin apa yang kamu lihat adalah salah satu tanda yang menyebakan ada sinar seperti itu.”

” Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?”

” Temani aku ke tempat Deta. Aku ingin membuktikan hasil terawang mu.”

Aku berdiri. Ku hela nafas berulang-ulang sebelum melangkah keluar.

” Tetap tenang, Lita. Jangan terbawa emosi. Kalau hari ini kamu belum menemukan apapun, setidaknya waktu kita masih panjang.” Ucap Ferdy saat membuka pintu pagar.

” Kamu benar. Masih banyak waktu untuk membuktikan, mereka benar-benar manusia yang layak di sebut sahabat dan kekasih atau hanya musang berbulu domba.”

Aku berusaha tenang dan tegar, namun tangisan itu sudah bergema dalam hatiku. Hanya menunggu waktu saja. Entah mengapa aku merasa hubunganku dengan Adi di ambang kehancuran.

**********

( Bersambung )

0 komentar:

Posting Komentar