Hujan
turun dengan deras sore ini. Aku yang sejak tadi berdiri menanti hujan
reda akhirnya tak tahan juga. Ku keluarkan payung, lalu melangkah
meninggalkan tempat kursus. Payung bergoyang diterpa angin dan hujan
yang tidak beraturan arah. Aku berhenti sejenak, menahan payung agar
tidak ikut terbang.
Dari
kejauhan nampak angkot yang akan aku tumpangi. Sembari menunggu,
kuperhatikan ujung celanaku hingga sebatas lutut telah basah terkena air
hujan. Benar-benar hujan yang sangat lebat. Ketika angkot tiba
didepanku, aku bergegas naik. Kupilih duduk di sudut biar aman dari
cipratan air hujan.
“ Mida?”
tegur seseorang sambil memegang tanganku. Aku melihatnya, berusaha
mengingat wajahnya, apakah aku pernah mengenalnya?Dia tersenyum manis
sambil menatapku lekat. Posisinya yang persis di depanku membuatnya
leluasa memperhatikan diriku.
“
Kamu Mida kan?” ulangnya seolah tak percaya dengan perasaan sendiri.
Walau belum berhasil mengingat siapa wanita di depanku, aku tersenyum
sambil mengangguk, membenarkan tebakannya. Dia terlihat
bahagia. Penumpang di angkot yang hanya 4 orang, membuatku tidak terlalu
risih. Aku terus mencoba mengingat sosoknya tapi tetap saja aku tidak
berhasil. Entah dia teman atau kerabat atau mungkin juga seseorang yang
pernah kukenal sepintas lalu.
“ Kamu masih ingat aku kan?” pertanyaan yang membuatku kikuk. Bagaimana menjawabnya?
“
Kamu pasti lupa. Aku yakin itu. Tapi aku masih sangat mengenalmu,
karena fotomu tersimpan di hapeku.” Dia mengeluarkan hape dari dalam
tasnya lalu memperlihatkan foto diriku yang tengah berpose bersama di
sebuah acara pernikahan.
“
Kita foto bareng waktu Jean menikah. Kamu memang tidak kenal aku. Tapi
aku mengenalmu dengan baik dari Jean.” Ucapannya membawa ingatanku jauh
ke 5 tahun yang lalu ketikan Jean, sahabatku, menikah. Tetap saja aku
tidak tahu siapa wanita di depanku. Aku jadi tidak nyaman karena harus
ngobrol dengan seseorang yang begitu perhatian padaku, sementara aku
sama sekali tidak mengenal, apalagi mengingatnya.
“ Kalian masih sering kirim kabar?” tanyanya.
“ Iya, tapi dia sekarang sudah menetap di sini. Mbak juga masih sering ngobrol ya sama Jean?” dia menggeleng.
“ Aku sudah pindah kerja. Kami sudh tidak satu kantor lagi. Sebenarnya sejak setahun lalu aku putus komunikasi dengan dia. Hapenya sulit di hubungi. Oh, ya. Kamu punya nomor hape dia gak?”
Pertanyaan
biasa yang tak membuatku curiga. Wajar seseorang meminta nomor hape
teman yang ingin di hubungi. Aku kemudian menyebutkan nomor hape Jean.
Wanita itu terlihat sangat gembira. Tak lupa dia juga meminta nomor
hapeku. Kami kemudian berbincang tentang pekerjaannya selama di Papua
bersama Jean. Kenangan kebersamaan mereka.
Tiba saat dia harus turun di sebuah mall. Setelah mengucapkan terima kasih dan salam perpisahan denganku dia turun.
“
Mida, udah aku bayarin, ya.” Katanya sebelum angkot melaju. Aku hanya
melambaikan tangan tanda terima kasih. Aku bersyukur. Pertemuan yang
memberikan rezki. Meski tidak banyak tapi pantas untuk di syukuri.
***
Beberapa
minggu berlalu. Aku telah melupakan pertemuan dengan wanita itu. Walau
sering sms dan telpon dengan Jean, aku selalu lupa untuk memberitahu
kalau aku bertemu dengan mantan teman kantornya. Suatu hari aku
tiba-tiba mengingatnya. Dengan lancar aku menceritakan pertemuan dengan
wanita itu pada Jean. Tapi sambutan yang aku terima sungguh di luar
dugaan. Jean sangat menyesali tindakanku yang memberikan nomor hapenya
kepada wanita itu.
Aku yang tak tahu dan tak mengerti kejadian sebenarnya, merasa bingung akan sikap Jean.
“
Kamu tahu, Mida. Aku pindah dari Papua karena wanita itu. Sahabat yang
jahat. Dia menipu orang dengan memakai namaku. Karena itu dia
dikeluarkan dari kantor. Aku akhirnya pindah ke sini karena
tidak enak hati sama orang-orang yang telah dia tipu. Walau bukan
pelaku, tapi rasanya aku malu karena bersahabat dengan dia. Sekarang dia
sudah kembali ke sini, jangan-jangan dia mau berbuat jahat lagi. Pantas
beberapa kali ada nomor yang tidak aku kenal, menyapa begitu akrab
seolah kenal baik denganku. Ternyata dia. Mida, kalau bertemu dengannya
lagi, jangan beritahu apapun tentang aku. Sekarang juga aku mau
mengganti nomor hape. Bentar aku sms kamu, nomor hapeku yang baru.”
Jean menutup pembicaraan kami. Aku seolah baru disadarkan dari mimpi. Menyadari
sikap wanita itu yang terasa aneh. Pantas saja dia meminta nomor hape
Jean. Penjelasan Jean yang begitu emosional menandakan jika wanita itu
benar-benar telah melakukan hal jahat yang membuat Jean sangat
membencinya. Syukurlah aku tidak memberitahu alamat rumah Jean padanya.
Maafkan aku Jean, aku benar-benar tidak tahu karena kamu juga tidak
pernah bercerita. Mulai sekarang, jika bertemu dengannya lagi. Aku tidak
akan menceritakan apapun tentangmu. **
0 komentar:
Posting Komentar