Rumah
tante Maryam sangat berbeda kini. Tak lagi mencerminkan rumah petani
kaya. Bahkan menurutku rumahnya ketinggalan jaman. Tetangga kiri kanan
berganti rumah batu dengan model terkini, sementara rumah tante Maryam
model rumah bertangga dengan kayu yang mulai lapuk. Tanah dan rumah
bahkan sudah terjual sebagian untuk membiayai hidup mereka sekeluarga.
Saat
aku datang, hanya tante Maryam yang menjemputku di teras. Dia terlihat
sangat berbeda. Dulu tubuhnya gemuk dengan hiasan topi haji menutupi
rambutnya. Leher dan tangannya penuh dengan lingkaran kuning keemasan,
makin menambah cantik dan bersinar dirinya kala itu. Tapi sekarang,
tubuhnya terlihat ringkih karena digerogoti diabetes. Sisa-sisa kejayaan
masa lalu sepertinya telah hilang. Tak meninggalkan bekas sedikitpun.
“
Bagaimana, mak mu?” tanya tante Maryam sambil memegang bahuku. Matanya
berkaca-kaca. Berulang kali dia menepuk-nepuk pundakku.
“ Baik, tante aji.” Jawabku. Seorang gadis keluar membawa nampan berisi teh. Dia tersenyum. Kucoba mengingat namanya.
“ Ini Nuraini,ya tante?” tebakku. Gadis itu mengangguk.
“
Iya,sudah besar, sudah kawin juga.” Ucap tante Maryam. Aku terperangah.
Gadis kecil yang dulu suka berlari menyambutku tiap kali ke kampung
ini, sekarang telah menjelma menjadi gadis yang luar biasa cantik.
“ Menikah dengan siapa, tante aji?”
“ Teman sekolahnya juga. Sekarang suaminya pergi kerja. Dia tinggal di sini sama suaminya.”
Nuraini
kemudian masuk lagi ke dalam rumah. Hidangan teh dan pisang goreng
membuatku berselera. Segera ku ambil pisang goreng dan memakannya.
“ Sudah lama sekali kamu tidak kesini. Kira-kira 15 tahun, ya. Karena waktu itu Nuraini masih kecil sekali.”
“
Kebetulan, saya ada tugas dekat sini tante. Sekalian singgah untuk
nengok keadaan tante aji. Bagaimana keadaan,ta. Tambah kurus ki saya
lihat.” Wajah tante Maryam terlihat murung.
“ Begini mi kalo sakit ki, nak. Baru sepupu mu tidak ada yang mengerti.”
Aku
paham maksud tante Maryam. Sejak suaminyan meninggal, satu persatu
harta terjual. Sawah, pabrik, mobil, rumah kontrakan di kota, ludes.
Anak lelaki yang jumlahnya 5 orang tak ada satupun yang
beres. Sungguh miris melihat kehidupan tante Maryam. Hanya Nuraini yang
kini menemaninya. Mereka tinggal bertiga di rumah. 5 anak lelakinya
telah berkeluarga dan masing-masing mengurus hidup mereka. Hanya
menengok tante Maryam jika ada keperluan, semisal mencari harta yang
kira-kira masih ada dan bisa untuk di jual.
Tante
Maryam menceritakan kisah hidupnya dengan air mata menetes. Aku ikut
terharu. Apalagi saat tante Maryam mengungkit kisah masa lalu, saat dia
masih kaya. Tante tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah seperti
ini. Melihat kejayaan masa lalu, dia tidak mengira kehidupan
anak-anaknya akan sangat mengecewakan. Jauh dari impiannya sebagai orang
tua.
Tante
Maryam bahkan memuji mama yang dianggapnya sukses sebagai orang tua.
Mama dulu sering keluar masuk kampung membawa dagangan. Tidak terlihat
malu dan lelah. Kami yang waktu itu masih kecil, ikut mama jika libur
sekolah. Sekarang kehidupan berbanding terbalik,anak-anak mama telah
berhasil dalam pendidikan dan pekerjaan. Walau belum termasuk kaya namun
sudah mandiri dan tak lagi merepotkan orang tua.
“ Anakmu sudah berapa?” tante Maryam akhirnya menanyakan tentangku. Dia sudah selesai dengan curhat masa lalunya.
“ Baru satu tante.”
“ Suamimu kerja dimana?”
“
Suamiku kerja di perhubungan, tante. Kalo saya, di pertanian. Sekarang
ada tugas dari kantor, jadi saya ke sini. Cuma dua hari. Sebentar malam saya pulang.”
“
Senangnya mi itu mama mu. Anak-anaknya jadi orang semua. Tidak seperti
saya kasihan.” Kembali wajah tante Maryam di liputi mendung. Cerita
tentang masa lalu membuatnya sedih dan menitikkan air mata. Melihat
kehidupannya dulu, wajar jika dia selalu mengingatnya.
Aku
akhirnya mohon pamit setelah sekitar 2 jam berbincang. Saat aku bersiap
pulang tante Maryam memelukku erat dan lama. Kembali dia meneteskan air
mata. Kusisipkan lembaran seratus ribuan di tangannya. Dia tersentak
kaget namun juga tidak menolak. Dia terharu atas pemberianku. Aku
kemudian meninggalkan rumahnya. Meninggalkan cerita masa lalu yang kini
hanya jadi kenangan sedih untuk diceritakan.
Kenangan
tante Maryam akan kisah hidupnya membuat sedih, namun tidak dengan
mamaku. Kami sekeluarga selalu mengingat perjuangan keras mama membiayai
kami setelah ayah meninggal dalam sebuah kecelakaan. Sejak kecil kami
terbiasa mandiri dan tidak mengenal kata malu dalam berusaha. Didikan
yang kami terima membuat mental kami tahan menghadapi hidup. Aku
bersyukur karena sejak kecil mama mendidik kami dengan ajaran agama yang
kuat. Mungkin itu alasan mengapa kehidupan kami sekarang tidak
memilukan seperti keluarga tante Maryam.***
0 komentar:
Posting Komentar