Sabtu, 14 April 2012

Luka Terabaikan

0

 

Aku yakin dalam benakmu kisah tentang diriku tak meninggalkan jejak. Aku yakin ingatan tentang diriku telah terhapus dari memory otakmu. Seperti perkataanmu dulu ketika hendak meninggalkanku.

“ Semua ini sia-sia.” Ucapmu lalu melangkah pergi tanpa sempat berbalik lagi bahkan ketika hendak naik ke bus yang akan mengantarmu ke luar propinsi. Aku tak menangis bukan karena tak sedih kau tinggalkan. Batinku masih gamang antara percaya dan tidak pada ucapanmu. Benarkah itu adalah ucapan perpisahan atau hanya kegundahan yang coba kau bagikan padaku?

Hingga bus melaju dan menghilang dari pandanganku, aku terus menatap, mengabaikan debu yang bebas menyentuhku. Semoga ini bukan perpisahan, batinku.

Namun beberapa hari tak ada kabar darimu. Hilang, membuatku gelisah. Kucoba tepiskan ucapanmu sebelum pergi. Semoga saja aku yang salah, pintaku.


Semua sudah berakhir, tidakkah kau sadar hubungan kita seperti melangkah di atas awan?

Balasan pesanmu seperti menyadarkanku dari puing-puing mimpi yang coba kurajut kembali.

Apa yang berakhir? Aku tidak ingin berakhir, biarkan saja semua berjalan seperti ini..

Tapi sampai kapan? Sampai kita tak lagi berpikir jernih dan mengabaikan kehidupan nyata?

Aku menangis. Pesanku bahkan tak lagi mendapat balasan darimu. Berulangkali meratap dan meminta perhatian, tetap saja sama. Aku hanya bisa menatap laut tempat kita dulu selalu menghabiskan waktu. Kini semua terasa sepi. Suara deburan ombak bahkan terdengar seperti tangisku sendiri. Keindahan yang lenyap satu persatu.

“Biarkan mamamu menentukan jodoh untukmu, aku tak pantas jadi menantunya..”

Ucapanmu terngiang kembali. Membuatku memejamkan mata mencoba mencari kebenaran dari ucapan mamaku yang membuatmu terluka.

“Abang bisa cari kerja, mengapa selalu mengungkit pekerjaan dalam hubungan kita?”

Bujukku kala rasa putus asa menyerangmu.

Namun hatimu terlanjur terluka. Kurasa jika aku adalah dirimu, pasti akan merasakan hal yang sama. Luka diabaikan karena tak memiliki pekerjaan yang bisa di banggakan.

“Aku akan merantau, jika mamamu tetap tak bisa menerimaku, lupakanlah aku…”

Katamu saat akan pergi pertama kali. Penuh semangat kau menyongsong mimpi di negeri orang. Sayang tak satupun kabar darimu kala itu mampu meluluhkan hati mamaku. Bahkan kepulanganmu kali ini untuk melamarku, tetap tak bersambut.

“ Cukup sudah, keputusan terakhir ada padamu. Ikut keputusan mamamu atau bersamaku memulai hidup baru.”

“ Tanpa restu mama?” tatapku cemas saat kita bertemu di pantai sore itu. Kamu mengangguk.

“ Kawin lari?” tanyaku lagi. Kembali kamu mengangguk.

“ Kita bisa meminta restu dari ayahmu atau saudara ayahmu, bagaimana?”

Aku bingung menjawab. Menentang mama akan melukai hatinya, namun jika tetap menurut padanya aku akan kehilangan cintaku.

“ Sabarlah bang, aku akan mencoba membujuk mama.”

Pandanganmu seolah tak percaya aku bisa melakukan itu.

“ Percayalah, lari adalah satu-satunya jalan untuk kita, Jika kamu masih mencintaiku.” Ucapmu sebelum kita berpisah.

Namun tak ada perubahan yang menggembirakan hingga bus yang membawamu datang menjemput. Hubungan kita kembali seperti di awal. Tak ada harapan. Kepergianmu seperti memberi tanda akan berakhirnya hubungan kita. Saat  itu aku masih berpikir akan ada jalan untuk kita bisa bersama.

***

Lama berselang tak ada kabar darimu, hingga kudengar kabar kedatanganmu dari warga kampung. Aku yang masih menaruh harapan, akhirnya bisa bangun dari pembaringan. Sakit yang menyerangku berminggu-minggu ini tak mampu menahanku untuk melihat wajahmu.

Kucari dirimu di antara kerumunan orang yang turun dari bus. Suara riuh menyambut kedatanganmu.Aku terharu ketika melihat wajahmu tersenyum menerima sambutan keluarga. Kamu makin terlihat gagah dibandingkan dulu saat kita berpisah.

Namun senyumku tak lama lalu berganti bening embun di mataku ketika mamamu menyambut seorang wanita dan bayi lucu di gendongannya. Memeluk lalu mencium bayi itu. Aku tak perlu bertanya siapa gerangan wanita itu.

Perlahan aku melangkah meninggalkan kerumunan orang-orang, meninggalkan dirimu. Hatiku terluka. Tak ada gunanya aku menantimu, bahkan ketika mama tiada kamu tak juga membalas pesanku. Diriku yang sekarang, tak sebanding dengan sosok wanita yang kini mendampingimu. Aku malu memperihatkan diriku. Jangankan padamu, pada cerminpun aku malu. Masihkan kamu mengenal diriku yang kini kurus dan sakit-sakitan?

0 komentar:

Posting Komentar