Aku
yakin dalam benakmu kisah tentang diriku tak meninggalkan jejak. Aku
yakin ingatan tentang diriku telah terhapus dari memory otakmu. Seperti
perkataanmu dulu ketika hendak meninggalkanku.
“
Semua ini sia-sia.” Ucapmu lalu melangkah pergi tanpa sempat berbalik
lagi bahkan ketika hendak naik ke bus yang akan mengantarmu ke luar
propinsi. Aku tak menangis bukan karena tak sedih kau tinggalkan.
Batinku masih gamang antara percaya dan tidak pada ucapanmu. Benarkah
itu adalah ucapan perpisahan atau hanya kegundahan yang coba kau bagikan
padaku?
Hingga bus melaju dan menghilang dari pandanganku, aku terus menatap, mengabaikan debu yang bebas menyentuhku. Semoga ini bukan perpisahan, batinku.
Namun
beberapa hari tak ada kabar darimu. Hilang, membuatku gelisah. Kucoba
tepiskan ucapanmu sebelum pergi. Semoga saja aku yang salah, pintaku.
Semua sudah berakhir, tidakkah kau sadar hubungan kita seperti melangkah di atas awan?
Balasan pesanmu seperti menyadarkanku dari puing-puing mimpi yang coba kurajut kembali.
Apa yang berakhir? Aku tidak ingin berakhir, biarkan saja semua berjalan seperti ini..
Tapi sampai kapan? Sampai kita tak lagi berpikir jernih dan mengabaikan kehidupan nyata?
Aku
menangis. Pesanku bahkan tak lagi mendapat balasan darimu. Berulangkali
meratap dan meminta perhatian, tetap saja sama. Aku hanya bisa menatap
laut tempat kita dulu selalu menghabiskan waktu. Kini semua terasa sepi.
Suara deburan ombak bahkan terdengar seperti tangisku sendiri.
Keindahan yang lenyap satu persatu.
“Biarkan mamamu menentukan jodoh untukmu, aku tak pantas jadi menantunya..”
Ucapanmu terngiang kembali. Membuatku memejamkan mata mencoba mencari kebenaran dari ucapan mamaku yang membuatmu terluka.
“Abang bisa cari kerja, mengapa selalu mengungkit pekerjaan dalam hubungan kita?”
Bujukku kala rasa putus asa menyerangmu.
Namun
hatimu terlanjur terluka. Kurasa jika aku adalah dirimu, pasti akan
merasakan hal yang sama. Luka diabaikan karena tak memiliki pekerjaan
yang bisa di banggakan.
“Aku akan merantau, jika mamamu tetap tak bisa menerimaku, lupakanlah aku…”
Katamu
saat akan pergi pertama kali. Penuh semangat kau menyongsong mimpi di
negeri orang. Sayang tak satupun kabar darimu kala itu mampu meluluhkan
hati mamaku. Bahkan kepulanganmu kali ini untuk melamarku, tetap tak
bersambut.
“ Cukup sudah, keputusan terakhir ada padamu. Ikut keputusan mamamu atau bersamaku memulai hidup baru.”
“ Tanpa restu mama?” tatapku cemas saat kita bertemu di pantai sore itu. Kamu mengangguk.
“ Kawin lari?” tanyaku lagi. Kembali kamu mengangguk.
“ Kita bisa meminta restu dari ayahmu atau saudara ayahmu, bagaimana?”
Aku bingung menjawab. Menentang mama akan melukai hatinya, namun jika tetap menurut padanya aku akan kehilangan cintaku.
“ Sabarlah bang, aku akan mencoba membujuk mama.”
Pandanganmu seolah tak percaya aku bisa melakukan itu.
“ Percayalah, lari adalah satu-satunya jalan untuk kita, Jika kamu masih mencintaiku.” Ucapmu sebelum kita berpisah.
Namun tak ada perubahan yang menggembirakan hingga bus yang membawamu datang menjemput. Hubungan kita kembali seperti di awal. Tak ada harapan. Kepergianmu seperti memberi tanda akan berakhirnya hubungan kita. Saat itu aku masih berpikir akan ada jalan untuk kita bisa bersama.
***
Lama
berselang tak ada kabar darimu, hingga kudengar kabar kedatanganmu dari
warga kampung. Aku yang masih menaruh harapan, akhirnya bisa bangun
dari pembaringan. Sakit yang menyerangku berminggu-minggu ini tak mampu
menahanku untuk melihat wajahmu.
Kucari
dirimu di antara kerumunan orang yang turun dari bus. Suara riuh
menyambut kedatanganmu.Aku terharu ketika melihat wajahmu tersenyum
menerima sambutan keluarga. Kamu makin terlihat gagah dibandingkan dulu
saat kita berpisah.
Namun
senyumku tak lama lalu berganti bening embun di mataku ketika mamamu
menyambut seorang wanita dan bayi lucu di gendongannya. Memeluk lalu
mencium bayi itu. Aku tak perlu bertanya siapa gerangan wanita itu.
Perlahan
aku melangkah meninggalkan kerumunan orang-orang, meninggalkan dirimu.
Hatiku terluka. Tak ada gunanya aku menantimu, bahkan ketika mama tiada
kamu tak juga membalas pesanku. Diriku yang sekarang, tak sebanding
dengan sosok wanita yang kini mendampingimu. Aku malu memperihatkan
diriku. Jangankan padamu, pada cerminpun aku malu. Masihkan kamu
mengenal diriku yang kini kurus dan sakit-sakitan?
0 komentar:
Posting Komentar