Selasa, 10 April 2012

Impian Rahmi

0

 

“ Aku ingin seperti mereka.” Ucap Rahmi. Gadis kecil itu selalu saja berdiri di depan jendela, menatap anak-anak kompleks yang bermain di bawah guyuran hujan. Keinginan hati yang kini menjadi impian yang semakin lama sulit untuk di redamnya.

Dia menuju pintu. Membukanya dengan hati-hati karena takut ketahuan pengasuhnya. Perlahan dia menuju teras. Dingin menyerang saat dia menyentuh air hujan yang jatuh dari genteng.

“ Rahmi!!! Ayo keluar!” teriak Wanda, tetangga depan rumah. Wanda merapat ke pagar. Melambaikan tangan memintanya bergabung bersama mereka. Rahmi tersenyum senang. Bayangan kedua orang tuanya lenyap. Omelan pengasuh pun tak lagi dia pedulikan. Biarlah orang tua dan pengasuhnya marah, toh dia hanya bermain sebentar. Dia tidak akan celaka atau sakit.


Dengan gerakan lincah dia menuju pagar, membukanya dengan tertawa riang. Wanda menyambutnya dengan sukacita. Hujan yang semakin deras menambah kegembiraan mereka. Anak-anak itu berlompatan sambil menggerakkan tangan. Rahmi tertawa bahagia. Tangannya juga ikut menari mengikuti gerakan teman-temannya.

Akhirnya Rahmi bisa mewujudkan mimpinya, ikut menari dan menikmati hujan bersama teman-teman sebaya. Seluruh tubuhnya kini telah basah kuyup. Walau menggigil kedinginan, senyumnya tak pernah lepas. Tawanya terdengar menembus hujan dan guntur yang membahana.

Rahmi larut dalam kebahagiaan hingga tak menyadari, di ujung jalan menuju rumahnya, sebuah mobil terparkir. Mobil milik orang tuanya. Papa dan mamanya tak kuasa mendekati karena tidak ingin mengganggu putri mereka. Senyum dan tawa Rahmi membuat mereka terpaku di dalam mobil. Penuh keharuan dan linangan air mata.

“ Rahmi..hiks..hiks…” ucap mamanya sambil menyeka airmata. Batinnya pedih melihat putrinya begitu gembira bermain hujan. Putrinya terlihat seperti anak-anak lain yang normal. Dia terlihat gembira meski harus menggunakan kursi roda karena sejak kecil kedua kakinya di amputasi akibat kecelakaan.

0 komentar:

Posting Komentar