Beberapa
hari setelah kepulangannya ke Rangkat. Suasana mulai kondusif di rumah
Asih. Kehidupan rumah tangga berjalan seperti rumah tangga lainnya yang
ada didesa Rangkat. Hanya bedanya. Setelah kembali menetap di Rangkat,
Bocing kini memilih membuka usaha bisnis ikan hias dan kepiting. Lokasi
tempat usahanya berada di dekat pasar. Sejak dibuka hingga sekarang,
usaha itu memperlihatkan perkembangan yang menggembirakan.
Hal
itu membuat Asih bahagia. Ternyata kepergiaannya waktu itu membawa
perubahan positif bagi suaminya. Bocing jadi sadar dan memilih untuk
kembali ke Rangkat dan menetap saja di desa Rangkat. Terus menerus
merantau membuatnya kehilangan kehangatan keluarga.
“ Mas kerja dulu ya, sayang.” Pamit Bocing pada istrinya. Asih mengantar Bocing ke teras lalu mencium tangan suaminya.
“ Hati-hati, ya mas.” Ucapnya yang disambut anggukan kepala oleh Bocing sebelum menghidupkan mesin motor.
“ Assalamu Alaikum.” Ucap Bocing lalu menjalankan motornya meninggalkan halaman.
“ Wa Alaikum Salam.” Balas Asih. Dia terus memandangi Bocing hingga tak lagi nampak dalam pandangannya.
“ Mas Bocing sepertinya udah insyaf ya mbak.” Acik muncul dari dalam rumah dengan pakaian sekdesnya. Tapi kali ini tampilannya beda. Dandanan Acik tidak seperti biasanya. Bedak, lipstik, alis mata, maskara bahkan dandanan rambut sangat berbeda.
Asih terpaku heran memandangi adiknya itu.
“ Mau ke kondangan atau mau ke kantor, Cik? Kok dandanan kamu berubah?”
Acik tersenyum senang.
“ Ini adalah hasil didikan mbak Jingga. Cuma baru kali ini adikmu memperaktekkan. Soalnya kemarin itu..ehm..ehmm..ada makhluk keren yang sepertinya membuat jantungku berdebar-debar,mbak.”
“ Makhluk keren? Siapa?”
“ Loh, yang kemarin datang kerumah kita. Itu tuh si mas Firman.”
“ Oh, mas Firman.” Sahut Asih seolah baru menyadari perasaan adiknya.
“ Kalo mau kekantor desa, Acik kan lewat depan mesjid tuh. Disana pasti ada mas Firman.”
Acik senyum-senyum membayangkan strategi yang nanti dia terapkan.
“ Ok, mbak. Acik pamit dulu ya, Assalamu Alaikum.”
“
Wa Alaikum Salam….. eits..tunggu dulu Cik!” teriak Asih lalu berlari
masuk ke dalam rumah. Acik menunggu dengan penasaran. Apa gerangan yang
terlupa hingga kakaknya meminta dia menunggu. Tidak lama, Asih muncul
dengan kantong plastik berisi dua susun rantang.
“ Ini..hampir saja mbak lupa.” Acik menerima rantang itu dari Asih.
“ Isinya apa mbak? Trus ini untuk siapa?”
Asih menepuk pundak adiknya.
“ Ini isinya nasi dan lauk. Untuk siapa? Untuk seseorang yang tadi kamu sebutkan namanya.”
Mata Acik membulat.
“
Benarkah? Makasih mbakku, muacchhhh.” Acik mencium pipi kakaknya lalu
bergegas meninggalkan rumah. Dia melangkah dengan semangat empat lima.
Acik sengaja memilih berjalan kaki. Dia tidak menumpang ojek karena
ingin lebih lama berjalan di depan mesjid. Ojek yang biasa mengantarnya,
akan melaju kencang dan tidak memberi kesempatan Acik untuk menebarkan
pesona di depan Firman.
Singkat
cerita Acik tiba didepan pondokan Firman. Walau nafas tak beraturan
karena lelah, Acik berusaha memberikan senyum termanis saat Firman
muncul dari belakang pondok. Dia terlihat membawa sapu.
“ Assalamu Alaikum.” Sapa Acik dengan riangnya. Firman membalas salamnya lalu tergopoh-gopoh mendekati Acik.
“ Aduh, maaf ya mbak. Saya nggak denger salam mbak tadi. Udah lama ya?”
“ Baru saja. Dari mana mas?”
“ Ini habis nyapu halaman belakang mesjid. Oh, ya ada apa? Pagi-pagi sudah datang kemari?”
“ Ini mas Firman. Ada titipan dari mbak Asih.”
Firman menerima rantang dari Acik.
“ Makasih ya, mbak. Tolong sampaikan ucapan terima kasih saya pada mbak Asih.” Ucap Firman dengan terharu.
Acik menggiyakkan.
“ Kalo gitu saya permisi dulu ya mas Firman. Mau lanjut ke kantor desa.”
“ Oh, iya mbak silahkan. Nanti kapan-kapan saya ke kantor desa untuk ngurus KTP.”
“ Iya, ditunggu loh. Permisi mas Firman.”
Acik
kemudian meninggalkan mesjid. Sambil berjalan dia terus melamunkan
sosok Firman yang bersahaja. Wajahnya yang tenang dan senyumnya yang
sejuk membuatnya lupa akan sosok mas Halim yang beberapa waktu lalu
heboh dikabarkan akan segera melamarnya. Namun kabar itu hanya
kabar-kabari, info yang tidak tajam setajam Silet. Semua berlalu seperti
angin yang berhembus. Sejak padi hanya berupa bibit, hingga kini siap
panen. Mas Halim tidak juga datang untuk melamarnya. Sawah-sawah yang
kini menguning, menjadi saksi perjalanan cinta Acik yang masih berwarna
kelabu.
Di
tempat lain, Firman tengah menyantap hidangan buatan Asih. Dia terlihat
menikmati makanan tersebut. Sambil makan lamunannya mengembara ke saat
pertama kali bertemu dengan Asih. Lamunan itu membentuk cerita yang
hanya dia yang tahu. Dari raut wajahnya yang terlihat bahagia kala mengunyah makanan akan membuat orang berpikir dia tengah jatuh cinta.
Namun
Firman tersadar. Lamunannya telah melewati batas. Dia tahu, dalam hati
Asih tak ada orang lain yang bisa menggantikan posisi Bocing. Firman
merasa cemburu pada Bocing karena memiliki istri yang begitu
mencintainya. Dia tiba-tiba ingin menemukan wanita yang seperti Asih.
Firman berdoa, semoga dia menemukan wanita itu di Desa Rangkat. Tapi
siapa? Ingatannya melayang ke Acik, adik Asih. Ehm, kakaknya begitu
setia, adakah adiknya juga seperti itu? batin Firman penuh harap. ***
ECR
cerita biasa,kisah cinta yg sederhana. yg lahir dari jiwa orang2 polos,yg dikemas secara biasa juga. mengalir ringan,tanpa permainan retorika yg kadang malah jadi mengaburkan. dengan latar belakang hidup di desa,cerita menjadi terasa indah,membuai...
BalasHapusMakasih mas Rojin udah mampir ke lapak saya. Kisah di atas adalah bagian dari Episode Cinta Rangkat (ECR) yang ada di grup kami Desa Rangkat. Jika ingin tahu lebih detil silahkan bergabung dengan kami di grup Desa Rangkat Facebook.
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus