Aku
melangkah menuju gerbang sekolah dengan pandangan heran. Keysan,
keponakanku kulihat berdiri di depan gerbang dengan senyum manisnya. Ini
sudah kesekian kali dia datang menjemputku.
“Keysan kenapa kemari?” tanyaku yang di sambut dengan rangkulan di bahuku.
“
Menjemput tante tersayang. Aku mau ngajak kamu makan di warung
langgananku. Mau ya?” katanya lalu membawaku ke parkiran. Aku tidak
menjawab juga tidak juga menolak. Masih dengan rasa penasaran, aku
memilih duduk di atas motor.
“ Kamu tidak kuliah?” tanyaku ketika motor sedang melaju. Dia menggeleng cepat.
“ Tidak menjemput Yuni?” kali ini juga dia menggeleng.
“
Aku ingin bersama kamu.” dadaku berdesir. Aku tahu aku tidak boleh
mempunyai perasaan itu lagi. Tapi entah mengapa tiap kali aku bersama
Keysan, selalu saja jantungku berdebar kencang.
“ Nanti Yuni marah kalau tahu menjemput aku.”
“
Kami belum menikah dan bukan hak dia mengatur-ngatur kehidupanku. Semua
sudah aku ikuti, aku hanya ingin kedamaian hati. Dan rasanya damai
kalau sama kamu.”
Aku
senang sekaligus sedih mendengarnya. Dulu, saat kami masih pacaran.
Keysan malah jarang menjemputku. Dia akan menjemput ke sekolah jika aku
menelponnya. Sikapnya juga jauh dari romantis. Jika berada di rumah,
kami jarang bisa berduaan. Yang ada malah rasa takut kalau hubungan kami
akan ketahuan.
Sejak
awal aku dan Keysan tahu, kami tidak boleh menjalin hubungan. Status
persaudaraan di antara kami, membuat kami terlarang menjalin hubungan.
Dari pihak ayah, Keysan adalah keponakanku. Namun karena dorongan rasa
kami terjebak dalam cinta terlarang.
Akhirnya
yang terjadi malah setiap saat kami merasa tak nyaman. Rasa takut
selalu hadir. Hingga suatu hari Keysan meminta kami putus.
Aku
hanya pasrah menerima keputusannya. Bukan karena aku ketakutan. Tapi
karena aku merasa diperlakukan bukan seperti seorang kekasih oleh
Kaysan. Hubungan kami hanya dari perkataan. Namun kenyataan tak ada
keistimewaan yang aku dapatkan. Aku bosan makan hati. Namun untuk
membicarakan kekecewaanku, aku tidak pernah sanggup.
Sekarang,
setelah kami putus. Keysan malah memperlakukan aku seperti kekasihnya.
Dia rajin mengantarku ke sekolah. Menjemputku saat pulang sekolah.
Mengantarku kemana saja. Memberikan hadiah-hadiah kecil sebagai kejutan.
Di rumah dia berani duduk berduaan saja denganku. Memelukku bahkan
membelai rambutku. Itu dilakukan bukan hanya ketika kami berdua saja,
tapi juga ketika ada anggota keluarga yang lain.
Jika
dia bersikap seperti itu, ayah atau ibu bahkan kakak hanya tertawa dan
mengatakan dia sangat manja. Aku senang tapi justru makin tersiksa. Saat
aku ingin melupakannya, dia malah memperlakukan aku dengan penuh
sayang.
Usianya
yang lebih tua dariku, membuat keluargaku tidak menaruh curiga atas
sikapnya. Terlebih saat orang tua Keysan menjodohkan Keysan dengan Yuni,
sepupu Keysan. Makin hilang rasa curiga dalam keluargaku.
“ Jangan bersikap seperti ini.” Kataku malam ini saat aku duduk dengannya di taman samping.
“ Sikap apa?”
“
Sikapmu berlebihan. Tiap detik aku selalu melihatmu. Kamu seperti
bayanganku saja. Tolong jangan bersikap seolah kita sepasang kekasih.”
“
Sekarang aku justru merasa lebih tenang. Saat kita pacaran, aku merasa
takut. Jangankan merangkulmu, berbicara saja aku takut. Aku takut mata
mereka melihat sesuatu yang aneh dari sikap kita. Tapi sekarang aku
merasa plong. Walau kita bukan kekasih, tapi aku tidak merasa khawatir
lagi. Sepertinya lebih baik seperti ini. Hati kita, cukup kita saja yang
tahu.”
“ Tapi Yuni? Dia tunanganmu.”
“
Itu urusan nanti. Sesuatu yang belum pasti. Kita nikmati saja hubungan
kita yang seperti ini. Jangan kamu pikir saat kita pacaran, kamu saja
yang menderita. Aku juga. Karena itu aku senang saat kita putus. Aku
malah leluasa bisa memperlakukan kamu dengan penuh sayang.”
“ Bagaimana kalau keluarga kita tahu?”
“
Mereka tidak bakal curiga. Percayalah, kalau boleh memilih aku ingin
hubungan kita seperti ini. Status pacaran malah membuat kita merasa
dicurigai. Kita seperti ini saja, KTM.”
“ Kok KTM?”
“
Iya, Keponakan Tapi Mesra hehehehehe….” tawa Keysan membuatku terpana
menatapnya. Dalam hati aku setuju. Biarlah seperti ini saja. Lebih baik
tidak menjadi kekasihnya tapi diperlakukan seperti kekasih daripada jadi
kekasih tapi tidak bisa diperlakukan layaknya kekasih. ****
0 komentar:
Posting Komentar