“ Aku ingin seperti mereka.” Ucap Rahmi. Gadis kecil itu selalu saja berdiri di depan jendela, menatap anak-anak kompleks yang bermain di bawah guyuran hujan. Keinginan hati yang kini menjadi impian yang semakin lama sulit untuk di redamnya.
Dia
menuju pintu. Membukanya dengan hati-hati karena takut ketahuan
pengasuhnya. Perlahan dia menuju teras. Dingin menyerang saat dia
menyentuh air hujan yang jatuh dari genteng.
“
Rahmi!!! Ayo keluar!” teriak Wanda, tetangga depan rumah. Wanda merapat
ke pagar. Melambaikan tangan memintanya bergabung bersama mereka. Rahmi
tersenyum senang. Bayangan kedua orang tuanya lenyap. Omelan pengasuh
pun tak lagi dia pedulikan. Biarlah orang tua dan pengasuhnya marah, toh
dia hanya bermain sebentar. Dia tidak akan celaka atau sakit.
Dengan
gerakan lincah dia menuju pagar, membukanya dengan tertawa riang. Wanda
menyambutnya dengan sukacita. Hujan yang semakin deras menambah
kegembiraan mereka. Anak-anak itu berlompatan sambil menggerakkan
tangan. Rahmi tertawa bahagia. Tangannya juga ikut menari mengikuti
gerakan teman-temannya.
Akhirnya
Rahmi bisa mewujudkan mimpinya, ikut menari dan menikmati hujan bersama
teman-teman sebaya. Seluruh tubuhnya kini telah basah kuyup. Walau
menggigil kedinginan, senyumnya tak pernah lepas. Tawanya terdengar
menembus hujan dan guntur yang membahana.
Rahmi
larut dalam kebahagiaan hingga tak menyadari, di ujung jalan menuju
rumahnya, sebuah mobil terparkir. Mobil milik orang tuanya. Papa dan
mamanya tak kuasa mendekati karena tidak ingin mengganggu putri mereka.
Senyum dan tawa Rahmi membuat mereka terpaku di dalam mobil. Penuh
keharuan dan linangan air mata.
“
Rahmi..hiks..hiks…” ucap mamanya sambil menyeka airmata. Batinnya pedih
melihat putrinya begitu gembira bermain hujan. Putrinya terlihat
seperti anak-anak lain yang normal. Dia terlihat gembira meski harus
menggunakan kursi roda karena sejak kecil kedua kakinya di amputasi
akibat kecelakaan.
0 komentar:
Posting Komentar