Selasa, 10 April 2012

Lukisan Embun

0

Rumah tante Maryam sangat berbeda kini. Tak lagi mencerminkan rumah petani kaya. Bahkan menurutku rumahnya ketinggalan jaman. Tetangga kiri kanan berganti rumah batu dengan model terkini, sementara rumah tante Maryam model rumah bertangga dengan kayu yang mulai lapuk. Tanah dan rumah bahkan sudah terjual sebagian untuk membiayai hidup mereka sekeluarga.

Saat aku datang, hanya tante Maryam yang menjemputku di teras. Dia terlihat sangat berbeda. Dulu tubuhnya gemuk dengan hiasan topi haji menutupi rambutnya. Leher dan tangannya penuh dengan lingkaran kuning keemasan, makin menambah cantik dan bersinar dirinya kala itu. Tapi sekarang, tubuhnya terlihat ringkih karena digerogoti diabetes. Sisa-sisa kejayaan masa lalu sepertinya telah hilang. Tak meninggalkan bekas sedikitpun.

“ Bagaimana, mak mu?” tanya tante Maryam sambil memegang bahuku. Matanya berkaca-kaca. Berulang kali dia menepuk-nepuk pundakku.

“ Baik, tante aji.” Jawabku. Seorang gadis keluar membawa nampan berisi teh. Dia tersenyum. Kucoba mengingat namanya.

“ Ini Nuraini,ya tante?” tebakku. Gadis itu mengangguk.

“ Iya,sudah besar, sudah kawin juga.” Ucap tante Maryam. Aku terperangah. Gadis kecil yang dulu suka berlari menyambutku tiap kali ke kampung ini, sekarang telah menjelma menjadi gadis yang luar biasa cantik.

“ Menikah dengan siapa, tante aji?”

“ Teman sekolahnya juga. Sekarang suaminya pergi kerja. Dia tinggal di sini sama suaminya.”

Nuraini kemudian masuk lagi ke dalam rumah. Hidangan teh dan pisang goreng membuatku berselera. Segera ku ambil pisang goreng dan memakannya.

“ Sudah lama sekali kamu tidak kesini. Kira-kira 15 tahun, ya. Karena waktu itu Nuraini masih kecil sekali.”

“ Kebetulan, saya ada tugas dekat sini tante. Sekalian singgah untuk nengok keadaan tante aji. Bagaimana keadaan,ta. Tambah kurus ki saya lihat.” Wajah tante Maryam terlihat murung.

“ Begini mi kalo sakit ki, nak. Baru sepupu mu tidak ada yang mengerti.”

Aku paham maksud tante Maryam. Sejak suaminyan meninggal, satu persatu harta terjual. Sawah, pabrik, mobil, rumah kontrakan di kota, ludes. Anak lelaki yang jumlahnya 5 orang tak ada satupun yang beres. Sungguh miris melihat kehidupan tante Maryam. Hanya Nuraini yang kini menemaninya. Mereka tinggal bertiga di rumah. 5 anak lelakinya telah berkeluarga dan masing-masing mengurus hidup mereka. Hanya menengok tante Maryam jika ada keperluan, semisal mencari harta yang kira-kira masih ada dan bisa untuk di jual.

Tante Maryam menceritakan kisah hidupnya dengan air mata menetes. Aku ikut terharu. Apalagi saat tante Maryam mengungkit kisah masa lalu, saat dia masih kaya. Tante tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah seperti ini. Melihat kejayaan masa lalu, dia tidak mengira kehidupan anak-anaknya akan sangat mengecewakan. Jauh dari impiannya sebagai orang tua.

Tante Maryam bahkan memuji mama yang dianggapnya sukses sebagai orang tua. Mama dulu sering keluar masuk kampung membawa dagangan. Tidak terlihat malu dan lelah. Kami yang waktu itu masih kecil, ikut mama jika libur sekolah. Sekarang kehidupan berbanding terbalik,anak-anak mama telah berhasil dalam pendidikan dan pekerjaan. Walau belum termasuk kaya namun sudah mandiri dan tak lagi merepotkan orang tua.

“ Anakmu sudah berapa?” tante Maryam akhirnya menanyakan tentangku. Dia sudah selesai dengan curhat masa lalunya.

“ Baru satu tante.”

“ Suamimu kerja dimana?”

“ Suamiku kerja di perhubungan, tante. Kalo saya, di pertanian. Sekarang ada tugas dari kantor, jadi saya ke sini. Cuma dua hari. Sebentar malam saya pulang.”

“ Senangnya mi itu mama mu. Anak-anaknya jadi orang semua. Tidak seperti saya kasihan.” Kembali wajah tante Maryam di liputi mendung. Cerita tentang masa lalu membuatnya sedih dan menitikkan air mata. Melihat kehidupannya dulu, wajar jika dia selalu mengingatnya.

Aku akhirnya mohon pamit setelah sekitar 2 jam berbincang. Saat aku bersiap pulang tante Maryam memelukku erat dan lama. Kembali dia meneteskan air mata. Kusisipkan lembaran seratus ribuan di tangannya. Dia tersentak kaget namun juga tidak menolak. Dia terharu atas pemberianku. Aku kemudian meninggalkan rumahnya. Meninggalkan cerita masa lalu yang kini hanya jadi kenangan sedih untuk diceritakan.

Kenangan tante Maryam akan kisah hidupnya membuat sedih, namun tidak dengan mamaku. Kami sekeluarga selalu mengingat perjuangan keras mama membiayai kami setelah ayah meninggal dalam sebuah kecelakaan. Sejak kecil kami terbiasa mandiri dan tidak mengenal kata malu dalam berusaha. Didikan yang kami terima membuat mental kami tahan menghadapi hidup. Aku bersyukur karena sejak kecil mama mendidik kami dengan ajaran agama yang kuat. Mungkin itu alasan mengapa kehidupan kami sekarang tidak memilukan seperti keluarga tante Maryam.***

0 komentar:

Posting Komentar