Selasa, 03 April 2012

Kasih Untukmu

0

1328970336596657000

Hari Valentine tinggal tiga hari lagi.  Mila merasa senang karena hari itu dia mendapat ijin dari majikannya untuk libur meski cuma sehari. Dia bebas pergi kemana saja sesuka hatinya. Majikan perempuan bahkan memberi uang untuk membiayai liburannya itu.

Beberapa hari sebelumnya Mila sudah menelpon teman-temannya yang juga mendapat libur agar mereka bisa bertemu dan menikmati jalan bareng  selama sehari itu.

” Kamu juga dapat ijin?” seru Mila riang saat menelpon Jana, yang berprofesi sama dengannya. Teriakan riang terdengar dari seberang.

” Kita bawa pacar kita masing-masing. Bagaimana?” pertanyaan Jana membuat wajah Mila merengut. Dia tidak punya pacar. Siapa yang harus dia bawa?

” Tapi aku gak punya pacar.” keluhnya.

” Ya, sudah kalo gitu nanti aku kenalkan kamu dengan temanku. Dia baru datang dari kampung. Ok, kita jalan-jalan ke mall saja. Di sana banyak hiburan.”

Rencana kegiatan lalu mengalir dari dua orang di tempat yang berbeda. Tempat sudah ditentukan bahkan pakaian  yang akan mereka pakai juga ditentukan warnanya demi agar terlihat seragam.

Hari berganti sehari terasa lama bagi Mila. Baju yang akan di pakainya telah tergantung manis di depan lemari. Begitu juga dengan celana panjang, jaket, tas,  ikat rambut dan sepatu  andalannya semua kompak dengan warna yang senada. Manis. Mila tak bosan-bosan menatap perlengkapan liburannya nanti.

Ratih yang sekamar dengannya hanya menatap cemburu.

” Jangan cemburu. Tahun lalu kamu yang dapat jatah libur, sekarang aku dan mbak Usi.” Mila menyebutkan nama salah seorang karyawan dari 7 karyawan yang di miliki majikannya. Ratih hanya duduk dengan wajah cemberut saat melihat Mila terus menerus memegang pakaian yang bakal di pakainya.

” Jangan di pegang terus Mila, nanti luntur. Apa kamu pikir hari akan cepat berganti kalau baju itu kamu sentuh tiap detik.” ucapnya kemudian berbaring memeluk guling. Malam menujukkan pukul 10 dan mereka baru saja menyelesaikan tugas membereskan toko.

Mila hanya tersenyum dan tidak peduli akan omelan Ratih.

” Bilang saja kalau cemburu.” ucapnya kali ini dengan memeluk baju baru miliknya.

” Jangan senang dulu. Ntar malah kualat kamu. Tenang saja jangan over begitu.”

Kali ini Ratih menutup matanya. Sudut bening matanya tidak terlihat oleh Mila. Sebenarnya Ratih merasa sedih karena baru saja putus dari kekasihnya yang jauh di kampung. Pesan singkatnya membuat Ratih  menangis diam-diam. Mila tidak mengetahui karena larut dalam rasa bahagia mendapat jatah libur.

*********

Hari itu akhirnya tiba. Semalam  Mila tidur dengan nyenyak. Dia bahkan bermimpi bertemu dengan seseorang yang sangat tampan. Saat terbangun, Mila terus teringat dengan wajah manis yang hadir dalam mimpinya.

” Senangnya, semoga dia setampan lelalki yang ada dalam mimpiku.” ucapnya sambil melangkah menuju kamar mandi.

Setengah jam di kamar mandi, Mila kemudian keluar dengan aroma tubuh yang harum. Sabun yang dia pergunakan kali ini memang berbeda. Di beli khusus atas petunjuk anak majikan mereka. Nona Li memang sangat baik dan ramah. Dia tidak segan berbagi tips dengan para pembantu juga karyawan di rumahnya. Mungkin karena anak tunggal hingga dia memperlakukan semua karyawan toko orang tuanya sebagai saudara.

Saat hendak berpakaian, Ratih muncul dengan mata sembab. Dia berbaring lalu membelakangi Mila yang urung berpakaian karena heran melihatnya. Perlahan Mila mendekati lalu menyentuh bahunya.

” Kamu kenapa, Tih? kena marah ya?” Ratih menggeleng namun tidak juga berbalik.

” Tapi kenapa kamu nangis? jangan kelamaan, nanti mereka mencarimu.” Ratih akhirnya berbalik. Wajahnya penuh dengan air mata. Mila makin cemas.

” Kamu kenapa?” tanyanya tak bisa menahan kesedihan yang hadir walau dia belum tahu penyebab Ratih menangis.

” Aku baru putus dengan pacarku, La. Dia yang memutuskan aku. Padahal kami sudah niat untuk menikah..dia…dia..sudah melamarku…tapi…” Ratih menangis tak kuat melanjutkan ceritanya. Mila memeluknya sambil menepuk pundaknya.

” Sudah..kalau tidak kuat jangan cerita..aku paham perasaanmu..” Ratih terus terisak dalam pelukan Mila. Mila baru melepaskan pelukan ketika hapenya berdering nada panggil.

” Iya, halo. Sebentar lagi aku datang. Tunggu saja.”

Mila kembali memandang Ratih dengan hati pilu. Berat hatinya meninggalkan Ratih sendiri dalam keadaan terluka.

” Apa kamu tidak akan kembali ke toko, Ratih?” Ratih mengangkat wajahnya. Mengusap air matanya lalu berdiri. Dia menghadap cermin, meraih sisir lalu memoles wajahnya dengan sedikit bedak.

” Aku tidak bisa meninggalkan kamu dalam keadaan sedih seperti ini. Lebih baik aku batalkan saja janjiku.”

Ratih berbalik.

” Jangan…jangan batal..” potongnya cepat.

Saat dia membuka laci terlihat foto seorang lelaki. Tiba-tiba kebencian hadir dalam dirinya. Ratih lalu  mengeluarkan foto itu dan siap untuk merobeknya. Mila yang menyaksikan tersentak kaget lalu dengan cepat meraih foto itu.

” Inikah lelaki itu hingga kamu mau merobek gambarnya? kamu benar tidak ingin melihatnya lagi?”

” Namanya Fadli. Aku tidak ingin menyimpan fotonya lagi.”

Ratih terlihat berusaha menahan airmatanya agar tak lagi membasahi pipinya yang baru saja di poles bedak. Dia mengangguk dengan pelan. Mila kemudian memperhatikan wajah lelaki dalam foto tersebut. Dalam hati dia berdecak kagum. Cakep, batinnya. Wajar jika Ratih sangat terpukul menerima kenyataan bahwa  sang kekasih telah memutuskan hubungan dengannya. Terlebih mereka sudah melangkah ke tahap lamaran. Tentu yang diharapkan adalah sebuah pernikahan.

” Kalau tidak ingin melihatnya, sebaiknya buang saja ke tempat sampah. Melihatmu merobeknya sama saja kamu tidak ingin melupakannnya. Biar aku saja yang membuang di tempat sampah.”

Mila lalu memasukkan foto itu ke dalam tasnya kemudian dengan terburu-buru dia berpakaian lalu berdandan.

” Aku berangkat dulu ya, Ratih. Ingat jangan menangis di depan tuan dan nyonya. Jangan buat mereka cemas. Mereka sudah terlalu baik pada kita.” Ratih mengangguk. Mila memeluk dan menciumnya sebelum keluar dari kamar.

********

Jam menunjukkan pukul 9 pagi ketika Mila tiba. Dia turun dari angkot lalu berjalan menuju mall. Suasana mall belum terlalu ramai,maklum masih pagi. Outlet-outlet juga belum semuanya terbuka. Mila kemudian memilih duduk di tembok batu dekat outlet hape yang baru saja di buka pemiliknya.

Setengah jam menunggu, nampak Jana dari kejauhan tengah menggandeng seorang lelaki tampan. Mila tersenyum senang dan siap berdiri untuk menyambut kehadirannya temannya. Namun raut wajahnya berubah saat melihat lelaki yang menemani Jana.

” Mila, kamu sudah lama di sini?” Jana segera memeluk dan menciumnya.

” Senangnya bisa ketemu kamu lagi. Oh, ya kenalkan ini tunanganku.” Jana seolah sadar belum memperkenalkan tunangannya.

Mila tak mengulurkan tangannya.

” Nama mas, mas Fadli, ya? kenalkan aku Mila sahabatnya Ratih juga teman Jana.”

Suara Mila yang tegas dan dingin membuat Fadli untuk sesaat tak bisa berkata-kata.

” Oh, ternyata kalian sudah saling mengenal ya? baguslah aku kira belum.”

Jana tak menyadari perubahan yang tampak di wajah Mila. Dia terlalu senang mengenalkan tunangannya hingga tak menyadari dua orang yang saling menatap di depannya masing-masing menyimpan rasa yang berbeda. Mila dengan amarah sementara Fadli terlihat kikuk.

” Maaf, Jana. Sepertinya kali ini aku tidak bisa menikmati jalan-jalan kita. Aku harus pulang mendadak karena baru saja dapat telpon kalau Ratih pingsan. Dia sakit. Dan aku curiga sakitnya itu karena tidak kuat menahan luka  dihatinya. Dia baru saja diputuskan kekasihnya. Semoga mas Fadli bukan orang seperti itu. Tetaplah baik dengan Jana. Perlakukan dia dengan baik ya, mas. Kalian sudah bertunangan. Semoga tidak bernasib seperti Ratih yang diputuskan setelah di lamar sang kekasih.”

Mila lalu memeluk Ratih kemudian dengan senyum terpaksa dia pamit pada Fadli. Langkah Mila sangat cepat karena khawatir dengan keadaan Ratih. Telpon dari majikannya membuatnya tidak tenang. Mila tidak menyadari Fadli menatapnya dengan rasa gelisah.

Namun apa yang ada di benak Ratih sekarang ini bukan lagi sosok Fadli. Dia senang karena akhirnya bisa menumpahkan kekesalan pada Fadli. Padahal tidak seharusnya dia melakukan itu. Perpisahan yang terjadi di antara mereka adalah masalah pribadi mereka. Tidak sepantasnya Mila ikut campur. Namun entah mengapa, mendengar Ratih pingsan membuat Mila emosi. Tidak sanggup lagi menahan perasaannya.

Tiba  di rumah. Semua orang sudah berkumpul di kamar Ratih.

” Ratih..” Mila memegang tangan Ratih yang baru saja sadar dari pingsannya. Matanya membuka perlahan lalu penuh. Dia menatap wajah-wajah cemas yang mengelilinginya di tempat tidur. Ratih melihat sekeliling, ternyata dia berada dalam kamarnya.

” Syukurlah kamu sudah sadar. Kami semua cemas.” Majikan perempuan nampak di sebelah tempat tidur.

” Kamu istrahat saja. Biar nanti Mila yang menggantikan kamu.” Lanjut  majikan perempuan sambil menyentuh lembut jemari Ratih. Dia kemudian berdiri lalu berjalan keluar kamar. Teman-teman juga akhirnya keluar. Tinggal Mila yang menemani Ratih.

” Kamu jangan lemah, Tih. Aku sedih kalau kamu seperti ini. Dia sedang bermesraan dengan gadis lain kamu malah tergeletak tak berdaya seperti ini.”

Ucapan Mila membuat mata Ratih membulat.

” Apa katamu? kamu bertemu Fadli?”

Pertanyaan Ratih membuat Mila kikuk menyadari ucapannya bisa menambah luka dalam hati Ratih.

” Akh, tidak. Aku cuma membayangkan. Bagaimana seandainya dia tidak mengingatmu. Dia bahkan telah melupakan dan sedang berdua dengan gadis lain. Sementara kamu di sini, terluka, patah hati, sakit dan pingsan. Tetap semangat. Percayalah, cinta akan datang padamu. Dunia belum berakhir setelah dia meninggalkan kamu. Beruntung kamu malah berpisah darinya. Allah pasti lebih tahu mana lelaki yang baik untukmu karena itu kamu dipisahkan darinya. Berarti dia bukan lelaki yang pantas untuk kamu. Jadi tetaplah tegar. Kamu menangis, sedih tidak akan membuatnya kembali. Jika mencintaimu, dia tidak akan meninggalkan kamu dan pergi dengan wanita lain.”

Ucapan Mila yang panjang lebar membuat Ratih terharu. Dia bangun lalu memeluk Mila dengan air mata berlinang.

” Makasih, Mila. Kamu memang sahabat yang baik. Aku janji tidak akan membuatmu sedih. Aku akan tegar dan kuat.”

” Nah, itu baru sahabatku.” Balas Mila dengan mata berkaca-kaca. Dia tahu sulit bagi Ratih untuk pulih dari luka hatinya karena dia juga pernah mengalami. Namun Mila yakin dengan perhatian dan kasih sayang dari mereka, Ratih pasti akan pulih dan kembali seperti sediakala.

**********

0 komentar:

Posting Komentar