Selasa, 10 April 2012

Hujan Sore Itu

0

 

Hujan turun dengan deras sore ini. Aku yang sejak tadi berdiri menanti hujan reda akhirnya tak tahan juga. Ku keluarkan payung, lalu melangkah meninggalkan tempat kursus. Payung bergoyang diterpa angin dan hujan yang tidak beraturan arah. Aku berhenti sejenak, menahan payung agar tidak ikut terbang.

Dari kejauhan nampak angkot yang akan aku tumpangi. Sembari menunggu, kuperhatikan ujung celanaku hingga sebatas lutut telah basah terkena air hujan. Benar-benar hujan yang sangat lebat. Ketika angkot tiba didepanku, aku bergegas naik. Kupilih duduk di sudut biar aman dari cipratan air hujan.

“ Mida?” tegur seseorang sambil memegang tanganku. Aku melihatnya, berusaha mengingat wajahnya, apakah aku pernah mengenalnya?Dia tersenyum manis sambil menatapku lekat. Posisinya yang persis di depanku membuatnya leluasa memperhatikan diriku.

“ Kamu Mida kan?” ulangnya seolah tak percaya dengan perasaan sendiri. Walau belum berhasil mengingat siapa wanita di depanku, aku tersenyum sambil mengangguk, membenarkan tebakannya. Dia terlihat bahagia. Penumpang di angkot yang hanya 4 orang, membuatku tidak terlalu risih. Aku terus mencoba mengingat sosoknya tapi tetap saja aku tidak berhasil. Entah dia teman atau kerabat atau mungkin juga seseorang yang pernah kukenal sepintas lalu.

“ Kamu masih ingat aku kan?” pertanyaan yang membuatku kikuk. Bagaimana menjawabnya?

“ Kamu pasti lupa. Aku yakin itu. Tapi aku masih sangat mengenalmu, karena fotomu tersimpan di hapeku.” Dia mengeluarkan hape dari dalam tasnya lalu memperlihatkan foto diriku yang tengah berpose bersama di sebuah acara pernikahan.

“ Kita foto bareng waktu Jean menikah. Kamu memang tidak kenal aku. Tapi aku mengenalmu dengan baik dari Jean.” Ucapannya membawa ingatanku jauh ke 5 tahun yang lalu ketikan Jean, sahabatku, menikah. Tetap saja aku tidak tahu siapa wanita di depanku. Aku jadi tidak nyaman karena harus ngobrol dengan seseorang yang begitu perhatian padaku, sementara aku sama sekali tidak mengenal, apalagi mengingatnya.

“ Kalian masih sering kirim kabar?” tanyanya.

“ Iya, tapi dia sekarang sudah menetap di sini. Mbak juga masih sering ngobrol ya sama Jean?” dia menggeleng.

“ Aku sudah pindah kerja. Kami sudh tidak satu kantor lagi. Sebenarnya sejak setahun lalu aku putus komunikasi dengan dia. Hapenya sulit di hubungi. Oh, ya. Kamu punya nomor hape dia gak?”

Pertanyaan biasa yang tak membuatku curiga. Wajar seseorang meminta nomor hape teman yang ingin di hubungi. Aku kemudian menyebutkan nomor hape Jean. Wanita itu terlihat sangat gembira. Tak lupa dia juga meminta nomor hapeku. Kami kemudian berbincang tentang pekerjaannya selama di Papua bersama Jean. Kenangan kebersamaan mereka.

Tiba saat dia harus turun di sebuah mall. Setelah mengucapkan terima kasih dan salam perpisahan denganku dia turun.

“ Mida, udah aku bayarin, ya.” Katanya sebelum angkot melaju. Aku hanya melambaikan tangan tanda terima kasih. Aku bersyukur. Pertemuan yang memberikan rezki. Meski tidak banyak tapi pantas untuk di syukuri.

***

Beberapa minggu berlalu. Aku telah melupakan pertemuan dengan wanita itu. Walau sering sms dan telpon dengan Jean, aku selalu lupa untuk memberitahu kalau aku bertemu dengan mantan teman kantornya. Suatu hari aku tiba-tiba mengingatnya. Dengan lancar aku menceritakan pertemuan dengan wanita itu pada Jean. Tapi sambutan yang aku terima sungguh di luar dugaan. Jean sangat menyesali tindakanku yang memberikan nomor hapenya kepada wanita itu.

Aku yang tak tahu dan tak mengerti kejadian sebenarnya, merasa bingung akan sikap Jean.

“ Kamu tahu, Mida. Aku pindah dari Papua karena wanita itu. Sahabat yang jahat. Dia menipu orang dengan memakai namaku. Karena itu dia dikeluarkan dari kantor. Aku akhirnya pindah ke sini karena tidak enak hati sama orang-orang yang telah dia tipu. Walau bukan pelaku, tapi rasanya aku malu karena bersahabat dengan dia. Sekarang dia sudah kembali ke sini, jangan-jangan dia mau berbuat jahat lagi. Pantas beberapa kali ada nomor yang tidak aku kenal, menyapa begitu akrab seolah kenal baik denganku. Ternyata dia. Mida, kalau bertemu dengannya lagi, jangan beritahu apapun tentang aku. Sekarang juga aku mau mengganti nomor hape. Bentar aku sms kamu, nomor hapeku yang baru.”

Jean menutup pembicaraan kami. Aku seolah baru disadarkan dari mimpi. Menyadari sikap wanita itu yang terasa aneh. Pantas saja dia meminta nomor hape Jean. Penjelasan Jean yang begitu emosional menandakan jika wanita itu benar-benar telah melakukan hal jahat yang membuat Jean sangat membencinya. Syukurlah aku tidak memberitahu alamat rumah Jean padanya. Maafkan aku Jean, aku benar-benar tidak tahu karena kamu juga tidak pernah bercerita. Mulai sekarang, jika bertemu dengannya lagi. Aku tidak akan menceritakan apapun tentangmu. **

0 komentar:

Posting Komentar